Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

7 Hal yang Bikin Kamu Gagal jadi Penulis



Penulis merupakan profesi yang banyak disukai saat ini. Kenapa? Karena menjadi penulis tidak perlu terlalu repot untuk keluar rumah seperti pegawai kantoran, penulis juga punya waktu cukup fleksibel, sehingga mereka yang berprofesi sebagai penulis bisa mengatur waktu dengan lebih mudah.

Profesi sebagai penulis tidak harus dengan menulis buku. Kamu yang punya cita-cita menjadi penulis atau sekadar punya hobi menulis bisa menulis apa pun, termasuk menjadi blogger ataupun penulis artikel di berbagai media yang saat ini penghasilannya pun amat menjanjikan.

Sayangnya, untuk jadi penulis dibutuhkan kesabaran demi melalui proses yang cukup panjang. Kamu pasti tidak asing dengan penulis besar seperti Tere Liye. Sebelum sehebat sekarang, naskah beliau juga pernah ditolak penerbit, lho. Kamu apa kabar? Ditolak adalah bagian dari risiko karena sudah mengajukan naskah. Ditolak bukan hal memalukan. Itu hal yang biasa terjadi dalam dunia literasi. Jika tak mau ditolak, maka jangan menawarkan  naskah. Atau, pastikan naskah kamu sudah layak supaya tak seorang editor pun dapat menolaknya.

Saya dan teman-teman belakangan mulai menyadari ada banyak hal berbeda di antara penulis sekarang dan penulis pada zaman kami baru memulai karier. Dulu, nggak perlu dibayar, sekadar bisa menulis saja sudah merasa bahagia banget. Semangat untuk menulis itu nggak ada habisnya. Masya Allah.

Jika ada kesempatan menulis buku atau artikel di media, kami tidak akan bertanya apakah boleh mengirimkan tulisan yang sudah pernah diposting di Facebook? Atau bolehkan kami kirimkan tulisan yang sudah pernah diposting di Blog? Kenapa nggak akan bertanya begitu? Karena kami tahu, menulis itu bagian dari cara kami belajar. Jika kami hanya mengambil dan mengirim ulang tulisan yang sudah ada, itu artinya kami kehilangan kesempatan untuk belajar. Jika ada event seperti itu, kami pasti akan bersemangat menulis yang baru dan terbaik untuk dikirimkan. Dan semangat seperti itu ternyata sekarang banyak berkurang dari teman-teman. Mungkin bukan kamu, tetapi ada beberapa yang seperti ini.

Jika mau jadi penulis, baik menulis buku ataupun artikel, sebaiknya hindari beberapa hal yang bikin kamu gagal jadi penulis.

Malas Mencari Tahu

Jika mau menulis buku, kamu jangan malas mencari tahu seperti apa naskah-naskah yang lolos dan diterbitkan di penerbit yang kamu tuju. Jangan malas mencari tahu tema-tema apa yang mereka sukai. Jangan malas mencari tahu syarat untuk mengirimkan naskah, termasuk bagaimana cara mengajukan naskah dengan sopan sehingga editor tertarik melirik naskahmu.

Jika kamu mau jadi penulis artikel, silakan baca lebih banyak artikel yang terbit di media, supaya kamu tahu seperti apa artikel-artikel yang banyak dicari dan diminati oleh pembaca. Bahkan menulis itu nggak harus ikut kelas menulis, dengan otodidak saja kamu bisa kuasai dan pelajari semua. Asalkan kamu nggak malas mencari tahu.

Jika ada syarat atau ketentuan, silakan dicari tahu. Jangan sampai kamu bertanya sesuatu yang sebenarnya sudah dijelaskan sebelumnya. Bikin kesel dan males banget jika ada penulis seperti ini. Iya, nggak? Hehe.

Malas Membaca

Kamu tahu kenapa kamu sering berhenti menulis di tengah jalan? Padahal sebelumnya ide sudah ada, bahkan kamu sudah menulis hampir separuhnya? Yup! Kebanyakan dari penulis yang idenya mampet di tengah jalan biasanya dikarenakan kurang referensi. Mencari sumber atau referensi itu penting bagi penulis supaya apa yang kita tulis benar-benar berupa fakta bukan hanya sekadar fiksi tanpa logika.

Bahkan penulis fiksi pun harus punya sumber sebelum menulis ceritanya, jangan sampai ada Monas di Sumatera, ya. Hehe. Kalau sudah mengumpulkan banyak sumber, kamu pasti akan lebih mudah menuntaskan tulisanmu.

Selain itu, membaca juga sangat penting bukan hanya ketika kita butuh referensi saja, tetapi membaca bisa membuka wawasan dan memberikan ide-ide baru. Menulis dan membaca menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jika kamu mau jadi penulis, kamu harus rajin membaca. Mustahil ada orang pandai menulis, tetapi sehari-hari nggak pernah membaca.

Beberapa penulis favorit saya seperti Bernard Batubara sering menunjukkan buku-buku yang dia baca. Dan itu nggak terbatas pada satu jenis buku saja, tetapi banyak banget. Nah, kalau kita apa kabar? Sudah membaca berapa buku dalam sebulan terakhir?

Mudah Menyerah

Nah, lho. Gimana mau sukses kalau ditolak sekali, nyeseknya berbulan-bulan? Gimana mau sukses kalau hanya mencoba satu atau dua kali? Ketika aktif menulis artikel dan mengirimkannya ke media, saya menulis artikel setiap hari. Tidak peduli apakah artikel saya diterima atau ditolak. Saya tetap mengharuskan diri untuk mengirimnya setiap hari. Jika ada waktu lebih, saya akan mengirimkan dua artikel dalam sehari pada satu media, bahkan bisa lebih.

Gampang? Ternyata tidak. Saya harus kehilangan waktu istirahat. Ketika semua tidur nyenyak, saya harus menulis bahkan sampai merasa mual karena menahan kantuk. Jika ditolak pun saya berusaha tidak mempermasalahkan itu, jangan dibuat baper aja. Kenapa? Karena kita sedang berproses. Ketika saya memimpikan sesuatu, saya tidak malu-malu menulisnya, saya tidak malu-malu menyebutnya, saya tidak malu-malu menunjukkannya kepada orang lain, saya tidak segan memperjuangkannya, dan saya tidak pernah tanggung-tanggung ketika meminta kepada Allah. Kenapa? Karena sejak awal saya yakin akan mendapatkannya!

Enggan Mencoba

Bagaimana kamu tahu hasilnya, jika selama ini kamu hanya diam dan malas mencoba? Jujur saja saya kadang kesal kepada orang yang katanya pengen jadi penulis, tetapi ternyata nggak pernah memulai. Atau sudah memulai, tetapi hanya sekadarnya saja.

Buat saya, tugas kita hanyalah menulis. Selebihnya biarkan orang lain menilai. Biarkan editor yang memutuskan apakah akan menerima naskah kita atau menolaknya. Jika ditolak? Perbaiki dan kirim lagi. Jika ditolak lagi? Bisa jadi penerbit memang tidak cocok dengan tema yang kamu kirimkan, tidak melulu tulisan kamu buruk, lho. Makannya penting banget pada poin pertama kamu pelajari. Yup! Mencari tahu naskah-naskah yang diterima penerbit itu apa saja.

Jika sudah tahu, kamu bisa menulis yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika memang naskah kamu menarik dan layak, tentu saja mereka tidak punya alasan lagi untuk menolaknya.

Gagal Mengatur Waktu

Mengatur waktu itu penting banget, apalagi banyak penulis yang ternyata tidak hanya berprofesi sebagai penulis, tetapi juga mengajar misalnya. Lalu kapan mereka menulis? Kapan mereka istirahat? Kapan mereka menemani anak-anak hingga memasak?

Jawabannya mereka punya waktu untuk semua itu karena mereka pandai mengaturnya. Jika ada waktu senggang meski sebentar, mereka akan menulis. Jika anak-anak tidur, mereka akan melanjutkan naskah yang harus segera dikirimkan. Jika kamu beralasan sibuk, ternyata mereka yang sukses juga lebih sibuk daripada kamu, lho. Malu banget ‘kan kalau sampai beralasan begitu, tetapi nyatanya kamu hanya sibuk main sosial media? Jleb banget nggak, sih?

Belajar Bisa dari Siapa Saja, Tetapi Kamu Tidak Mau Seperti Itu

Di atas langit masih ada langit. Jangan merasa karena sudah ada di atas, kamu tidak mau belajar dari junior kamu. Duh, kamu salah besar. Belajar itu bisa dari siapa saja. Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tetapi lihat apa yang disampaikan.

Banyak senior yang gengsi banget dan kesel kalau juniornya lebih maju. Banyak senior yang nggak mau membantu juniornya maju supaya bisa seperti dirinya. Yang seperti ini banyak! Padahal seharusnya tidak melulu seperti itu. Yang namanya belajar itu bisa dari siapa saja, lho. Nggak harus dari senior kamu, bisa jadi ilmu dan pengalaman itu datang dari orang-orang yang ilmunya di bawah kamu. Jadi, jangan gengsi dan malas belajar dari siapa pun, ya!

Malas Menulis

What? Mau jadi penulis tapi malas menulis? Mending ditenggelamkan aja orang seperti ini. Hehe. Mana ada orang mau jadi atlet renang tapi malas berenang. Mustahil, ‘kan? Kalau kamu mau jadi penulis, usahakan menulislah setiap hari. Jika waktu kamu nggak banyak, tulislah setengah halaman, asalkan setiap hari, setengah halaman itu bisa jadi buku, lho.

Menulis malas, tapi nyetatus di sosial media rajin. Kamu penulis buku apa penulis status? Hehe. Yuk, ah rajin menulis. Biasakan menulis setiap hari. Jika kamu memang mencintai dan ingin menekuninya, kamu harus membiasakan diri untuk melakukannya setiap hari. Jangan ditunda, sebab menunda-nunda pekerjaa itu adalah sifat yang sangat buruk dan merugikan. Sebab kita tidak pernah tahu, ke depannya akan seperti apa. Entah kamu malah sakit, mati lampu, atau harus pergi kondangan…hehe.

Nah, itulah beberapa hal yang ternyata sangat buruk dan sebaiknya dihindari jika memang mau jadi penulis. Jika kamu merasa masih begitu-begitu saja, coba cari tahu dan perbaiki kesalahan kamu. Kenapa ‘dia’ sudah melambung tinggi, sedangkan kamu masih nyaman di posisi yang sama? Mungkin ada yang salah dengan kamu. Yuk, perbaiki diri!

21 comments on "7 Hal yang Bikin Kamu Gagal jadi Penulis"
  1. males menulis, penyakit kronis pecita-cita penulis bu :)

    ReplyDelete
  2. Sangat setuju dgn tujuh poin diatas mbak...
    Ada yg bilang penulis yg baik adalah orang yg rakus membaca dan rutin menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ...rakus membaca...., apa itu saya baca di artikelnya mbak Muyas ya?
      Saya lagi berusaha jadi pembaca yg rakus hehehe...

      Delete
  3. Tugas kita hanyalah menulis...duh, jleb banget di bagian ini. Bener bangeeeet...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, buat sy juga jleb, Mbak..semoga ora belok2 ini :D

      Delete
  4. males menulis dan meneruskan cerita, ide mentok dan akhirnya tidak melanjutkan apa yang sudah ditulis. akhirnya menuh-menuhin folder aja wkwkwkwk

    ReplyDelete
  5. Aku kena gejala gagal mengatur waktu lagi nih,, hiks,, fight!

    ReplyDelete
  6. nah....poin "Malas Menulis," inilah penghambat Utama....hehehe

    thank you for sharing.

    ReplyDelete
  7. Membaca dan menulis itu ada kaitan yang sangat erat sekali. jika ingin lihai menulis ya harus rajin membaca. Saya jadi teringat awal menulis di blog, aduh membuat satu paragraf itu sangatlah sulit sekali.
    tapi untuk ke arah menulis buku, mungkin saya masih terlalu jauh bahkan bisa jadi tidak akan terwujud. Maklum kualitas menulisnya masih tergolong rendah.

    ReplyDelete
  8. Benar sekali, Mas...kita yang sudah terbiasa menulis, jika berhenti beberapa hari saja, pasti mulainya susah deh...emamg harus istiqomah dan dinikmati..

    Semua orang berawal dari biasa aja kemudian baru luar biasa. Insya Allah bisa kok bikin buku juga...semoga nanti terwujud, minimal satu buku :)

    ReplyDelete
  9. Malas membaca hahaha, mana bisa menulis kalau malas membaca ya bu hehehe

    ReplyDelete
  10. saya suka ngeblog
    tapi sempat bingung berkata-kata lewat tulisan
    katanya yg tulisannya panjang akan lebih baik daripada hanya beberapa kalimat saja ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. Betul sekali. Minimal sekarang 1000-1500 kata katanya lebih bagus. Tp banyak faktor juga yang penting rajin juga dan banyak interaksi dengan yg lain..

      Delete
  11. Mampet ditengah jalan saya bangget, jadi kudu harus wajib banyak baca ya mb hehe
    Ma jleb smua poinnya 😁😁
    Thanks sharenya mb

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature