Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Novel 'Pulang', Ini Tentang Memeluk Erat Kenangan dan Berdamai dengan Hati


“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika bapak kau tidak ada di rumah….” Mamak diam sejenak, menyeka hidung, Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu ….. Tapi, tapi apa pun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging babi atau daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan menyentuh tuak dan segala minuman haram.” (Hal 24)

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit. Pulang – Novel ‘Pulang’ Tere Liye

***

Novel ‘Pulang’ karya Tere Liye ini berkisah tentang Bujang, remaja berusia lima belas tahun, putra dari Samad, si tukang jagal yang menikah dengan Midah. Samad diceritakan tidak pernah hangat pada putranya, bahkan setiap kali Midah mengajari Bujang tentang agama, belajar shalat, dan mengumandangkan adzan, Samad bisa marah besar, memukul Bujang sebanyak Midah mengajarinya tentang agama kemudian menghukumnya bermalam di luar rumah. Meski tempias hujan mengenai tubuh putranya dan membuatnya menggigil, tak sedikit pun Samad ingin membuka pintu rumahnya dan menyuruh Bujang masuk.

Hingga usianya memasuki lima belas tahun, Bujang tidak pernah menyentuh bangku sekolah. Tidak hanya itu, Midah yang disebut Mamak begitu mencemaskan Bujang sehingga tak pernah mengizinkannya pergi ke rimba. Tapi, takdir berkata lain, saat usianya masih lima belas tahun, Tauke Besar, saudara angkat Samad datang mengunjunginya. Dengan alasan berburu, Tauke pun mengunjungi keluarga Samad dan mengenal Bujang untuk pertama kali.

Bujang yang tak pernah diizinkan menyentuh rimba oleh Mamaknya justru akhirnya pergi menemani Tauke Besar untuk berburu babi. Mamak dengan cemas berpesan agar dia tidak melakukan apa pun selama di hutan. Mamak bilang Bujang hanya boleh menonton, tidak boleh melakukan hal bodoh. Bujang yang tak mengerti pun mengiyakan. Tapi, berbeda dengan rencana Mamak, malam itu, saat gerimis membungkus langit, ketika beberapa kawanan babi dilumpuhkan dan beberapa anak buah Tauke terluka parah, justru muncul pimpinan kawanan babi hutan yang begitu murka.

Di saat genting seperti itu, ketika Tauke Besar tersungkur dan begitu mudahnya dijatuhkan oleh babi hutan raksasa, di saat itu pula Bujang melanggar janjinya kepada Mamak. Dia menggenggam tombak pemberian Bapaknya kuat-kuat, kemudian mengalahkan babi raksasa itu dan menyelamatkan semua orang. Maka sejak saat itulah, rasa takut dari diri Bujang telah diangkat, bahkan sejengkal pun ia tak pernah merasa ketakutan terhadap apa pun.

“Jika manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.” (Hal 1)

Sejak pertemuan itu pula, Bujang dibawa Tauke Besar dan tinggal bersamanya. Jangan tanya bagaimana perasaan Mamak saat itu, ia bahkan tak terlihat mengantarkan Bujang karena sibuk berkutat dengan rasa sedihnya, mengutarakan semua perasaannya di kamarnya, tepat di atas sajadah dengan air mata meleleh sempurna.

Dan kehidupan Bujang yang sebenarnya pun baru dimulai. Ia pun akhirnya bergabung dengan keluarga Tong yang merupakan organisasi pasar gelap atau Shadow Economy. Bujang yang di dalam darahnya mengalir darah tukang jagal sejak awal diperlihatkan begitu antusias dengan kehidupan barunya. Perkelahian dan segala macam hal yang berghubungan dengan kekerasan begitu memantik semangatnya.

Sayangnya, Tauke Besar tidak sedang ingin menjadikannya tukang pukul seperti Samad, Bapaknya. Tauke justru ingin Bujang_yang begitu genius meski tak pernah mengenyam pendidikan_sekolah, menyelesaikan pendidikan setinggi-tingginya. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh keluarga Tong sebelumnya. Tauke Muda ingin masa depan keluarga Tong lebih baik, tidak melulu tentang perkelahian dan kekerasan. Mereka haruslah berubah demi memenangkan persaingan yang semakin keras.

Tapi, ternyata tak mudah membujuk Bujang untuk belajar. Bahkan ia sempat membuat Tauke marah besar karena menolak sekolah. Tapi, sejak awal Tauke diceritakan berbeda ketika berhadapan dengan Bujang, ia tak pernah sampai hati menghajar Bujang meskipun ia sering membuat Tauke kesal bukan main.

Kemudian apa solusinya? Adalah Kopong yang dulu pernah berhutang budi kepada Samad, meminta Tauke mengizinkannya mengajarkan Bujang berlatih menjadi tukang pukul saat malam hari, dan paginya Bujang bisa belajar. Pilihan itu pun disambut baik oleh Bujang, ia tak lagi keberatan membaca buku setumpuk, sebab ia begitu antusias untuk berlatih bersama Kopong.

Bujang, si Babi Hutan, remaja yang kemudian tumbuh luar biasa. Tangguh, kuat, tak punya rasa takut, dan yang pasti dia genius bukan main. Hanya dia yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi hingga ke luar negeri dalam waktu cukup singkat, membuat Tauke begitu bangga padanya. Bukan hanya itu, Bujang juga menjadi tukang pukul yang begitu disegani dan ditakuti oleh semua orang. Dia berlatih dari guru-guru terbaik yang didatangkan oleh Tauke Besar atas usul Kopong.

Tapi, ketika keberhasilan demi keberhasilan diraih oleh Bujang, satu per satu berita duka menggulung hari bahagianya. Sekejap semua kebahagiaan itu berubah menjadi menyedihkan. Pertama, ketika Mamak meninggal dunia, ia bahkan merasa sangat buruk sampai-sampai dia merobek undangan dari Universitas ternama di luar negeri tepat di hadapan Tauke Besar. Tapi, Tauke cukup sabar sehingga Bujang tak kena pukulannya. Kedua, ketika Samad, Bapak Bujang meninggal. Saat itu tak kalah menyedihkan, apalagi ketika menerima surat dari Samad yang meminta maaf, merasa terlalu egois sehingga sulit sekali mengatakan rindu pada putranya.

Tapi, puncak dari semua kejadian menyakitkan itu adalah ketika Tauke meninggal dunia. Sebelumnya, Tauke yang sudah berusia lanjut memang sakit-sakitan, tapi dia meninggal bukan hanya karena itu, tapi karena adanya pengkhianatan anak buahnya sendiri, yang sudah sangat ia percaya layaknya Bujang.

Tauke berhasil diselamatkan oleh Bujang yang rela mengorbankan nyawanya sekalipun demi melindungi ayah angkatnya itu. Bujang yang tak rela meninggalkan Tauke di lorong darurat meski kaki dan seluruh tubuhnya terluka parah. Maka ia menggendong Tauke Besar menuju tangga darurat yang sebelumnya telah dibuat oleh Kopong yang ternyata berujung di rumah kawan lama Tauke. Sayang, Tauke terlalu kepayahan malam itu, hingga ketika Bujang tak sadarkan diri, Tauke pun meninggal.

“Aku menunduk, menggigit bibir. Kesedihan ini terasa sangat menyakitkan. Inilah hal yang paling kutakutkan dalam hidupku. Sejak aku menyelamatkan Tauke dari serangan babi raksasa di lereng rimba Sumatra, aku tidak lagi memiliki rasa takut kecuali atas tiga hal, kematian orang terdekatku. Ada tiga lapis benteng rasa takutku. Satu lapis terkelupas saat Mamak pergi. Satu lapis lagi terlepas saat Bapak pergi. Malam ini_entah ini malam atau siang di luar sana, lapisan terakhirnya telah rontok, ketika Tauke Besar akhirnya mati. Itulah kenapa aku tidak mau membicarakan soal kematian Tauke. Aku tahu persis, itulah benteng terakhir ketakutan yang kumiliki.Aku menangis tersedu tanpa air mata, tanpa suara. Tauke, hiduplah! Aku menggerakkan tubuh Tauke. Aku memohon. Jika Tauke juga pergi, maka ke mana lagi aku harus pulang?” (Hal 319)

Dan sejak itulah Bujang merasa ketakutan yang sempat hilang dalam dirinya kembali. Bagaimana Bujang menyelesaikan masalah yang begitu pelik dalam dirinya sedangkan di luar sana, ia pun harus segera merebut kekuasaan yang sempat diambil alih oleh rekannya yang kemudian bekhianat. Bagaiman Bujang bisa berdamai dengan semua kenangan pahit itu?

****

Foto: Dokumentasi Pribadi

Tere Liye begitu lihai menuangkan kisah Bujang di dalam novel ‘Pulang’, membuat saya merinding, menangis, dan ketakutan. Novel ini memang sedikit berbeda, banyak sekali adegan perkelahian yang begitu menakutkan. Sampai-sampai saya meringkuk, sedikit bersembunyi dan tidak berani membacanya lebih detail, terlalu jelas bayangannya, termasuk ketika Bujang harus berhadapan dengan Basyir dan menyelamatkan Tauke Besar.

Ada saat-saat di mana jantung saya bedetak begitu cepat, rasanya saya sedang melihat adegan nyata, sampai tangan dan kaki dingin. Mungkin terlalu lebay, tapi ini memang terjadi ketika membaca Novel ‘Pulang’. Benar-benar bikin ngeri.

Pengkhianatan dan memeluk erat kenangan serta kepedihan yang diceritakan dalam Novel ‘Pulang’ mengingatkan saya akan kisah Sri Ningsih dalam Novel Tere liye lainnya, ‘Tentang Kamu’. Di sana juga ada balas dendam dan pengkhianatan, serta bagaimana Sri Ningsih memeluk erat pahit getir hidupnya. Kebanyakan tokoh utama dalam novel-novel Tere Liye selalu digambarkan genius, gagah, keren banget, sehingga tak sulit menyukai tokoh itu. Termasuk di sini Bujang.

Novel ‘Pulang’ ini benar-benar bernyawa. Saya bisa melihat darah yang terkena tempias hujan di kamar Tauke Besar, saya bisa melihat Tauke besar yang berbaring di ranjang sambil membantu Bujang dan Joni. Saya bisa melihat betapa sedihnya Bujang ketika tahu Tauke meninggal. Dan saat membaca bagian ini, saya menangis, benar-benar menangis. Selama ini, dikisahkan Tauke benar-benar perhatian dan sayang dengan Bujang. Begitu juga Bujang yang menghormati Tauke Besar dengan senang hati.

Setiap bab dihubungkan begitu apik, sampai-sampai nggak sadar buku setebal 400 halaman itu pun tandas dini hari ketika semua sedang terlelap, sedangkan saya, sibuk menata perasaan setelah semua yang terjadi pada Bujang. Tere Liye banget yang bisa bikin pembaca sampai seperti ini. Duh, masih pengen nangis.

Novel ini, tak berbeda dengan novel-novel Tere Liye lainnya, begitu sarat makna, pasti ada pesan moralnya, ada kalimat yang bisa membuat pembaca merenung. Dari beberapa novel Tere Liye yang pernah saya baca, hampir semuanya memang membuat saya menangis. Tapi, hanya buku satu ini saja yang berhasil membuat saya meringkuk ketakutan, deg-degan bukan main.

Buku ini layak banget kamu baca. Keren dan menginspirasi. Saya termasuk penggemar beratnya Tere Liye. Dan selalu suka buku-bukunya. Termasuk Novel ‘Pulang’ satu ini. Setelah ini, masih ada sekuelnya yang berjudul ‘Pergi’. Bersiap dengan kisah Bujang selanjutnya!

“Ketahuilah, Nak, hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah mampu memenangkan seluruh pertempuran….” (Hal 340)

38 comments on "Novel 'Pulang', Ini Tentang Memeluk Erat Kenangan dan Berdamai dengan Hati"
  1. Saya juga sudah baca, Mba. Termasuk novel Pergi juga sudah saya baca. Saya memang penggemar novel-novel Tere Liye, apapun genrenya. Khusus seperti novel Pulang dan Pergi, saya seperti menyaksikan film aksi, seru pokoknya.

    ReplyDelete
  2. Kalau sudah membahas karya Tere Liye mah, sudah tidak bisa meragukan lagi :')

    ReplyDelete
  3. Saya tersentuh dgn kalimat terakhit di artikel ini. Sangat menginspirasi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener2 keren memang kalau Tere Liye, Mas

      Delete
  4. sepertinya lebih keren resensinya dibandingkan isi novelnya sendiri...hehehe.

    Terima kasih sudah mau berbagi

    ReplyDelete
  5. Saya juga fans berat Tere Liye, sudah baca semua bukunya. Kurang suka yang genrenya fantasi atau khayalan seperti bumi dan hujan. Tentang kamu juga ada sedikit cerita yang agak khayal, waktu sri kecil di bungin mengayuh perahu ke pulau sebelah untuk mengambil air. Sama episode terakhir waktu adiknya Sri ditemukan dalam keadaan di kerangkeng dalam keadaan tidak terurus. Terlalu berlebihan. Selain itu semuanya baguuus, tokoh ibu dalam ceritanya selalu kuat, tangguh dan mengajar disiplin pada anak. Tokoh anak lelaki selalu sayang dan hormat banget sama ibunya. Beberapa kali bikin tokoh perenpuan yang anaknya meninggal waktu lahir, ada yang sampe 2 kali (rembulan tenggelam di wajahmu, tentang kamu). Penulis paling produktif, bukunya sampe 28? Selalu mau ngajarin penulis pemula, sampe ngasih training menuls di sekolah-sekolah.

    ReplyDelete
  6. Aku baca ini gak kelar-kelar. Ceritanya memang bagus. Tapi aku lebih suka yang serial bumi nya.

    ReplyDelete
  7. Belum baca bukunya, tapi setelah baca reviewnya mbak Muy jadi pengen punya. Seperti biasa, selalu keren tulisannya Mbak 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, terima kasih, Mbak..dirimu juga kece

      Delete
  8. Saya punya bukunya, masih segel. Yang sudah kebaca yang Pergi. Penisirin nih

    ReplyDelete
  9. Tere liye karyanya memang kece banget,

    ReplyDelete
  10. Aku sih baru baca serial Bumi dan Matahari KK. Fiksi fantasi

    ReplyDelete
  11. reviewnya sangat memikat. Jadi pengen baca novelnya.

    ReplyDelete
  12. Jadi pengen baca juga...
    Novel tere liye yang terakhir saya beli saat pameran 5th lalu 😥

    ReplyDelete
  13. membaca reviewnya kok saya jadi tertarik pingin beli bukunya ya .. makasih mbak, tulisannya bagus

    ReplyDelete
  14. Ini adalah novel tere liye terakhir yang saya baca. tertarik karena tere liye menyelipkan "adegan" action di dalamnya.. not bad lah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, adegan mengerikan buat pembaca seperti saya :D

      Delete
  15. Tere liye... Memang tahu cara bikin ibu bangsa baper. Ternyata bliau bapak2 ya?

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature