Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

9 Tips Anti Panik Atasi Anak Kejang Demam, Ternyata Tidak Harus Selalu Rawat Inap, lho



Pernah mengalami berhadapan dengan anak yang sedang kejang demam? Yap! Kejang demam itu meskipun tampak berbahaya dan mengerikan, sejatinya tidak memengaruhi otak anak, lho. Kejang demam biasanya terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun sampai dengan enam tahun.

Anak-anak dengan riwayat kejang demam dari keluarganya biasanya punya kemungkinan besar akan mengalami hal serupa. Salah satunya adalah putra sulung saya. Sebelum saya menikah, saya kurang paham akan hal ini sehingga cenderung tidak peduli. Setelah menikah dan punya anak, saya berkesempatan belajar tentang dunia medis dari milis sehat dan dokter-dokter super RUM di dalamnya. Sebut saja dokter Apin, dokter Endah, dokter Wati dan dokter Anto.

Tapi, nyatanya saya baru sadar dan ngeh jika selama ini pernah kejang demam parah setelah si sulung mengalami kejang demam pertamanya pada usia 2 tahun. Kaget? Panik? Bingung? Pengen nangis? Pasti itu terjadi pada semua orang tua yang mengalami ini.

Malam itu, sambil menghitung waktu dia kejang, saya tidak berani melakukan apa pun kecuali yang telah disebutkan di dalam buku yang ditulis oleh dokter Wati – milis sehat. Berbekal buku itulah saya menghadapi putra saya yang sedang kejang. Memiringkan badan, tidak memasukkan apa pun ke dalam mulutnya karena bisa menyebabkan sulit bernapas, melepaskan pakaian, melihat bagian mana yang kejang, apakah seluruhnya atau sebagian, dan pastinya menghitung berapa lama dia kejang demam.

Dan malam itu, sulung berhenti kejang tanpa saya berikan stesolid karena memang tidak pernah menyediakan sebelumnya. Nggak kebayang aja bakalan kejang demam. Pelajaran berharga, seharusnya saya mengetahui jika dulu pernah kejang demam, dan risiko terjadi pada anak saya akan besar juga.

Keesokan harinya, sulung kembali kejang. Ini kejang pertama dan berulang jadi saya segera melarikan dia ke UGD. Sampai di sana dia sadar dan menangis ketika diperiksa. Mau minum dan demam turun. Lega? Hm, harusnya begitu. Tetapi ternyata tidak semudah itu, lho. Dokter yang berjaga di UGD sempat bikin panik. Minta sulung dirawat inap untuk observasi. Oke, saya setujui itu, nggak mau sok pintar karena saya tidak menguasai dunia medis. Tapi, yang pada akhirnya membuat saya berat adalah, si sulung harus diinfus. Jika dia tidak mau minum dan khawatir dehidrasi oke. Ini dia baik-baik saja, kondisinya normal bahkan tidak demam lagi saat dibawa ke UGD. Tapi, dokter menolak jika rawat inap tanpa diinfus. Saya ditertawakan. Padahal teman saya anaknya cukup diobservasi tanpa infus. Gemas banget rasanya saat itu.

Jika berdebat, orang seperti saya sudah pasti kalah. Saya membawa buku, membolak balik, membaca beberapa kejadian yang dialami oleh anggota milis saat anaknya kejang demam, dan saya pun sampai pada kesimpulan bahwa anak saya nggak perlu rawat inap. Karena malas berdebat, akhirnya saya tetap di luar dan suami yang akhirnya meminta resep stesolid rektal untuk disimpan dan digunakan sewaktu-waktu.

Alhamdulillah, keputusan itu nggak pernah salah. Sepulang dari UGD, sayalah yang akhirnya tumbang. Saya demam dan sakit, sedangkan si sulung demamnya sudah turun dan positif common cold. Kebayang jika dia akhirnya rawat inap dan saya sakit. Duh, sengsara banget pasti.

Dan setelah itu, sulung lumayan sering kejang demam. Setahun dia bisa mengalami beberapa kali kejang demam, ada tahun di mana dia benar-benar tidak kejang. Dan tahun keenam usianya, dia kembali kejang. Si sulung, entah kenapa, qadarallah, sering banget kejang ketika nggak ada ayahnya. Jadi, hanya saya saja yang ada di rumah saat kejadian itu. Begitu juga ketika dia kejang saat usianya enam tahun. Mengagetkan karena tahun sebelumnya dia bahkan tidak pernah kejang.

Saat itu, saya bersama bungsu sedang ke dapur, sedangkan sulung tidur di ruang tengah dalam kondisi lemas. Nggak lama saya kembali dari dapur, dia sudah kejang, sampai terkencing, lidah digigit sampai berdarah. Panik? Banget, langsung lari ke kulkas dan ambil stesolid rektal. Nggak lama kejangnya hilang. Dia lemas, seperti tidak sadar dan kemudian mau minum. Pelan-pelan membaik.

Mungkin selama ini nggak pernah kebayang bakalan menghadapi hal seperti ini. Tapi, sejak bergabung dengan milis sehat saya merasa jauh lebih siap. Meskipun panik, saya tetap tahu apa yang harus saya lakukan. Meskipun takut dan bingung, saya harus tetap rasional, nggak boleh mengorbankan anak hanya demi menenangkan diri sendiri. Jika memang tidak perlu rawat inap, saya tidak akan melakukan itu meskipun kadang saya berhadapan dengan dokter yang mengejek saya dan suami yang dulunya belum RUM.

Usia enam tahun masih kejang? Menurut dokter anak yang menangani si sulung, itu masih wajar apalagi nggak ada tanda gawat darurat yang perlu dikhawatirkan. Jadi, saya pun merasa cukup lega mendengarnya. Dan usianya saat ini sudah hampir delapan tahun. Nggak kebayang dulu bagaimana menghadapi dia yang sering banget kejang, kayaknya berjalan aja seperti air.

Dan inilah beberapa tips anti panik yang bisa saya bagikan untuk kamu yang punya riwayat kejang demam dalam keluarga.

·         Pahami bahwa kejang demam itu muncul karena adanya demam bukan karena kelainan pada otak anak. Kebanyakan kejang demam terjadi pada hari pertama demam.
·         Sampai saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa kejang demam itu berbahaya dan mempengaruhi inteligensia dan meningkatkan risiko epilepsi. So, kamu bisa sedikit lebih tenang jika tahu fakta ini.
·         Baringkan di tempat yang aman dan datar. Jangan menggunakan bantal, ya. Posisikan anak pada posisi setengah tengkurap dan setengah miring untuk mencegah tersedak.
·         Jangan lupa berikan diazepam supositori atau stesolid rektal sesuai berat badan dan harus pakai resep dokter.
·         Jangan menahan gerakan anak apa pun supaya tidak terjadi patah tulang atau hal yang tidak diinginkan. Sabar, dan plis tenangkan diri.
·         Hitung durasi kejang dan bagian tubuh mana yang pertama kali mengalami kejang. Nanti ini dibutuhkan sebagai referensi diagnosis dokter.
·         Pelajari tanda gawat darurat dan kapan harus ke dokter.
·         Selalu sedia stesolid rektal di rumah sebagai persiapan, dan ini hanya boleh diberikan ketika anak sedang kejang, tidak dipakai untuk mencegah juga.

Itulah beberapa tips yang bisa kamu terapkan di rumah jika memiliki buah hati yang pernah mengalami kejang demam. Semoga bermanfaat dan pliss, tenang dan jangan panik.

Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan menulis bersama Estrilook.com dan Estrilook Community #Day8 #Kesehatan Anak


Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature