Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Proses Menyapih yang Tiba-tiba, Rasanya Bunda Tak akan Pernah Siap


Ya Allah, pukul setengah 12 malam, baru saja, adek bangun dan mulai gelisah. Ya, ini hari pertama dia mulai saya sapih. Usianya sudah 3 tahun lebih sodaraah..he. Emaknya aja yang belum siap mental dari kemarin sehingga sampai usia sebesar ini masih saja menyusu.

Foto: pexels.com

Sebenarnya, suami sudah gemas bukan main karena saya tak kunjung menyapih si bungsu. Kesel banget kayaknya si doi karena kelihatan banget yang enggan menyapih adalah sayanya. Anaknya mah santai aja, ya. Masalahnya ini harus ditunggu sampai kapan?

Setiap anak itu berbeda. Kalau si sulung, setelah dua tahun lebih, saya sudah berani nyapih. Dia juga sudah lulus toilet training usia 3 tahun kurang. Nah, si bungsu kebalikannya banget, nih. Usia 3 tahun masih belum lulus keduanya. Gimana nggak gemas ayahnya? Haha.

Siang tadi, entah keberanian dari mana, tiba-tiba saya memutuskan untuk menyapih adik. Oke, semua harus dimulai, kalau nggak bisa sampai kapan? Dan apa yang terjadi? Biasa aja sebenarnya, karena selama ini dia bukan tipe anak yang ngempeng sama emaknya. Pergi sama ayahnya, dia pulas di rumah eyangnya. Bahkan Februari ketika kami ke Turki, dia nempel terus sama ayahnya dan nggak pernah menyusu. Di bis dia pulas duduk di sebelah ayahnya. Hampir nggak pernah nyusu selama perjalanan, kecuali ketika di hotel.

Nah, seperti itu juga yang terjadi selama ini. Kalau ikut kajian, dia gengsi banget mau menyusu di depan ibu-ibu..kwkwk. Ngantuk aja dia nggak mau nyusu. Dia bisa banget jaga image..hihi. Tapi, pas sudah pulang ke rumah, lihat emaknya selonjoran, mulai deh nempel.

Dan ini terjadi sampai dia akhirnya berusia 3 tahun. Duh, yang gemas banyak banget pula. Mulai dari ayah, eyang, sampai tetangga yang tahu..kwkwk.

Masalahnya, saya nggak pernah siap, lho. Nggak pernah bahkan sampai saat ini ketika dia benar-benar saya sapih. Duh, sendu banget rasanya.

Siang tadi, sebelum tidur siang, dia setuju nggak mau menyusu. Kita baca buku yang banyak, yang dia suka, saya bacakan semua. Santai banget, kemudian dia tidur pulas. Lega emaknya. Sejaman kemudian, dia bangun dan mulailah ingat mau menyusu. Duh, harus ditahan nggak boleh lemah..hehe. Akhirnya dia nangis, tapi nggak minta menyusu. Galau tingkat dewa. Bikin nggak tega. Nangisnya lama pula. Dan ini hanya saya yang alami, ayahnya mah cuma dengerin cerita sambil ketawa..haha.

Setelah nangis dia nggak tidur lagi. Saya ajak beli eskrim sambil bilang dia hebat karena sudah berhasil nyapih. Udah santai lagi dong anaknya. Biasa aja sampai sore, bahkan malam ini.

Seperti biasa, sebelum tidur baca bukunya banyakan sampai dia ngantuk banget. Saya harus bersyukur karena anak-anak, dua-duanya, sejak kecil semua suka banget sama buku. Dibacakan mereka anteng bukan main, barakallah. Bahkan kadang saya yang capek bacainnya..he. Dan rupanya ini sangat membantu sekali ketika terjadi hal seperti sekarang.

Dan nggak lama setelah baca buku, adik bobok pulas banget. Nggak nangis, nggak drama. Biasa aja. Tapi, saya sih sebenarnya ragu, ketika bangun tengah malam dia biasanya menyusu, saya yakin dia gelisah. Dan benar saja, meski tak seheboh seperti tadi siang, dia cukup bingung mau ngapain pas tadi bangun. Dipijit, digendong, akhirnya minta turun lagi dan bobok lagi di kasurnya. Dia bilang, “Mau bobok sama Bunda.” Hiks, sedihnya. Ini ngetik sambil nangis ya Allah, saya kok lebay banget jadi ibu, ya. Baru begini aja udah nangis. Dia nggak sedang minta menyusu. Mau nempel aja. Justru bikin saya sedih banget.

Saya bersyukur, telah dititipkan sulung dan bungsu oleh Allah. Meski selama ini saya belum jadi ibu terbaik buat mereka, semoga mereka tahu bahwa saya sayang keduanya. Sulung itu, lebih keras, pendiam kalau nggak kenal banget, lebih mirip emaknya, suka menggambar, suka membaca buku, dan barakallah dia selalu juara di kelas. Banyak prestasinya yang bikin bangga dan haru, dia itu termasuk pemalu, disapa tetangga sampai ratusan kali cuma balas melihat aja. Kadang gemes banget lihatnya, apa susahnya menjawab ‘kan? But, dia punya sesuatu yang membuat saya hampir nggak percaya, dia berani tampil di depan banyak orang, memberikan pesan kesan saat perpisahan di sekolah. Kalau saya mungkin udah demam panggung. Dia juara satu lomba bercerita, pemalu tapi ketika maju di depan umum dia jauh dari kata itu. Dia pandai banget memainkan alat musik, dia hapal dengan mudah sampai bu guru aja bingung, saya pun sama. Barakallah, saya jarang banget cerita tentang kakak. Mungkin suatu saat dia akan membaca tulisan ini. Saat itu dia akan tahu bahwa saya bangga telah memiliki dia.

Berbeda dengan sulung, si bungsu yang sejak lahir aja banyak dramanya, rupanya lebih kuat dan pembawaannya jauh lebih santai. Dia humoris banget, dan kelihatan banget tengil kayak ayahnya..haha. Empatinya tinggi, barakallah. Kalau marah sama kakaknya, nggak lama dia sendiri yang nggak tega. Adik juga jadi kebanggaan bunda. Insya Allah, nggak lama dia akan terbiasa nggak lagi menyusu.

Ini proses menyapih yang tiba-tiba. Sebenarnya, mau menunggu sampai kapan pun, saya nggak akan pernah siap. Nggak tahu kenapa, saya masih pengen banget dia kayak bayi aja. Saya nggak bisa menjelaskan seperti apa rasanya, tetapi saya tahu sedang tidak ingin lepas dari dia. Duh, drama banget nyapih anak. Setelah melahirkan, selain mendidik, menyapih juga menjadi tugas yang sangat berat buat saya. Semoga adik mengerti, bahwa menyapih adalah keharusan, meskipun kita nggak pernah menginginkan. Curhatan yang lebay..hehe.

10 comments on "Proses Menyapih yang Tiba-tiba, Rasanya Bunda Tak akan Pernah Siap"
  1. Serba salah kalau menyapu yaa!! Buu!! Kita didik agar anak tak biasa nyusu malah ada rasa nggak tega...😄😄

    Jadi seperti maju kena.. mundur kena.😃😃

    ReplyDelete
  2. Kemarin papinya bilang Gen nonon nya 10 bulan lagi duh kayanya aku mulai meleleh, tetep semangat menyapih dengan cinthaaa 😍

    ReplyDelete
  3. semangat bunda. meskipun menyapih ke anak terasa berat, meskipun ibu gak tega, tetap saja ini semua buat kebaikan anak.

    ReplyDelete
  4. Kok aku ikutan berkaca2 bacanya ya mbak :(
    Kan jadi pengin berumah tangga nih, wkwkwk
    Tp mbak sepupuku juga gt, mau nyapih dia yang galau banget, pdhl anaknya keliatan santai aja.. Hhh

    ReplyDelete
  5. Ibu memang sensitif dan kasih sayang nggak perlu diragukan lagi hehe

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature