Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Jatuh Cinta Diam-diam


Jatuh cinta diam-diam itu menyebalkan. Menahan rindu dan pura-pura tak peduli adalah hal gila. Apalagi ketika itu terjadi pada diriku yang sudah berumah tangga.


Foto: pinterest.com


Rai selalu terlihat cuek dan tak peduli. Sesekali dia memang mahir mengganti popok si bungsu, tetapi sulit sekali mengatakan rindu padaku. Dia juga tidak segan mengajari si sulung naik sepeda, berlarian di teras rumah dan terbahak ketika bergurau dengan Biru, sulung kami. Tapi, dia tidak bisa melakukannya padaku. Bahkan aku selalu berharap jika semua ini hanya mimpi. Punya suami yang tidak pandai mengatakan rindu dan cinta sama persis berada pada persimpangan hidup dan mati.

Seburuk itulah yang selalu kupikirkan sepanjang hari. Aku kesal, aku tidak bahagia! Kenapa aku harus punya pasangan yang setiap hari merasa gugup ketika bertatap muka denganku? Bukankah kita sudah bersama sepanjang delapan tahun? Tidakkah ada yang bisa dia katakan selain hanya diam seperti senja yang sedang jatuh cinta tapi tak bisa menyampaikan apa pun selain tatapannya yang bercerita?

Oh, Dear. Aku butuh dia bicara. Wanita butuh bukti bukan hanya sekadar tatapan hangat setiap bangun tidur. Kadang aku merasa dia mulai lupa siapa istrinya? Bahkan dia terlihat sibuk membalik lembaran koran ketika tiba-tiba kudatang dan duduk di sebelahnya.

Aku merasa konyol sendiri setiap kali mendekatinya. Secangkir teh panas yang kuhidangkan di ruang tamu segera tandas. Aku tahu dia gugup setengah mati. Kami seperti dua sejoli yang baru saja bertemu. Seperti dikisahkan dalam sebuah fiksi karangan penulis novel terkenal. Ya, lelaki pendiam yang tak bisa berkata cinta itu bodohnya telah membuat aku jatuh cinta.

Aku berpikir keras sepanjang hari demi membuat dia bicara. Bukan hanya soal sepatu yang terkena lumpur serta kemeja kusut di lemari. Tetapi juga soal hati yang dia sembunyikan setengah mati sejak kami menikah.

“Seharusnya sejak awal kita bicara, Rai.” Sahutku sambil merebut lembaran koran di tangannya.

“Tentang apa?” Rai menyembunyikan wajahnya sambil menyesap sisa teh di dalam cangkir.

“Tentang hubungan kita.”

“Ada yang salah? Bukankah selama ini semua berjalan baik. Aku lihat anak-anak juga bahagia punya kamu,”

“Dan kamu?” tanyaku cepat.

Rai menaruh cangkir tehnya, “Aku?”

Aku tahu dia mulai gugup. Kemudian aku tertawa. Ternyata wajahnya yang semerah tomat itu benar-benar lucu. Bahkan belum sempat aku berhenti, tiba-tiba dia mencubit hidungku.

“Hei, bisakah kamu berhenti tertawa?”

Aku tersentak. Menepis cubitan kecilnya.

“Aku juga bahagia punya kamu,” Rai menutup percakapan sore itu dengan manis. Meski setelahnya dia tak pernah lagi mengulangnya. Setidaknya aku tahu, bahwa dia juga bahagia bersamaku.

Terima kasih, Raifan.

14 comments on "Jatuh Cinta Diam-diam"
  1. Aku bapeeerr!!! Ini benerankah mbak? Duh, ku kok jd pengin nikah ya. Haha
    *Merasa konyol

    ReplyDelete
  2. so sweeettt.. baper paraaahhhh...

    ReplyDelete
  3. Mbak...sukaaa!
    Pesan moral buat para suami di luar sana: ayo sampaikan perasaanmu pada istri tercinta. Jangan diam aja!...:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih, Mbaaak...kuterharu dipuji mba Dian :D

      Iya tul banget..sambil jambakin suami,,kwkwk

      Delete
  4. Mbk muyassaroh penulis ya? Bagus banget cerpennya....😍😍😍😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, masih belajar kok mbak..makasih yaa udah berkunjung, salam kenal :)

      Delete
  5. cerita menarik..

    saya sudah lama kehilangan cinta..

    tapi tak pe..

    di usia sudah tua begini redha sahaja la

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga diberi jodoh terbaik, ya..amiin

      Delete
  6. Hemmmm... berasa ada yg curhat 😍

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature