Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Alona dan Nyanyian Hati


Alona menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Suara bedebum mengejutkan seekor kucing kesayangan yang terlelap di sofa ruang tamu.

Alona kesal. Dia mengunci pintu dan membuka jendela kamar lebar-lebar. Hawa sejuk dari kebun apel paman Goblin menyentuh hidungnya. Andai saja dia bisa bermain lebih lama di luar. Andai saja aunty Flora mengizinkan. Alona ingin lebih lama bernyanyi bersama angin. Aroma kelopak bunga di kebun nenek Soraya membuat dia bahagia.

Foto: id.pinterest.com


Tetapi, aunty Flora selalu mengatakan itu berbahaya! Alona yang masih berusia delapan tahun itu tak mengerti apa yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya bermain di taman, kadang menyambangi kebun apel paman Goblin, kadang mampir melihat kebun bunga nenek Soraya. Tidakkah itu hanya sebuah kegiatan sederhana?

“Alona! Alona! Cepatlah pulang!”

Teriakan itu selalu saja mengejutkannya. Ketika dia sedang asyik memetik buah apel yang ranum, cepat-cepat paman Goblin pun menyuruhnya segera pulang. Jika terlambat, Alona bisa dimarahi habis-habisan.

Alona kesal. Setiap hari dia hanya bisa menghabiskan waktu di dalam kamarnya yang pengap. Sesekali suara ranjang tua miliknya berderit. Menyiratkan kesepian yang mendalam. Sejak Ibu pergi, Alona tak pernah diizinkan keluar rumah sendiri. Sedangkan aunty Flora harus bekerja menjaga toko hingga larut malam.

Alona ingin ikut dan melihat toko. Tapi aunty sambil melotot menggeleng. Gadis delapan tahun dengan rambut sebahu itu pun tak bisa berbuat apa-apa.

Jika aunty Flora pergi bekerja, Alona bisa pergi diam-diam. Tetapi, kali ini dia tak bisa lagi melakukannya. Aunty Flora mengunci pintu rumah. Dia tak bisa menikmati ranumnya buah apel milik paman Goblin, dia juga tidak bisa menghirup aroma harum dari kebun bunga milik nenek Soraya.

Alona kesal. Jika saja dia bisa pergi dari rumah itu, dia ingin sekali bertemu Ibu. Sejak beberapa tahun silam, Ibu tak pernah kembali lagi. Padahal, Ibu hanya pamit sebentar membeli sepotong roti untuk makan malam. Tetapi, sejak malam itu, Ibu Alona tak pernah kembali. Menghilang seperti mimpi.

Alona menatap langit, senja sudah tiba. Tidak ada lagi keramaian. Semua orang sudah menutup jendela rumah dan mengunci pintu. Sedangkan Alona, masih mematung di depan jendela kamarnya.

Tiba-tiba suara pagar rumah berderit. Alona mengintip. Aunty Flora sudah datang. Cepat-cepat dia menutup jendela dan berlari ke tempat tidur. Menarik selimut dan menutupi wajahnya. Alona malas bertemu aunty Flora. Dia kesal bukan main karena tak pernah diizinkan keluar rumah sendiri.

Terdengar ketukan pintu beberapa kali.

“Aku sudah tidur!” teriak Alona.

Ups! Alona lupa kalau orang tidur pasti tidak bisa bicara. Terdengar suara gelak tawa dari luar pintu kamarnya. Terpaksa Alona berjingkat dari tempat tidur dan membuka pintu.

“Aunty bawakan makan malam kesukaanmu.”

Alona mengintip, melihat setangkup roti isi kesukaannya. Aromanya memanggil perutnya yang keroncongan.

Aunty mengajak Alona ke meja makan. Ini malam pertama mereka makan malam berdua di meja makan sejak Ibu menghilang pergi.

Aunty menuangkan teh hangat pada gelas milik Alona. Alona hanya menatap setangkup roti di depannya. Belum dia sentuh.

“Aunty ingin sekali bicara, bisakah kita berteman lagi, Alona?”

Alona tak mengerti, bukankah selama ini mereka berdua bahkan lebih dari sekadar teman? Mereka adalah saudara, lebih dari sekadar teman. Orang dewasa kadang bertingkah aneh.

“Alona?” aunty memanggilnya lagi, meminta dia mendengarkan.

“Kenapa sih aunty selalu melarangku pergi ke luar? Aku juga ingin bermain, aku bosan di rumah. Teman sebayaku semua sekolah. Sedangkan aku tidak!” Alona menangis.

“Aunty cuma ingin kamu baik-baik saja, Alona. Di luar terlalu berbahaya. Lihat Ibumu tak pernah kembali. Tidak ada yang tahu di mana dia sekarang. Aunty tidak mau kehilangan lagi.

Alona, sejak lama aunty menabung untuk membayar sekolahmu, kamu pasti tak akan percaya ini. Aunty sudah bisa memakai uang tabungan ini untuk melunasi uang sekolahmu. Kamu bisa sekolah lagi, Alona! Kamu tak perlu bersedih berada di rumah sendirian setiap aunty pergi bekerja. Kamu akan jadi anak yang bahagia, di sekolah jauh lebih aman. Kamu bisa bertemu teman-temanmu lagi.” Ucap aunty dengan mata berbinar.

Alona tidak pernah menyangka, ternyata selama ini orang yang telah dia benci justru telah memperjuangkan sesuatu untuknya. Mungkin aunty memang benar, di luar terlalu berbahaya. Alona ingin bahagia, jadi dia memutuskan tersenyum dan memeluk aunty Flora. Satu-satunya orang yang dia miliki saat ini.

5 comments on "Alona dan Nyanyian Hati"
  1. Hai, Alona! Selamat bersekolah lagi, ya. Seneng deh baca cerpen ini, ringan tapi seakan dibawa ke suasana desa2 di Eropa sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyak, Mbak..salam sayang dari Alona :)

      Delete
  2. Mbak..keren ini . Bagus ceritanya. Lain kali kirim ke Bobo :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, cerita yang dihasilkan dari melihat gambar dulu baru ngarang. Sy maluu mau kirim ke bobo, takut malah nyasar ke bobok :D

      Delete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature