Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Pada Suatu Sore...

pixabay.com



Pada suatu senja yang pekat, bertabur gerimis serta mendung, sendu itu tiba-tiba saja menghampiri. Di mana pada suatu sore yang sama, kita bertikai dan akhirnya memilih berpisah. Aku tidak berniat pergi, meski langkah kaki semakin menjauh. Ego dan rasa kesal sebab ulahmu membuat pikiran jadi kacau.

Pernikahan kita sudah menua. Jalanan berbatu yang membentang di antara taman mungil dan rumah kita bahkan telah berubah bentuknya. Tak lagi berupa bebatuan yang kadang membuat langkah ngilu. Pekerja itu telah menyulapnya menjadi jalan yang kokoh.

Sayangnya, saat itulah hubungan kita justru merenggang. Aku berdiri pada posisi yang bagiku tak pernah salah. Sedangkan kamu berusaha menyeberangi sungai yang memisahkan antara kita. Selalu berbeda dalam setiap pandangan membuat hubungan kita semakin rumit. Ada saja yang diperdebatkan, termasuk soal siapa yang harus memeriksakan masalah kesehatan. Aku atau kamu, Han?

Aku belum juga hamil pada usia pernikahan yang hampir genap sepuluh tahun. Orang tua serta kerabat sudah kalang kabut, menyuruh bayi tabung hingga yang tergila adalah menikah lagi dan meminta cerai darimu. Katanya di keluarga kami tidak ada keturunan mandul. Sepertinya kamu jadi salah satu yang tertuduh.

Dan sore itu, ketika gerimis memayungi kita, aku sempat mendengar jika kamu sudah lelah dengan hubungan ini. Meminta segera berpisah karena tak tega melihatku sering ditekan oleh orang tua. Apalagi kalau bukan soal momongan. Bagiku perkataanmu membuat darah mendidih.

Han, ini bukan soal aku bisa hamil atau kamu yang mandul. Ini soal seberapa besar kesetiaan kita setelah ikatan sakral itu didapat. Bagaimana kamu bisa meminta kita berpisah, sedangkan dalam hati kecil masih menginginkan kebersamaan yang indah? Aku bisa melihat dari pandanganmu. Masih sehangat ketika pertama kali bertemu.

Tidak ada yang salah dengan hubungan kita. Justru kamulah yang telah membuat retak hati serta perasaanku. Di ranjang berwarna kelabu dan aroma obat-obatan, aku mengingat semua perjuangan yang pernah kita lakukan bersama.

Jika Tuhan tidak pernah berkehendak, apapun yang kamu usahakan atau yang aku minta tak akan pernah terjadi. Salahnya kita berdua kadang tidak memahami hal itu. Sudah seminggu aku tak lagi bisa menghubungimu. Sebab pertengkaran kecil kemarin. Karena aku marah dan kamu menganggap aku menerima semua pendapatmu. Padahal aku pergi hanya karena kesal, kesal dengan kekanakanmu. Sejak kapan kita boleh seperti ini?

Gerimis di luar semakin menderas. Sedang apa kamu di sana, Han? Rindu ini sudah mendayu-dayu ingin bertemu. Kabar gembira akan membuat hubungan kita semakin membaik. Jangan khawatirkan soal keturunan, tanpa itu pun aku bahagia bersamamu. Perjalanan ini bukan hanya soal itu. Sebab cinta yang kemarin masih beraroma sama. Tidak sedikit pun berkurang meski telah ditempa badai.

Han, aku tak ingin banyak berkata ketika menatapmu. Aku ingin menikmati lekuk wajahmu yang biasa membangunkan tidurku. Dan perkataan pertama yang ingin kulontarkan hanya satu, Han. Aku hamil. Ini anak kita. Ketika kamu dan aku hampir putus asa, di sanalah Tuhan mengabulkan semuanya.

Dan ketika Rasti membuka matanya yang sembab, nampak seorang pemuda berwajah tampan berdiri dengan mata berembun. Lelaki itu tak menanyakan apapun kecuali memeluk istrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit. Ya, dialah Burhan. Lelaki yang selalu Rasti ceritakan dalam mimpi-mimpinya. Lelaki yang membuat gerimis jadi pelangi. Lelaki yang tak pernah sempat memuji wanita lain, sebab setia itu terpatri di dalam hatinya. Lelaki itulah yang membuat Rasti menangis setiap sore. Dan kini lihatlah, dia sudah kembali dan berjanji tak akan pernah pergi lagi…

13 comments on "Pada Suatu Sore..."
  1. Wooww!! Sebuah cerita mahligai rumah tangga yang retak cuma masalah momongan atau kerinduan malaikat kecil...

    Namun pada dasarnya pernikahan tak mesti harus gugur cuma masalah tidak adanya keturunan...Meski semua itu sesuatu yang selalu ditunggu pada setiap pasangan..

    Akankah Burhan dan Rasti bisa mereguk kehidupan rumah tangganya kembali..??? 😱😱

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca yaa...entahlah :D

      Delete
  2. Mbak muyasssss 😭😭😭 cukup mbak... Ndak kuat aku dg cerita2 begini. Tapi ceritanya nagih 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lambaikan tangan ke kamera mbaak.. :D

      Delete
  3. Ujian dalam membina rumah tangga bisa dalam bentuk apa saja ya :) Syukurlah akhirnya dikarunai momongan :) Dan rindu yang terobati :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul.. saya mah nggak suka nulis fiksi yang sedih..nanti baper sendiri mas..hehe

      Delete
  4. sukaaaaaaaaa bangetttttt...dari kalimat dan paragraf pertama udah kayak baca puisi. indah bgt.

    emang ya kalo ditanyain udah hamil apa belum? itu sama kyk jomblo yang ditanyain kapan nikah? ya paham lah perasaannya sirasti. lanjutkan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih banyaak mbak tetangga dekat *eh :D

      Delete
  5. wallahi daku terhanyut, so touching ... mbak !
    ... "pada suatu sore"...
    Yakin Allah maha tahu yang terbaik buta hamba-hambaNya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah, terima kasih banyak mbak.. :)

      Delete
  6. Bisaaan iih..bacanya bikin baper. Ada lanjutannya gak neh?

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature