Memilih Sekolah yang Tepat Untuk Buah Hati


sumber


Apa yang paling berkesan saat teman-teman masuk Sekolah Dasar? teman-teman yang kocak?  guru super killer yang bisa menyayat hati atau teman sebangku yang tak terlupakan?

Buat saya, sekolah memang haruslah dijalani dengan bahagia. Sejak masuk Sekolah Dasar, saya termasuk anak yang penakut banget masuk kelas. Nggak terlalu mudah bergaul, dan cengeng pula. Sekolah kadang menjadi salah satu hal menakutkan, sih. Pernah ingat juga bagaimana teman-teman suka mengolok, termasuk memanggil nama saya dengan nama orang tua. Ya, terbahak sambil mau nangis..kwkwk.

Saya pun termasuk anak yang nggak mau sekolah hanya di tempat yang sama. Sejak masuk SMP, saya sudah minta pindah. Padahal saya bukan pemberani, cuma pengen pendidikan yang kualitasnya jauh lebih baik sudah mulai terasa aja saat itu. Kebayang aja sih pas SD, ada guru yang sukanya bilang, “Yuk, pulaang,” senang sih senang, tapi pada akhirnya sering pulang cepat dan nggak dapat materi pelajaran memuaskan lama-lama menyulitkan kita juga, ya.

Beruntungnya saat SMP saya sudah pindah ke sekolah lain dengan keberanian dikerahkan sepenuhnya, mulai mengurangi tingkat kecengengan serta hemat jajan karena harus naik angkot sedangkan orang tua nggak bisa ngasih uang saku lebih. Akhirnya setiap hari hanya jajan permen beberapa bungkus saja…hihi..Saya nggak merasa kurang suatu apapun saat itu meskipun kebanyakan diam di kelas bukan karena nggak suka jajan ketika jam istirahat tetapi lebih karena uang jajan nggak cukup walaupun hanya buat beli satu buah gorengan. Dan hal yang paling aneh, saya dan beberapa teman saya justru dijuluki anak yang rajin karena setiap jam istirahat hanya di kelas, buka LKS, bahas soal…hihi. Mereka nggak tahu sebagian di antara kami sebenarnya nggak bisa bayar kalau sampai nyomot gorengan di kantin… :D

Alhamdulillah, meskipun banyak hal harus diperjuangkan, tetapi saya membuktikan bahwa semua itu bukan jadi halangan buat berpestasi. Ngejar peringkat satu bukan satu-satunya alasan karena ingin jadi terbaik, lho. Justru itu saya kejar sekuat tenaga karena ingin meringankan beban orang tua. Dulu, kalau dapat peringkat pertama, kita tak perlu bayar SPP sampai setengah tahun. Kan lumayan banget buat orang tua saya yang penghasilannya pas-pasan.

Dan memang kerja keras pastilah membuahkan hasil yang manis meskipun kadang kita tak pernah tahu kapan itu akan bisa diraih.

Belajar dari masa lalu, kadang tak semua sekolah yang terlihat ‘WAH’ dari luar juga tampak sama di dalamnya. Saat menikah dan tinggal di Jakarta, saya tentu tak punya banyak kenalan dan pengalaman, nggak banyak tahu sekolah yang baik dan murah di mana. Yang ada justru mahal banget..hehe.

Yang jelas, saya memilih sekolah islam karena memang saya dan suami memang alumni sebuah pesantren dan materi agama yang lebih banyak tentu menjadi salah satu keutamaan yang kami kejar. Memang ada banyak sekali TKIT ataupun SDIT yang mahal dan mentereng, tetapi bukan berarti semuanya bagus setidaknya sependek yang saya tahu dan berdasarkan pengalaman teman-teman baru saya di sini.

Saya dan suami memang belum menghafal Al-Quran, tapi saya ingin anak-anak bisa hafal. Setidaknya mereka bisa mencobanya di sekolah. Nah, keberuntungan itu pun akhirnya kami dapatkan ketika menemukan sekolah buat si sulung. Alhamdulillah, di sana tenaga pengajarnya sangat ramah, baik serta sopan. Sedangkan materi untuk TK sangat sesuai. Nggak pernah pulang bawa PR sebab sy juga tahu anak TK sebaiknya tidak mendapatkan pekerjaan rumah itu.

Di sana juga anak-anak dilatih membaca sesuai tahap usianya, nggak memberatkan bagi anak-anak. Saya bersyukur, memang apa yang saya cari sudah sangat terpenuhi hampir seluruhnya di sekolah tersebut, barakallah.

Tahun ini merupakan tahun pertama bagi si sulung melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar. Alhamdulillah, setelah melakukan serangkaian tes, dia berhasil masuk SDIT di yayasan yang sama yang dia suka dan dia inginkan.

Dalam serangkain tes, setahu saya, nilai IQ bukan jadi patokan mereka diterima atau tidak. Tetapi justru kematangan serta kesiapan mereka itulah yang menentukan. Misalnya saja ketika psikotes ada sebagian yang nggak bisa mengikuti perintah gurunya, nangis nggak mau ngapa-ngapain sampai dengan suka-suka dia aja. Nah, kebanyakan yang seperti inilah yang akhirnya nggak lolos.

Untuk masuk sekolah juga ditentukan minimal usia berapa. Saat itu, si sulung sudah masuk 6,5 tahun. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Setelah tes, mereka pun akan dikelompokkan dalam dua kelas berbeda. Di mana pemisahan kelas ini sebenarnya ditujukan untuk mempermudah proses belajar mereka. Kenapa harus begitu? Karena setiap anak punya gaya belajar yang tidak sama. Dari hasil psikotes itulah juga ditemukan setiap anak memiliki gaya belajar apa dan lebih condong ke mana.

Misalnya saja si sulung, dia termasuk visual dan audio. Tetapi memang dia lebih condong visual. Anak-anak tipe visual tentu tidak sama gaya belajarnya dengan anak tipe audio. Makannya, pengelompokan ini buat saya sangat membantu sekali…

Dalam proses belajar mengajar, saya perhatikan si sulung benar-benar mendapatkan apa yang dia butuhkan. PR ada tapi jarang sekali, paling seminggu sekali itu pun kadang-kadang saja. Kenapa sih dari tadi sibuk ngurusi PR? Karena setahu saya, kebanyakan PR itu berdampak negatif buat anak-anak usia dini termasuk buat putra saya. Jadi, bersyukurnya saya bisa menemukan sekolah yang tepat meskipun saya bukan orang yang lama menetap di Jakarta.

Sekolah si sulung juga lumayan jauh dari rumah. Tetapi, itu bukan kendala. Banyak orang yang bertanya, kenapa sih sampai sekolah ke sana? Kan di sini juga banyak. Memang banyak tetapi pastilah tidak serupa seperti yang saya harapkan.

Sebagai orang Islam, saya tentu tidak mau anak hanya sekolah dan dapat materi umum saja, saya juga mau anak saya sekaligus bisa mengaji meskipun setiap hari dia belajar bersama saya. Tetapi menambah ilmu agama itu sangat penting. Nah, di sekolah si sulung, mengaji dan setor hafalan surat dalam Al-Quran memang dimasukkan dalam jadwal rutin. Jadi setiap hari pasti ada jamnya.

Jadi, buat saya, selain memilih sekolah yang terjangkau, ilmu agama serta guru professional juga sangat utama. Nggak populer bukan masalah asalkan anak-anak bisa medapatkan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan tahap perkembangannya. Nggak muluk-muluk, cukup yang seperti ini sudah sangat cukup buat saya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-14 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

14 comments:

  1. Setuju, mba.
    Bersyukur dapat sekolah yang tepat walau tempatnya jauh. Di kampung saya tidak ada sekolah seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak...korban jarak nggak masalah..

      Delete
  2. Semua guru lulusan FKIP atau Pendidikan, sudah profesional kok.

    Ulasannya menarik. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi begitu, tapi banyak teman mengeluhkan bagaimana sikap guru yg mengajar anaknya..dan sy pribadi juga pernah ngerasain sendiri.itulah kenapa sy sebutkan demikian dan pastinya nggak memukul rata semuanya...itu hanya pendapat sy pribadi berdasarkan pengalaman..

      Delete
  3. Kadang yang suka bikin sedih itu sekarang sekolah islam terpadu uang masuknya mahal banget. Memang sih katanya terjamin anaknya ilmu agamanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meskipun hampir semua mahal, tapi nggak semuanya bagus, Mbak..saya sudah membandingkan beberapa sekolah di sini..Tergantung ortunya mau pilih mana, ya..

      Delete
  4. Waaah pinter2 ya dek.. Semoga bisa jd hafidz ya mbak.. :) aamiin

    ReplyDelete
  5. Perjungan banget ya mba, jadi ga bisa jjan di skul dulu nya.. Kalau pemilihan sekolah ga tenar gpp asal kredible, bukan sekolah yang sering tawuran or bagaimana. Setidaknya terakreditasi B minimal

    ReplyDelete
  6. Wah mantap mba, memang harus begitu, memilih yang tepat untuk anak agar tidak repot buat nanti"nya :D

    ReplyDelete
  7. barokallah mbak, saya juga pusing mikirin, anak mau sekolah dimana, antara pesantrent atau SDIT

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau untuk usia SD saya memang masih ambil pilihan SDIT karena mereka pastinya masih butuh kita, kalau SMP kayaknya sudah harus mulai memikirkan pesantren mana yang pas..

      Delete