Saling Melengkapi dalam Pengasuhan Buah Hati


pixabay.com


Hal yang patut saya syukuri adalah memiliki pasangan yang mau berbagi tugas, bukan hanya soal mengurus rumah, tapi juga mengenai pengasuhan anak-anak.

Mugkin karena sejak SMP suami sudah ikut orang lain, dia pun mejadi pribadi yang sangat mandiri. Untuk menikah dan meminang saya pun, dia sama sekali tidak mau dibantu oleh orang tua. Di sini kadang saya bersyukur, hal yang pada akhirnya mau tak mau membuat saya harus menjadi pribadi yang sama.

Belum lagi karena kami memang tinggal jauh dari orang tua dan mertua, apa-apa benar-benar harus dilakukan sendiri, termasuk ketika anak sakit dan bagaimana model pengasuhan yang kami lakukan. Meskipun tak bisa dibilang sempurna, tetapi suami sudah membantu lebih sejak saya hamil hingga saat ini.

Ketika baru melahirkan, dia mau membantu memandikan bayi merah yang bahkan belum puput tali pusarnya, hal yang neneknya pun nggak berani lakukan. Hingga dia pun mau mengganti popok. Saya berterima kasih, sebab awal persalinan kadang kami hanya berdua saja sampai orang tua datang berkunjung. Jika bukan dia, lalu siapa? Sedangkan jahitan masih perih dan bikin ngilu. Nggak usah dibayangin, yaa..he.

Buat saya, ayah tidak bisa digantikan posisi pengasuhannya oleh seorang ibu. Keduanya memiliki dua hal berbeda yang bisa saling melengkapi tapi tidak bisa saling menggantikan. Saya dan suami pun bukan orang tua yang pandai soal ilmu parenting. Tapi kami sepakat melakukan dan mencari jalan keluarnya berdua.

Dalam keseharian, saya membantu si sulung sendiri. Dia belajar mengulang pelajaran di sekolah bersama saya hingga mengaji pun juga di rumah. Bukannya saya sok pintar sampai tidak memanggilkan guru ngaji atau menyuruh dia ngaji di TPQ mana, dulunya saya pun belajar mengaji bersama ibu meskipun di depan rumah ada mushalla. Jadi hal semacam ini pun ingin saya ulang ketika saya memiliki anak. Alhamdulillah, si sulung mengaji dengan benar di usianya yang saat ini masuk 7 tahun.

Sedangkan suami yang harus berangkat mulai pukul enam pagi hingga jam 7 malam, hanya sebentar bertemu, tetapi meski begitu kebersamaan kami tetap baik. Anak-anak selalu menyambut penuh antusias ketika ayahnya datang. Bisa jadi bukan hanya karena rindu, tapi bosan melihat saya terus seharian..he.

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tetapi kami sama-sama belajar untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Jika suami tahu sedikit tentang ilmu parenting, dia dengan senang hati membagikannya kepada saya, begitu juga sebaliknya.

Kami pun masih belum bisa disebut orang tua terbaik, sebab kadang masih keceplosan jengkel ketika anak-anak berulah, tetapi semoga kebersamaan dan saling mengingatkan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-9 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

18 comments:

  1. Wow...
    Keluarga yang bahagia yang harus dijadikan panutan.

    Tetap semangat mba memberikan yang terbaik buat keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, hehe, belum bisa disebut panutan, Mbak..masih acak2an..hehe

      Delete
  2. Hebat ya suaminya
    menjadi orang tua itu sepertinya memang sulit tapi mengasyikan
    saya memang belum pernah merasakan dan mungkin nanti akan melewati fase dimana saya di posisi itu
    melihat dan belajar dari lingkungan kluarga dan orang tua saya
    Pengorbanan orang tua sulit untuk terbalaskan meski uang segepok di bawa kehadapannya tidak akan membuat nya bahagia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, memang pengorbanan orang tua itu besar sekali, nanti bakaln tahu pas kita sudah ada di posisi itu..

      Delete
  3. Saya mah seumur -umur belum pernah mandiin bayi, ngeri saya. tapi suamiya berani ya... hebat euy..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya, kalau suami saya emang berani, sampai nyuci ari-ari aja sendiri, padahal sy bayanginnya aja geli, kenapa nggak dibersihkan di rumah sakit aja bawa pulang bersih :D

      Delete
  4. Yg jomblo mana suaranyaaaaa, hahaha
    Semoga kelak ku punya suami yg kaya gini, bisa saling bekerjasama buat ngurus bayik

    ReplyDelete
  5. ayah dan ibu adalah tim dalam pengasuhan anak, keduanya punya hak yang sama dan kedudukan keduanya tidak tergantikan hehe

    ReplyDelete
  6. Benar2 suami yg hebat.
    Insha Allah saya akan berusaha menjadi suami yg "hebat" juga untuk istri dan "calon anak" saya yg skrg msh di dalam perut istri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, semoga buah hati dan istrinya sehat selalu ya sampai persalinan.. :)

      Delete
  7. Masya Allah..benar-benar suami siaga Mbak Muyas..
    Semoga selalu Samara, Sebumi, Sesurga dengan suami yaaa

    ReplyDelete
  8. Betul tuh kata mbak Mhaya....Suami dan Istri harus menjadi panutan untuk kedua anaknya...Yaa!! Kalau bukan kita siapa lagi...☺☺☺

    Karena kelak anaklah sebagai generasi penerus kita...

    Masalah jauh dari mertua itu hal biasa......Aku pribadi paling anti tinggal sama mertua dan orang tua.☺☺

    Rumah sendiri lebih nyaman...allhamdullilah dan bersyukur bisa urus tiga anak..😉😉😉

    ReplyDelete
  9. suhu banged nih,,
    saya perlu banyak belajar mengenai kehidupan di blog ini..
    moga keluarga kecilku kelak bisa samawa kayak kalian y mbk muyas... dengan tambahan buah hati sebagai penyemangat hidup^^

    hidup ini indah

    ReplyDelete