Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Menjadi Ibu Memang Tidak Ada Sekolahnya, Tapi Masa Belajarnya Bisa Seumur Hidup!


pixabay.com


Menjadi seorang ibu memang tidak ada sekolahnya. Berbeda dengan cita-cita serta impian kita di masa lalu, berharap menjadi dokter ataupun guru. Semua ada sekolahnya, kecuali menjadi ibu.

Padahal, menjadi ibu sangat rumit, lho. Bukan hanya harus mengenal pendidikan akhlak dan budi pekerti, namun juga menjadi dokter sekaligus psikolog handal, ya.

Meskipun tidak ada sekolahnya, tapi seorang ibu bahkan akan terus belajar sepanjang hidupnya. Dengan berbagai macam masalah serta ujian yang kerap menyita pikiran, keinginan untuk memberikan yang terbaik tentu tak pernah usai.

Sejak masa hamil selama sembilan bulan, seorang ibu sudah dihadapkan pada banyaknya persoalan yang tidaklah mudah. Mual-mual di awal trimester pertama, hingga nyeri pinggang ketika kandungan telah memasuki sembilan bulan.

Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, lho. Ketika hamil, emosi kadang seperti roller coaster. Naik dan turun secepat angin. Entah kenapa, meskipun banyak hal sulit dialami bahkan membuat beban hidup jadi amat berat, kehamilan merupakan hadiah yang sangat menyenangkan.

Hal itu tentu karena kerinduan kepada buah hati. Ketika proses persalinan, hidup seolah dipertaruhkan. Seluruh tulang serasa dipatahkan secara bersamaan. Menjadi ibu, meskipun kerap dianggap pengangguran, tapi sejak awal persiapan, telah melalui banyak hal yang tak pernah mudah.

Setelah melahirkan, justru itulah awal proses belajar yang tak akan usai hingga anak-anak beranjak besar.

Januari 2011, untuk pertama kalinya saya merasakan kontraksi pada kehamilan kedua setelah sebelumnya sempat keguguran. Ternyata melahirkan itu prosesnya panjang dan menyakitkan. Sejak awal saya selalu mengatakan pada diri sendiri, bahwa yang namanya melahirkan pastilah menyakitkan, melelahkan bahkan hampir menyerah.

Ada saat di mana saya berteriak di dalam hati, ingin operasi, ingin mati. Padahal saat itu, saya hampir saja melahirkan si sulung. Saya tidak betah menahan sakit, disuntik saja bisa menangis dulu, lho.

Tapi, sejak awal kontraksi saya berhasil sesantai mungkin. Jalan-jalan mengelilingi koridor rumah sakit hingga ke tempat parkir. Itu terus saya lakukan hingga kedua kaki tak mampu berjalan dan rasa sakit bertubi menghunjam.

Nah, beberapa menit menegangkan, saya sempat lelah dan berteriak di dalam hati, ingin operasi padahal kalaupun operasi itu justru jadi jauh lebih menakutkan, ya..he. Sayangnya sudah tidak masuk akal lagi hal semacam itu di dalam pikiran. Meskipun perasaan kacau dan tak karuan, saya pun akhirnya berhasil melahirkan normal dengan didampingi suami. Ya, selalu kami hanya melaluinya berdua hingga kehamilan berikutnya.

Buat saya, menjadi ibu itu tak pernah ada habisnya untuk mencari ilmu dan belajar menjadi yang lebih baik. Meskipun tak bisa mengenyam pendidikan, tapi banyak hal bisa dipelajari, baik dari buku ataupun pengalaman orang lain.

Begitu juga soal kesehatan. Setelah melahirkan, tugas besar saya mempelajari dunia medis, sudah gaya melebihi mereka yang berprofesi dokter pula. Nggak bangetkan sampai berdebat sama dokter hanya karena saya tidak mau rawat inap tanpa alasan jelas? he.

Dan, putra saya yang sejak usia 2 tahun kerap kejang demam ini akhirnya memasuki usianya yang ketujuh di bulan Januari 2018. Nggak nyangka melihat postur tubuhnya sudah hampir menyamai emaknya yang masih dalam masa pertumbuhan *uhuk :D

Si kakak ini ternyata memiliki riwayat kejang demam dari saya. Secara medis, hal ini sangat besar kemungkinannya. Tapi, dulu saya nggak menyangka bakalan menurun kepada si sulung.

Ternyata, kejang demamnya nggak cukup sekali dua kali. Setahun bisa terjadi 2 hingga 3 kali. Lebih seringnya saya menghadapinya seorang diri karena biasanya suami masih di kantor.

Panik? Bukan main, meskipun sambil nangis dan gemetar, saya masih bisa ingat apa saja yang harus dilakukan, termasuk memberikan Stesolid rektal, memiringkan badan, tidak mamasukkan benda apapun ke dalam mulut dan tentunya menyebut Allah berkali-kali, saking paniknya…he.

Meskipun cukup membuat panik setiap kali terjadi, tapi saya percaya itu hanya kejang demam biasa. Dari mana tahunya? Apakah saya makan bangku kuliah atau makan selang infus di rumah sakit? He. Saya belajar dari milis sehat dan beberapa buku karangan dokter di milis sehat.

Nggak harus makan bangku kuliah kok buat memahami apa itu bijak gunakan obat, kapan waktu harus segera ke dokter, kapan harus cek darah, kapan harus cek urin meskipun saya pun sering kecolongan karena beberapa dokter kadang cukup horor ya, diagnosisnya..he.

Hingga sekarang, saya pun masih belajar bukan hanya tentang dunia kesehatan, tapi juga bagaimana cara menjadi teman yang menyenangkan bagi si sulung. Mudah? Sangat tidak mudah. Tapi, saya percaya semua perempuan bisa mengatasi semuanya sendiri.

Biasanya, kalau ibu-ibu sudah kepepet, kreatifnya justru muncul. Nah, di sana banyak ibu-ibu berhasil, ya..he.

Meskipun terbilang cukup rumit, tapi menjadi ibu itu merupakan profesi paling membahagiakan dan juga rawan stress..he. Ketika saya aman dan santai memasak di dapur, di belakang saya ada bayi membuka lemari dan mengeluarkan semua isinya. Ketika saya selesai memasak, ternyata saya harus membereskan sisa-sisa permainan kecil yang ditinggalkan oleh anak-anak dan kemudian harus melihat ruang tengah penuh dengan lego dan kubus huruf. 

Dan menurut penelitian, orang yang hanya di rumah biasanya memang memiliki tingkat stres yang lebih tinggi. Tapi, semua tentu kembali pada masing-masing, mau dinikmati dengan cara seperti apa hidup ini, ya.

Drama lebih mengejutkan ketimbang drama Korea tentu saja drama adik kakak. Dan si kakak, sekarang sudah beranjak besar. Dia bukan hanya manis, tapi juga romantis. Sebuah surat pernah dia tulis, ucapan terima kasih dan mengatakan bahwa dia tidak akan melupakan kebaikan bunda sampai dewasa. Itu dia berikan karena saya membuat puluhan soal ketika dia mau ujian…he. Bukan ketika saya memberinya es krim…he.

Banyak hal ajaib terjadi selama 7 tahun, termasuk kadang emaknya jadi Singa, dan anaknya jadi Macan. Seremkan? He. Mulai ngelantur.

Terima kasih, Mas, sudah menjadi bagian dari hidup Bunda. Jangan lupa kasih Bunda bintang 10, ya. Nanti Bunda buatin roti boy kesukaanmu, lho *kasus penyuapan roti :D


Terima kasih sudah membaca, selamat menjadi ibu yang bahagia, dunia dan akhirat! Insya Allah, amiin.
4 comments on "Menjadi Ibu Memang Tidak Ada Sekolahnya, Tapi Masa Belajarnya Bisa Seumur Hidup!"
  1. So sweet~ terharu ya mba.. tapi memang ga ada sekolah buat jadi orang tua professional

    ReplyDelete
  2. Perjuangan Ibu memang tidak diragukan lagi

    ReplyDelete
  3. Karena kasih sayang ibu sepanjang masa dan tak tergantikan oleh emas berlian dan apapun di dunia ini.

    ReplyDelete
  4. pokoknya ibu ibu ibu nomor satu..
    sayang gak ada yang bisa gantiin posisinya..

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature