Rezeki; Belajar dari Penjual Mie Ayam dan Pedagang Buah


Mie ayam bakso dan pangsit 'Yusuf Islam'


“Allah memberi rezeki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 553)

Rezeki telah ditentukan oleh Allah, tugas manusia hanya berusaha dan berikhtiar untuk memperolehnya. Saya sangat setuju dengan kalimat bahwa rezeki seseorang tidak akan tertukar dengan milik yang lain. Begitu pun jumlahnya. Allah menakar jumlah rezeki seseorang sesuai dengan yang Dia kehendaki. Lalu kenapa banyak orang merasa khawatir akan hal ini?

Minggu pagi, saya penasaran dengan penjual buah di sebelah Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi, Jakarta Timur. Pagi-pagi sekali, tempat dia berjualan yang hanya berupa gerobak dan hamparan tanah selalu penuh sesak oleh pembeli. Beberapa orang mengatakan bahwa buah yang dijual harganya sangat terjangkau dan kualitasnya bagus. Bukan asal buah yang dia jual.

Penasaran, akhirnya saya pun pergi ke sana. Benar saja, pukul enam pagi, ibu-ibu dan bapak-bapak sudah antre membayar. Penjual yang disebut mereka ‘Mamang’ duduk di tanah sambil menghitung barang belanjaan orang-orang yang sudah mengantre.

Saya perhatikan, buah-buahannya bagus dan masih sangat segar. Ada jeruk, pisang, apel merah, buah pir, delima merah, nanas berukuran besar, mangga, buah naga, salak bahkan ada jambu biji.

Tidak heran jika banyak sekali orang yang datang sebab jenis buahnya memang cukup beragam. Saya tidak sempat memilih banyak, hanya mengambil pisang lumut, anggur merah, pir serta kelengkeng. Segera saja saya antre sebab benar-benar sesak. Kebayangkan kalau yang antre ibu-ibu? Senggol bacok, lho :D

Hal yang menarik, ternyata si Mamang ini nggak terlalu pandai berhitung, lho. Sesekali dia mengeluarkan kalkulator dari smartphone-nya. Tapi, lebih sering dia menghitung suka-suka. Kata orang-orang, harganya sesuai yang dia mau saja. Orang mengulurkan uang Rp.50.000, meskipun kurang 5 ribu misalnya, tetap saja dia ambil dan tidak peduli, cepat menyuruh pulang dan segera ganti pembeli lainnya. Belum lagi ibu-ibu yang selalu meminta gratisan, entah 2 buah mangga, pir bahkan jeruk. Kadang dia menghitung pisang dengan harga Rp.20.000, kadang dia hitung Rp.10.000, masya Allah, si Mamang ini benar-benar kelewatan saya pikir..hihi.

Jika ada orang membeli buah dan timbangan menunjukkan lebih dua ons misalnya, itu tidak akan dia hitung. Dia lewatkan saja, dibulatkan. Karena terlalu banyaknya pembeli, dan barang dagangan yang tumpah ruah di tanah serta di taruh sembarangan di gerobak, bisa saja ada orang yang mencurinya. Itu sangat mungkin terjadi. Dia hanya bersama seorang asisten yang sesekali berada di pojok menghampar buah-buah salak, sesekali pindah mengeluarkan buah jeruk. Sedangkan si Mamang, hanya duduk di sebelah peti uangnya yang terbuka. Sudah kayak orang nggak doyan uang, dia tinggal ke sebelah demi membuka kardus berisi buah-buahan. Nggak ditutup lagi uangnya..hihi. Sepertinya bukan saya saja yang heran, hampir semua pembeli juga heran bahkan tertawa melihatnya.

Selain pedagang buah ini, saya juga tertarik untuk menceritakan penjual mie ayam yang letaknya juga tidak jauh dari Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi. Jika Anda berkunjung ke sini, pastilah familiar dengan mie ayam M.Yusuf Islam.

Dulunya, dia hanya menjual mie ayam di warung tenda di pinggir jalan. Pemiliknya seorang China muslim yang ramah dan bersahaja. Pembelinya bukan orang biasa, lebih banyak parkiran di pinggir jalan ini penuh dengan mobil mewah, lho. Rahasianya? Memang mie ayam serta baksonya enak banget. Harganya juga lumayan terjangkau antara 24-30 ribu saja.

Teman saya yang tinggal cukup jauh juga sempat menceritakan mie ayam satu ini, katanya di dekat Rumah Sakit Islam, Pondok Kopi, ada mie ayam enak. Dan benarlah mie ayam itu adalah mie ayam Yusuf Islam.

Sekarang, apa yang menarik?

Kedai Mie Ayam 'Yusuf Islam'


Saat kemarin saya ke sana, mie ayam satu ini sudah tutup. Tenda di pinggir jalan sudah hilang. Tapi, bukan karena bangkrut, ya. Justru dia pindah ke seberang jalan, di sebuah rumah yang lebih mirip restoran besar, bersih, nyaman dan yang pasti tempat parkirnya jauh lebih luas sekarang.

Penunjuk arah menuju mushalla

Saya sempat melihat ada Mushalla yang disediakan, tepatnya di lantai atas. Saat ke sana, saya sempat melihat pemiliknya masih seperti dulu, pakai kaos putih, mengantarkan pesanan pembeli, membersihkan meja, persis seperti karyawan lainnya. Padahal, kalau dilihat, di sana karyawannya juga cukup banyak bahkan dari sebelum dia pindah.

Kokohnya tetap ramah, bahkan sangat ramah pada anak kecil. Tidak ada yang berubah dengan pribadi beliau. Jika teman-teman bertemu, pastilah tak mengira jika dia adalah pemilik tempat makan tersebut.

Masya Allah, belajar dari kedua pedagang tadi, benarlah jika rezeki itu telah diatur oleh Allah dan jangan pernah mengkhawatirkannya. Meskipun bukan orang dalam, saya percaya pemilik rumah makan mie ayam itu tidak hanya sekadar menacari uang, saya perhatikan dia juga sangat peduli dengan karyawannya.

Jika hanya mengharap uang, mungkin si Mamang bakalan capek buka tutup peti kayu yang berisi uang itu, dia juga pastilah menghitung semua kelebihan timbangan buahnya. Tapi, kenyataannya, dia justru sering memberikan bonus kepada pembeli, bahkan memberikan harga sangat murah. Jika pun dia naikkan, insya Allah masih cukup terjangkau daripada tempat lainnya. Tapi, si Mamang tidak melakukannya.


Benarlah, keberkahan rezeki membawa kelapangan serta ketentraman dalam hidup. Jika Allah menutup satu pintu rezeki, pastilah Allah membukakan pintu lainnya untuk kita. Perbaikilah akhlak kita kepada sesama, terutama kepada orang tua. Perbaikilah ibadah kita, insya Allah rezeki dimudahkan oleh Allah, bahkan mungkin bisa sangat mudah menghampiri tanpa kita duga. 

Tumpuk tengah

Setelah makan, tidak lupa tumpuk tengah, supaya pelayan lebih mudah membersihkannya nanti. Saat pulang, jangan lupa berterima kasih dan lemparkan senyum, semoga rezeki kita diberkahi Allah, dan yang sedang sulit dimudahkan. Amiin.

14 comments:

  1. Masya Allah.Penjual kayak gini suka bikin saya amaze. Sangat santai dan tidak takut rezekinya surut. Semoga berkah selalu, ya. Aaah iya saya jadi keingetan kalau beberapa waktu belakangan ini konsumsi buah-buahannya kurang banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba benar sekali...yuk makan buah yang banyak, apalagi sekaran cuaca tak menentu ya..

      Delete
  2. Aamin YRA. Iya ya mbak. Masih banyak penjual yg jujur dan malah mendapat banyak keberkahan karenanya.

    Saya setuju utk selalu merapikan bekas peralatan makan kita sendiri mau dari resto kaki lima hingga bintang 5 sekalipun. Lama-lama sudah jd kebiasaan aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, memang berkah itu yang membuat rezeki terus mengalir ya. Merapikan piring setelah makan menjadi kebiasaan baik yang harus ditularkan juga pada anak2 ya mbak.. :)

      Delete
  3. Salut banget sama penjual kayak gini. Semoga dimudahkan usahanya dan selalu membawa keberkahan.

    ReplyDelete
  4. Tiap selesai makan di luar, saya coba untuk merapikan piring dan gelas. Dan saya pun mencoba mengajarkannya juga pada anak lanang....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, semoga kita bisa terus menularkan kebiasaan baik ini ya...

      Delete
  5. Masih ada pedagang yang begini. Makasih mbak muyas, berbagi cerita indah yang makjleb banget di hatikuhh:*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih mbak, ini juga mak sreng di hatiku :D

      Delete
  6. Masya Allah Mb Muyass. Aku gak bisa berkata-kata lagi. Jaman sekarang dimana banyak orang melakukan hal-hal yang gak jujur, kayak gak yakin sama rejeki dari Allah. Ternyata masih ada orang yang luar biasa. Yang bisa memberi energi positif ke banyak orang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak, ternyata masih ada orang seperti ini mbak.. :)

      Delete
  7. Rejeki yang berkah membuah hidup lancar dan mudah...
    Seperti pedagang yang diceritakan...Masya Allah, salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, meski kayak kalau nggak berkah pastilah nggak bakalan hidup tenang dan bahagia..

      Delete