Puasa Pertama di Negeri Beruang Putih

pixabay.com


“Aku mulai haus.”

Anna mengeluh. Ini puasa pertamanya di bulan Ramadhan. Sayangnya, tidak seperti di Indonesia, Anna harus menahan haus dan lapar selama lebih kurang 19 jam.

Di Indonesia, puasa berjalan selama lebih kurangnya 13 jam sehari. Suhu udara di Indonesia pun relatif nyaman meskipun saat musim kemarau datang. Anak-anak yang baru mulai berpuasa tidak akan mendapatkan kendala berarti. Berbeda dengan Anna yang harus berjuang menyelesaikan puasa Ramadhan pertamanya tahun ini.

Bulan Ramadhan kali ini bertepatan dengan musim panas. Belahan bumi bagian utara mendapatkan sinar matahari lebih banyak. Termasuk salah satunya Rusia yang biasa dikenal juga dengan negeri Beruang Putih.

Anna bangun sahur pada pukul 03.15 dini hari, sementara dia baru boleh berbuka puasa pukul 21.30 pada malam harinya. Pantas bila Anna merasa begitu lemas sepanjang hari ini. Dia bahkan tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menahan haus di saat musim panas. Dan lebih parahnya, dia juga mulai kelaparan.

Perut Anna mulai keroncongan. Anna menghampiri ibu yang sedang melipat pakaian di ruang tengah. Musim panas kali ini terasa begitu berat baginya. Berbeda dengan musim dingin, waktu puasa justru menjadi jauh lebih singkat.

“Apa saja yang akan kita lakukan hari ini, Bu? Perutku mulai lapar.” Kata Anna sambil membantu ibu melipat pakaian adiknya.

Ibu tersenyum. Bukan hanya Anna yang masih berusia tujuh tahun, ibu yang sudah dewasa pun merasa cukup berat ketika berpuasa pada musim panas.

“Malam nanti kita akan mengunjungi bazar di depan masjid Yarman. Kamu juga bisa berbuka puasa di sana. Bagaimana?”

Anna tersenyum, itu merupakan kegiatan favoritnya ketika bulan Ramadhan tiba. Hampir semua masjid di Rusia mengadakan bazar dadakan. Di sana, dijual berbagai macam buku, souvenir dan juga minyak wangi. Termasuk di antaranya masjid Yurman yang berdekatan dengan rumah Anna.

Umat islam di Rusia hampir selalu berkumpul di masjid terutama ketika waktu shalat tiba. Anna bisa bertemu dengan beberapa temannya sesama muslim. Puasa Ramadhan yang terasa berat akan menjadi jauh lebih ringan jika diisi dengan berbagai macam kegiatan, termasuk salah satunya berkumpul dengan teman-temannya.

Anna mulai membayangkan betapa lezatnya menyantap Khingals saat berbuka puasa. Galnash dan Khingals termasuk salah satu hidangan berbuka yang biasa ditemukan di Rusia. Hampir delapan ribu masjid di Rusia menyediakan dua jenis makanan ini saat waktu Maghrib tiba. Puluhan muslim di Rusia bersama-sama menyantapnya.

Galnash merupakan roti yang terbuat dari gandum. Sedangkan Khingals merupakan roti yang diberi isian keju. Selain kedua jenis makanan ini, ada satu minuman wajib yang selalu disediakan di setiap bulan Ramadhan tiba, namanya Kvass. Kvass merupakan minuman yang dibuat dengan proses fermentasi. Meskipun dibuat dengan cara fermentasi, tapi Kvass sama sekali tidak mengandung alkohol, sehingga minuman ini halal untuk dikonsumsi.

Sambil menunggu ibu menyelesaikan pekerjaannya, Anna bermain dengan adik perempuannya. Adik Anna belum mulai puasa. Usianya masih dua tahun. Tapi, Anna sudah mulai sibuk mengajak adiknya bicara tentang puasa di bulan Ramadhan. Adiknya yang masih belum lancar bicara menjawab dengan bahasa yang sulit dimengerti. Keduanya terdengar tertawa berkali-kali.

Meskipun tantangan puasa di bulan Ramadhan begitu berat, Anna tetap bersemangat melaksanakannya. Gadis bermata cokelat itu begitu antusias menanti bulan Ramadhan. Dia berjanji akan menuntaskan puasa hingga tiga puluh hari penuh.

“Puasa merupakan kewajiban bagi semua muslim. Aku mau belajar menjadi sebaik ibu dan ayah,” ucap Anna suatu kali.

Meskipun dia harus melewati hampir 19 jam tanpa makan dan minum, tapi Anna cukup kuat untuk menahan keinginannya menyesap susu dingin dari kulkas. Ketika melihat adik perempuannya makan siang, Anna menelan ludah. Dia mengatakan pada diri sendiri bahwa dia pasti bisa melewatinya.

Pukul 20.00, Anna bersiap bersama keluarganya. Dia berangkat menuju masjid Yarman untuk melihat bazar dan berbuka puasa di sana. Anna melompat-lompat girang. Dia tidak sabar ingin segera bertemu dengan teman-temannya.

“Aku juga mau dibelikan buku ya, Bu?” pinta Anna sambil menarik lengan baju ibunya.

Ibu mengangguk setuju. Buku bisa membuat Anna melupakan rasa haus dan laparnya. Selain bermain bersama sang adik, Anna juga senang sekali menghabiskan buku bacaan ketika mulai berpuasa.

Sebenarnya selain mengkhawatirkan sang ayah, Anna juga begitu kasihan dengan ibu. Ayah bekerja sepanjang musim panas. Bahkan ayah pulang dengan wajah memerah karena kepanasan.

Sedangkan ibu harus rela mengurangi waktu tidurnya ketika Ramadhan tiba. Musim panas membuat waktu isya dan subuh begitu dekat. Ibu bangun lebih awal dan mempersiapkan makan sahur pada pukul 03.15. Padahal mereka baru saja selesai tarawih pada pukul 01.30. Itu artinya ibu hanya tidur selama kurang lebih dua jam saja setiap malam.

Tapi Anna tidak pernah melihat ibu mengeluh. Bahkan dia melihat ibu begitu bahagia setiap kali membangunkannya. Sebab itulah, Anna tidak ingin memberatkan sang ibu. Dia harus bisa melewati musim panas dan berpuasa Ramadhan dengan bahagia.

Anna berkali-kali menyeka keringat di keningnya. Suhu musim panas di Rusia berkisar antara 33 derajat bahkan bisa sampai 40 derajat pada beberapa tahun sebelumnya.

Tapi keramaian di sekitar tempat bazar membuatnya lupa akan rasa haus dan lapar. Anna berlarian sambil melihat-lihat para pedagang yang memenuhi area masjid. Dia melupakan rasa haus dan lapar yang sejak  tadi dirasakannnya. Bahkan tak lama, adzan maghrib telah bergemuruh di seluruh pelosok negeri Beruang Putih itu.

“Bismillah, “ Anna menyesap Kvass, salah satu minuman wajib yang selalu tersedia setiap bulan Ramadhan tiba. Bersama Anna, beberapa temannya sesama muslim pun ikut bergembira ketika adzan Maghrib tiba.

Rasanya tidak mudah membayangkan berpuasa hampir sehari semalam dengan suhu mencapai 33 derajat. Tapi berkat kesungguhannya, Anna berhasil melewatinya.

***

4 comments:

  1. Wah, salut ya sama mereka yang puasanya jauh lbh lama dari indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali...perjuangan mereka berat juga...

      Delete
  2. Alhamdulillah, kita sebagai Muslim Indonesia ya Mb. Panas gak kepanasan. Dingin gak kedinginan

    Buat mereka yang puasa di negara 4 musim, pasti butuh perjuangan lebih

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar mbak, kita harusnya memang sangat bersyukur...

      Delete