Pahlawan Itu Adalah Orang Tua

pixabay.com


Buat saya, pahlawan itu adalah orang tua.
Sebab mereka, saya bisa seperti sekarang.
Jika pun ada nasib buruk, itu bukan salah mereka.
Tapi, jika bahagia yang memenuhi hidup saya, tentu itu atas limpahan doa-doa dari mereka.

Bagi saya, orang tua itulah pahlawan yang tak kenal tanda jasa. Ibu mengandung saya selama sembilan bulan, dalam keadaan kepayahan pun harus menjaga saudara perempuan saya yang lain. Bukan hanya itu, kebutuhan ekonomi begitu sulit saat itu. Ibu bahkan rela makan umbi talas yang tak layak konsumsi supaya anak-anaknya makan dengan layak. Ibu bilang, begitulah seharusnya memperjuangkan sesuatu demi anak. Bukan dengan cara bekerja tapi justru meninggalkan anak-anak serta mengabaikannya.

Ketika saya hamil, barulah saya mengerti sulitnya menjadi seorang ibu. Ketika hendak melahirkan, saya paham apa itu mempertaruhkan nyawa. Ketika saya menggendong si sulung yang baru lahir saat itu, ibu berkata, “Seperti itulah rasa sayang seorang ibu kepada anaknya.”

Dan kalimat itu menjadikan saya menangis mengingat mungkin selama ini belum sempurna mengerti sebesar apa kasih orang tua kepada saya.

Saya dan ibu memang dekat. Tapi, bukan berarti kami tidak pernah bertengkar. Sekali dua kali saya pernah menyakitinya, tapi setelahnya saya meminta maaf dan benar-benar mengingat betapa menyakitkannya jika itu sampai terjadi pada saya.

Bapak seorang guru serta petani. Dari bapaklah saya diajari menggambar. Dan dari bapak pula, saya belajar membaca dan menulis. Bapak bekerja keras supaya anak-anaknya bisa sekolah. Tidak pernah sedikit pun mengeluh di depan kami, justru beliau selalu menenangkan dan berkata, “Belajar saja yang rajin. Soal biaya itu urusan bapak.” Dan bapak membuktikan kalimatnya meskipun kadang saya tahu sendiri, beliau harus berhutang di sana sini.

Ibu saya pandai memasak, tapi saya tidak menuruni bakatnya. Ibu juga pandai menjahit, tapi saya hanya bisa menjahit seadanya. Tapi, rasa kasih yang mereka berikan selama ini, membekas dalam dan membuat saya merasa sangat bersyukur telah dibesarkan oleh mereka berdua.

Bapak, bahkan hingga anak-anaknya besar dan berumah tangga, masih tetap memanjakan. Jika lebaran, kami, putri-putrinya ditawari baju baru yang sama. Tapi, saya merasa sungkan menerima, sebab saya sudah menikah. Dan keharusan memberi itu sudah saatnya berpindah. Harusnya kami anaknya yang memberi dan menjaga mereka yang telah renta, nyatanya, hingga usia senja, mereka masih saja memerhatikan kami, seolah kami masih sama seperti saat masih di gendongannya.

Dari mereka saya belajar banyak hal, termasuk hidup sederhana dan tidak berhenti memperjuangkan mimpi. Sampai sekarang, merekalah orang paling antusias ketika saya bercerita tentang mimpi-mimpi saya yang melangit, dan seperti apa bahagianya saat saya menulis dan memiliki buku. Terima kasih, sebab Allah menakdirkan saya lahir dari rahimnya, dan memberikan saya kehidupan dari hasil kerja kerasnya.

Orang tua, seperti apa pun mereka, tetaplah pahlawan. Ketika semua orang menolak kehadiran kita, merekalah satu-satunya yang mau membuka tangan dan merengkuh kita. Dan dari mereka, kita diajarkan untuk menjadi pahlawan yang serupa.


Tulisan ini diikutsertakan dalam kuis #ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN #sekolahperempuan bulan November 2017

6 comments:

  1. Ibu adalah pahlawanku yang sangat berharga

    ReplyDelete
  2. Setuju Mba, kerasa banget pas jadi new parent sekarang nih, tfs ya

    ReplyDelete
  3. Orang tua memang segalanya, pacar dan teman bisa ada mantan
    tapi kalo orang tua tidak akan pernah
    kasih mereka tidak akan luntur di telan zaman

    ReplyDelete