5 Fakta Tentang Taksi Online yang Membuat Iba

pixabay.com


Selama ini kita merasa, mungkin bukan kita, tapi beberapa atau bahkan memang banyak orang merasa bahwa keberadaan taksi online yang kini bisa dengan mudah ditemukan di mana-mana sangat membantu banyak orang. Tapi, sebaliknya, ada juga yang merasa bahwa keberadaan mereka justru mengancam penghasilan yang telah orang lain miliki selama bertahun-tahun, ada juga yang menyesalkan keberadaan taksi online justru membuat jalan semakin macet dan padat.

Di luar semua itu, saya termasuk penikmat taksi online. Selain murah, memesannya pun tak sulit. Berbeda dengan taksi konvensioanal yang tidak memerhatikan kondisi macet misalnya. Justru dengan taksi online, harga jadi lebih fair dan wajar. Harganya pun sudah jelas di awal saat pertama kita memesan.

Ketika macet, harga mereka naikkan, dan ketika jalanan lancar, harga pun turun. Itu fair buat kita sebagai pengguna dan bagi mereka juga tentunya. Kalau dipikir-pikir, keberadaan mereka memang sangat membantu.

Belum lagi ketika berada di Ibu Kota, pilihan pergi dengan kendaraan pribadi kadang menemui banyak kendala, misalnya susah nyari tempat parkir atau memang kita malas sekali harus repot-repot mencari tempat parkir. Apa pun itu, saya pribadi begitu bersyukur akan keberadaan taksi online di zaman modern seperti sekarang. Dan harganya itu, lho! Bahkan lebih murah daripada saya harus panas-panasan naik bajai. Bayangkan…

Tapi, di luar banyaknya perbedaan pandangan dalam masyarakat, tetap saja ada kekurangan serta kelebihan di antara keduanya. Kita sebagai konsumenlah yang bisa menilai, lebih nyaman menggunakan taksi online atau taksi konvensional. Toh, keduanya juga sama-sama_dikemudikan oleh_manusia yang sedang mencari nafkah buat keluarga. Rezeki itu dicari, dan tentu saja tidak akan bisa dicuri apalagi sampai disalip oleh yang lainnya. Percaya kan dengan kalimat seperti ini?

Nah, menariknya, 5 fakta ini bisa membuat kita merasa iba pada para driver taksi online. Nggak percaya?

1.      Sering di-cancel ketika macet. Capek-capek ingin segera sampai ke tempat tujuan, ketika terjebak macet di tengah jalan, justru calon penumpang membatalkan pesanannya. Kebayang, ya gimana rasanya jadi mereka. Apalagi ketika yang bicara itu bapak-bapak lima puluh tahunan yang gaya bertuturnya halus dan bikin nggak tega. Katanya penumpangnya kurang sabar, mungkin mereka terburu-buru juga akan pergi.
2.      Pelanggan sering memberikan lokasi yang tidak tepat. Harusnya lokasi keberadaan penumpang bisa diminimalkan hingga 3 meter. Tapi, kadang ada juga penumpang yang terlalu jauh memberikan informasi lokasinya, driver terlewat sedikit saja sudah susah kembali apalagi jika itu satu arah. Akhirnya harus putar lagi.
3.      Penumpang kurang sabar. Keberadaan taksi online bisa dilihat dengan jelas di layar handphone kita. Tapi, kadang ada juga calon penumpang yang nggak sabar sehingga mereka bolak balik menelepon driver dan menanyakan posisinya. Nah, bermasalahnya karena driver hanya punya satu handphone. Ketika ada telepon masuk, buyar sudah layar penunjuk jalan yang sudah dibukanya. Akhirnya dia harus mengulangnya dari awal. Kasihan.
4.      Sering menjadi sasaran demo dan kemarahan dari angkutan umum lainnya termasuk dari taksi konvensional. Padahal, teknologi sudah berkembang jauh sebelum adanya taksi online. Hanya saja, angkutan umum lainnnya kurang memaksimalkan itu. Akhirnya mereka memang tertinggal cukup jauh dari taksi onlie dan juga ojek online yang sekarang bahkan bisa mewujudkan apa pun termasuk jasa pijat, beli makanan dan antar barang. Komplit sekali.
5.      Memilih waktu-waktu tertentu. Nah, kebetulan salah satu driver taksi online mangatakan bahwa dia lebih berminat bekerja saat malam ketimbang siang. Alasannya karena memang banyak sekali penumpang yang kurang sabar, mereka membatalkan pesanan ketika taksi sudah menuju tempat, padahal supir taksi sedang berjuang di tengah macet..he.


Nah, mungkin juga karena saya saja yang termasuk tipe melankolis, sehingga ketika mendengar mereka mengatakan hal semacam itu, rasanya kasihan banget kenapa sampai segitunya, ya? Sebagai penumpang, rasanya kurang baik membatalkan pesanan dengan cara yang semena-mena, kecuali jika memang sangat terpaksa dan mendesak sekali. Jika kita jadi mereka, tentu saja kecewa sudah pasti, kesal pun mau dilampiaskan ke mana? Itulah pekerjaan, semua ada konsekuensinya. Tapi, sebagai penumpang, tentu saja kita bisa memilih antara menjadi orang yang bisa menyenangkan orang lain atau justru mengecewakan?

24 comments:

  1. no 2 yang tidak memberikan lokasi dengan tepat,kalau kami karena rumah kami tidak ada di google map...ihikz.
    Tapi biasanya kami ada alamat tambahan yang kami tuliskan di note.



    terimkasih mbak sharingnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak,kadang kendala memang lokasi kita susah muncul ya. Kalau saya biasanya menunggu di tempat yang mudah mereka temukan... Sama2 mbak... :)

      Delete
  2. saya juga merasa sangat terbantu dengan keberadaan taksi online ini, beragam pengalaman sudah pernah saya alami tapi so far menyenangkan sih.

    ReplyDelete
  3. jujur aja, saya selama hidup di jakarta belum pernah nyobain taksi online dengan order sendiri. ada sekali itupun Atasan saya yg order.
    Bukannya tidak mendukung atau apa
    tapi saya lebih suka naik kereta kalo kemana2
    mungkin saya akan coba deh sekali2 order

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naik kereta listrik memang banyak diminati selain murah juga nyaman asal nggak sedang penuh aja..hehe..

      Delete
    2. bener mbak, naik kereta itu berasa saya nonton di film2 hahahahaha
      apa lagi sekarang smua system otomatis.. dari ticket, dan lainnya
      tapi saya juga pengen nyobain transfortasi online, biar gak di bilang ktinggalan zaman
      pdahal saya masih kids zaman now wkwkwkwk

      Delete
  4. Aku belum pernah naik taksi online,tapi seri g baca cerita hal2 serupa.. dicancel, nggak sabar dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kalau saya dengernya sih nggak tega aja..

      Delete
  5. Kelihatannya jadi driver taksi online itu cukup menjanjikan, tapi kenyataannya banyak banget tantangannya..

    ReplyDelete
  6. betul ya, banyak cerita tentang hal ini

    ReplyDelete
  7. Saya juga ibu2 pengguna taksi online. Jarang cancel sih mbak. Kecuali kalau dah kelamaan pakai banget nunggunya. Itupun kadang ditawarin sama drivernya mau nunggu apa cancel hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, saya juga pernah malah yang cancel drivernya. Nggak masalah sih, bisa order lagi asal nggak pas buru-buru..hehe

      Delete
  8. Aku pribadi sih belum pernah cancel, mungkin saja karena gak terlalu sering menggunakan, hanya disaat perlu saja..he
    Rata-rata taksi online sekarang mobilnya taksi-taksi yang tadinya ofline. Itu pengalaman waktu naik di Solo bulan lalu..

    ReplyDelete
  9. Dengan adanya taksi online, saya jadi 'tega' melepas anak saya pelatihan dari Bogor ke Jakarta setelah naik KRL. Gak tahu deh kalo belum ada taksi online, kayaknya terpaksa harus nganterin kayak waktu mereka ikut KPCI😧

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..memang iya mbak..saya juga begitu.

      Delete
  10. Saya pernah cancel karena driver bilang macet tp ternyata k app driver ttp deal jdi miskom hiks ngerasa betdosa bgt, saya doakan drivernya byk rezeki saja

    ReplyDelete
  11. Untuk gak pernah cancel, untuk alamat sech alhamdllah gampang di cari kok

    ReplyDelete
  12. Yang main cancel aja itu sungguh kejam...

    Driver sangat rugi waktu dan bahan bakar jadinya..

    ReplyDelete