Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Keliling Jakarta dengan Bus Tingkat



Pengalaman ini menjadi unik karena yang mengalaminya adalah anak orang kampung yang sejak dulu bahkan untuk keluar rumah dan pergi ke pasar sendiri saja tidak pernah berani. Ketika teman-teman masa kecilnya memanggil di teras rumah, dia yang tidak dibolehkan keluar saat siang hari akhirnya melompat lewat jendela kaca. Dia nekat keluar rumah karena ingin sekali bermain dengan teman-teman sebayanya yang jumlahnya tak seberapa.

Pengalamannya hanya sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Bahkan mengenal tetangga saja menjadi sesuatu yang amat rumit. Dia penakut, pemalu dan sangat pengecut. Sejak kecil dia belajar naik sepeda. Tapi setiap berangkat sekolah dengan sepeda, hatinya melompat sangat tinggi dan terhempas begitu kencang sehingga keringat dingin pun mengucur. Bisa dibayangkan selanjutnya, sebelum sampai di sekolah, dia telah menuntun sepeda butut yang mulai memudar warnanya.

Tapi dia tidak pernah mau berdiam di tempat yang sama. Saat saudaranya sekolah di dekat rumah mulai TK hingga tamat SMA, gadis bertubuh mungil ini justru memilih beranjak dari tempat saudaranya menyelesaikan masa sekolah. Dia ingin pengalamannya berbeda. Dia berjanji tidak akan meminta uang saku melebihi 500 perak supaya orang tuanya bisa membayarkan uang naik angkot menuju sekolahnya yang terletak lumayan jauh dari rumah. Dia berjanji akan meringankan semua biayanya, dia berjanji!

Maka sejak itulah dia menjadi murid yang amat rajin. Duduk di kelas setiap jam istirahat dan mengerjakan soal-soal bersama teman-temanya. Dia bukannya tidak mau jajan, tapi uangnya tak pernah cukup untuk dibelikan makanan ringan kecuali beberapa bungkus permen. Sejak menapakkan kaki di sekolah barunya, dia sudah berjanji akan menaklukkan semua. Belajar sangat rajin demi peringkat satu. Bukan karena ingin dianggap paling pintar, tapi hadiah untuk peringkat pertama adalah digratiskan SPP selama 6 bulan. Itu sungguh jadi mimpi yang benar-benar melangit dalam hatinya. Dia harus mendapatkannya demi meringankan beban orang tua.

Dan gadis kelahiran 1990 itu rupanya benar-benar menepati janjinya kepada kedua orang tua. Peringkat pertama jadi jawaban atas semua kerja kerasnya selama ini. Dan kini, gadis itu sudah berada di ibu kota. Bukan karena menuntut pengalaman lebih, tapi karena takdir sudah membawanya tanpa pernah diminta.

Pengalaman ini menjadi unik karena gadis itu yang mengalaminya. Pengalaman ini menjadi menarik, karena hingga dewasa dan memiliki anak, dia tetaplah orang yang sama seperti 20 tahun silam saat dia masih kanak-kanak. Tetaplah pengecut dan pemalu.

Dan gadis itu adalah saya.

Jadi ketika sekolah si sulung mengajak semua murid dan orang tua mendampingi untuk merasakan pengalaman pertama naik kereta listrik, maka hal pertama yang saya rasa saat itu adalah sesak napas!

Bagaimana mungkin saya bisa mendampingi si kakak sedangkan saya sendiri tidak pernah berani pergi tanpa suami. Meski suami sudah mengajarkan berkali-kali, meski dia bersusah payah mengenalkan beberapa tempat, daerah di Jakarta serta mengizinkan saya pergi ke mana pun saya mau, nyatanya saya tetaplah gadis kecil yang terkurung masa lalu. Selalu merasa resah setiap kali pergi sendiri. Mungkin semua orang bisa dengan mudah menertawakan, tinggal hampir 8 tahun di Jakarta tidak merubah apa pun. Saya tetap lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama anak-anak. Melakukan banyak hal yang saya sukai, dan tentu saja saya tidak suka pergi ke mana-mana kecuali terpaksa.

Dan detik itu saya menolak. Saya tidak mau pergi mendampingi si kakak naik kereta listrik sebab saya sangat takut mengantarnya, karena saya sungguh sangat gugup mendampingi. Dan saya tahu, saya bukanlah ibu yang baik karena tidak bisa mengalahkan ketakutan yang memenjara sekian lama.

Maafkan, tapi hari itu kakak benar-benar tidak pergi. Bersyukurnya suami berjanji akan menggantinya di hari lain. Kakak bersorak. Beruntunglah sebab ayahmu meski sibuk selalu menyempatkan waktu untuk membuatmu bahagia dan haru, Nak.

Dan hari itu, kami berangkat dari stasiun Pondok Kopi Jakarta Timur menuju kota tua. Apa yang saya pikirkan saat kita pergi bersama, mungkin suami hanya ingin mengajak anak-anak naik kereta setelah itu kita pun akan kembali pulang. Tanpa tujuan. Pikiran bodoh, sungguh bodoh. Ternyata kita bermain dan berkeliling di kota tua. Wah, tempat yang menyenangkan meski panas dan terik.

“Naik sepeda, yuk.” Ajak suami yang saya balas dengan mata melotot. Iya, saya kan nggak bisa naik sepeda. Di rumah, suami juga sempat membelikan sepeda, dan beberapa kali saya belajar, tapi saya memutuskan berhenti. Saya tidak mampu. Mending disuruh membersihkan rumah dan mencuci sebanyak apa dibanding harus belajar naik sepeda, apalagi sepeda motor. Sudahlah saya sungguh sangat ikhlas dengan keadaan ini..he.

Setelah dari kota tua kami memutuskan naik bus tingkat menuju masjid Istiqlal. Wah, pengalaman pertama nih naik bus tingkat. Membayangkannya saja saya tak pernah. Bus ini akan berkeliling di sekitar Monas, masjid Istiqlal, kota tua dan beberapa tempat lainnya. Dan menyenangkannya, naik bus ini gratis. lho. Oke, anggap saya memang orang yang baru tahu zaman now, sehingga tak banyak tahu apa-apa…he.

Naik bus tingkat itu memang menyenangkan, terlebih saat kami memutuskan duduk di bus bagian atas. Yang menarik dari perjalanan ini sebenarnya hanya satu. Iya, hanya satu. Melihat masa lalu saya yang sangat dramatis setiap berkendara dan mengunjungi tempat baru, saya justru dihadapkan dengan seorang perempuan yang menjadi supir bus tingkat sebesar itu. Aduh, yang terbayang saat itu, luar biasa!


Keren sekali supir bus dengan jilbab berwarna abu-abu itu begitu santai dan nyaman mengendarai bus tingkat sebesar raksasa. Saya membayangkan, mungkin seperti itulah tokoh ‘Sri Ningsih’ di dalam buku Tere Liye berjudul ‘Tentang Kamu’. Supir yang akhirnya mendapatkan cinta sejatinya di dalam bus saat dia menjadi seorang supir. Supir perempuan yang berbakat dan tentu saja berani memutuskan mengeluarkan penumpang dengan paksa ketika ada penumpang yang mengganggu kenyamanan penumpang lainnya.

Supir bus tingkat ini begitu ramah, dia pun menawarkan mengambilkan foto kami berempat. Jujur saja, andai saya bisa seberani dia, tentu saya tidak akan banyak merepotkan orang terutama pasangan. Tapi nyatanya saya berbeda.

Akhirnya saya harus menyadari bahwa tidak semua yang saya impikan terwujud. Cerita ini unik bagi saya karena saya memang sangat minim pengalaman. Melihat perempuan ini menjadi supir membuat saya sekaligus bangga bahwa sesungguhnya perempuan bisa melakukan banyak hal yang bukan hanya sekadar memasak dan mencuci. Saya sungguh menghargai pekerjaannya, dia perempuan yang hebat!


Dan saya? Tentu saja saya juga hebat karena saya juga bisa melakukan sesuatu yang saya kuasai, yang saya mampu, bukan memaksakan sesuatu yang tidak pernah bisa saya taklukkan. Saya tidak mau fokus pada kelemahan, sebab itu justru akan membuat saya kerdil dan sulit berkembang. Saya mau fokus pada kelebihan yang saya miliki, sebab sejatinya semua orang tentu saja punya kekurangan serta kelebihannya masing-masing. Dan saya sungguh bersyukur karena sudah menjadi seperti sekarang… ^^ 
****
Barakallah, tulisan ini menjadi salah satu pemenang kuis #alumni sekolah perempuan bulan Oktober ^^



6 comments on "Keliling Jakarta dengan Bus Tingkat"
  1. Wah saya jadi tahu pengalaman masa kecil bunda 😃. Jadi pengen nyoba juga naik mobil tingkat n berkeliling. Kbtulan br pindah juga k daerah dkt jakarta.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi..iya mbak, sebab itulah saya selalu merasa takut kalau bepergian sendiri terutama ke tempat yang belum pernah saya datangi..yuk coba jalan-jalan keliling Jakarta dan mampir ke rumah saya juga ^^

      Delete
  2. Beneran bun, oalah ternyata membekas sampai sekarang yaa.. Tapi suka dengan bunda,fokus pada kelebihan.

    ReplyDelete
  3. wah, saya malah belum nyobain bus ini mbak, uda keburu hijrah ke pulau lain hehehe

    ReplyDelete

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature