Ibumu Bukan Pengasuh Anakmu

sumber


Zaman sekarang, sering kita temui ibu berusia lanjut mengasuh cucunya. Dia menggendong cucunya sambil menyuapi, dia menjaga cucunya yang sedang bermain di halaman rumah sambil sesekali berlari menyelamatkan cucunya, khawatir jatuh tertabrak teman bermainnya. Pemandangan yang semakin hari semakin terlihat lumrah meski kenyataannya kewajiban menjaga anak-anak adalah tugas seorang ibu, bukan lagi neneknya.

Mungkin karena tuntutan ekonomi, seorang ibu rela membiarkan orang tuanya yang telah renta menggantikan posisi mereka. Mungkin karena single mom, atau juga sebab tak mampu melepas karirnya di kantor bahkan yang lebih buruk ditinggal begitu saja oleh orang tua kandungnya. Pemahaman yang sebenarnya salah tapi terlalu diabaikan oleh sebagian orang.

Kasih sayang seorang ibu sepanjang masa. Kasih sayang anak kepada ibunya hanya sebatas ujung kuku. Ibu tidak akan mengeluh ketika dititipkan seorang cucu bahkan lebih meski kenyatannya fisiknya saja sudah jelas terlihat tidak mampu. Tapi, hampir semua dari mereka tidak pernah menolak bahkan menerima dengan senang hati. Mereka senang bermain bersama cucunya, melihat mereka melompat dan berlarian ke sana kemari. Menjadi hiburan. Menjadi pelepas lelah.

Sayangnya, yang harusnya mengerti tentang keadaan ini adalah kita sendiri sebagai anaknya. Tugas mengasuh anak-anak adalah tanggung jawab seorang ibu. Sedangkan tugas seorang nenek telah rampung membesarkan kita hingga dewasa bahkan mengantar kita ke jenjang pernikahan. Setelah menikah, ibu memang akan tetap menjadi orang pertama yang mendengarkan keluh kesah dan mau berbagi dengan kita, tapi bukan berarti seorang anak bisa seenaknya memperlakukan orang tua.

Sudah lewat masanya mereka mengurusi anak. Sudah lewat zamannya mereka menggendong bayi ke sana kemari bahkan meredakan tangisan bayi di pangkuannya. Sudah habis masa mereka melakukan tugas pengasuhan dan kewajiban itu kini beralih kepada kita sebagai seorang ibu yang baru melahirkan.

Tapi mencari seorang pengasuh di zaman sekarang tidaklah mudah. Benar, tapi bukan berarti tidak ada solusi untuk hal ini. Ketika mampu, seharusnya seorang ibu bisa segera mencarikan baby sitter bagi anaknya. Biarkan mereka berdua tinggal dalam pengawasan sang nenek. Jadi, ibu bisa merasa tenang meninggalkan bayinya, nenek pun tidak perlu dibebankan pekerjaan berlebihan namun tetap bisa mengawasi dan bermain bersama.

Sungguh berdosa jika seorang perempuan membebankan tugas mengasuh anak kepada orang tuanya yang telah berusia lanjut, apalagi jika sampai orang tua tidak lagi leluasa untuk melakukan ibadah seperti membaca Al-Quran atau menghadiri majelis taklim. Orang tua tentu berhak menolak. Sebab kelak yang akan dimintai pertanggungjawaban bukan lagi dirinya, tapi ibu dari anak yang telah melahirkannya.

Betapa berat tugas pengasuhan. Menjaga anak-anak terutama yang masih balita butuh tenaga besar. Anak-anak sekecil itu senang berlarian, naik ke atas kursi dan meja, melompat dari ranjang bahkan lebih parahnya lagi tantrum. Tegakah kita memberikan tugas seberat itu kepada ibu yang telah berusia lanjut? Bahkan untuk berjalan saja tertatih dan gemetar.

Sejatinya tugas seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya, sedangkan tugas kita sebagai seorang anak ialah berbakti kepada orang tua. Jangan sampai kita lupa bagaimana cara memperlakukan orang tua dengan baik, jangan sampai kita tak mengerti bagaimana membahagiakan mereka. Setidaknya kita tidak lagi membebankan apa pun kepada mereka, mendoakan dan senangkan hatinya dengan akhlak yang baik.

#ODOPOKT24

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

28 comments:

  1. Hmm.. Kadang justru sang nenek sih yang ingin merawat cucunya. Selama memang kondisinya masih fit gpp sih. Tapi ya jd tanggungan kita ya utk memperhatikan kesehatan nenek.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, betul..karena nenek biasanya sayang banget sama cucu melebihi kita ibunya..hehe.

      Delete
  2. Di keluargaku juga banyak yang begitu
    karna tuntutan ekonomi dan karier
    akhirnya anaknya di titipkan ke neneknya
    Di era sekarang sudah hal lumrah di temukan semacam ini
    tapi kembali ke orang nya masing2, lihat kondisi orang tuanya juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul...yang paling menarik ketika seorang ibu sengaja menitipkan anaknya pada sang nenek hampir setiap hari bukan karena alasan yang mendesak..

      Delete
  3. aku juga memilih menitipkan anak ke pengasuh karena ibu masih punya kesibukannya sendiri. lucunya biar jarang main sama neneknya, anakku lebih sering nangisin neneknya ketimbang ibunya. heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, seorang nenek tentu sangat besar rasa sayangnya pada cucunya ya mbak. Dan cucunya tahu itu...^^

      Delete
  4. Salam kenal, mbak. Kalo saya, nenek2nya malah agak maksa pengen gantian jaga cucu. Ternyata kondisi kesehatan tak memungkinkan, jd saya memilih resign waktu anak kedua lahir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga ibunya selalu sehat ya mbak...amiin

      Delete
  5. Terkadang karena kondisi, terpaksa memberikan pengasuhan anak pada orangtua. Tetapi harus tetap diingat akan hak orangtua kita dan tidak terus-menerus membebani mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak, nggak salah juga kalau memang orang tua mau, tapi kalau saya pribadi kalau bisa dibantu sama pengasuh. Jujur saja kebanyakan dari mereka mengaku capek jagain cucunya...

      Delete
  6. Teman sekolah anakku bukan karena faktor ekonomi..karena kurang percaya pengasuhan oleh baby sitter mungkin..Jadi nenek kakek tetap terlibat. Kadang sampai ngantuk-ngantuk nunggu di kantin. Belum anter les..Ada yang nyetir sendiri..
    Ah, saya nggak mau ah begitu..kasihan mereka, nggak bisa menikmati hari tua..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kisah yang hampir sama yang saya lihat di depan mata, ibu tidak pernah mengantar anak-anaknya sekolah, tapi saat punya cucu, ibu menjaganya dan ikut sekolah sampai kelas 3 SD. Sampai sekarang, ibu menyekolahkan dan membiayai semua kebutuhan dia, sekarang anaknya udah SMA, dan itu kisah orang tua saya sendiri...tulisan ini sebenarnya buat ibu saya. Buat beliau yang lelah tiada henti...yang bebannya terus memberati punggungnya..

      Delete
  7. Aku mah tau diri aja untuk ga nyerahin anankku ke mama ato mama mertua. Ya kasian kan, udh tua, lagian aku jg kuatir anak2 ga maksimal dijaga, krn pasti orang tua itu udah ga seaktif dulu ngejar2 anak, ato trs2an merhatiin mereka. Untungnya alhamdulillah aku dapet 2 babysitters yg baik2 dan sayang ama anak2, jd tenang ninggalin mereka kalo ke kantor

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Allah membuka jalan bagi yang mau berusaha ya mbak, sudah saatnya orang tua istirahat dan fokus ibadah...

      Delete
  8. aduh mbak saya ijin share tulisannya ya, keren nih..saya soalnya jg ibu baru yang mencoba mengasuh anak sendiri tanpa dititipkan ke orang tua, karena kami(saya &suami) ga tega mengusik hari tua kedua orang tua kami..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mbak, saya juga demikian. bahkan saat akan melahirkan pun masih sempat berbohong di telpon kalau belum ada tanda-tanda. Padahal udah mau brojol..hehe. Pikiran kami cuma satu, beliau tinggal jauh, kalau dengar putrinya mau lahiran mereka pastilah lebih panik ketimbang saya yang mau lahiran. jadi kami baru memberitahukan saat bayi lahir. Mereka bahagia..mendoakan, lega..tidak perlu ikutan mules..hehe. *Jadi curcol..^^

      Delete
  9. Dulu ibu sempat meinta izin untuk mengasuh anak ku yang nomor dua, karena ibu kasihan melihatku yang harus merawat tiga balita sendirian saat ditinggal kerja ayahnya. Tapi dengan halus aku menolaknya dan mencari alasan yang tepat agar beliau tidak tersinggung....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak, cara menyampaikannya pun harus hati2 apalagi kalau sudah menyangkut orang tua ya...

      Delete
  10. Sukses mbak saya sudah tepar di day ke 7.
    kadang kasihan juga lihat nenek yang sibuk kesana kmari mengasuh cucunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok tepar mbak..hehe
      Iya mbak, sebenarnya dari beberapa ibu yang sy tahu termasuk ibu saya sendiri merasa kelelahan saat harus menjaga cucunya, kecuali kalau hanya sesekali, sebentar...kasihan

      Delete
  11. kadang memang terasa seperti meperkerjakan ibu ay, tp memang sulit cari ART yang bisa cocok dan mau kerja. Alhamdulilah aku bisa nemu ART yg bisa ngasuh waalu gak sempurna , yg penting anak2 bisa keurus

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi sekarang, kadang ART lebih banyak maunya ketimbang yang mempekerjakan, hehe. Alhamdulillah, ART bisa menjaga sudah sangat cukup ya mbak..

      Delete
  12. Aku sempat tengkar sama misua krn masalah ini mba aku keukeuh pilihan asuhan daycare atau pengasuh tp dlu misua pgn sama ibunya krn mmg saya masih terus kerja jd pilihannya itu dan ketika ada masalah antara misua n ibunya akhirnya anakku yg ga bersalah jd kena makanya saya skrg uda tenang ada pengasuh dirumah mau diomongin kata org apapun sabodo yg ptg saya hepi ga tertekan hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sekarang sudah ada solusinya ya mbak...kasihan anaknya juga kalau seperti itu...

      Delete
  13. tetangga ada yg sampe bilang ke tetangga lain yg mengasuh cucunya. bilang gini ke si cucu, "kamu tuh anaknya mbak A (mamanya) apa mbak B (neneknya)?"

    ya tapi gimana lagi, saya ga berani nyacat, takut ucapan itu mbalik ke saya. cuma mbatin aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang yang seperti ini banyak sekali mbak..semoga kita nggak sampe begitu sama orang tua...walau mereka neriman tapi ya anaknya harus tahu diri juga..kalau saya pribadi begitu...

      Delete
  14. Tulisan yang menyentuh sekali Mbak Muyassaroh, memang tidak sedikit yang seperti itu. Alhamduliillah tidak terjadi pada diri Bunda. Malahan Bunda belum pernah sepenuhnya merasakan merawat cucu-cucu ketika mereka masih bayi -- kan lucu tuh. Walaupun mereka dibesarkan jauh dari nenek, namun kasih sayang mereka tetap untuk nenek dan mereka dekat dengan bunda (nenek mereka)Bunda terkadang tinggal di rumah anak bunda hanya untuk memonitor keadaan di rumahnya. Bunda bebas memiliki aktivitas blogging atau ikut pengajian. Satu hal, bunda tidak pernah ikut campur mengenai cara anak bunda mendidik anak-anak mereka (cucu-cucu bunda). Itu hak mereka bukan hak bunda, kan. Cukup memberitahu anak bunda ketika kami duduk santai. Itulah yang membuat hati bunda bahagia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, beruntung sekali punya orang tua seperti bunda Yati... :)

      Delete