Campur Tangan Orang Tua Dalam Urusan Rumah Tangga

sumber


Banyak perempuan yang stres setelah melahirkan bukan karena ASI-nya sedikit, bukan karena terlalu capek, bukan juga karena anaknya terlalu banyak menangis tapi lebih karena campur tangan orang tua dalam urusan pengasuhan anak.

Orang tua tentu begitu excited menyambut kehadiran cucu pertama mereka. Segala macam yang terbaik beliau sampaikan kepada menantunya. Mulai dari mewajibkan memakai gurita, menegur saat bayi merah itu tidak dipakaikan bedong, sampai mau menyuapi pisang pada cucunya yang masih belum genap 30 hari.

Perkembangan zaman memaksa semua orang mulai berpikir lebih maju. Informasi seputar kesehatan dan pengasuhan bayi baru lahir telah didengar oleh hampir semua ibu hamil dan melahirkan. Dan tentu saja, seperti yang diketahui dari ucapan para dokter, sangat tidak disarankan memakaikan gurita karena bisa mengganggu pernapasan sang bayi.

Lalu bagaimana dengan pendapat orang tua atau mertua? Tentu saja mereka tidak suka dibantah karena umumnya mereka berpendapat bahwa pengalaman mengasuh anak telah mereka telan seluruhnya bahkan hingga kulit ke akarnya. Mereka paham betul bagaimana cara merawat bayi. Sedangkan menantunya hanyalah anak muda yang tidak mengerti apa-apa. Mertua dan orang tua lupa bahwa ibunya jauh leih berhak memutuskan, beliau juga lupa karena rasa sayang yang begitu besar kepada sang cucu.

Pada akhirnya sang ibu merasa tertekan karena tidak sependapat dengan orang tuanya, tetapi dia juga tidak bisa menjelaskan baik-baik sebagaimana yang telah dia ketahui. Akhirnya karena tidak mau bertengkar dengan orang tua, dia diam dan melakukan segala hal dalam keadaan serba terpaksa.

Konflik batin semacam ini sering terjadi. Menantu tidak berani membantah dan lebih parahnya sejak awal tidak menjalin komunikasi dengan orang tua atau mertua yang nyatanya berseberangan dengannya. Keadaan semakin runyam ketika menantu tinggal serumah dengan orang tua atau mertua. Masya Allah, sungguh tertekannya pikiran sang anak yang baru resmi menjadi seorang ibu.


Di dalam islam, setelah menikah, dianjurkan segera meninggalkan rumah orang tua atau mertua. Orang tua tidak punya hak mencampuri urusan anak-anaknya yang telah menikah. Anak-anak yang telah menikah juga berhak keluar dari rumah orang tuanya meski orang tua melarang.

Cukuplah orang tua membesarkan dan mengantarkan anak-anaknya hingga jenjang pernikahan. Anak-anak sudah cukup dewasa dan mampu memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya masing-masing. Campur tangan orang tua terlalu jauh dalam rumah tangga seorang anak bisa sampai pada tahap perceraian yang mengerikan. Kecuali jika anak-anaknya butuh bantuan untuk memecahkan sebuah masalah, orang tua bisa membantu menyelesaikannya.

Tapi, saat masalah tidak sampai padanya, dan beliau hanya mengada-ada, maka sangat disayangkan, rumah tangga sebaik apa pun bisa retak karenanya. Misalnya saja orang tua yang berkunjung ke rumah menantunya, beliau mengeluhkan kenapa rumahnya tidak sebagus milik si A, kenapa perabot rumahnya tidak sebanyak si B.

Ujian di dalam rumah tangga bisa datang dari mana saja, termasuk dari orang tua dan mertua. Terutama mertua, mereka cukup sedih ditinggalkan oleh putra kesayangannya. Dia kehilangan perhatian setelah putranya menikah. Lantas dia juga harus kehilangan cucunya yang sangat didamba. Keadaan seperti ini menjadi sangat wajar jika pada akhirnya mertua begitu cemburu kepada menantunya sendiri terlebih ketika usia mereka tak lagi muda. Bagaimana rasanya tinggal sendiri sementara anak-anaknya telah berumah tangga? Sepi.

Sebagai orang tua memang tidak dianjurkan ikut campur baik dalam hal pengasuhan juga dalam urusan rumah tangga anak-anaknya. Tetapi sebagai anak kita juga tidak dibolehkan menyakiti hati mereka. Lalu bagaimana menangani konflik yang sangat sering terjadi di kalangan masyarakat ini?

Jangan lupa diskusikan pendapat kita kepada orang tua. Mulailah dengan obrolan ringan yang menyenangkan semisal bercerita tentang keadaan janin, bagaimana pendapat dokter tentang pemakaian bedong dan gurita serta banyak hal lainnya.

Komunikasi yang baik tentu akan diterima oleh orang tua. Percayalah, mereka sungguh sangat sayang kepada anak serta menantunya. Karena itulah mereka pun merasa semuanya harus sempurna dan kadang mereka juga lupa bahwa anak-anaknya pun sebenarnya telah dewasa dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.

Meski tidak semua mertua atau orang tua mau menerima, tapi memulai komunikasi yang baik akan sangat memudahkan nantinya. Jelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Orang tua zaman sekarang tentu jauh lebih mengerti bagaimana merawat dan mendidik anak-anak di zaman yang sama. Sedangkan orang tua zaman dulu juga tidak selamanya salah.

Jika orang tua tidak mengizinkan pindah dari rumahnya, maka jelaskanlah baik-baik tapi tegas. Berjanjilah akan selalu mengunjungi, mungkin saja mereka takut kehilangan perhatian sehingga melarang anaknya pindah ke rumahnya sendiri.

Sebagai seorang istri juga sebaiknya pandai-pandailah bersikap. jangan bermanja-manjaan ketika berada di depan mertua. Dan lakukan sebaliknya saat bertemu orang tua. Ambil hati mereka, jadilah anak serta menantu yang menyenangkan.

Apa pun itu, campur tangan orang tua dalam urusan rumah tangga lebih banyak berdampak buruk. Sebagai seorang anak, tidak dianjurkan menceritakan semua masalah rumah tangganya kepada orang tua, cukuplah diselesaikan berdua dengan pasangan. Jika masalah tidak bisa diselesaikan juga, diperbolehkan meminta bantuan orang tua untuk menyelesaikannya. Insya Allah, semua orang tua bahagia melihat anaknya bahagia. Riak-riak kecil dalam rumah tangga tentu sangatlah wajar dan tidak perlu menjadikan orang tua sebagai tempat curhat. Percayalah, Allah juga mendengar doa-doa hamba-Nya.

#ODOPOKT26

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

18 comments:

  1. Entah mengapa menantu perempuan banyak yg bermasalah dengan mertua perempuan..
    Jika komunikasi tidak baik, bisa menjadi kerikil rumah tangga..
    Sedih juga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, tapi alhamdulillah barakallah mertua saya termasuk yang tidak begitu,begitu juga dengan orang tua saya...

      Delete
  2. Dengan tinggal terpisah meskipun mengontrak bisa menjadi salah satu solusi, mengurangi konflik dengan orangtua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, Rasulullah saw juga mencontohkannya. Putrinya , Fathimah juga tinggal terpisah dengan beliau..

      Delete
  3. Rata-rata yang sering masalah kalau tinggalnya berdekatan atau malah serumah. Kalau menantu yang jauh disayang-sayang. SOalnya nggak ketahuan sehari-harinya seperti apa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang sebaiknya tinggalnya terpisah, kalau nggak orang tuanya yang bermasalah, anaknya kadang yang cari gara-gara...hehe.

      Delete
  4. Alhamdulillah kami dulu berprinsip tidak mau tinggal serumah dengan ortu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang begitu seharusnya ya mbak, idem kalau gitu,,

      Delete
  5. Alhamdulillah, 5 hari setelah nikah langsung ikut suami. Sempat merasakan sih campur tangan ortu/mertua saat kami pulang atau mereka lagi berkunjung...Dan ujung-ujungnya berbuntut pada saya berantem sama suami hihihi..Untung cuma berapa hari kunjungannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, kebetulan saya juga sama mbak, diboyong saat pengantin baru.. hehe

      Delete
  6. Wahhhh bunda. Ngebatin adalah perasaan saya banget ktika baru melahirkan Erysha. Karena waktu itu saya serumah dengan mertua selama sebulan buat bantuin saya. Krna bda ilmu dan bda zaman ya. Jd bikin kami sangat brtolak blkang dlm pngsuhan Erysha. Akhirnya saya cuma diam mngikuti. Tp hati ngebatin. Allhamdulillah, skrang klo ada apa2 ttg mertua bisa dsmpaikan lwat suami. Agar suami bisa mnympaikan ilmunya k mertua ttg pngsuhan anak. Allhamdulillah jg, skrg saya ga ada rasa tkut lgi ama mertua. Sudah brani mngungkapkan sesuatu yg ga nyaman jika itu sifatnya prinsip 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, memang sering karena komunikasi yang tersendat ya mbak, kitanya takut dan ragu mau menyampaikan sendiri...

      Delete
  7. Orang tua di jateng, mertua di bengkulu, kami tinggal di Jatim. Amanlah dari intervensi mereka dalam pengasuhan anak. Kadang lewat telpon di tanya anak-anak gimana, begitu saya jawab, langsung deh "dimentahkan" terus di kasih nasihat ini itu panjang lebar. Saya dengerin sambil bilang iya iya aja hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga seperti mbak, tinggal berjauhan dari ortu. Alhamdulillah, meski mereka menganggap saya sok tahu seperti misal soal pengobatan anak sakit, tapi beliau tidak sampai ngomel sih. kalau dikasih tahu saya jawab iya, nanti ibu bilang sama bapak, "Wong anakmu lebih pinter dari dokter." kwkwkwk...

      Delete
  8. Alhamdulillah, mertua sama orang tua termasuk gak pernah ikut campur masalah kami

    Cuman pernah sekali saya bermasalah sama ibu mertua. Cuma sebentar, Alhamdulillah . 2 minggu. kelar. Masalahnya karena saya merasa mertua gak memperdulikan anaknya ( suami saya )

    Alhamdulillah... Meski pernah bermasalah. Hubungan kami baik dan dekat. Meski secara fisik kami berbeda pulau

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, pastinya nggak enak banget kalau sampai bermasalah dengan ortu atau mertua, ya..

      Delete