Ketika Bang Tere Liye Memilih...


Assalamualaikum..sempat gempar dan kaget juga dengan pilihan salah satu penulis favorit saya, Tere liye yang memutuskan untuk menghentikan semua proses cetak ulang pada 28 judul bukunya.

Agak menohok dan sekali lagi benar-benar sedih karena saya termasuk yang suka dan lumayan banyak juga mengoleksi novel-novelnya. Dari beberapa penulis novel, hanya Asma Nadia dan Tere Liye yang bukunya bisa buat saya nangis dan yang jelas membawa energy positif. Ceritanya bukan hanya cinta-cintaan yang sekadar romantis, tapi juga punya pesan kebaikan.

Dan mungkin bahasa mereka berdua memang benar-benar menyentuh. Lihat aja deh statusnya bang Tere Liye, selalu dibagikan oleh banyak orang karena isinya bagus banget dan nampol. Iya, PLAK!!

Kebayangkan kalau statusnya aja sebagus itu bagaimana dengan bukunya. Jangan dibayangin juga sih, tapi lekas berburu sebelum bukunya benar-benar habis, ya!

Masya Allah, buku bang Tere Liye itu termasuk yang tebal. Iya, jarang banget yang bukunya tipis apalagi novel RINDU dan TENTANG KAMU. Tapi, saya membaca Tentang Rindu, sama sekali nggak merasa buku itu berat. Udah bacanya sambil mewek pula…hihi.

Dan pilihan bang Tere itu benar-benar membuktikan siapa dia sebenarnya. Iya, beliau bukan penulis yang hanya mau tenar dan dapat uang. Beliau juga bukan orang yang suka diekspos, sampai-sampai saya susah nyari siapa sosok di balik nama pena ‘Tere Liye’ itu karena di novelnya nggak ada profilnya. Sampai segitunya, ya.

Mungkin setelah ini, akan ada banyak yang peduli dan mulai memahami kondisi penulis di Indonesia seperti apa. Setelah beberapa surat-surat beliau tidak ditanggapi sama sekali, maka jalan yang dipilih seorang ksatria seperti ini patut banget diacungi jempol.

Tapi, bagaimana pun saya tetap butuh buku. Bagi saya, walaupun mahal dan tebal, buku itu tetap istimewa. Nggak bisa digantikan dengan media lain.


Insya Allah, semoga bang Tere bisa menemukan cara terbaiknya untuk kembali memperkenalkan karya barunya pada para pembaca setianya. Dan setelah ini, saya harus berkaca dan membenahi lagi, sebenarnya untuk apa saya menulis?

2 comments:

  1. Jujur ni mbak-e, aku milih jadi content writer,karena males nulis buku. Effort sama hasilnya kadang sebanding, kecuali bener-bener bisa best seller.
    Ya, emang di Indonesia ini masih banyak si yang harus diperjuangkan. Ngarepnya si, bang tere bersedia menerbitkan novelnya lagi ya....:-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin. Iya betul sekali mbak. Saya pun berharap demikian... :)

      Delete