Ketika Saya Menulis...


Assalamualaikum…alhamdulillah kita bertemu lagi setelah sekian lama hanya melihat postingan resep roti dan masakan…hehe. Nah, kali ini saya mau sharing tentang dunia kepenulisan.

Yup, saya suka menulis sejak SD. Sejak kecil saya suka menulis buku harian. Sampai akhirnya ketika sudah masuk pesantren, buku harian saya semakin menumpuk dan tebal-tebal sekali…hehe.

Memangnya menulis apa di buku harian kok bisa sampai banyak? Saya menulis apa pun yang saya suka. Saya mencurahkan isi hati, saya menulis tentang teman dan banyak kejadian lucu yang kalau dibaca lagi saat ini benar-benar bikin ngakak. Antara malu dan memalukan, kira-kira seperti itu, ya…

Ternyata di pesantren keinginan menulis jadi jauh lebih menggebu. Karena di sana, ada lebih banyak kegiatan dan kesempatan yang bisa saya ambil. Misalnya saja saya menulis cerpen di mading, saya ikut les jurnalistik, beberapa kali pula di sana di adakan jumpa penulis, salah satunya dulu adalah penulis novel pesantren dari Yogyakarta, ada juga penulis senior dari kota Malang. Nah, ternyata di sekeliling saya waktu itu amat mendukung keinginan saya untuk menjadi penulis.

Akhirnya saya dengan amat percaya diri menulis banyak sekali cerita di buku, menulisnya dengan tangan pula. Semacam novella. Sampai sekarang pun masih saya simpan. Dan, kabar bahagianya, itu buku cerita sampai lemes, lecek, kusut dan lembut gara-gara dibaca banyak teman dan adik kelas…haha.

Setelah keluar dari pesantren saya pun kembali ingin menulis. Dan Alhamdulillah beberapa buku antologi sudah terbit. Kalau diceritakan nggak sesederhana itu sih, tapi saya sudah sering bahas jadi khawatir bosen…hihi.

Alhamdulillah, tahun 2017 ini saya kembali menulis setelah beberapa tahun berhenti sama sekali. Saya awali dengan mengikuti sekolah perempuan, ikutan training copy writing, ikutan lomba menulis, ikut kelas berbisnis tulisan dan terakhir saya terdaftar di KMO.

Nah, KMO ini memang baru saya tahu karena cukup ramai di perbincangkan. Awalnya saya pikir sama saja seperti grup kepenulisan lainnya. Jadi saya malas mau ikutan kalau isinya hanya biasa-biasa saja. Saya nggak mau dong, soalnya saya kan luar biasa masak ikutan yang biasa? hehe…

Setelah ikut kelas berbisnis tulisan, barulah saya tahu ternyata founder KMO adalah mas Tendi Murti yang saat itu jadi salah satau mentor juga di KBT. Dari sana saya tahu bahwa beliau termasuk yang luar biasa menginspirasi. Saya pun banyak bertanya di grup KBT dan Alhamdulillah segera dapat info kalau KMO segera dibuka lagi, yesss!

Tanpa ragu segera daftar, karena biasanya saya ikutan kelas bayar semua, untuk yang satu ini nggak mikir dua kali karena gratis dan sepertinya peraturannya ketat..emak-emak doyan gratisan, ya? Eits, nggak juga sih. Saya pikir yang berbayar juga nggak bisa disamakan dengan yang gratisan. Dan yang gratisan juga nggak selalu murahan. Betul?

Dan, akhirnya di antara keriuhan, semalam materi pertama di kelas yang saya ikuti pun dimulai. Alhamdulillah, malam yang riweh karena saya pas juga harus ngisi sharing juga di salah satu grup TNB milik anak buahnya mbak Diah_salah satu konsultan favorit saya di Indscript, kebayangkan hanphone bunyi tang ting tung aja nggak ada habisnya…haha. Tapi, kesan saya sih asyik! Iya, KMO itu asyik karena nanti di sana kita bakalan absen setiap kali datang. Dan lagi, kita juga bakalan dikasih dua poin yang ibaratnya adalah nyawa kita. Kalau sampai lupa absen atau nggak hadir, diambil satu poin, kalau sampai nggak ngerjain tugas, bakalan ditendang keluar. Hoho..ini menantang banget, lho. Setelah sekian lama berhenti menulis, KMO salah satu yang bisa membuat semangat menulis saya menyala kembali.

Terima kasih ya, mas Tendi. Setelah sebelumnya sempat minta pendapat tentang ide dan outline naskah kedua saya bareng teman, akhirnya saya bisa bertemu kembali di KMO. Saya pikir kang Tendi ini bisa memberikan materi yang isinya sangat dan sangat berisi alias daging semua!


Semangat menulis…^^

2 comments:

  1. banyak banget mbak nulisnya, kalau disatukan bisa jadi cerpen tuh nantinya. Sama kayak prosesnya bang raditya tapi bedanya dia di blognya sendiri. Saya sebenarnya gak suka nulis mbak, soalnya tulisan saya kadang susah kebaca, biasanya kalau nulis suka di laptop aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, memang banyak sekali...hehe. Sekarang juga karena mungkin zamannya sudah jauh lebih canggih, menulis dengan tangan jadi melelahkan. Lebih cepat pakai laptop.

      Delete