Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Kenapa Kamu Menulis?


sumber

Menjadi penulis itu keren. Apalagi kalau bukunya bisa terbit dan dibaca oleh banyak orang. Menjadi penulis sepertinya menyenangkan. Akan ada banyak hal yang bisa didapatkannya selain melihat bubu-buku karyanya terpajang di toko buku besar. Sepertinya hal paling menarik ketika menjadi penulis adalah ketika dia membubuhkan tanda tangannya pada lembaran pertama buku-bukunya, lalu diterima dengan girang oleh sang pembaca.

Begitulah dulu saya memandang profesi seorang penulis. Selain memang menulis menjadi alasan untuk meluapkan emosi serta perasaan. Terlalu kekanak-kanakan memang. Tapi, kenyataannya memang itu yang pernah ada dalam pikiran saya.

Pada akhirnya, saya pun menulis apa pun. Iya, apa pun yang ada dalam pikiran kekanak-kanakan itu. Mulai dari menulis cerita remaja hingga anak-anak. Hingga suatu hari, saya pun bertemu seseorang yang pada akhirnya merubah semua anggapan itu.

Iya, rupanya menulis bukan hanya merubah seseorang menjadi jauh lebih keren, lebih dari itu menulis adalah usaha seseorang untuk menyampaikan suatu kebaikan. Berharap dengan tulisan tersebut, para pembaca bisa jadi jauh lebih baik.

Menulis juga menjadi salah satu cara untuk memberikan banyak manfaat. Dengan alasan ini, diharapkan akan ada lebih banyak lagi yang bisa memetik hikmah, melakukan perbaikan diri, meninggalkan kemaksiatan serta memutuskan menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sehingga sang penulis pun bisa mendapatkan pahala karenanya.

Semoga dengan menulis sesuatu yang bermanfaat, akan menjadi ladang pahala bagi kehidupan akhirat kelak. Begitulah kira-kira yang beliau sampaikan. Tapi, ternyata tidak mudah membersihkan niat. Sebab niat yang kurang sempurna, saya pun jadi lebih mudah meninggalkannya. Melupakan prosesnya yang panjang dan bahkan melelahkan.

Banyak orang bermimpi menjadi penulis. Tapi hanya sedikit yang mau mencintai prosesnya. Saya yakin, setelah satu alasan kuat terpatri di dalam hati, semua proses berdarah-darah itu akan jadi jauh lebih mudah dilalui.

Maka, saya pun kembali dengan alasan lain. Atas sebuah keresahan, karena sebuah kelalaian yang  pernah saya lakukan pada masa lalu. Iya, saya kembali menulis dengan alasan ingin berbagi banyak hal pada pembaca bukan hanya sekadar ingin dikenal sebagai seorang penulis dan dicap keren oleh teman-teman. Sebab kalau mau disebut keren, rupanya yang jauh lebih keren ada lebih banyak lagi di atas saya. Kalau mau disebut penulis hebat, rupanya ada lebih banyak dan lebih banyak pula yang bisa mengalahkan saya.

Selain itu, keren itu kan hanya pandangan manusia saja. Bisa jadi keren di mata orang tapi buruk di hadapan Allah. Nauzdubillah. Kalau hanya ingin dikejar pujian, maka akan kelelahan di tengah jalan, alasan seperti ini akan membuat kita dengan mudah pergi ketika orang lain sudah tidak memuji. Benar kan?

Insya Allah, saya akan jauh lebih mencintai prosesnya. Entah kelak akan Allah jadikan seperti apa endingnya. Yang jelas saya menulis untuk mendapatkan ridha dan ampunan-Nya. Sebab terlalu banyak kesalahan, semoga kebaikan-kebaikan sekecil ini bisa menutupinya, meleburkan dan menjadikan saya pribadi yang jauh lebih baik ketika memandang sebuah kehidupan.

Ketika mas Tendi Murti bicara soal alasan menulis, maka saya pun mengamini apa yang beliau sampaikan. Iya, saya pun suka kesel bin sebel kalau ada ibu baru melahirkan dan dengan tanpa alasan pasti mengatakan ASInya sedikit, lalu menyodorkan susu botol. Kesel, kenapa? Karena saya tahu, kebutuhan ASI itu disesuaikan dengan kebutuhan bayi. Bayi baru lahir lambungnya hanya sekecil kelereng, jadi satu tetes asi pun sudah sangat berharga buat mereka.

Tapi, sekali lagi saya siapa? Masa tiba-tiba datang dan mengajarkan dia tentang cara memberikan ASI yang baik. Mustahil, yang ada saya dilempar sepatu. Maka pada akhirnya saya pun menuliskan itu. Berharap akan dibaca oleh banyak orang sehingga lebih banyak lagi yang tercerahkan.


Seperti itulah kemudian yang saya lakukan. Ketika menulis, jadikan Allah sebagai alasan. Iya, saya menulis karena mengharapkan ridha Allah, sebab saya ingin keren di hadapan Allah, karena saya mau mendapatkan pahala karenanya. Bukan hanya sekadar pujian keren dari manusia.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature