Kakak Ipar



“Ayu mau pulang ke rumah ibu,” suaranya pelan tapi cukup menghentak.
 
Lelaki yang pura-pura serius dengan berita kebakaran stasiun yang muncul di surat kabar pagi itu akhirnya terpaksa menoleh. Perempuan dengan mata sembab berdiri tepat di depannya. Dia sudah bersiap dengan tas jinjing berwarna merah. Hampir bisa dipastikan, separuh dari pakaian di lemari telah dikemasnya. Kali ini Abi tak lagi acuh.


“Untuk apa? Bukankah baru kemarin kamu pergi ke rumah ibu?” Suara Abi terdengar datar. Padahal, isi hatinya melompat dan berlarian. Terkejut.

“Ayu hanya ingin menenangkan diri, Mas.”

Abi menarik pergelangan tangan istrinya. Sepertinya baru kemarin rumah mereka bermekaran dan penuh binar. Kenapa kesedihan begitu cepat mengganti? Rasanya tak ada lagi kehangatan di antara mereka berdua sejak kedatangan keluarga Irfan, kakak kandungnya.

“Kalau ada masalah, sebaiknya kita selesaikan berdua,” Abi menatap kedua mata Ayu yang mulai basah.

Masalah itu sudah pernah mereka bicarakan. Tentang keluarga lain yang masuk dalam kehidupan mereka. Irfan sedang butuh tempat tinggal. Beberapa minggu sebelumnya dia dipecat dari tempat kerja. Tak ada sisa tabungan. Rumah kontrakan sudah tak bisa dibayar. Anak dan istri mulai mengeluh. Pada akhirnya, Irfan hanya bisa meminta tolong pada adik kandungnya, Abi.

Abi tak pernah keberatan dengan kedatangan mereka. Rumahnya terbuka luas bagi siapa saja yang membutuhkan. Masih ada satu kamar kosong di sebelah ruang makan. Ayu pun mengiyakan dan dengan senang hati menerima tamu baru di rumahnya.

Beberapa hari masih terlihat nyaman. Hingga suatu kali, tanpa sengaja Abi melihat sendiri perlakuan kurang menyenangkan dari kakak iparnya. Menyuruh Ayu mencuci dan membersihkan kamar. Abi melihat istrinya tak menolak.

Hingga larut malam, lelaki dengan rambut ikal itu tak menerima keluhan dari istrinya. Ayu tampak baik-baik saja. Menyiapkan makan malam seperti biasa. Masuk ke kamar dan tidur tanpa membahas persoalan itu sedikit pun.

Untuk kali kedua, kakak iparnya itu terdengar membentak Ayu karena bajunya yang kelunturan. Istri Irfan sempat marah dan memaki Ayu beberapa kali. Kali ini Abi tak lagi diam. Mendatangi mereka berdua dengan hati penuh gemuruh.

“Ada apa, Mbak?” Sahutnya sambil menggenggam tangan Ayu.

“Istri kamu nggak hati-hati. Bajuku jadi kelunturan seperti ini!” Ucap Erna ketus

“Seharusnya mba Erna mencucinya sendiri. Kan Ayu nggak tahu baju mana yang luntur.”

Erna mendengus kesal, “Cuma diminta tolong sedikit saja. Ini baju mahal.” Dengan wajah berlipat, Erna berlalu sambil membawa blus putih yang berubah kemerahan.

Ayu diam. Matanya sudah cukup menceritakan semua. Lelah seharian tak berarti apa-apa. Hanya saja, makian itu membuat semuanya terasa lebih berat.

“Sabar, ya.” Abi merangkulnya. Membiarkan isaknya lepas.

Wanita bermata lentik itu tetap saja tak bicara. Abi pikir dia sudah melupakan. Memang bukan soal mudah bersanding dalam satu rumah dengan orang lain. Terlebih ketika orang tersebut tak bisa menjaga sikap. Menyakiti dengan perlakuan serta ucapan. Bagi Ayu, semua sudah cukup menjelaskan. Kenapa suaminya belum juga menegur? Perlakuan kakak iparnya sudah sulit ditolerir. Hampir setiap hari Ayu tak berbeda dengan pembantu di rumah sendiri.
 
“Kamu yang sabar, ya.”

Lagi-lagi kalimat yang sama keluar dari mulut Abi. Ayu mulai jenuh. Apakah tidak ada yang bisa dilakukan suaminya supaya mbak Erna bisa lebih menghargai ketika meminta tolong? Ayu sungguh amat tersakiti dengan kejadian-kejadian buruk yang terjadi padanya akhir-akhir ini.

“Mas, sepertinya Ayu nggak bisa terus menerus seperti ini.”

Air tenang sudah berubah riak. Gelombang kecil yang hilir mudik sudah menyumbang gerakan ombak yang lebih dahsyat. Abi menyadari, betapa tak mudah menjalaninya. Terutama ketika Abi tak di rumah. Beberapa hari lalu, Irfan sudah bicara pada istrinya. Tanpa bicara keras, Abi berusaha meredam semua kejadian buruk yang terjadi belakangan ini. Tapi, tidak dengan mengusir mereka pergi begitu saja.

“Kamu yang sabar, mas Irfan sudah janji akan segera pindah kalau dia sudah dapat pekerjaan.”

“Semoga saja,” ucap Ayu lemas, lantas menarik selimut. Segera tidur. Meski sebenarnya sulit sekali nyenyak. Hari-hari berikutnya sudah terbayang di kepala. Ketika Abi berangkat kerja, Erna akan dengan santainya menyuruh ini dan itu. Irfan yang melihat bahkan tak berkomentar atau menegur sedikit pun. Sayangnya, bukan hal mudah mengadukan itu semua. Ayu merasa tak berhak membuka aib saudara suaminya sendiri. Lebih buruknya, akan ada pertengkaran selain dengan saudara iparnya. Ayu ingin mimpi buruknya segera usai. Diam-diam dia menahan isak. Memunggungi Abi dan mengusap matanya yang basah. Laki-laki itu tak boleh tahu kalau dia sedang menangis.

Dan seperti kejadian yang telah tergambar jelas, kejadian itu tak juga usai. Irfan yang masih menganggur, Erna yang tak juga menunjukkan empati. Pada akhirnya Ayu menyerah. Buru-buru mengemas pakaian. Memilih waktu tepat untuk bicara dan meminta izin pergi. Tidak, dia tak benar-benar ingin berpisah dengan suaminya. Cinta dan rindunya masih dalam tertanam pada lelaki bermata jernih itu.

“Ayu mau pulang ke rumah ibu.”

Ayu melihat Abi tertegun sambil memegang surat kabar. Bukan, ini bukan mimpi yang ingin mereka raih. Seperti petir yang menyambar di siang bolong, lelaki itu menarik tangan Ayu, menatap kedua matanya yang sembab.

Kenapa terburu-buru pergi? Bukankah mimpi mereka masih terlalu jauh untuk segera ditinggal? Rumah dengan keceriaan serta gelak tawa anak-anak bahkan belum terjamah separuhnya. Bagaimana Abi bisa menjelaskan bahwa masalah itu akan segera usai?

“Ayu, jangan pergi ketika ada masalah. Kita harus selesaikan.”

Kali ini Abi melihat istrinya menggeleng. Untuk pertama kali wanita _dengan isak yang melompat_itu menolak permintaannya.

Sudah cukup pembicaraan kemarin. Pada akhirnya tak pernah merubah apa pun. Ayu tak ingin Abi bertengkar dengan Irfan. Itu sebabnya dia lebih memilih pergi ketimbang menahan sembilu menyayat hatinya setiap hari. Baginya, meninggalkan suami bukan perkara mudah. Tapi, mengadukan kelakuan Erna dan Irfan juga tak membuat masalahnya semakin berkurang. Mungkin sebaiknya dia pergi, supaya mereka mengerti dan mulai menyadari. Tapi, laki-laki berwajah teduh itu meruntuhkan benteng pertahanannya. Dia merasa tak akan sanggup berpisah terlalu lama. Akan ada rindu yang berkelebat dan menariknya dalam kubangan kesedihan yang lebih dalam. Bagaimana dia bisa meninggalkan lelaki terkasihnya? Siapa yang akan menjaga dan menyiapkan kemeja saat dia hendak bekerja?

Pelan-pelan kekhawatiran itu terusir sirna. Ayu harus memutuskan.

Abi beranjak, menyuruh Ayu menunggu sebentar. Dia sudah mendaki terlalu jauh. Meminang wanita berpipi kemerahan itu bukan hal mudah. Memintanya menjadi istri lantas sekarang hanya beban duka yang diberikan? Bukankah mimpi mereka bukan hanya sekadar menjadi pasangan suami istri? Tapi lebih daripada itu, ingin kebahagiaan itu tetap terjaga meski badai dan ombak besar mengguncang.
Abi merasa perlu memperjuangkannya. Tujuan dari pernikahannya sudah terpatri di dalam hati. Bersama hingga mati, berkumpul dengan senyum merekah di surga. Tapi, kejadian ini meruntuhkan semua. Lelaki tiga puluh tahun itu tak mau berhenti di tengah jalan dan memenggal mimpinya begitu saja. Tujuan itu harus diraihnya.

Tak lama, Erna dan Irfan muncul dari balik gorden berwarna ungu. Disusul suaminya. Ayu sempat tergugu lantas terbata menata isi hati. Apa yang akan dilakukan suaminya?

Pelan-pelan Abi memulai pembicaraan. Tentang masalah-masalah kecil yang berubah riak menerjang. Erna dan Irfan sempat menolak. Merasa tak terima saat disalahkan. Tapi, Abi hanya perlu meluruskan. Tidak sedikit pun ingin bertengkar.

Sedangkan Ayu? Hanya diam menunduk. Sesekali menatap lelakinya. Ada keharuan muncul di pelupuk mata. Menjelma bulir bening bercahaya. Gemuruh di hati berubah teratur. Rindu. Sepertinya sudah lama sekali Ayu tak menatap wajah tampan suaminya. Terlebih ketika dia selalu tidur menunggungi Abi. Ayu menghela napas panjang. Menaruh tas jinjingnya di lantai keramik. Sekali lagi, menatap suaminya yang dengan tegas bicara. Membuat kelegaan muncul di hati.

0 comments:

Post a Comment