Cincin Kawin


Lelaki berkacatama itu tersenyum hambar. Melihat wajah istrinya yang sembab, lantas menarik kedua bahu mendekat. Cukup kesedihan pagi ini. Matahari pun terlihat enggan menampakkan diri sebab rumah mungil yang baru saja berbinar itu tiba-tiba menangis.



“Cincinku hilang, Mas.” Ucap seorang perempuan bertubuh mungil. Wajahnya dipenuhi hujan.

Lelaki yang tak lain adalah suaminya, mengangkat kedua alis. Mempertanyakan hal yang bisa ditebak bahkan oleh semua orang, “Kenapa bisa hilang? Kamu lupa menaruhnya?”

Wanita yang ditanya menggeleng cepat. Dia sudah bersusah payah mencari, mulai dari kamar mandi, di dapur dekat tempat mencuci piring, di kolong kasur hingga di bawah meja rias. Tak ada kemilau cincin emas yang tampak. Benda berharga itu seolah lenyap ditelan bumi.

“Aisha, bukankah sudah mas peringatkan, jaga baik-baik. Mas membelinya dengan susah payah untuk mahar pernikahan kita.”

“Maafin Aisha, Mas. Aisha nggak sengaja,” isaknya patah-patah. Dia berhambur memeluk Arif, suaminya.

Arif termangu. Lelaki itu kaget bukan main menerima pelukan istrinya. Belum lagi tangisnya yang keluar dengan napas tersengal. Dia menyesali perlakuannya barusan. Cincin itu memang berharga, dia membelinya dengan tabungan selama dua tahun. Pekerjaannya sebagai penjaga toko membuatnya sedikit lebih keras berusaha. Gajinya tak terlalu banyak, namun cukup untuk memberi nafkah ibu dan kedua adiknya yang masih sekolah. Sisanya, sedikit demi sedikit ditabung demi membayar mahar bagi calon istrinya.

Dan sekarang, wanita yang dulu begitu ia cintai, bahkan mengalahkan seribu bidadari harus menahan sakit karena dianggap tak lebih berharga dari sebuah cincin emas yang beratnya hanya beberapa gram saja?

Selain merasa telah mengecewakan suami, Aisha juga sangat kehilangan. Dia menjaganya sepenuh hati. Mendengar cerita panjang demi memperolehnya membuat Aisha lebih berhati-hati. Namun malang tak bisa ditolak. Cincin itu hilang, dia baru sadar saat memasak nasi goreng untuk sarapan Arif di dapur.

Biasanya, Aisha melepasnya ketika hendak mandi, menaruhnya di dekat tempat sabun, namun, hingga berkali-kali ia datangi, tempat itu masih tetap kosong. Tak ada cincin di sana.
Arif pun pada akhirnya merasa iba. Melingkarkan lengannya demi merengkuh Aisha, “Sudahlah, cincin itu tak lebih berharga dari kamu. Nggak usah ditangisi. Kalau memang rezeki, insya Allah akan ketemu.”

“Tapi Mas sudah membelinya dengan susah payah.”

Arif menggeleng, “Biarlah, nanti kalau ada rezeki, kita bisa membeli yang baru.”

Arif menemukan binar di mata Aisha. Lelaki dua puluh lima tahun itu meninggalkan kecupan kecil di kening istrinya. Apa yang lebih berharga dari seorang istri shalihah? Cincin bisa dibeli dan dicari lagi, sedangkan rona bahagia di dalam rumah tangganya tak mudah ditemukan.

Diam-diam Arif memuji istrinya berkali-kali. Wanita itu, meski terlahir dari keluarga kaya dan selalu dimanja, namun seketika berubah mandiri ketika tinggal bersama Arif. Rumah sederhana, tak banyak perabot di dalamnya. Hanya sebuah kamar, dapur kecil yang terletak di samping kamar mandi, ruang tamu yang tak seberapa dengan karpet merah marun yang tergelar rapi di sana. Bagi Aisha, semua itu sudah lebih dari cukup.

Mimpinya menjadi istri tak semegah bayangan wanita lain di luar sana. Meskipun kehidupannya dulu terlampau mewah, namun bahagia yang diterima saat ini jauh lebih istimewa ketimbang semua barang dan perabot mahal di rumah orangtua. Aisha bersyukur dan tak banyak mengeluh.

Dia juga tak pernah menyentuh dapur sebelumnya, kecuali hanya membereskan piring sisa makan malam bersama orangtua. Saat menikah dengan Arif, dia terbata menyiapkan sarapan, mencuci piring hingga tersentak saat menggoreng telur ceplok.

Arif kira wanita itu akan menyerah, namun tak sekalipun keluh keluar dari bibir merahnya. Dia bahkan selalu terlihat antusias membaca resep di smartphone. Mencoba mengeja masakan baru yang mungkin bisa dihidangkan esoknya untuk Arif.

Lalu, kejadian pagi ini membuat semua kebahagiaan yang berjalan beberapa bulan itu seolah luruh. Menduga Aisha yang lalai dan tak peduli, rupanya membekas sebuah penyesalan dalam benak lelaki itu. Harusnya sejak awal dia memaafkan, tak perlu bertanya macam-macam, toh Aisha tampak jauh lebih bersedih ketimbang dirinya. Semestinya dia tahu sejak awal jika perempuan pilihannya itu selalu tulus, tidak mengada-ada.

Dan pagi itu, rumah mungil beraroma jambu, berpijar dengan hangatnya. Bukan karena sebuah cincin kawin, namun karena sang pemilik istana sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

2 comments: