Pesantren I'm In Love!

May 03, 2017



            Salah satu judul novel yang ditulis oleh Sachree M Daroini. Mengambil judul yang sama dengan maksud berbeda. Setelah sehari ini menitikkan air mata sebab membaca tidak sampai separuh dari novelnya Tere Liye ‘Tentang Kamu’. Saya berderai-derai bacanya. Masyaallah, bikin baper. Belum setengahnya aja sudah nangis kejer tapi diumpetin karena malu sama anak-anak yang lagi terlelap. Takut mereka ngintip dan melihat emaknya nangis bombay, nanti dikira lebay. Tapi memang saya lebay pemirsa…huhu. Lebay sedihnya nggak bisa nahan.
            Tere Liye termasuk salah satu novelis favorit saya selain Asma Nadia. Novelnya tebal-tebal tapi nggak pernah merasa berat bacanya. Kalau bisa seharian saya habiskan. Alhamdulillah masih ingat cucian piring numpuk. Hehe.
            Baiklah, kembali fokus sama judul dan tema yang mau saya ceritakan. Tentang pesantren. Saya termasuk beruntung karena pernah mengenyam pendidikan SMA di pesantren. Sebelumnya nggak pernah membayangkan bakal tinggal di sana dan jarang pulang kecuali sakit, ada acara keluarga seperti lamaran *uhuk. Dan masa libur telah tiba. Ya, saya jarang sekali pulang karena memang peraturan di pesantren sangat ketat.

sumber

            Apa yang seru di sana? Pesantren tempat saya belajar bukan pesantren mewah. Kami di sana belajar mandiri layaknya pesantren lainnya. Tapi, buat saya bukan hanya soal mandiri. Namun juga bisa mengelola keuangan karena semua serba pas-pasan.
            Baiklah, yang menarik, hampir semua santri nggak punya piring kecuali yang baru masuk. Santri baru pasti bawa piring lalu kemudian nggak bertahan lama, hilang. Lalu mereka pun mulai terbiasa dengan santri lainnya yang makan di atas lantai dengan alas kresek. Yup! Kresek. Hehe. Sekarang membayangkannya sudah bergidik duluan. Dulu sih nikmat dan merasa aman-aman saja. Padahal kreseknya bukan warna bening. Tapi hitam dan merah. Kebayang nggak makan dengan alas seperti itu? Saya sih kebayang karena sudah bertahun-tahun menjalaninya.
            Di pesantren tentu dilarang membawa atau pun menggunkan alat elektronik seperti handphone, radio dan televisi. Nggak mungkin juga ngumpeti televisi, kan? Siapa bilang. Teman satu kamar saya pernah melakukannya. Waktu itu, TV milik pesantren masih termangu di jerambah depan. Keadaan lengang. Anak-anak SMA dan SMP sedang sekolah. Kami sudah diploma waktu itu. Teman saya mengambil TV itu dan membawanya ke kamar. TV sukses dinyalakan. Dan nggak lama, ketahuan ustadzah. Hehe. Hebat!
            Lain lagi, teman sekelas saya juga pernah membawa radio besar dimasukkan ke dalam ransel. Santai berjalan ke kampus tanpa takut ketahuan. Baik radio dan TV itu memang milik pesantren yang belum sempat dibereskan. Dan kami pun berhasil melewati benteng-benteng pertahanan, adik kelas bahkan ustadzah nggak ada yang curiga waktu itu. Selanjutnya kami menyalakannya di kampus. Hanya demi mendengarkan musik.
            Itu sih bukan keunggulan, ya? Hihi. Kesalahan. Waktu itu entah karena jenuh atau apa, kami pun sering melakukan hal aneh di akhir sekolah. Awal-awal masuk masih imut dan penurut. Setelah tiga tahun, tergelitik dan gatal juga mencoba hal-hal yang sebenarnya dilarang. Kalau diingat lucu dan malu. Lalu kenapa diceritakan? Karena itu kenangan yang nggak terlupakan.
                  Saya juga termasuk orang yang punya rasa percaya diri rendah. Selalu berada di balik layar ketika ada suatu event. Nggak pengen tampil di depan. Saya lebih suka bersembunyi. Itu saya dulu. Mengerjakan dekorasi sebuah acara bersama guru dan teman-teman hingga larut. Esoknya saat acara digelar, saya pun sudah lenyap dari permukaan bumi. Hehe.
                  Saya menemukan banyak hal menyenangkan saat berada di sana. Saya menulis dan membuat animasi seadanya. Itu hobi saya sejak kecil. Tersalurkan saat berada di pesantren.
            Tapi jauh dari semua itu, saya merasa sangat beruntung pernah tinggal di pesantren. Setelahnya saya merasa apa yang sudah saya jalani di sana menjadi pengalaman berharga saat saya sudah keluar dan menapaki kehidupan rumah tangga.
            Hidup memang sederhana. Namun, menjalaninya tak selalu sesederhana yang dibayangkan. Ketika menikah dan akhirnya harus pindah ke Jakarta, itulah masa-masa paling rumit dalam hidup saya. Mengenali karakter pasangan yang sama sekali nggak saya kenal sebelumnya. Menapaki kehidupan yang sudah menyeret masuk. Lantas saya hanya terpaku di jalan, “Apa ini yang namanya hidup?”
            Saya harus ingat bagaimana pengasuh pondok pesantren Annur III, KH. Ahmad Qusyairi mengatakan, tidak seharusnya kita mudah menyalahkan orang dalam perbedaan pandangan dalam hukum fiqih. Maka terang benderanglah jalan yang saat itu saya pijak. Saya tinggal dalam lingkungan yang berbeda jauh dari sebelumnya. Kami dulu kental sekali dengan NU. Nggak ada selainnya. Keluarga dan lingkungan sekolah. Sejak menapak di Jakarta, semua berubah. Saya bahkan harus terkaget-kaget dulu untuk beberapa waktu sebelum akhirnya menyadari, oh, ini toh yang pernah dikatakan pak Kyai dulu.
            Baiklah, nasihat itu pada akhirnya sangatlah berguna untuk saya. Membuat saya berhenti bersikap kaku dengan pandangan yang berbeda dengan yang saya pegang sebelumnya. Dan pada akhirnya saya bersyukur bisa berada di sini, di mana saya justru lebih mengerti tentang hijab syari ketimbang waktu berada di pesantren, bagaimana saya memandang sebuah jalan panjang di depan mata, bagaimana persaudaraan yang sangat lekat antara sesama jamaah majelis taklim. Ustadz yang memberikan pandangan jernih dan bila beberapa kali saya yang kaku, itu karena bawaan saya yang mungkin belum sepenuhnya bisa saya rubah.
            Allah, betapa baiknya rencana-Mu. Dulu saya banyak mengeluhkan ini dan itu. Sekarang saya menatapnya haru. Rasa cemas dan bingung menguap berganti senyum merekah. Saya bersyukur pernah tinggal di pesantren dan mendapatkan pengalaman luar biasa. Ya, selain itu saya juga tahu bagaimana membuat roti bakar yang lezat tanpa oven, microwave ataupun toaster. Ya, di pesantren saya suka menyetrika roti yang diapit oleh dua lembar kertas. Roti berisi mesis itu sukses menipis dan hampir krispi tapi lezatnya jangan ditanya. Banget! Hehe.
            Baiklah, sebaiknya saya mengakhiri cerita ini sebab ‘Tentang Aku’ nya Tere Liye sudah menunggu untuk segera dihabiskan. Sok sibuk. Ya, wajarlah, saya setiap hari kerjanya menghitung debu. Debu yang menempel di hati dan mengotori. Aih! Semakin ngelantur..Hehe.

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Google+ Badge

Most Popular