Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Ingatan Tentang Ramadhan



Suasana ramadhan sudah tak terelakkan. Hari sabtu dan minggu kemarin, jalan raya pondok kopi menuju pemakaman terdekat ramai sekali dipadati kendaraan dari dua arah berlawanan. Biasanya orang-orang pergi nyekar ke makam orangtua atau saudara. Sedangkan saya hanya kebetulan lewat saja dan terjebak macet di antara mereka.

Sudah hampir delapan tahun saya melaksanakan puasa ramadhan di Jakarta. Hal paling dikangenin dari kampung halaman adalah buka bersama keluarga di rumah. Kalau di Jakarta, walaupun makanannya berlauk banyak, tapi rasanya tak semanis dan sehangat di rumah. Saya juga heran, entah kenapa saat makan di rumah ibu terlebih saat buka puasa nikmatnya bukan main. Yang paling mengherankan, ada paman yang sampai rela datang ke rumah sebelum magrib hanya karena ingin berbuka dengan lauk seadanya di rumah. Katanya makan di rumah ibu tak bisa dikalahkan oleh masakan restoran sekalipun.

sumber

Saya pun mengiyakan. Sejak kecil, di rumah jarang sekali makan daging ayam apalagi sapi. Kami diajari sederhana dengan segala keterbatasan. Yang penting ada nasi, makan dengan lauk apa pun jadi. Justru hal seperti itulah yang membuat daging ayam terasa istimewa. Berbeda saat sekarang, seminggu sekali minimal makan ayam. Rasanya biasa saja bahkan cenderung bosan.

Belakangan saya mulai menerka, apa karena ibu selalu menyambut hangat siapa pun yang bertandang ke rumah? Sejak kecil, saya tak pernah melewatkan bagaimana ibu menjamu para tamu meskipun hanya dengan telor ceplok dan mie instan. Sampai sekarang, siapa pun yang bermain atau sekadar mampir, ibu dengan senang hati dan merasa wajib menyuguhi makan. Hal-hal sederhana itu juga saya rasakan di rumah mertua. Kalau dipikir, saya beruntung sekali punya orangtua serta mertua yang amat baik dan selalu rendah hati kepada semua orang.

Di saat ramadhan, hidangan berbuka yang tersedia di rumah ibu sederhana saja, semangkuk kolak atau es belewah. Makan bersama dengan tempe penyet dan sayur bening. Makanan itu tak sembarang hidangan. Entah kenapa rasanya melebihi ayam panggang yang disediakan di rumah makan padang..hehe. Sungguh nikmat. Untuk sahur, ibu selalu menyediakan terancam dengan sayur bening. Lauk ini kesukaan bapak. Kalau ada rejeki, biasanya ibu membuat bothok daging cincang. Tapi menu terakhir termasuk jarang ditemui.

Serba sederhana. Dan ketika sekarang kami sudah lebih berkecukupan, makanan itu justru tetap menjadi primadona. Tak ada yang bisa menggantikan kehangatannya. Jadi, rupanya bukan masalah apa yang kita makan, tapi terpenting suasana dan kehangatan yang diciptakan akan membuat segalanya jauh lebih berarti.

Alhamdulillah, Allah sangat baik. Meskipun tak tinggal serumah lagi dengan ibu, setiap tahun kami masih bisa pulang dan melepas rindu kepada orangtua. Itu rejeki tak terhingga. Sebab kenyatannya, banyak sekali yang tidak bisa pulang saat hari kemenangan itu tiba. Mendekati lebaran, ibu bahkan selalu menghitung, berapa hari lagi saya akan segera mendarat di kota Malang. Saking kangennya, beliau jutsru lebih hapal ketimbang saya yang akan pulang…hehe.

Sekarang, suasana ramadhan sudah sangat kental dengan hidangan pembuka. Mulai dari iklan sirup sampai dengan tayangan baru yang akan menemani santap berbuka dan sahur. Ketika keluar rumah saat sore, terasa keramaian orang-orang lalu lalang seperti berebut mencari hidangan takjil saja…hehe. Itu perasaan yang terlintas saat menemui jalanan sore yang padat.

Biasanya, jalanan menuju pasar perumnas klender dijadikan warung dadakan. Sepanjang jalan, ibu-ibu dan bapak-bapak menggelar dagangan dengan meja atau mobil bak terbuka. Ramai bukan main. Saya termasuk yang jarang membeli hidangan berbuka di jalan. Meskipun tampak menggiurkan, namun memasak sendiri jauh lebih menyenangkan untuk saya. Bukannya mengharamkan jajan di luar, hanya saja sudah menjadi kebiasaan kecuali karena sedang lelah dan ingin sekali makan masakan orang.

Seru, ya bulan ramadhan? Namun yang terlintas hanyalah soal duniawi saja. Soal makanan dan kehebohan di dalamnya. Lalu apa yang berbeda saat ramadhan selain takjil dan menu sahur? Tarawih pastinya. Saya sendiri lebih memilih shalat tarawih di rumah. Ini juga menjadi sesuatu yang membedakan dengan di rumah ibu jaman dulu.

Saat masih kecil, saya dan keluarga selalu melaksanakan shalat tarawih di mushalla depan rumah. Banyak teman-teman sepantaran juga datang. Ketika subuh, selepas shalat berjamaah, saya bersama teman-teman melakukan kegiatan lain sebelum pulang. Kadang berjalan kaki di tepi jalan raya. Lebih seru lagi main lompat tali dan permainan lain yang sebenarnya sangat menyita tenaga. Tapi, sekali lagi itu hal menyenangkan yang tak pernah terlewatkan.

Sebentar lagi, ramadhan akan benar-benar nyata di hadapan kita. Banyak hal-hal yang ingin sekali saya perbaiki. Bukan hanya saat puasa dan shalat tarawihnya, namun juga soal hati yang kerap menyimpan benci. Jika kemarin ada yang menyakiti dan sering kali saya pun melakukan hal serupa, ingin sekali rasanya menghapus dan melupakan meski kenyataannya tak pernah ada yang benar-benar hilang. Selalu saja membekas dan menyayat.

Tapi, biarlah semua itu tersimpan dalam ruang yang tak pernah ingin saya buka. Setelah ini, gemuruh dan riuhnya bulan penuh berkah akan menjadi sesuatu yang bermakna, membekas sebagai kenangan indah serupa ingatan masa kecil saya di rumah ibu.

Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature