Ketika Bumi Setinggi Langit



Langit cerah ketika kulangkahkan kaki tergesa menuju masjid. Hampir saja aku terjerembab ketika menaiki anak tangga. Beberapa pasang sandal jepit tertata. Aku melongok ke pintu. Memastikan kajian sunnah sore itu belum dimulai.
            Lengang. Masjid bahkan belum terisi separuhnya. Ke mana orang-orang yang biasanya datang? Mereka sedang berhalangan hadir secara bersamaan atau memang kajian dibatalkan?
            Pukul empat sore, biasanya jamaah sudah memenuhi pelataran masjid. Sesekali berbincang dan saling menyapa. Shaf-shaf di dalamnya pun akan dipenuhi oleh orang-orang yang haus akan ilmu agama. Kebanyakan yang hadir adalah lansia. Beberapa lagi usia tiga puluhan ke atas.
Tepat di tengah-tengah ruangan, kami memasang hijab. Memisahkan antara jamaah laki-laki dan perempuan. Karpet-karpet bergambar kubah sudah dijulurkan. Sound system pun sudah siap digunakan.
Sore tadi selepas shalat ashar, aku dan beberapa teman sesama pengurus masjid menyiapkan semuanya. Setengah jam sebelum kajian, aku pamit pulang sebentar. Mandi dan berganti pakaian. Tapi sekembali dari rumah, masjid masih tampak lengang. Sore itu terasa ada yang ganjil. Kajian selalu berjalan tepat waktu. Paling tidak hanya diundur beberapa menit saja karena ustadz yang biasanya mengisi acara kadang harus terjebak macet di padatnya ibu kota.

sumber

            “Kenapa kajian belum dimulai?” Tanyaku penasaran sambil menatap Syafii. Dia mengangkat bahu. Lantas melemparkan pertanyaan yang sama pada Rasyid yang berada di sebelahnya.
            Rasyid menelan ludah, “Sepertinya minggu kemarin adalah kajian terakhir di masjid kita.”
            “Apa?” Mataku terbeliak. Kajian terakhir?
            Kajian di masjid tidak membahayakan siapa pun. Kami di sini sedang belajar mengenai akidah. Bukan mau jadi penjahat apalagi pemberontak. Islam mengajarkan kami tentang kebaikan, lantas kenapa ada pihak yang merasa dirugikan?
            “Tadi ketua yayasan bilang, kajian sunnah harus dihentikan. Dia tak memberikan izin masjid ini dipakai sebagai tempat kajian apalagi oleh ustadz-ustadz yang biasa kita undang.”
            Seketika kakiku lemas. Kami memang menghidupkan masjid dengan kajian sunnah, namun mereka rupanya berseberangan. Sudah sejak lama pak Junaid melarang kami mengadakan acara seperti ini. Namun, kami tak juga mengindahkannya. Kami pikir, justru acara seperti inilah yang amat dibutuhkan apalagi oleh warga yang mayoritas buta akan pemahaman ilmu agama.
            Ah, aku hampir saja tak memercayainya. Rasyid bilang ustadz Fatih bahkan sudah datang. Menyaksikan langsung ketua yayasan melarang beliau ceramah lantas secara sangat tidak sopan mengusirnya dari masjid. Allah, dadaku dipenuhi gemuruh. Jika saja aku berada di tempat ini saat kejadian berlangsung, apa yang akan aku lakukan? Berseteru dan memaksa kajian terus berjalan atau malah seperti sekarang? Menyerah begitu saja?
            Aku harus akui, pak Junaid lebih dari sekadar berani melarang kajian sunnah diadakan di masjid. Dia bahkan memaksa semua bubar. Jamaah yang terlanjur hadir tentu merasa sangat kecewa lebih lagi ingin berontak. Perasaan mereka tentu tak berbeda jauh dengan apa yang kurasakan saat ini. Kesal dan geram. Namun, pak Junaid sudah jadi pemenang. Tapi hanya detik ini ketika kami diam dan bungkam.
            Syafii mendengus kesal. Dia juga baru datang beberapa detik sebelum kedatanganku. Aku menepuk bahunya pelan. Untuk saat ini kami sebaiknya diam dan bermusyawarah dengan teman serta jamaah lain. Tak mungkin mengambil keputusan dengan kepala meradang. Alih-alih mau membela kebenaran tapi malah ditunggangi setan. Naudzubillah.
            Satu hal yang masih menjadi pertanyaan, alasan apa yang membuat pak Junaid sampai begitu marahnya melarang kajian sunnah di masjid ini? Karena kami berbeda pandangan atau sebab memanasnya pilkada di ibu kota?
            Rasyid masih termangu di teras masjid. Kulihat dia memandang kosong ke arah jalan yang dipenuhi kendaraan bermotor. Syafii dan aku segera menyusul. Sepertinya dia orang yang paling suntuk di antara kami bertiga. Sebab dialah yang berhadapan langsung dan mendengar ketegangan sore tadi.
            “Sabar, Syid.” Ucapku sambil mengelus hati sendiri. Sejujurnya, lelaki sepertiku juga tak mudah jika menahan emosi ketika berhadapan dengan masalah seperti ini.
            “Kajian ini sudah kita jalankan selama lebih dari lima tahun. Sejak kepengurusan dipindah tangankan, kajian semakin sulit diteruskan.”
            Aku menatap nanar. Rasyid benar. Dulu, sebelum yayasan dipegang oleh pak Junaid, kajian selalu diberi dukungan penuh. Meskipun kami berbeda ‘aliran’, namun pihak yayasan tak pernah mengahalangi.
            “Bukan aliran sesat kenapa juga dilarang.” Ucap pak Arifin yang saat itu menjadi ketua yayasan.
            Ya, kami juga mengimani Allah dan mencintai nabi Muhammad saw. Kami bertanggung jawab atas diri kami sendiri. Mengingatkan memang sudah menjadi kewajiban. Namun pada akhirnya, keputusan akan tetap berada di tangan masing-masing.
            Kami selalu dianggap aliran yang mudah membid’ahkan 'ritual-ritual' yang biasa mereka lakukan. Tapi, itu bukan alasan untuk kami memerangi. Pada akhirnya kami tetaplah saudara. Semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan. Kami meyakini sesuatu benar, mereka pun belum tentu mengamini. Dalam kehidupan, selalu saja ada perbedaan. Namun, sungguh itu tak menjadi alasan untuk bermusuhan.
            Selama ini, kajian sunnah berjalan wajar, warga lain yang tak berkenan pun tetap bisa menjalankan 'ritual' yang mereka yakini dengan aman. Tidak saling mencela apalagi menjatuhkan.
            “Sepertinya besok kita harus bicara dengan pengurus yayasan yang lain. Kenapa pak Junaid melarang kajian yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun. Kenapa baru sekarang jika memang sejak dulu dianggap salah?” Syafii mempertanyakan.
            Beberapa pengurus yayasan biasanya hadir dalam kajian. Namun, sore ini mereka juga tak tampak. Apakah mereka diancam oleh pak Junaid atau mungkin sudah membenarkan tindakan ketua yayasan berumur lima puluhan itu? Aku mengurut kening. Tiba-tiba saja merasa lelah dan pening.
***
            Beberapa hari ini Syafii jarang terlihat di masjid. Subuh tadi aku tak melihat batang hidungnya. Malam ini pun dia tak juga datang hingga shalat berjamaah isya usai. Rasyid yang memahami kegelishanku menegur dari belakang.
            “Syafii bilang dia malas datang ke masjid.”
            Kedua alisku terangkat, “Kenapa?”
            “Karena kejadian kemarin. Katanya malas bertemu pak Junaid.”
            “Lho, sikap ketua yayasan memang sudah sangat menyakitkan kita sebagai pengurus masjid. Orang-orang seperti itu memang perlu dijauhi. Namun, masjidnya nggak boleh ditinggalkan.”
            Rasyid tertawa renyah lantas mengiyakan, “Kamu betul. Kejadian kemarin cukup jadi pelajaran. Mungkin kita harus lebih dekat dengan pengurus yayasan. Siapa tahu silaturrahim yang baik akan mengubah semuanya.”
            Aku mengangguk. Menyetujui usulan Rasyid. Selama ini kami seolah langit dan bumi. Saling bersaudara dan mengaku beragama islam namun saling menjauhi. Kadang merasa enggan terlalu lama bicara, sebab ujung-ujungnya akan menjurus pada perdebatan yang itu-itu saja. Namun, kalimat Rasyid barusan membuatku tersadar. Sudah saatnya kami membuka diri dan menjadikan perbedaan di antara kami sebagai ikatan yang menguatkan.
            Selepas shalat isya kami memutuskan menuju rumah salah seorang pengurus yayasan. Pak Zainal membuka pintu dan menyambut ramah. Kami dipersilakan masuk. Basa basi sebentar lantas menuju pokok permasalahan.
            Lelaki enam puluhan itu tersenyum hangat, “Sebenarnya kami sesama pengurus yayasan bahkan tak tahu kejadian kemarin. Junaid tidak memberi tahu kami sebelumnya.”
            “Jadi tidak ada pemberitahuan?” Aku meyakinkan.
            Pak Zainal mengangguk, “Sebenarnya Junaid hanya salah paham. Hari ini, kami bertemu dan bicara langsung mengenai kejadian kemarin. Junaid entah mendengar dari siapa, merasa gelisah dengan kajian rutin kalian. Katanya ada yang bilang menyesatkan. Lalu ada pula yang mengatakan sebagai ajakan pemberontak. Dan entah apa itu. Yang jelas Junaid mengaku salah karena terburu-buru menghakimi secara sepihak tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu.”
            Pak Junaid memang tak sepaham dengan kami. Dia pun tak pernah menghadiri kajian. Jadi, bagaimana dia bisa tahu materi apa yang sedang disampaikan setiap jumat sore? Belum lagi sikap tak ramah kami padanya. Keadaan pun semakin mencekam sejak pilkada di Jakarta. Kami yang awalnya biasa lantas sering menatap sinis tanpa sebab. Ah, sungguh kesalahan yang amat fatal.
            “Kajian bisa kalian lanjutkan minggu depan. Junaid sudah menyetujuinya. Kalaupun dia tak bicara langsung, bukan berarti dia melarang. Hanya saja mungkin merasa malu dengan kelakuannya kemarin.”
            Aku dan Rasyid saling menatap lega. Lantas seulas senyum menyembul dari wajah kami.
            Setelah ini, kami berjanji  akan tersenyum ramah pada semua orang. Bersahabat dengan siapa pun meski dia bukan bagian dari kajian yang kami adakan. Sebab terlalu serius menekan perbedaan, sampai kami pun lupa memperlakukan sekitar. Pak Junaid tentulah bukan satu-satunya orang yang bersalah atas kejadian kemarin. Jarak di antara kami justru menjadi satu-satunya alasan kenapa dia sampai memercayai isu itu. Belum lagi karena sejak dulu dia merasa bukan ‘bagian’ dari kami. Ingin segera membubarkan kajian. Lantas momentum yang tepat membuatnya tak sekadar jadi keinginan.
            Kejadian sore itu akan jadi pelajaran berharga. Kami yang mengaku mencintai Rasulullah rupanya tak meneladani akhlak beliau. Ah, menyesal tak lagi berarti.
            Kami berpamitan setelah beberapa kali menyesap teh hangat yang dihidangkan oleh istri pak Zainal. Sebelum benar-benar berlalu dari balik pintu, seseorang menepuk bahuku dari belakang. Aku menoleh dan menemukan pak Junaid sudah berdiri sambil melempar senyum. Setengah kaget dan tertegun, dentuman keras mengoyak hati. Sebelum akhirnya aku bisa mengingat satu persatu kejadian menyakitkan itu, pak Junaid tiba-tiba merengkuhku, memeluk dan meminta maaf. Aku terpaku. Rasyid tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.

0 comments:

Post a Comment