5 Kegiatan Positif Bagi IRT



Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Baru shalat subuh, tak lama sudah masuk waktu dhuhur. Sebentar lagi si kakak pulang sekolah, lalu menyuapi adik. Belum lama melihat kakak tidur siang, adzan ashar sudah berkumandang. Malam pun menjelang dengan kesibukan yang biasa-biasa saja. Seolah rencana spesial sebelumnya tak tersentuh sedikit pun. Besoknya, beberapa rencana lain yang sebelumnya sudah tersusun rapi akhirnya tak terlaksana juga. Rutinitas berputar pada kegiatan yang sama. Itu-itu saja.

Rencana spesial apa sih yang sering terlewatkan? Misalnya saja membaca Alquran atau mengikuti kajian. Inginnya menyelesaikan satu juz dalam sehari. Namun kenyataannya, satu ayat pun belum disentuh. Alasan kesibukan membuat kita sering lupa akan kewajiban. Melewati kajian sebab merasa sibuk dengan anak-anak yang masih balita. Kalau ikut kajian, repot menjaga, tidak konsentrasi mendengarkan bahkan lebih parahnya hanya lari-larian mengikuti ke mana si kecil pergi.

sumber

Padahal, membaca Alquran dan mendalami ilmu agama tak menunggu sempat. Setiap saat harus kita luangkan waktu untuk keduanya. Meskipun sibuk, selalu ada jeda. Lantas setelahnya, Allah akan luaskan waktu kita. Pekerjaan yang kemarin terlihat menumpuk, pelan-pelan terselesaikan. Semua berubah sangat teratur dan nyaman.

Setiap hari kita sempat memasak makanan bergizi buat keluarga, membuat camilan sehat untuk anak-anak, namun lupa memupuk ketenangan bathin. Sejatinya hidup kita hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Shalat dengan tenang tanpa memikirkan jemuran yang belum kering, kadang menu makan siang masuk pula dalam pikiran saat kita membaca surat Al-Fatihah dalam rakaat pertama, pada rakaat berikutnya tak terelakkan menu makan malam pun ikut mengisi. Rasanya shalat menjadi hal-hal yang tidak berarti. Tak lebih dari sekadar gerakan-gerakan kosong. Ketika malam larut, kita pun terlalu lelah untuk bangun sekadar shalat dua rakaat dan mendoakan anak-anak. Kenapa waktu seolah tak ada artinya?

Benarkah kita sudah lalai dengan alasan kesibukan yang semakin hari kian bertambah? Padahal seharusnya ibadah adalah pekerjaan utama sedangkan kegiatan lainnya hanyalah pekerjaan sampingan. Namun, sebaliknya ibadah justru jadi pekerjaan sampingan dan kegiatan lain menjadi pekerjaan utama yang benar-benar melelahkan. Rasanya tak ada lagi waktu tenang untuk membaca Alquran, menyempatkan datang ke kajian atau bahkan sekadar shalat malam. Semua waktu spesial kita bersama Allah terlewatkan begitu saja.

Buat ibu rumah tangga yang sering galau dan merasa resah terutama saya sendiri tentunya, memaksa melakukan amalan-amalan sunnah tentu menjadi hal yang sangat membantu. Kalau biasanya pagi bahkan tak sempat shalat dhuha, mulai esok segera shalat dhuha tepat waktu meskipun perkerjaan lain masih menumpuk dan belum tersentuh. Membaca surat Al-Waqiah selesai shalat dhuha empat rakaat tentu tak akan mengurangi waktu. Paksa dan paksa!

Ketika mengerjakan pekerjaan rumah, bacalah basmalah dan berdoa semoga pekerjaan itu bernilai pahala di sisi Allah. Tak ada kegiatan yang sia-sia jika saja niat baik sudah disematkan dalam hati. Ingatlah, menjadi ibu rumah tangga sejatinya adalah pahala berlimpah bagi kita. Jangan sampai menyapu dengan perasaan dongkol dan kesal. Apalagi sampai ngomel-ngomel. Bukankah semua itu memang pekerjaan kita setiap hari? Bisa dibayangkan jika sepanjang hari dilakukan dengan berat hati, wajah kusut serta mengeluh. Bahkan anak-anak pun takut ketika mendekati kita. Itu sungguh menyeramkan. Mungkin sebulan kemudian wajah kita sudah keriput dan semakin menua.

Ketika waktu terasa amat sempit untuk mengerjakan pekerjaan rumah, maka ambillah waktu di sela-sela pekerjaan untuk membaca Alquran. Setelahnya pekerjaan-pekerjaan lain pun akan mudah terselesaikan. Percayalah, Allah yang memiliki waktu kita. Entah kapan akan berakhir, bahkan kita tak sempat mengingatnya. Seolah semua ada dalam genggaman tangan. Padahal, dalam waktu yang pasti kita akan kembali pada-Nya. Lantas apa yang bisa dipersiapkan? Apakah lantai yang selalu bersih tanpa debu? Ataukah cucian yang selalu disetrika licin tanpa kusut? Atau menu makanan spesial yang selalu disajikan di meja makan? Ternyata bukan semua itu. Ketika mengingat kematian, rasanya belum ada bekal yang disiapkan .

Selain memaksa menyempatkan diri membaca Alquran dan melakukan amalan-amalan sunnah di rumah, lima hal berikut akan memompa semangat kita untuk terus berpacu meningkatkan kualitas diri;

1.      Mengikuti tahsin Alquran. Rumah Alquran Bunda Aisyah adalah salah satu tempat tahsin Alquran bagi muslimah yang ingin membenarkan serta menghapal Alquran dengan sempurna. Di sana kita akan belajar Alquran dari nol. Hal paling menyenangkan tentu adalah semangat yang terlihat dari para murid yang tak lain adalah ibu-ibu rumah tangga bahkan yang sudah lanjut usia. Dengan lidah kelu dan kaku, mereka tetap semangat berlatih. Mengikuti tes dan mengerjakan pekerjaan rumah. Sungguh rumah Alquran ini menjadi pondasi kuat untuk muslimah. Mereka pun ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, mengumpulkan dana bagi saudara kita yang sedang terkena musibah.
2.      Mengikuti kajian. Majelis taklim bukan hanya jadi tempat mencari ilmu. Di sana kita bisa mendapatkan teman-teman yang memiki semangat sama, lebih indahnya mereka sudah seperti keluarga, selalu mengingatkan ketika lalai, memberi solusi dan membantu tanpa pamrih. Harapan yang lebih besar semoga salah satu di antara mereka bisa memasukkan kita ke dalam surga. Bukankah seorang teman yang shaleh akan mencari sahabatnya di surga dan ketika dia tak mendapatinya, maka dia pun akan meminta pada Allah supaya mengumpulkannya bersama di dalam surga. Seperti itulah harapan terbesar ketika memilih sahabat. Dalam beberapa kajian, banyak juga ibu rumah tangga yang membawa balita, ada juga dosen yang menyempatkan waktu beberapa menit sebelum berangkat ke kampus. Semua sungguh tergantung pada niat.
3.      Ikut terjun langsung mengurusi anak yatim. Bukan hanya sekadar jadi donatur. Namun juga menjadi orang tua bagi mereka. Ada beberapa kajian ilmu yang memegang langsung sebuah rumah tahfidz bagi dhuafa dan anak-anak yatim. Bagi para jamaah, kegiatan ini sungguh sangat berguna. Sebab ladang pahala seolah berlimpah di depan mata. Mereka rajin mengunjungi rumah tahfidz dan sekadar berbincang sebentar sambil melihat perkembangan anaka-anak didik. Yang sepeti ini ternyata punya kelekatan sendiri pada anak-anak. Sungguh bahagia jika kita bisa menjadi salah satunya.
4.      Menulis. Menulis bukan hanya hal menyenangkan, namun juga hasrat berbagi ilmu serta manfaat bagi orang banyak. Dengan menulis, kita bisa menyumbangkan ide dan gagasan yang berguna untuk orang lain. Berharap semua tulisan itu menjadi ladang amal dan menolong kelak di akhirat.
5.      Memasak. Sebenarnya ini pembenaran saja atas kegemaran saya. Hehe. Memasak buat saya memang bukan hanya sekadar hobi namun juga kewajiban. Sebab, ibu rumah tangga yang tidak suka memasak pun pada akhirya tetap harus melakukannya. Tak mungkin juga setiap hari hanya menyiapkan telur ceplok dan mie rebus. Lalu apa manfaat memasak? Selain untuk keluarga, berbagi resep masakan untuk orang banyak rupanya menjadi kebahagiaan tersendiri. Walaupun sejujurnya saya masih sering gagal membuat bolu atau chiffon cake, namun semangat berbagi masih tetap menyala. Saya berpikir, mungkin di luar sana banyak ibu-ibu muda yang butuh beberapa resep simple untuk keluarganya. Ketika mereka berhasil, tentu saya pun merasa senang. Harapan terbesar semoga hal kecil ini bisa membantu banyak perempuan di luar sana. Insya Allah!

Beberapa kegiatan itu mungkin bisa menjadi pilihan terbaik selain amalan-amalan sunnah lainnya. Sebab menjadi baik itu harus diperjuangkan. Semoga waktu-waktu yang tersisa berikutnya adalah waktu berharga dan penuh cinta kepada keluarga, orang lain dan tentunya menjadi ibadah kepada-Nya.

0 comments:

Post a Comment