10 Tips Sukses Menyusui



Suka gemes kalau ada bidan atau rumah sakit yang membekali ibu melahirkan dengan susu formula. Atau lebih parahnya, rumah sakit yang tak pro ASI, tak rawat gabung, memberikan susu formula pada bayi baru lahir tanpa izin dan persetujuan orangtua. Gemes karena hak anak terenggut. Gemes karena pihak rumah sakit yang seharusnya memberikan edukasi justru mencari kesempatan dalam kesempitan dengan mengambil keuntungan secara sepihak tanpa memikirkan perasaan ibu atau pun masalah yang akan ditimbulkan setelahnya. Misalnya saja, bayi jadi rewel ketika menyusu langsung karena sejak awal sudah terbiasa minum susu dari dot. Ketika minum dari dot, aliran susu keluar dengan mudah tanpa usaha. Sedangkan ketika menyusu langsung, bayi butuh sedikit kesabaran serta usaha untuk bisa minum. Begitu juga bingung puting menjadi masalah besar bagi ibu-ibu yang bayinya mengenal dot terlalu dini.

sumber

Alasan klasik lainnya adalah ASI belum keluar sehingga bayi harus segera diberikan susu formula. Padahal, bayi baru lahir bisa bertahan tanpa asupan apa pun selama 24-48 jam. Saat baru lahir, lambung bayi pun hanya sebesar kelereng. ASI yang keluar pada hari-hari pertama_biasanya berwarna kuning disebut kolostrum_meskipun jumlahnya sedikit namun kaya akan nutrisi dan bisa memenuhi kebutuhan bayi. Hisapan mulut bayi baru lahir pada kenyataannya justru sangat bermanfaat memperbanyak produksi ASI itu sendiri. Menyusui sesegera mungkin adalah jalan terbaik jika memang sejak awal sudah merencanakan pemberian ASI ekslusif selama 6 bulan.

Walaupun ASI bermasalah, solusinya buka memberikan susu formula, tapi tetap memberikan ASI dari ibu lain. Terdengar merepotkan, ya? Tapi, bagi saya, ASI itu penting. Bahkan di dalam Alquran disebutkan secara jelas. ASI pun amat bermanfaat bagi ibu dan anak. Selain hemat, kandungan ASI tak bisa disamakan dengan susu formula yang sudah mengalami proses panjang sehingga banyak sekali vitaminnya yang rusak. Promosi susu formula pun amat gencar sehingga bagi ibu yang kurang memahami pentingnya ASI akan dengan mudah memberikannya pada buah hati. Sayang sekali.

Di Indonesia sendiri, para tenaga kesehatan dan produsen susu formula rupanya kurang bisa menaati SK pemasaran susu formula. Banyak sekali peraturan Internasional yang dilanggar, misalnya saja mengiklankan susu formula kepada masyarakat, memberikan sampel gratis atau pun hadiah pada ibu atau pun petugas kesehatan, membuat iklan susu formula di sarana kesehatan dan beberapa pelanggaran lain yang sama sekali tidak disadari oleh masyarakat.

Bagi ibu hamil yang berkomitmen ingin memberikan ASI sejak melahirkan, beberapa tips ini mungkin bisa membantu.

1.      Mencari dokter kandungan yang pro ASI. Dokter kandungan adalah orang pertama yang membantu proses persalinan dan mengantarkan bayi lahir ke dunia. Ketika dokter kandungan tak pro ASI, maka bisa dipastikan IMD tidak akan diutamakan. Sebaliknya, ketika dokter kandungan benar-benar mengedukasi soal pentingnya ASI, maka sejak awal pemeriksaan pun akan dijelaskan betapa pentingnya proses IMD sesaat setelah melahirkan. Saya pun menanyakan hal serupa kepada dokter kandungan saat itu. Dokter kandungan menjelaskan dan menyambut baik rencana saya memberikan ASI.
2.      Memilih rumah sakit pro ASI dan rooming in. Rumah sakit yang pro ASI tentu saja menjadi pilihan utama. Begitu juga rawat gabung yang sering diabaikan. Pengalaman saya, sebelum melahirkan, bidan di rumah sakit sudah mengajari bagaimana menyusui dan dokter kandungan sudah sejak awal menjelaskan pentingnya ASI. Setelah melahirkan, bidan di rumah sakit pun tak segan membantu proses menyusui. Bahkan beberapa hari paska persalinan, petugas rumah sakit datang ke rumah dan memeriksa kondisi saya serta mengajari proses pelekatan yang baik saat menyusui.
3.      IMD. Memberikan ASI sesaat setelah melahirkan. Diskusikan dengan dokter kandungan, serta ajak suami untuk bekerjasama saat proses persalinan berlangsung.
4.      Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang pemberian ASI. Banyak ibu-ibu yang kurang memahami mengenai pentingnya ASI, kecukupan dan beberapa masalah lain dikarenakan minimnya informasi. Zaman sekarang, tidak ada yang tak bisa dijangkau dengan majunya teknologi. Sharing pengalaman dan banyak sekali informasi tentang ASI bertebaran di internet.
5.      Mengetahui manfaat ASI bagi ibu dan anak. Salah satu di antara manfaat ASI bagi anak adalah mengandung antibodi yang amat baik bagi daya tahan tubuh, selain itu juga menurunkan risiko alergi. Sedangkan bagi ibu sendiri, manfaat ASI bisa membakar kalori dan menurunkan berat badan setelah kenaikan drastis saat hamil, yang tak kalah penting pula menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker payudara.
6.      Percaya diri. Tidak mengkhawatirkan tentang banyak sedikitnya ASI. Percaya dan yakin bisa menyusui serta selalu rileks menjalani proses yang bagi sebagian ibu menjadi amat melelahkan.
7.      Berikan ASI sesering mungkin tanpa harus memberikan jadwal. Sebab produksi ASI sesuai dengan permintaan (on demand)
8.      Menjaga kesehatan fisik maupun mental. Pantang stres. Sebaiknya juga menjaga pola makan yang baik, banyak minum dan istirahat yang cukup.
9.      Mengajak suami dan keluarga untuk membantu saat proses menyusui. Penting sekali edukasi kepada keluarga terutama nenek atau kakek yang biasanya selalu khawatir ketika melihat cucunya menangis. Ajari mereka bahwa proses menyusui memang tak selalu mudah, bayi selalu menangis juga bukan selalu karena ASI yang tak cukup.
10.  Mengetahui teknik dan pelekatan yang tepat saat menyusui. Biasanya bidan atau konselor laktasi bisa mengajari.

Semoga 10 tips di atas berguna dan ada lebih banyak ibu yang mengerti dan paham akan pentingnya pemberian ASI bagi buah hatinya.

0 comments:

Post a Comment