Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Tentang Dhigda



Ini hanya tentang Dhigda. Nggak tahu kenapa rasanya ada banyak hal yang lebih terjadi saat Dhigda dalam rahim hingga dilahirkan. Berbeda dengan kakaknya, Dhigda lahir dengan ketuban hijau. Tidak spontan menangis. Saat hamil, saya memang mengalami banyak masalah. Mulai dari placenta di bawah, sungsang, hingga mendekati kelahiran saya sering dilanda rasa sakit berlebih padahal itu hanya kontraksi palsu yang pada saat kehamilan kakak, nggak pernah sesakit itu.

Bersyukur Dhigda terlahir lebih cepat waktu itu di usia kehamilan 37 mingguan dengan BB 2,9 kg. Karena waktu itu bulan ramadhan, saya nggak pengen aja lahiran saat lebaran..hihi. Ketika Dhigda lahir, sy merasa terlalu lama dipisahkan karena ia masih harus diobservasi. Sampai akhirnya sy meminta bayi saya diantar ke kamar. Dia menyusu dengan baik, IMD pun pintar sekali. BAK dan BAB lancar. Menangis juga waktu lahir walau nggak spontan. Alhamdulillah buat saya semua masih berjalan baik.

Tapi, karena terlahir dengan ketuban hijau, dokter anak yang menangani menyuruh tes darah dan diketahui leukositnya sangat tinggi untuk neonates atau bayi baru lahir. Kalau tidak salah 35 ribu lebih waktu itu.

Akhirnya diputuskan untuk injeksi antibiotik karena risiko terburuknya adalah penyakit sepsis yang sangat berbahaya. Tapi dan tapi seperti biasa saya selalu merasa horror dengan hal-hal semacam ini. Karena dokter anaknya juga bagi saya belum tentu benar. Sombong, ya saya ini. Hihi. Sebenarnya lebih kaget dan nggak percaya serta nggak siap aja dengan kondisi seperti itu.

Mestinya setelah lahiran happy tapi tiba-tiba terjadi sesuatu diluar dugaan dan persiapan ilmu untuk itu sangat minim. Saya masih ragu meski suami sudah menandatangani surat persetujuan karena kita juga menanyakan pada beberapa keluarga yang berprofesi dokter dan jawabannya sama.

Malam-malam saat suami saya tidur di sofa, suster mengabarkan kalau anibiotiknya sudah siap. Adek akan ditanamkan jarum selama lima hari kedepan. Lebih kaget lagi, ya. Akhirnya entah keberanian dari mana saya justru menandatangani surat penolakan. Ajaib banget hati saya sampe segitu beraninya. Padahal saya sakit dikit aja ngeluhnya sampe RT sebelah, lho! Hehe.

Alhamdulillah keputusan saya pun nggak salah. Saya akhirnya konsul dengan dokter di milis sehat. Dan dokter Anto waktu itu menjelaskan tentang neonates yang butuh injeksi AB dan resikonya. Bersyukur dan bahagia karena adek nggak salah penanganan. Waktu pulang dari rumah sakit, dokter anak memberikan status bayi sehat karena klinisnya bagus. Cek beberapa hari kemudian semua sudah kembali normal termasuk leukositnya.

Karena itulah, namanya Dhigdaya..insyaallah selalu kuat ya, Nak.

Dhigda, memang dia berbeda dengan kakak. Saat bayi, tubuhnya lebih berisi. Hanya saja dia kerap sakit karena tertular kakak yang sudah masuk sekolah. Parahnya Dhigda punya riwayat otitis media.

Dulu, sebulan saya bisa 2-3 kali ke dokter THT. Bahkan sebelum ketahuan otitis, Dhigda sempat demam sampai hampir sebulan. Malam hari dia demam tinggi sampai 39,6. Anehnya semua dokter yang saya datangi nggak tahu penyababnya. Sampai dia harus bolak balik ambil darah. Kalau ingat, saya malah nggak percaya bagaimana saya bisa menjaga dia sebulan dalam kondisi demam tinggi. Masyaallah.

Setelah satu tahun, ia mulai membaik dan jarang kambuh. Kecuali di musim dingin seperti sekarang saat common cold berulang. Di rumah yang sakit giliran. Jadi ping pong sudah sebulan. Pada akhirnya Dhigda sempat panas dan keluar cairan dari telinga kiri. Dua hari kemudian saat saya bawa cek ke dokter, telinga kanannya pun keluar cairan. Pantesan sebelumnya dia menarik telinga dan menangis.

Saya akhirnya konsul dulu dengan dokter anak sebelum akhirnya dirujuk ke THT dan kultur cairan telinga.

Seharian di rumah sakit selasa kemarin. Dhigda menangis keras di dokter THT entah karena sakit saat periksa atau memang takut sama dokternya..hehe. Yang jelas dia nangis sampai muntah-muntah.

Kesimpulannya adalah, Dhigda sering banget kambuh infeksi telinganya ketika batpil berkepanjangan. Semoga ini yang terakhir ya, nak. Insyaallah semoga Allah angkat segala penyakitmu, sayaang.

Semoga bermanfaat. Amiin.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature