Tentang Cerpen 'Tiga Puluh'



Sebenarnya ide dari cerpen itu sudah pernah saya tulis zaman 2014. Karena satu dan lain sebagainya saya kehilangan semua tulisan saya di mana-mana. Akhirnya saya menuliskannya ulang dan yang pasti nggak sama. Saya saja nggak ingat yang dulu. Semua yang saya simpan juga bersih di laptop karena suami waktu itu memindahkan tapi ternyata nggak pindah malah habis.

Kemarin buka-buka laptop satunya dan nyari yang katanya sudah dipindahkan juga nggak ketemu apa-apa. Ya sudahlah, ya.

Saya nggak pandai menulis dan bukan ahlinya. Tapi saya coba menceritakan apa yang ingin saya rencakan dalam cerpen Tiga Puluh itu. 

Pertama soal judul. Tiga Puluh buat saya lumayan bikin penasaran. Buat saya lho, ya. Hehe. Karena tiga puluh itu bisa apa saja sebenarnya. Jadi saya yang awalnya ingin memberikan judul ‘Maysaroh’ sebagai tokoh utamanya itu pun batal. Lalu saya juga sempat ingin memberikan judul ‘Senja’ karena di situ diceritakan dengan latar waktu senja hari. Namun, rasanya kurang menarik juga. Akhirnya setelah mengetik cerita begitu banyak, saya pun memilih ‘Tiga Puluh’ sebagai judul. Ya memang masalah utamanyakan soal usianya yang sudah tiga puluh itu. Kalau usianya masih dua puluh pasti lain lagi ceritanya.

Di dalam menulis, saya memiliki kecendrungan menulis kata ‘Sebab’ atau beberapa saya malah lupa apa, ya? Hehe. Jadi saya berusaha menghindari kata itu. Karena nggak mau tulisan saya dipenuhi oleh kata atau kalimat yang sama. Ketika diawal saya sudah menulis kata misal, ‘mata saling bertemu’ dilain tempat saya berusaha menulis kata dengan maksud yang sama yaitu ‘Saling menatap atau melihat’ misalnya. Intinya saya berusaha menjauhi kata-kata yang monoton.

Saya sering merasa bingung dengan klimaks yang akan saya buat. Ketika menulis cerita, saya justru pusing sendiri karena klimaksnya justru udah lewat tanpa saya sadari. Tahu-tahu sudah sampai di akhir cerita atau penyelesaian masalah. Akhirnya sekarang saya berusaha mengulang ceritanya secara berurutan dan mencari klimaks yang tepat. Walaupun nggak berhasil banget..hehe

Lanjaran. Ketika Abi saya jadikan sebagai orang yang akhirnya berniat menikahi Maysaroh. Saya harus mencari lanjaran yang kuat sebab diawal nggak ada cerita tentang si Abi ini. Jadi ditengah saya berusaha menyisipkan lebih banyak tentang Abi. Kenapa Maysaroh sampai terharu saat Abi datang melamarnya. Saya buat sebab Maysaroh tahu Abi ini sebenarnya orangnya santun. Maysaroh di usianya yang tak lagi muda itu merasa Allah sangat baik karena memberinya seorang lelaki sebaik Abi. Padahalkan sebelumnya dia pasrah mau menikah dengan siapa saja. Begitu.

Pemilihan nama. Saya juga bukan orang yang mudah dapat ide nama. Kalaupun dapat, biasanya namanya biasa-biasa aja. Abi itu saya nggak tahu juga kenapa memilih nama Abi. Rasanya suka aja dengernya ketika saya ucapkan. Hehe. Maysaroh saya pilih karena saya suka dengan panggilannya yang sederhana yaitu May. Lagipula, diakan keturunan Madura yang tinggal di Malang. Jadi orang Madura namanya jaman dulu ya begitu itu. Hehe.

Ketika mulai membaca cerita dari awal sampai akhir, saya berusaha membacanya dengan suara. Nggak dalam hati. Karena ketika ada kalimat yang aneh diucapkan dan nggak membumi itu akan jauh lebih mudah diketahui atau dirasakan.

Mengendapkan. Sebenarnya mengendapkan itu butuh kesabaran. Kadang karena buru-buru kita jadi malas menunggu. Saya membuat cerpen Tiga Puluh itu semalam. Lalu saya biarkan dan malam ini saya membacanya lagi. Lalu mulailah ketahuan mana yang semalam kayaknya baik-baik aja dan sekarang kelihatannya kurang enak dibaca.

Terakhir. Kita akan membaca sebuah cerita utuh kalau mau menuliskannya. Jadi, kalau nggak ditulis dan hanya dibayangkan saja hasilnya nggak ada. Ini nasehat buat saya sendiri, sih. Hihi. Ketika saya bicara banyak sekali, mengajak orang bersemangat, dan ternyata saya sendiri akhirnya jatuh dan sulit sekali bangun. Saya pikir, semua yang saya tuliskan adalah untuk diri saya sendiri. Lagian saya juga nggak mampu ngajarin orang. Benerin diri sendiri saja belum mampu. Allah, maafkan…

0 comments:

Post a Comment