Misteri Malam Berhantu



“Bunda! Ada bayangan bergerak di jendela dapur!”
            Teriak Nino sambil berhambur ke pangkuan ibunya. Ini bukan kali pertama anak laki-laki berusia lima tahun itu takut dengan kegelapan. Beberapa kali dia juga mengeluhkan hal yang sama. Takut saat ke kamar mandi sendirian, takut ketika tidur di kamar dengan lampu dimatikan dan banyak sekali ketakutan yang Nino keluhkan.

            “Masa, sih? Memangnya Nino pikir itu bayangan apa?” Tanya Bunda sambil menarik putranya ke dapur.
            Nino mengikuti di belakang sambil menutup mata. Bunda menyalakan lampu dapur. Terlihatlah bayangan hitam bergerak di jendela. Nino tak berani membuka mata.
            “Bukankah itu tanaman Bunda di halaman rumah, ya? Coba Nino lihat baik-baik.”

            “Tapi bentuknya mirip monster yang bergerak, Bun,” kata Nino sambil meringis. Dia mengiyakan. Ternyata itu hanya tanaman yang bergerak dihempas angin.
            “Tidak ada yang perlu Nino takutkan, ya. Bunda selalu berada di dekat Nino,” ucap Bunda sambil mengusap kepala putranya lembut.
            Nino mengangguk lantas bergegas menuju kamar mandi. Buang air kecil, gosok gigi dan berwudhu sebelum tidur.

            Langit malam terlihat suram. Gelapnya menyeruak menelan kerlip bintang-bintang. Nino menatap ke luar jendela dengan perasaan takut. Rasanya di balik semak-semak di halaman rumah, ada gerakan-gerakan kecil yang mengintai. Nino bergidik. Bulu kuduknya berdiri.
            Malam ini dia harus tidur sendirian seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, beberapa kali Bunda terpaksa menemani sebab Nino menangis.

            “Bunda!”
            Terdengar teriakan Nino dari kamar atas. Ayah dan Bunda saling menatap dan tersenyum.
            “Nino selalu saja membayangkan hal-hal aneh ketika dia sendirian,” ucap Ayah sambil mengenakan selop.
            Ayan dan Bunda menaiki anak tangga menuju kamar Nino. Mereka segera membuka pintu kamar dan menemukan putranya sedang bergelung di dalam selimut.

            “Di mana monsternya, Nino?” tanya Ayah sambil menarik selimut Nino. Bunda tersenyum lalu menyalakan lampu.
            “Nino melihat ada sesuatu di semak-semak, Yah!”
            Ayah menarik Nino ke pangkuan. Gorden kamar disibak pelan. Semak-semak terlihat bergerak.

            “Benar! Ternyata semak-semaknya bergerak,” ucap Ayah sambil menarik Nino ke arah jendela. Bunda yang sejak tadi terdiam lantas ikut mendekat dengan antusias.
            “Tu, kan? Benar apa kata Nino.”
            Ayah tertawa lalu menunjuk ke kaca jendela, “Itu hanya seekor kucing.”
            Nino menatap lega. Ternyata tidak ada monster. Terlihat seekor kucing keluar dari balik semak.

            Bunda dan Ayah menenangkan Nino. Lantas meninggalkannya sendirian.
            “Nino, jangan lupa berdoa sebelum tidur,” ucap Bunda sambil mematikan lampu kamar.
            Nino mengangguk. Namun, dia kembali merasa takut. Sendirian di kamar gelap dan sepi. Suara jangkrik di halaman rumah terasa semakin mencekam. Bahkan suara angin yang meniup daun kering pun terdengar sangat jelas di telinga.

            Nino mulai membayangkan banyak hal menakutkan. Di sebelah tempat tidurnya terasa ada yang lewat dengan cepat. Di atas tempat tidurnya, terlihat ada yang bergelantungan. Nino menarik selimut lebih tinggi sampai menutupi kepala. Di dalam selimut yang gelap, dia justru semakin ketakutan. Mungkin saja ada monster yang sedang duduk di sebelahnya.
            Nino sampai berkeringat. Bulir keringatnya menetes sebesar biji jagung.
           
            Tapi, pelan-pelan Nino membuka selimut. Matanya awas menatap ke sekeliling. Lampu belajar dia nyalakan. Cahaya terang seketika menerangi kamar. Sudut-sudut kamar yang tadinya terasa menakutkan, kini tak nampak apa pun. Di atas tempat tidur juga tak terlihat monster seram.
            Nino turun dari ranjang. Memakai selop dan melihat di bawah kasur. Tidak ada apa pun selain mainannya yang beberapa waktu lalu menghilang.

            Nino mulai bernapas lega. Sepertinya memang tak ada yang perlu ditakutkan. Gorden kamar disibaknya pelan. Nampak langit yang indah dengan cahaya bulan. Bintang gemintang mulai bertaburan. Malam memang selalu sepi dan gelap, tapi bukan berarti selalu menakutkan.
            Nino jadi teringat ucapan Bunda, “Jangan takut dengan sesuatu yang belum pernah kamu lihat.”
            Selama ini Nino hanya membayangkan tokoh-tokoh seram dalam film kartun yang sering dilihatnya. Tapi, dia tak pernah benar-benar bertemu dengan monster yang menyeramkan.
            “Bunda juga pernah merasa ketakutan sewaktu kecil. Tapi, Bunda belajar mengatasinya.”
            Nino menguap dan merasa mulai mengantuk. Ditutupnya gorden kamar. Dia pun bergegas ke tempat tidur, menarik selimut dan memejamkan mata.
            “Malam memang selalu gelap. Sebab dengan gelapnya kita bisa beristirahat. Malam memang selalu sepi dan tenang, karena itu kita bisa tertidur nyenyak,” ucap Bunda suatu kali.

            Ternyata apa yang dikatakan Bunda dan Ayah memang benar. Nino belajar mengatasi ketakutannya sendiri. Dia tahu bahwa malam yang gelap tak selalu menyeramkan.
            Sepanjang malam, Nino tertidur pulas. Tak ada yang menakutkan dengan malam. Justru saat malam kita bisa melihat cahaya bintang-bintang yang sangat indah. Nino pun tahu, tak ada hantu atau monster yang mengintainya saat tidur. Semua hanyalah bayangan yang diciptakannya sendiri. Lalu, kenapa kita tidak membayangkan hal-hal yang menyenangkan saja, ya?




 Ini juga cerita lama buat kakak. Sudah lecek malah bukunya karena bolak balik dibawa ke sekolah. Ceritanya, sejak masuk sekolah, si kakak jadi banyak aneh-anehnya. Yang paling bikin pusing ya soal hantu. Dia mendengar cerita dari beberapa temannya soal setan. Aih, padahal di rumah biasanya dia berani ke kamar mandi sendiri, keluar kamar sendiri dan berada di kamar sendiri. Dan sejak saat itu dia berubah penakut sekali. Bahkan hanya ke kamar kecil saja nggak berani. Masyaallah, ternyata ketika masuk sekolah, kita pun harus bersiap soal segalanya termasuk hal-hal yang selama ini nggak pernah saya khawatirkan. Akhirnya saya membuatkan buku bergambar dengan cerita itu. Berharap anak saya nggak penakut lagi. Dan alhamdulillah, sekarang sudah berani. Ceritanya disimpan di blog aja ya, siapa tahu berguna...^^ Itu pakai gambar apalah ya punya si kakak. Daripada nggak ada gambarnya, hambar. Hihi

0 comments:

Post a Comment