Top Social

- Bermimpi, Menulis, Berbagi -

Membiasakan Anak-Anak Mencintai Buku Ketimbang Gadget



Zaman sekarang, ketika gadget begitu mudahnya ditemui, sampai bayi aja bisa selfie lagi main ipad…hehe. Zaman di mana dunia maya justru lebih menyenangkan ketimbang dunia nyata. Ketika semua hayalan yang tak didapatkan di kehidupan nyata justru muncul dalam aplikasi permainan. Anak-anak mana yang menolak bermain gadget? Nggak perlu diajarin aja udah pintar bahkan lebih pintar daripada emak dan bapaknya.
            Tapi, apakah lingkungan seperti itu baik buat mereka? Bukankah dunia mereka adalah bermain, memegang bola, mengaduk pasir, menyemprotkan air, berkotor-kotoran dengan lumpur dan segala macam permainan yang menguatkan motoriknya, mengasah kepekaannya, bukan hanya sekadar satu gerakan telunjuk menjadikan buah tomat sudah terbelah menjadi sepuluh bagian. Sudah faham ya game memasak? Pasti sering main juga. Hihi.

sumber

            Ini sependek pengetahuan dan pengalaman saya saja. Ketika anak diberikan gadget tanpa aturan kapan berhenti atau memulai, maka masyaallah nyandunya luar biasa. Buat mengalihkan lagi susah banget. Begitu juga dengan menonton acara di TV. Si kakak sudah mengerti dan paham betul mana film yang boleh ditontonnya atau pun yang saya larang.
            Misalnya saja, ketika muncul sponge bob, dia langsung pindah channel. Saya melarangnya dengan bermacam-macam alasan. Pada akhirnya dia pun paham kenapa ini dan itu dilarang. Menonton TV juga jadi candu. Padahal saya membatasi. Sekarang, kakak hanya boleh melihat film kartun setiap libur sekolah saja. Sejam sudah cukup. Dia setuju.
            Alasannya, kakak masih TK B saat ini. Dia berangkat pukul 06.45 WIB. Lantas pulang selepas dhuhur tepatnya jam 12.30 WIB karena di sekolah diwajibkan shalat berjamaah terlebih dahulu. Sampai rumah lebih banyak ngomelnya karena kecapean. Khusus hari senin dia ada latihan drumband hingga sampai rumah hampir jam dua siang. Bisa bayangkan lelahnya anak seusia itu. Sedangkan sekolah lainnya sudah pulang sebelum dhuhur.
            Setelah makan siang dan mandi, saya mewajibkannya tidur siang. Jika saya memberinya nonton TV, matanya yang bening itu akan berbinar dan nggak jadi tidur. Imbasnya sebelum magrib sudah ketiduran dan biasanya meninggalkan baca Alquran serta nggak makan malam.
            Jadi saya putuskan nggak ada nonton TV kecuali hari libur dan itu pun hanya satu jam. Sadis memang, ya. Padahal dulu saya juga suka sekali nonton TV. Namun, saat ini tayangan di TV sudah sulit dipilah pilah. Lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.
            Sampai-sampai saya membelikan flashdisk berisi film kartun islami, belajar Alquran, belajar bahasa arab serta belajar tajwid dan banyak kisah teladan. Sesekali dia boleh melihat itu juga tapi nggak setiap hari.
            Di rumah juga nggak disediakan ipad. Di dalam handphone saya atau pun ayahnya juga nggak tersedia game apa pun. Dia boleh meminjamnya jika ingin melihat video-vidio saja.
            Saya nggak mengharamkan gadget. Ketika dia bermain bersama saudaranya yang lain, boleh saja dia bermain bersama. Itukan hanya sesekali terjadi. Bukan masalah. Nggak mungkin juga mengharapkan anak kita steril dari hal-hal semacam itu. Takutnya malah melakukannya dengan diam-diam dan tak terkontrol. Naudzubillah.
            Setelah acara larang melarang, dia pun terbiasa dengan semuanya. Tapi jangan lupakan satu hal, ketika melarang, saya juga harus mencarikan gantinya. Misalnya dengan menemani bermain lego, kubus huruf, menggambar atau pun mewarnai bersama. Itu sudah cukup menutupi rasa kecewa mereka. Kadang ketika libur, dia lebih memilih mematikan TV dan berbaur bersama saya dan adiknya.
            Lalu bagaimana caranya mengenalkan buku pada anak-anak? Sejak sebelum lancar bicara, saya sudah membelikan beberapa buku untuk kakak. Ketika dia sudah pandai bicara, dia pun sudah hafal buku-buku yang sering saya bacakan itu. Lumayan terlonjak juga ketika dengan mudah dia menyebutkan isi dari salah satu buku cerita miliknya. Sejak saat itulah saya lebih rajin membelikannya buku. Membacakannya setiap mau tidur.
            Pada akhirnya kebiasaan itu pun terbawa hingga saat ini ketika usianya sudah enam tahun. Ketika kami pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, maka hal yang paling utama saya lakukan adalah, “Kakak mau beli buku apa?” bukan mainan apa?
            Saya juga selalu ke toko buku dan mengajaknya memilih satu buku yang dia sukai. Dia jauh lebih antusias di deretan rak-rak buku ketimbang di rak mainan. Sesekali dia pernah meminta mainan, katanya pengen. Lalu saya bilang, “Mainan di rumah banyak sekali sampai menumpuk tak terpakai. Bunda nggak mau beli mainan. Sayang uangnya. Lebih baik dibelikan buku bisa buat belajar.”
            Dia masih merengek, “Kakak pengen.”
            “Bunda juga pengen beliin tapi mainan itu sudah kamu miliki di rumah. Pengen boleh, tapi nggak harus beli.”
            Drama itu pun selesai tanpa acara teriak-teriak apalagi nangis dan gulung-gulung di lantai..hehe.
            Kakak juga bisa membaca tanpa perjuangan berarti. Bu guru bilang, di sekolah belum diajarkan membaca tapi kakak sudah bisa. Di rumah, saya juga merasa nggak serius ngajarinnya, hanya menjawab ketika dia bertanya lalu kami pun membahasnya. Dia pun dengan lancar untuk pertama kalinya membaca buku cerita dinosaurusnya, Arlo.
            Anak seperti kakak dengan tipe belajar visualnya memang sungguh dimudahkan dengan buku cerita. Kakak juga senang sekali berlama-lama dengan buku barunya. Bisa-bisa seharian cuma pegang buku yang sama.
            Semua terbentuk karena kebiasaan. Dia tak suka merengek sampai gulung-gulung kalau minta mainan karena sejak dulu memang tidak dibiasakan. Tidak semua permintaannya saya turuti. Kadang dia harus membuka celengannya dulu untuk membeli sesuatu. Kami juga selalu melakukan kesepakatan sesaat sebelum mengunjungi supermarket atau tempat lain.
            “Kita pergi mau beli apa? Dan kakak minta apa?”
            Pada akhirnya kesepakatan itu pun menghasilkan sebuah perjanjian. Ea, bahasanya. Hehe. Kakak ke swalayan beli coklat misalnya. Ya sudah, ketika dia meminta sesuatu diluar janjinya maka tinggal diingatkan saja.
            Jadi kesimpulannya, semua harus dibiasakan. Menyukai buku juga nggak terwujud kalau ibunya nggak suka membacakan cerita, nggak suka membeli buku dan tidak berusaha mengakrabkan anak-anak dengan buku.
            Bermain gadget atau nonton boleh saja asalkan dia masih terlibat permainan seru lainnya. Nggak melulu game online terus….insyaallah semua akan terwujud perlahan.
Be First to Post Comment !
Post a Comment

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9

Custom Post Signature

Custom Post  Signature