Kisah Dibalik Sepotong Roti

April 29, 2017



Awalnya saya mulai tertarik membuat lebih banyak masakan sejak diagnosa seorang dokter spesialis alergi di rumah sakit Bunda Menteng. Anak-anak katanya alergi dan harus menghindari banyak sekali makanan. Jujur saja, karena saya sudah sangat kewalahan dengan ‘sakit’nya anak-anak yang tak kunjung berakhir, saya pun mencobanya. Walaupun terdengar sangat tidak masuk akal. Sangat aneh dan bertentangan sekali dengan ucapan para dokter di milis sehat. Saya pun mencobanya karena tergelitik dengan beberapa pengalaman orang-orang yang berhasil mencoba diet ini.




Sepulang dari dokter saya mendapatkan vitamin penambah imun seperti imunos sejenisnya. Itu seperti tamparan keras. Allah, saya mengunjungi dokter alergi tapi dia memberikan obat yang saya ketahui sangat bertentangan dengan semua itu.

Pemberian penambah imun itu ibaratnya kita menampar daya tahan tubuh, membangunkannya paksa. Bisa bayangkan setelahnya dia lelah dan habis. Saya pun dengan yakin tak memberikan obat itu. Yang membuat kecewa karena dokter tidak mengkonfirmasi resepnya apa saja. Ya sudahlah, ini jadi sebuah pelajaran berharga buat saya.

Sejak saat itu saya selalu mencari resep makanan yang tidak mengandung beberapa pantangan. Misalnya nggak mengandung susu sapi, jadi ganti yang mengandung protein kedelai. Tepung sebisa mungkin saya ganti tepung beras. Lauk sebisa mungkin pakai daging merah terutama sapi. Ayam pun dilarang. Telur apalagi. Jadi kalau ingat dulu itu, anak-anak cuma makan daging sapi..hehe. Selain itu dibolehkan ikan tawar. Pokoknya menunya muter aja di situ.

Berlanjut dari situ saya pun memutuskan menghentikan diet anak-anak. Karena cukup melelahlan dan sebenarnya nggak masuk akal juga. Rata-rata alergi makanan tidak memengaruhi sistem pernapasan. Kebanyakan akan muncul dalam bentuk ruam di kulit. Sedangkan anak-anak lebih ke saluran pernapasan.

Akhirnya saya memilih tes alergi dengan spesialis alergi di rumah sakit Hermina. Diketahui anak-anak alergi tungau debu. Oke. Semua orang juga pasti alergi dengan debu gatal seperti itu. Riwayat alergi memang kental sekali di rumah. Saya hingga sekarang masih menderita dermatitis atopi. Hilang timbul. Ketika dingin saya selalu mengeluh urtikaria. Bahasa kerennya biduran. Hehe. Hanya saja saya tak suka mengkonsumsi obat minum. Saya hanya minta salep yang aman. Karena males kadang saya lebih suka menggaruknya sampai luka ketimbang mengurangi gatalnya dengan salep. Jangan ditiru..hihi.

Ayah pun memiliki alergi. Dia bisa bersin seharian kalau menghirup debu dan kena udara dingin. Jadi anak-anak dan saya suka sekali tidur di kamar ber-AC. Dan ayah sendirian menyingkir tanpa diminta. Hehe. Kalah pendukung.

Jadi kemungkinan anak-anak punya alergi sangat besar. Disyukuri saja. Alhamdulillah masih sehat dan bisa makan enak. ^^

Jadi semenjak itu saya mengenal cookpad. Setiap kali browsing resep pasti cookpad muncul diurutan pertama. Akhirnya saya download aplikasinya. Lalu sering buka-buka disitu. Lama-lama kebutuhan kakak yang sekolah semakin memaksa saya untuk membuat masakan lain selain biasanya. Karena dia sekolah sampai siang. Kalau bawa bekal nggak suka seperti makanan di rumah. Kalau di rumah dia lahap sekali makan sayur bayam bening dengan ikan sama tempe, di sekolah dia nggak bakalan nyentuh sedikit pun.

Selain itu, teman-temannya pun pasti membawa makanan ringan. Peraturan di sekolah melarang membawa makanan berkadar MSG tinggi seperti chiki, Di larang juga bawa mie instan terlalu sering. Maksimal seminggu sekali. Sedangkan kakak di rumah memang nggak biasa jajan. Paling hanya beli roti. Selebihnya susu cair, jelly dan buah segar.

Lalu saya pun mulai berpikir, sebaiknya saya mencoba membuat sendiri makanan yang kakak suka. Kalau bikin nggak khawatir dengan bahan pengawet dan jelas bahannya. Bukannya anti beli juga sih. Cuma kalau terlalu sering beli juga pasti nggak baik.

Akhirnya percobaan demi percobaan berakhir gagal. Bantet. Keras sekeras hati saya pula…hehe..Tapi yang selalu membuat saya ingin mencoba lagi adalah sifat kaka yang ‘neriman’. Dia nggak mengeluh makanannya nggak enak. Justru girang dan bahagia banget. Ya, akhirnya saya pun merasa harus memperbaiki semuanya. Hingga saat manis itu pun datang. Roti dan donat buatan saya sudah layak dimakan. Hihi.

Senang bukan main rasanya. Akhirnya semua lelah dan letihnya terbayar. Sejak saat itu hingga saat ini, saya pun membuat sendiri roti buat bekal kakak. Kalau dibilang hobi ya bisa saja, tapi walaupun nggak hobi, toh semua ibu juga harus bisa memasak buat keluarga. Entah sempurna ataupun tidak. Itu memang sudah semestinya dilakukan.

Ketika dilakukan dengan senang hati, tentu akan lebih sempurna hasilnya. Kakak pun semakin berkhayal tingkat tinggi. Memanggil saya koki. Meminta saya membuka toko roti. Haduh, sayang…insyaallah, ya. Yang penting di rumah dulu diatasi. Hihi.


You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Google+ Badge

Most Popular