Sebuah Rahasia

April 29, 2017



Wanita paruh baya itu tertegun sambil menatap putri bungsunya lamat-lamat. Napasnya tertahan. Demi melihat wajah berbinar itu, ia rela membuka semuanya hari ini. Detik ini, ketika Raisa bertanya perihal dirinya, siapa ibunya.
Ariyani segera menghentikan laju mobil. Memarkir sembarangan di pinggir jalan. Gadis empat SD itu masih menunggu dengan tatapan menyelidik. Ini bukan kebohongan, kan? Ini bukan gurauan? 

sumber
 
Bukankah tadi Raisa hanya bertanya, bagaimana rasanya hamil dan melahirkan? Pertanyaan yang sembarangan lewat di kepalanya, setelah melihat seorang ibu hamil besar melintas di depan mobil yang ia naiki.
Lalu kenapa sekarang jadi perbincangan yang menegangkan? Tepatnya setelah wanita yang ia panggil ibu menjawab dengan tenang, seolah bergurau kalau ia tak pernah hamil apalagi melahirkan.
“Lalu aku anak siapa, Bu?” tanya gadis berhidung mancung itu kemudian. Matanya membulat. Mencari kesungguhan dari wanita yang ada di hadapannya. Tadi, ibunya masih tersenyum. Sekarang sumringah itu lenyap begitu saja. Berubah wajah menegangkan. Menyesal bukan lagi jawaban. Ariyani terlanjur membuka pintu lebar-lebar. Setelah ini ia harus siap jika saja gadis kecilnya berubah pikiran, memilih pergi darinya dan tinggal bersama ibu kandungnya.
“Bu,” Raisa merajuk. Meminta jawaban.
Ariyani menarik napas dalam. Biarlah. Mungkin setelah ini semua akan hilang. Pertemuan dulu, ketika seorang sahabat mengantarkan bayi merah berusia seminggu, menitipkan padanya, dengan harapan besar sebab ayahnya tak tahu entah ke mana. Lantas, seperti seorang wanita yang telah melahirkan, ia rawat bayi mungil itu dengan sepenuh hati. Sebab dirinya tak pernah punya kesempatan untuk hamil apalagi melahirkan. Semua jadi mustahil sejak pengangkatan rahim akibat kista yang bersarang di dalam tubuhnya.
Dan gadis itu kini sudah besar. Sudah ingin tahu siapa dirinya dan keluarganya. Detik berjalan lambat. Tatapan Raisa terasa semakin menyayat.
“Bu, Raisa anak siapa?” pertanyaan itu semakin liar di kepalanya. Sebab ia tahu, kakak sulungnya juga bukan anak kandung ibu. Benarkah ia juga seperti kakak sulungnya? Bukan anak ibu juga? Lantas anak siapa?
“Raisa anak Bunda Indah.”
“Siapa Bunda Indah? Raisa bisa bertemu?”
DEG
Sempurna sudah semua kejadian memilukan sore itu. Setelah ini, ia memutuskan untuk mengantarkan Raisa pada ibunya. Wanita yang selama bertahun-tahun tak pernah berusaha menengok putri kandungnya. Wanita yang sudah punya kehidupan baru bersama orang lain. Dan kehadiran Raisa di sana bisa jadi malah menguak luka lamanya.
Indah. Wanita itu memang sering menanyakan keadaan Raisa. Tapi tak ingin muncul dan jadi masalah baru untuk putrinya. Dia sudah memutuskan. Putrinya sudah bahagia bersama orang yang tepat. Tapi Ariyani tak mungkin menyimpan rahasia itu selamanya. Raisa harus tahu. Dan mungkin ini memang sudah saatnya.
“Raisa boleh bertemua Bunda Indah, ya?” tanya gadis itu polos..
Bagaimana bisa Raisa merasakan perasaan Ariyani? Perasaan kehilangan, rasa ngilu yang menyesakkan? Raisa hanya tahu, ia bahagia bersama ibunya yang sekarang, bersama Ariyani. Pertemuan dengan ibu kandungnya hanya untuk mengusir rasa penasaran. Bukan berarti hendak pergi. Tapi, Ariyani terlanjur ketakutan. Membayangkan semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
“Raisa mau sama Ibu. Raisa sayang sama Ibu.”
Tiba-tiba kalimat itu terdengar sangat lembut di telinganya. Ketika Ariyani merelakan gadis kecil itu pergi, ketika ia tak lagi berharap banyak, maka takdir Tuhanlah yang akan menjawab. Tatapan Ariyani dipenuhi kabut. Sempurna meleleh.
Jika semua wanita bersyukur bisa hamil dan melahirkan, maka Ariyani yang mustahil hamil justru bersyukur bisa diberikan amanah oleh Allah, membesarkan dan menyayangi Raisa, gadis kecil tumbuh dan lahir bukan dari rahimnya sendiri. 
(Cerita Pernah dipublish di web Pesantren Penulis dengan sedikit revisi)



You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Google+ Badge

Most Popular