Jodoh Pasti Berlalu



“Nunggu apa lagi? Nur nggak akan jadi janda secepat itu, Rid. Lagian baru kemarin dia nikah, masa sudah mau cerai?” si Mbah rupanya menyadari keresahanku. Aku bergeming. Hanya menunduk dan memerhatikan jemari kaki yang sengaja kugerakkan naik turun. Rupanya tak mudah mengusir ‘rasa’ yang terlanjur mampir dan memilih tinggal. Jika bisa, aku ingin melenyapkan sebagian ingatan supaya tak ada lagi perih yang menghimpit.    
“Bukannya Zainab suka sama kamu? Kenapa nggak kamu terima saja dia. Zainab nggak kalah cantik dibanding Nur.” 

sumber


Sekali lagi mbah menatapku.
“Farid masih ingin melanjutkan kuliah, Mbah. Belum mau menikah,” jawaban yang bertolak belakang dengan keinginan hati. Bukan karena S2-ku belum rampung, tapi karena gadis itu bukan Nur.
Si Mbah melengos. Tak percaya. Kembali berayun di kursi goyangnya. Aku tak berani bicara lagi. Sejak dulu, hanya si Mbah yang tahu persis bagaimana perasaanku pada Nur. Bunga desa itu serupa purnama. Begitu kata kebanyakan orang di kampung ini. Nur tinggal tak jauh dari rumahku. Hanya berjarak beberapa langkah. Dia gadis yang baik. Lulusan Al-Azhar, Mesir. Tentu saja dia jadi rebutan semua pemuda di kampung ini, termasuk aku. Ya, aku memang tak pernah berani menyatakan cinta pada Nur. Aku terlalu pengecut hingga kesempatan itu hilang serupa angin yang sulit kugenggam. Lolos melewati celah jemari. Mustahil sudah.
Nur menikah. Aku sempat gontai mendengar kabar itu. Buru-buru pulang dari Jakarta ke Yogya demi melihat kebenaran. Si Mbah bilang, Nur akan menikah dengan Taufik, teman masa kecilku. Sial! Aku sungguh sial. Mana mungkin Taufik menikah dengan Nur? Aku bahkan lebih baik dari dia. Aku bahkan lebih segalanya dibanding Taufik. Sejak dulu, Taufik selalu jadi nomor dua.
“Itu semua karena kamu terlalu pengecut, Rid. Mau ngelamar saja nunggu kuliah kelar. Keburu dipinang orang,” si Mbah terkekeh. Patutlah semua orang menertawakanku. Karena aku terlalu pengecut untuk bilang suka. Ah, Nur..apakah mungkin kita masih berjodoh? Ataukah jodohku sudah berlalu? Karena dia adalah kamu, Nur. Aku menghela napas panjang. Menyandarkan kepala pada sofa. Semakin resah.
“Itu namanya takdir, Mbah,” kataku pelan. Membuat si Mbah menengok.
“Apa? Takdir? Semua orang tak bisa menghindari takdir. Tapi, manusia masih diberi pilihan sebelumnya.”
Si Mbah benar. Aku hanya mengangguk. Menyetujui kalimat si Mbah barusan. Kemarin Nur menikah dengan Taufik itu memang sudah takdir. Tapi, keinginanku untuk tidak segera meminang Nur adalah sebuah pilihan. Aku terlalu lama menimbang. Ah, pusing! Aku meremat rambut. Menariknya kuat-kuat. Kesal rasanya jika ingat kebodohanku.
“Mbah..Mbah..tolongin, Mbah!” Suara itu begitu akrab di telinga. Sambil kaget aku dan si Mbah segera berhambur ke luar. Nur. Ya, gadis ayu itu sedang panik. Dia berusaha menjelaskan sambil buru-buru berjalan menuju rumahnya. Aku dan si Mbah tergesa mengikuti.
Tak masuk akal. Sungguh tak masuk akal. Nur menangis sejadinya. Mengguncang tubuh Taufik. Beberapa orang yang lewat ikut mampir. Terpancing oleh sedikit kehebohan yang terjadi. Semua tertegun saat melihat langsung kejadian menyedihkan ini. Aku sedikit tersentak, apa mungkin ini takdirku? Harapan itu bisa saja berubah ada. Setelah ini, aku tak mau menunggu lagi. Aku akan segera mengatakan pada Nur. Mengatakan perasaan yang sempat tertunda. Tak peduli kesedihan sedang mengguncang jiwanya.
“Bangun, Mas,” teriakan Nur melemah. Taufik tiba-tiba bangun sambil terbelalak. Ada begitu banyak orang berkumpul dengan wajah resah. Menatapnya kaget.
“Ada apa ini?” Taufik berubah bingung. Mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Mas Taufik masih hidup?” Nur menyeka air mata. Meraba wajah Taufik yang tampak baik-baik saja.
“Mas hanya tidur. Siapa juga yang mati?”
“Ya Allah, Nur..” semua orang tertawa sambil berlalu. Aku tak merasakan apa pun
setelahnya. Reman-remang. Pandanganku berkabut. Kaki seketika lemah.
BRUK!!
“Bangun, Rid! Kamu kenapa? Bangun..” lama-lama suara si Mbah menghilang. Berganti wajah Nur dan Taufik yang tersenyum, “Jodoh pasti berlalu.” Kalimat itu begitu nyata sebelum akhirnya gelap. Aku benar-benar tak sadarkan diri.
(Cerita pernah dipublish di web Pesantren Penulis dengan sedikit revisi.)

0 comments:

Post a Comment