Aisha

April 27, 2017


           Aisha melangkahkan kaki ringan. Sesekali angin meniup lembut ujung jilbabnya. Gaun putih yang ia kenakan melambai seolah sedang menari di antara musim bunga. Ada senyum menyembul dari kedua ujung bibirnya yang merah. Langit biru dihiasi gumpalan kapas putih yang menawan. Sesekali mereka terlihat berkejaran. Musim semi tiba. Bunga-bunga tersulur di antara dinding-dinding rumah. Lihat saja, rumah-rumah bertingkat dengan warna catnya yang cerah tampak dipenuhi pelangi. Bunga-bunga berdesakan di antara jeruji pagar loteng. Beberapa di antaranya tergolek cantik di dalam pot berwarna biru. Bunga-bunganya menyembul ramai. Kota dipenuhi kelopak bunga berwarna indah.


Musim semi datang lebih cepat di belahan bumi bagian utara. Ketika itulah Aisha bisa menikmati kebun bunga bermekaran di mana-mana. Di salah satu dinding rumahnya, tepat di bawah terpaan hangat matahari, bunga-bunga berwarna merah merambat hingga ke jendela kamarnya. Pot-pot bunga berwarna ungu serasi dengan kelopak bunga merah muda. Siapa pun tak bisa menahan pesona musim semi.

sumber
                                                                                             

Ini hari ketiga di mana ribuan kelopak bunga merekah sempurna. Kemarin dia tak tahan ingin menyusuri kota. Sendiri. Lantas, hari ini ketika matahari mulai berpendar indah, dia pun kembali membayangkan hal serupa. Pergi menyusuri kota untuk kesekian kali hanya demi menatap ribuan bunga yang sedang tersenyum beramai-ramai ke arahnya.

Aisha juga senang berlama-lama di depan jendela kamarnya. Aroma musim semi. Teduhnya matahari dan sapaan mesra dari setiap orang yang lewat dan mengenalnya sungguh jadi hal paling membahagiakan.
            “Turunlah, Aisha! Jangan hanya membuang waktu di kamar.” Teriak salah seorang tetangga yang biasa dia sebut paman.
            Aisha tersenyum dan melambaikan tangan. Tentu saja dia akan segera turun dan menyusuri kota yang kini sudah berubah menjadi hutan bunga.
            Gadis berwajah ayu itu segera menuruni anak tangga, setengah tergesa lantas duduk di bangku depan rumah. Siang itu, awan-awan serupa kapas mulai berserak. Langit membiru. Kota yang kini dipenuhi bunga mulai menghangat. Wajah Aisha mulai memerah karena kepanasan. Ia melirik jam tangan abu-abu di tangannya. Lima menit sudah waktu dilewatkan begitu saja oleh orang yang saat ini sedang ia tunggu. Jika satu menit lagi dia tak menampakkan batang hidungnya, maka Aisha berjanji akan membatalkan janji hari itu.
            Sayanganya lamunan itu pun buyar ketika dari kejauhan nampak seorang anak lelaki mengayuh sepeda sambil melambaikan tangan.
            “Uta! Sungguh kamu menyebalkan!”
            Uta yang baru saja turun dari sepeda menahan omelan Aisha sambil mengacungkan telapak tangannya. Napasnya masih tersengal. Dia ingin bicara namun Aisha justru mendahuluinya.
            “Sudah lima menit aku menunggu. Lima menit adalah waktu yang berharga. Jika aku tahu kamu datang terlambat, lebih baik aku menunggu di kamar saja dan menghabiskan sisa buku yang belum kubaca semalam,” Aisha bicara panjang lebar dengan mata mendelik. Membuat Uta mendorong tubuhnya sendiri ke belakang. Seram sekali Aisha ketika sedang marah, pikirnya.
            “Apa kamu sudah selesai bicara?” tanya Uta lalu menarik kedua ujung bibirnya melengkung ke atas.
            Dengan ketus Aisha menjawab, “Aku akan melanjutkan setelah mendengar alasanmu.”
            Uta tertawa dan memandang gadis manis di depannya. Sungguh Aisha tak pernah berubah. Dari kecil hingga kini ketika mereka beranjak remaja, gadis itu tetap lebih banyak bicara daripada melakukan hal lain ketika bersamanya. Uta bahkan terheran-heran. Sebab di sekolah, Aisha tak seceriwis itu. Hanya ketika sedang bersama Uta, isi hatinya buncah tak terbendung. Semua yang melintas di kepala ia sebutkan meskipun tak ada gunanya.
            Coba pikir, apa gunanya berdebat tentang jatuhnya daun kering dari ranting pohon? Atau mempermasalahkan kupu-kupu yang memilih hinggap di bunga ketimbang di jemarinya? Ah, Aisha selalu meributkan hal-hal kecil. Termasuk ketika dia menuntut lima menitnya yang terlewat sia-sia karena Uta.
            “Aku harus mengantarkan ibu ke dokter.  Apa kamu masih marah padaku?”
            Sejurus kemudian, wajah Aisha berubah sendu, “Ibu kamu sakit apa?”
            Uta sudah memaafkan kecerobohan Aisha yang sudah memarahinya. Ketika nada bicara Aisha melemah, itulah isyarat sebuah permintaan maaf. Maaf karena sudah menuduh dan memarahinya.
            Uta sekali lagi tersenyum, “Ibu hanya meriang.”
            “Lalu kamu meninggalkannya sendirian sekarang?” Tanya Aisha khawatir.
            “Aku lebih memilih dimarahi ibu ketimbang dimarahi naga dengan pipi semerah tomat,” jawabnya konyol.
            Bibir merah Aisha seketika manyun, “Jadi kamu merasa aku lebih cerewet daripada ibumu?”
            Uta menggeleng, “Aku tak membicarakanmu. Aku sedang bicara tentang seekor naga,” jawabnya singkat sambil menirukan suara naga yang mengerang geram.
            Aisha memukul lengan sahabatnya itu keras, “Aku menyesal karena sudah menunggumu!” Sahut Aisha geram.
            “Memangnya ada orang lain lagi selain aku yang bisa kamu tunggu?” timpal Uta sambil tertawa.
***
[Uta]
            Hari ini aku mengunjungi Aisha untuk terakhir kalinya. Aku rela berlama-lama dengannya sebab sore nanti ketika senja menghilang, aku dan ibu akan segera pindah meninggalkan kota ini.
            Aisha tentu tak akan menerima jika mendengar berita ini keluar dari mulutku. Sengaja aku pun merahasiakan semuanya. Termasuk alasan kenapa kami harus pindah.
            Aku yakin Aisha akan mengerti. Keadaanku jauh berbeda dengannya. Serba berkecukupan. Sedangkan aku? Ibu harus banting tulang seorang diri. Membiayai sekolahku yang sebenarnya sudah kupaksa berhenti. Namun, ibu selalu menolaknya dengan bermacam-macam alasan.
            Di kota seindah ini, aku merasa tak lagi berarti. Aku memang masih bocah ingusan, lima belas tahun belum bisa membantu ibu rupanya jadi tamparan menyakitkan. Ibu masih menganggapku anak kecil. Sedangkan aku merasa sudah lebih dari sekadar siap untuk jadi tulang punggung. Pekerjaan di kota ini memang tak selalu mudah. Namun bukannya tak mungkin aku bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sederhana yang bisa diselesaikan oleh anak kecil sepertiku.
            Siang itu ibu memutuskan satu hal penting. Sambil menahan gigil tubuhnya, ibu menarikku mendekat,  “Kita harus pindah,” ibu tak melanjutkan. Matanya berkabut. Sedetik kemudia butiran bening bergulir melewati pipinya yang berkerut.
            “Besok kita harus pergi. Ibu akan menumpang sementara di rumah pamanmu. Di sana ibu bisa merasa lebih ringan sebab tak perlu repot memikirkan uang sewa rumah.”
            Hatiku mencelos. Selama ini ibu menyimpan semua lukanya sendiri. Ibu tak membiarkan aku tahu kenapa ayah tiba-tiba menghilang saat usiaku masih belum genap dua tahun. Sejak saat itulah ibu berjanji akan memenuhi semua kebutuhanku sendiri. Usiaku yang masih terlalu kecil membuatku sulit mengerti tentang keadaan yang sedang menimpa kami.
            Ketika ibu memutuskan pindah, tentu aku tak bisa lagi menahannya. Aku tak punya kekuatan untuk melawan sebab kenyataannya, aku tak pernah meringankan secuil pun beban ibu.
            Ada di sini ataupun di kota lain sama saja bagiku. Hidup terasa semakin sesak menghimpit. Ketika banyak orang tertawa, aku justru sedang melawan tangis. Ketika semua orang berfoya, aku justru sedang menahan lapar. Menyiksa sekali namun kekuatan ibu menolak kelemahanku.
            Dan hari ini aku harus mengucapkan kalimat perpisahan kepada seorang gadis yang sudah sejak kecil menganggapku sahabat. Aisha. Pagi ini aku sudah berjanji akan menemuinya. Untuk terakhir kalinya, aku ingin mengajak dia menyusuri kota yang saat ini sedang dipenuhi kelopak bunga berwarna warni.
            Esoknya aku sudah tak bisa lagi ia temui. Menghilang. Meninggalkan kesedihan. Terbayang sudah wajah Aisha yang cerewet berubah sendu setelah kepergianku. Ah, aku mungkin terlalu percaya diri. Aisha pasti tak akan sesedih itu. Dia punya lebih banyak teman ketimbang aku yang memang selalu sendiri.
            “Aisha, suatu saat aku akan kembali dan menemuimu untuk meminta maaf..."

[Aisha]
            Aneh sekali. Uta datang dan menemuiku lebih lama. Aku mencium ada gelagat yang tak baik. Jangan-jangan dia sedang merencakan sesuatu.
            Sebenarnya aku masih kesal. Dia sudah membuang lima menitku yang amat berharga. Kalian bisa bayangkan, berapa banyak hal yang bisa kuselesaikan dengan hanya lima menit? Aku bisa membaca sepuluh halaman buku yang baru kubeli kemarin. Aku pun bisa mengetik tugas yang harus dikumpulkan esok. Lima menit bagiku terlalu berharga bila dilewati hanya dengan duduk di depan rumah. Tapi, aku sungguh tak tega ketika melihat Uta sesak sambil mandi keringat. Lantas aku pun tak mampu berlama-lama memarahinya. Sebab alasannya jauh lebih masuk akal ketimbang omelanku.
            Pagi menuju siang yang terik, akhirnya aku pun menghabiskan waktu dengan menyusuri kota. Tiang-tiang lampu berdiri tegak di sepanjang jalan. Di kanan dan kirinya, bunga-bunga indah berwarna ungu menyembul. Kelopaknya merekah sempurna.
            Jujur saja ada yang hilang hari ini, ketika Uta berubah jadi lebih pendiam. Ketika aku bicara panjang lebar, dia hanya mengangguk dan tak banyak protes. Aku menangkap kebohongan yang berusaha dia simpan mati-matian.
            Uta, kita ini berteman sejak kecil. Ayah dan ibuku mengenalmu sejak lama. Bahkan mereka sudah menganggapmu sebagai anak kandung sendiri. Ibuku juga tak segan datang ke rumahmu ketika beberapa hari ibumu tak muncul di rumah. Ibu tak pernah mempermasalahkan soal cucian yang tak bisa diselesaikan oleh ibumu. Ibuku lebih mengkhawatirkan kesehatan ibumu yang belakangan semakin memburuk.
            Aku pun merasa iba, namun sedikit pun kamu tak pernah menampakkannya di hadapanku.
            “Bacalah surat ini setelah kamu sampai di rumah.” Katamu sambil menyerahkan sebuah amplop berwarna ungu. Aku terbelalak dan hampir saja menertawaimu andai saja tak kutangkap ekspresi sendu yang tiba-tiba muncul di wajahmu. Maaf. Aku terbiasa banyak bicara serta tertawa ketika bersamamu, Uta. Aku tak bermaksud mengejekmu.
            "Uta? Apa kamu baik-baik saja? Kamu tak sedang mengisyaratkan selamat tinggalkan?” tanyaku penasaran.
            Uta tersenyum hambar. Dan detik itu juga segera mengajakku pulang. Belum habis rasa penasaranku, kamu sudah menambahnya dengan ucapan penuh tanda tanya.
            “Aisha, aku harus pergi untuk waktu yang lama.”
            Aku terbelalak dan mencari kesungguhan lewat tatapanmu yang tenang serupa telaga.
            “Kamu akan pergi kemana?” tanyaku dengan kekhawatiran memenuhi kepala.
            “Aku masih di tempat di mana kamu berpijak.”
            Ah, apa yang sedang kamu bicarakan? Akhirnya kamu memutuskan pamit tanpa mau menjelaskan apa pun.
            Perasaanku tiba-tiba saja sendu. Menatapmu menghilang di ujung jalan membuat sesak memenuhi rongga dada. Apa kamu memang benar-benar akan pergi. Kemana?
            Di sudut kamar, aku meringkuk sendiri. Setelah sampai di rumah dan berpisah denganmu, aku segera berlari ke kamar. Menutup jendela dan mengunci pintu. Entahlah, aku merasa harus melakukannya setelah melihat punggungmu semakin menjauh dan menjauh. Hingga tak lagi nampak. Sepertinya aku pun merasa kamu tak akan kembali lagi menemuiku.
            Sebuah amplop yang tadi kamu serahkan, kubuka perlahan. Bukan Uta yang biasa. Selama lebih sepuluh tahun, baru kali ini kamu memberiku sebuah surat.
            Tulisan tanganmu memenuhi satu sisi dari kertas berwarna senada dengan amplop yang sudah kurobek ujungnya.
            Aku berusaha mencerna setiap kalimat yang kamu tuliskan. Beberapa kali aku membacanya mundur. Tak percaya dengan yang sedang kubaca. Apa? Kamu menyebutkan perpisahan? Kita? Apa kamu sedang bercanda?
            Entah kenapa dadaku tiba-tiba dipenuhi gemuruh. Mata berkabut. Ada rinai hujan di kedua pipiku. Turun sendu dan semakin lama semakin deras.
Bersambung…
           

You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

Google+ Badge

Most Popular