Demam Tanpa Sebab, Perlukah ke Dokter?

July 01, 2018

Ini hari kedua si bungsu demam. Tidak pernah ukur karena anaknya masih lincah dan emaknya malas..he. Sekitar 38 derajat sih menurut perkiraan. Padahal aslinya nggak boleh main perasaan saat mengukur suhu. Tapi, yang ini nggak berlaku. Udah nggak peduli.

Sumber: bersamaislam.com

Sejak beberapa bulan lalu, Dhigda susah banget disuruh minum penurun demam. Setiap ditawarin jawabannya selalu nanti dan nanti. Katanya mau minum air putih saja atau menyusu. Sampai akhirnya demamnya turun dan hilang infeksinya.

Demam kali ini pun sama, tidak mau minum obat, sesekali dia berkeringat meski suhunya masih hangat. Masih mau bermain dan sama sekali tidak rewel. Paling minta bacain buku dan nempel aja sambil tiduran. Tidak suka digendong dan makan masih mau.

Demam tanpa gejala. Kemungkinannya bisa banyak hal, termasuk infeksi virus atau bakteri. Saya masih observasi, sejauh ini masih aman, belum ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan, jadi masih di rumah saja tidak ke dokter.

Demam tanpa gejala seperti batuk dan pilek bukan berarti harus selalu panik. Bukan berarti penyakitnya amat parah atau curiga DBD, ya. Semuanya punya gejala dan cirinya sendiri. Demam tanpa gejala bisa juga karena virus seperti roseola yang tandanya justru muncul saat demam mulai turun.

Sedangkan DBD juga ada ciri khasnya yang tak sama dengan penyakit lainnya. Misalnya saja dalam beberapa hari awal demamnya sangat tinggi dan tidak turun. Kondisinya semakin lemah kian hari apalagi ketika demam mulai turun. Saat demam turun, anak tidak akan lincah, lho. Justru semakin tidak berdaya. Muncul bintik-bintik yang identik banget sama DBD. Hari ketiga atau 72 jam dihitung sejak pertama demam, sebaiknya kita mengunjungi dokter. Kenapa harus menunggu lebih lama? Karena  pada hari pertama atau kedua, cek darah tidak akan menunjukkan hasil. Percuma dan kadang justru tersamarkan. Ini malah bahaya, kan.

Ketika anak sakit, sabarin deh jangan panik. Saya di Jakarta hanya tinggal bersama suami. Nggak ada pengalaman punya adik karena saya sendiri bungsu. Menikah ketika usia saya 19 tahun. Terbilang usia sangat muda dan masih labil..hihi. Usia 21 tahun saya melahirkan putra pertama. Dan drama anak sakit itu pun dimulai sejak saat itu.

Masya Allah, tidak ada yang benar-benar mudah. Si sulung punya riwayat kejang demam seperti saya waktu kecil. Usia 2 tahun hingga 6 tahun dia masih mengalami yang namanya kejang demam. Tapi, tidak setiap kejang demam saya membawanya ke dokter. Hanya saat kejang demam pertama saja. Kenapa pelit banget nggak ke dokter? Karena kondisinya memang tidak mengharuskan itu. Saya mempelajari semuanya di milis sehat. Tinggal jauh dari orangtua, ditinggal suami training di luar negeri sampai seminggu bahkan lebih membuat saya harus bisa menjalani semuanya. Jika saya hanya pasrah dan tidak mau tahu, bagaimana saya menghabiskan hari-hari dulu?

Dari milis sehat saya belajar banyak hal. Meski tidak pernah mengenyam bangku kuliah, jauh dari yang namanya paham dunia medis, tapi saya belajar bahwa seorang ibu dan orangtua wajib mengetahui minimal dasarnya saja soal penyakit langganan anak yang umum terjadi.

Saya menjalani banyak hal menyedihkan dan menakutkan ketika anak-anak sakit. Si sulung pernah terkena DBD, dia beberapa kali kejang demam dan itu terjadi lebih banyak ketika suami tidak di rumah, terakhir kemarin malah terjadi saat usia dia sudah beranjak 6 tahun. Setelah beberapa tahun tidak pernah kambuh. Ketika saya tinggal memasak nasi di dapur, sekembalinya dia sudah kejang, menggigit lidah hingga berdarah bahkan terkencing di celana. Saya panik, tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan pada saat itu. Mengambil stesolid di kulkas. Nggak lama, kejangnya berhenti. Lemas, seperti tidak sadar itu biasa. Setelah itu dia siuman dan mulai minum. Suami pulang, semua sudah ditangani.

Membayangkan menjalani hal itu rasanya itu bukan saya banget. Hei, gadis kecil yang dulu cengeng bukan main sekarang sudah menjadi seorang ibu. Bahkan hari-harinya dipenuhi drama yang dulunya pasti tidak pernah bisa dibayangkan.

Ketika bungsu lahir, hari pertama kelahirannya saja sudah drama. Injeksi antibiotik atau menerima risiko terkenan sepsis? Saat luka masih perih, harusnya sedang bahagia, saya justru dilema. Dan semua itu telah berlalu pergi. Ketika si bungsu mulai berjalan, tanpa sengaja matanya terkena pasir sebab kakaknya bermain tidak hati-hati. Ya Allah, itu kejadian paling menguras air mata.

Sepanjang hari saya menangis bahkan di ruang tunggu rumah sakit sambil menggendong dia yang tidak bisa melihat dan matanya bengkak. Di Jakarta, saya bahkan tiba-tiba saja berani mau ke JEC yang jaraknya sangat jauh dari rumah, sendiri demi mengobati si bungsu yang tidak ada perubahan ketika saya bawa ke dokter di rumah sakit dekat rumah. Pengalaman berharga banget. Kejadian yang bikin nyesel dan kesel karena ngerasa nggak bener jagain anak..hiks.

Jika ingat semua itu, rasanya itu bukan saya yang menjalaninya, bukan. Tapi, nyatanya saya bisa menyelesaikan itu semua meski harus sambil nangis.

Ketika anak-anak mulai beranjak besar, saya sudah harus lebih tenang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya hanya butuh observasi, lihat tanda gawat darurat, kapan saya harus ke dokter, kapan saya bisa menanganinya di rumah. Semua itu bisa kita pelajari dan bisa sangat membantu supaya tidak salah ambil keputusan.

Hidup ini memang penuh ujian, Milea, kata Dilan..hehe. Jika kita tidak mau belajar dari kesalahan, bisa jadi besok kita akan jatuh ke lubang yang sama. Tidak semua dokter itu rasional. Itu saya rasakan banget. Karena saya sudah menjajal dokter dari ujung hingga ujung. Bahkan, yang terkenal saja belum sepenuhnya rasional saat menangani pasiennya. Hei, kita tidak sedang ingin menjadi dokter, tapi belajar dasar-dasar dari penyakit yang dialami oleh anak-anak pada umumnya adalah penting banget.

Kita akan jauh lebih siap dan tahu harus mengambil keputusan. Jadi, saat anak demam tanpa gejala, telah lewat 3 hari, bukan berarti harus cek darah. Bukan berarti dia harus dirawat, ini lebih parah. Bukan berarti kita harus panik dan apalah. Pelajari tandanya, kondisi klinisnya dan pastikan teman-teman tahu kapan harus pergi ke dokter. 

Alhamdulillah, pagi ini si bungsu sudah tidak demam lagi. Tulisan di atas curhatan semalam. Ini hari ke-3. Kemarin sempat berpikir takut kena ISK, karena ISK kadang tanpa gejala. Tapi, dia BAK masih bagus. Duh, ini tugas emak yang belum selesai. Dia belum sunat..hiks.

Kemarin sempat bilang sama suami, kayaknya saya lebih siap deh kalau si bungsu sunat. Karena dia lebih tahan sakit.

Suami nyeletuk sambil ketawa, "Masa? Hm, kita lihat aja nanti, ya?" Haha, ngeselin banget, kan si doi.

Alhamdulillah, si sulung usia satu tahun sudah sunat dengan drama emaknya yang ketakutan. Sekarang diberi rezeki anak cowok lagi yang saat usia 3 bulan udah mau disunat disuruh pulang sama dokternya, suruh mikir ulang. Alhasil hari ini masih ada tugas berat menunggu.

Drama jadi ibu lebih berat nyatanya daripada drama Korea, ya..hihi. Dan problem belum nyapih sampai bungsu mau 3 tahun pun belum terpecahkan sampai sekarang. Ibu macam apa kamu ini? hihi.

Terima kasih sudah membaca curhatan ini, semoga bisa diambil hikmahnya...amiiin.


10 comments:

  1. kalau saya dirumah malah lebih suka dipijitin sama ibu, sambil di grepek grepek gitu tulangnya, agak sakit sakit gitu sih tapi lebih jadi enakan, disertain juga minum obat yang standar standar itu juga bisa sembuh.. sedikit berbagi juga hhe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak-anak juga suka kalau dipijit..sambil dipukul2 ringan..hehe

      Delete
  2. Dramanya selalu seru mbak muyass 😊
    Oiya mbak keren banget, jd ibu muda yang pintar. Belajar sendiri sampai istilah2 kesehatan ttg anak tau. Jadi terinspirasi 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Barakallah, iya mba, terpaksa jadi bisa ini :D

      Delete
  3. Saya termasuk org panikan klo anak sakit.. ke dokter yg ada malah tambah panik,, soalnya d kasi obatnya ampe banyak jenis gt,,

    di satu sisi males ke dokter melihat penanganan dokter kurang maksimal.. d satu sisi parnoan klo terjadi apa2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, susahnya memang begitu. karena itu saya berusaha untuk tahu lebih banyak sebelum datang ke dokter, jadi tahu bahan diskusi serta mengerti penanganannya apa

      Delete
  4. di kerokin aja saya mah hahaha

    ReplyDelete
  5. Tfs mba, semoga kita semua sehat selalu ya🤗

    ReplyDelete
  6. luar biasa ya yang namnya ibu. apapun akan diperjuangkan asal anaknya sehat. perjuangan ibu tidak selesai karena sudah dewasa. justru perjuangan ibu akan terus mengiringi anaknya sepanjang masa. keep strong ya mba. mudah-mudahan sehat terus anaknya.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.