Ramadan Bersama Palestina

June 08, 2018

Ramadan tahun ini mungkin sedikit berbeda. Bukan karena tahun ini tidak mudik ke kampung halaman dengan alasan sudah pulang beberapa kali sebelumnya, tetapi karena ada momen spesial yang sangat langka.




Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 06 Juni 2018, tempat kajian di mana saya menimba ilmu sejak tinggal di Jakarta 8 tahun silam kedatangan tamu spesial dari Gaza, Palestina. Beliau adalah hafidz muda bernama Syekh Abdurrahman Hilmi ‘Ayisy yang masih berusia 21 tahun. Beliau datang bersama beberapa ustadz dari Spirit of Aqsa sebagai penerjemah.

Sebenarnya acara hari itu tidak benar-benar direncanakan. Sangat tidak direncanakan karena sebelumnya ustadz kami hanya bercerita sedikit tentang beliau. Jika ada donasi, beliau bisa diundang. Tapi, saat itu belum ada yang benar-benar siap memberikan donasi cukup besar.

Qadarallah, setelah semua jamaah pulang, ada seorang teman yang tiba-tiba ingin berdonasi lumayan besar supaya acara hari itu terselenggara. Sejak donasi pertama masuk, akhirnya ada lebih banyak lagi donasi yang terkumpul dari yang lain. Barakallah, pagi itu, dengan penuh semangat, semua berkumpul hadir pada kajian terakhir di bulan Ramadan tahun ini demi menyambut hafidz muda yang merupakan alumni dari Jami’ah Al-Islamiyah Gaza.


Seperti kita tahu bersama, Palestina sedang mengalami hal yang sangat memprihatinkan. Setiap hari, roket-roket Israel diluncurkan membumi hanguskan pemukiman warga sipil. Hal yang paling tidak masuk akal, anggota militer Israel yang bosan berjaga di beberapa titik sering melakukan hal tidak manusiawi, termasuk tiba-tiba menyerang para penduduk sipil, menahan mereka, dan menyiksa. Alasannya hanya karena mereka bosan! Kadang mereka menutup gerbang sekolah sehingga anak-anak yang seharusnya pulang ke rumah tidak bisa pulang. Beberapa dari pelajar harus memanjat pagar. Hal semacam itu terjadi setiap hari di sana. Pemandangan biasa yang tidak lagi aneh bagi warga Gaza.

Bagi warga Palestina, kita yang ada di Indonesia merupakan saudara yang punya ikatan sangat erat. Rumah sakit Indonesia banyak dibangun di sana demi membantu banyak korban penjajahan Israel. Dapur-dapur Indonesia mengepul demi membantu menyalurkan makanan bagi warga Palestina yang membutuhkan. Meski keadaan di sana tidak baik-baik saja, tetapi tidak sedikit pun mereka mengeluh apalagi takut.

Syekh Abdurrahman mengatakan bahwa para demonstran yang terlibat aksi damai sama sekali tidak membawa senjata. Mereka tidak takut mati. Semua di antara mereka sama sekali tidak takut mati. Kita bisa lihat, bagaimana anak kecil dengan lantangnya bicara di depan militer Israel tanpa membawa senjata. Kita bisa lihat, mereka yang ditangkap justru tersenyum. Tidak ada ketakutan di mata mereka. Dan hal semacam ini sebenarnya benar-benar mengerikan bagi militer Israel.

Sampai detik ini, tidak ada warga Palestina yang boleh masuk ke dalam masjid Al Aqsa kecuali mereka yang berusia lanjut di atas 60 tahun. Militer Israel sangat waspada, jangan sampai ada pemuda dan anak-anak merangsek masuk ke sana. Mereka sangat takut pada pemuda Palestina. Itu nyata diceritakan oleh Syekh Abdurahman.

Di Palestina, anak-anak usia 5 tahun mulai menghapal Alquran. Seperti Syekh Abdurrahman yang lahir dari 13 bersaudara, beliau sudah menghapal 30 juz saat usianya masih 13 tahun. Dan itu menjadi kebiasaan warga di sana.  Bayi-bayi mungil keturunan Mujahid terus lahir. Dalam satu keluarga saja bisa ada 13 saudara bahkan lebih. Meski angka kematian cukup tinggi, tapi angka kelahiran pun tak kalah besarnya. Masya Allah.

Bagi umat Islam, warga Palestina bukan hanya menjadi bagian dari tubuh kita yang ketika dilukai kita pun merasakan sakitnya, tetapi juga di sana, di tempat yang penuh sejarah, tanah para Nabi, ada tempat suci yang dimuliakan oleh umat Islam yang juga wajib diperjuangkan bersama.

Kajian pagi itu pun ditutup manis dengan kalimat yang sungguh sangat menggetarkan hati. Birru Biddam Nafdika ya Aqsa! Dengan jiwa, dengan darah, kami korbankan untukmu wahai, Aqsa!

Ini adalah momen spesial yang mungkin tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Lebaran sudah sangat dekat, semua orang sibuk mempersiapkan banyak hal, termasuk sajian kue kering di atas meja ruang tamu. Meski kita sibuk, sempatkan mendoakan dan mendonasikan sebagian harta bagi saudara kita yang ada di sana. Insya Allah, itu akan jadi saksi di akhirat bahwa kita termasuk dalam barisan orang-orang yang rela berkorban demi membela Al Aqsa!

4 comments:

  1. Wah, ku sedih mbak kl inget palestina.. Gustiii, mereka disana bertahan hidup dr bahaya yg mengancam tiap detik. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Mbak..lihat2 korbannya itu serem banget..g tega

      Delete
  2. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dengan nikmat KEAMANAN dan KETENTRAMAN.. masih berpikir dua kali untuk beribada?

    ReplyDelete

Powered by Blogger.