Tentang Hati

May 16, 2018

Ini hari yang sangat menggembirakan bagi Fauzan. Santri berwajah teduh ini telah menghabiskan setahun pertamanya di pesantren. Bukan hal mudah memang. Tetapi Faizan mampu menaklukkan banyak hal, termasuk keinginan untuk lekas pulang, bertemu dan berkumpul bersama orang tua.

Ramadan tahun ini akan jadi momen yang sangat spesial. Setelah setahun tidak pulang ke rumah, akhirnya dia mendapatkan telaga di tengah gurun pasir. Perumpamaan yang kadang membuat dia tertawa sendiri di sudut kamarnya.

Ternyata jauh dari orang tua itu sulit. Meski telah beranjak dewasa, Fauzan merasa tidak pernah mudah meninggalkan orang tua. Tapi, karena demi pendidikan, maka dia pun merelakan semuanya, termasuk rindu yang tiba-tiba menggebu setelah seminggu masuk pesantren.

Fauzan malu mengakui, tetapi hati kecilnya jelas tahu itu. Sejak masuk pesantren, dia bahkan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan sejak kecil. Termasuk membayangkan bagaimana Ibu memperlakukannya, menyuapi ketika dia sakit serta mengusap kepalanya berkali-kali ketika dia hendak berangkat sekolah.

Hal-hal kecil seperti itu ternyata membuat dia rindu setengah mati. Fauzan kerap menyendiri di sudut kamar. Sedangkan teman-temannya yang lain sibuk bergurau dan mencari kesenangan demi menghilangkan kebosanan selama berada di penjara suci itu.

Tinggal di pesantren itu memang bukan sesuatu yang mudah. Dia harus mandiri secara tiba-tiba sedangkan di rumah biasanya dia selalu bergantung pada uluran tangan orang tua. Meski telah berusaha, tetap saja ada sesuatu yang janggal ketika dia pindah dan melanjutkan sekolahnya di pesantren.

Foto: pexels.com


Hari ini, pesantren benar-benar ramai. Beberapa hari lagi Ramadan akan datang. Itu artinya dia bisa pulang dan merayakannya bersama keluarga di rumah. Termasuk bersama adik bungsunya yang baru berumur 7 tahun. Meski sering dibuat kesal, Raihan tetap jadi adik yang sangat dirindukannya.

Malu mengakui? Tentu saja! Fauzan tak akan mengatakan itu pada adik bungsunya atau dia akan ditertawakan sejadi-jadinya. Di rumah, mereka selalu bertengkar. Lempar bantal sampai guling. Tidak ada hari tenang ketika ada Raihan di dekatnya.

Tetapi, Fauzan sekarang tentu berbeda. Dia sudah beranjak dewasa, mengerti banyak hal bermakna dalam hidupnya. Termasuk cinta dan kasih sayang keluarga.

Fauzan bergegas membawa ransel di punggung. Sedangkan sebelah tangannya menenteng bawaan berupa kardus. Dia telah mengemas baju-bajunya dengan rapi di dalam kardus mi instan. Hal yang lumrah dilakukan, termasuk oleh teman-temannya yang lain.

Tidak seperti teman-temannya, Fauzan memilih pulang sendiri. Naik bus menuju kampung halamannya. Rindu sekali rasanya ingin segera sampai di sana. Apa kabar dengan orang tuanya? Apa kabar adik bungsunya? Fauzan tersenyum, mungkin dia akan memeluk Raihan ketika pertama kali bertemu nanti.

Dua jam perjalanan ternyata tidak terasa. Fauzan sampai di terminal. Turun dari bus dengan membawa bawaan yang cukup merepotkan. Perjalanan masih jauh. Dia harus mencari ojek untuk sampai di depan rumahnya.

Sepintas dia melihat kerumunan. Ramai. Banyak aparat keamanan berjaga di sekitar terminal. Mungkin menjelang Ramadan, keamanan perlu diperketat. Fauzan turun dengan letih yang mulai menjalar. Hari sudah gelap. Langit pun tak menampakkan sinarnya sedikit pun. Entah di mana cahaya rembulan yang biasanya berpendar.

Meski capek, Fauzan tetap bersemangat ingin segera pulang. Dia berkeliling sebentar mencari ojek. Sayang, sebelum mendapatkan kendaraan menuju rumahnya, langkahnya terhenti oleh suara keras dari seorang aparat keamanan.

Mereka bersenjata, menyentak hati Fauzan. Ada apa?

Fauzan dipaksa membuka isi kardusnya. Tas ransel di belakang yang sangat berat dipaksa juga dibuka. Fauzan merasa aneh dan bingung. Tetapi senjata di tangan mereka justru lebih membingungkan lagi.

Fauzan kesal. Merasa tidak dipercaya dan segera merobek kardus di tangannya. Menghamburkan pakaian. Melempar isinya hingga tumpah ruah. Tidak cukup di situ, mereka juga meminta Fauzan membuka ransel di punggungnya.

Sadarlah Fauzan jika peci serta sarung yang mengemas penampilannya menjadi salah satu alasan kenapa dia dicurigai. Teroris! Seperti yang sempat gempar terjadi beberapa hari ini. Terror bom itu bisa jadi membuat semua orang ketakutan bahkan hilang akal. Kejahatan yang dikemas dalam busana ketaatan. Menjadi fitnah yang luar biasa keji bagi umat Islam termasuk dirinya.

Sadar sedang dalam keadaan siaga, Fauzan menuruti semuanya. Termasuk membongkar ransel yang sebelumnya telah dirapikan. Memaksanya mengeluarkan semua barang yang dengan susah payah dikemasnya sejak sore sebelum dia pulang.

Lelah dan kesal menjadi satu. Lamat-lamat Fauzan pun beristighfar berkali-kali. Malu telah terpancing emosi. Sejatinya semua memang tengah siaga. Sebab bom-bom rakitan itu telah memusnahkan banyak nyawa. Sayangnya, entah sengaja dibuat atau memang benar-benar terjadi adanya, hal semacam ini justru jadi sembilu bagi muslim seperti dia. Yang berpeci, bercelana cingkrang, berhijab lebar dan bercadar. Padahal semua tahu, teroris bukanlah bagian dari mereka.

Fauzan sadar betul, kepanikan tengah meraja. Orang-orang saling curiga dan suasana sedang mencekam. Mungkin saling membantu akan menyelamatkan semuanya. Masyarakat benar-benar terbawa suasana, sangat ketakutan.

Fauzan berdiri. Menatap baju-bajunya yang kotor terkena debu jalan. Menyadari banyak hal, termasuk ikut merasakan ketakutan serta kepanikan orang-orang yang menjadi korban. Fauzan mengutuk kekejian itu!

Jakarta, 16 Mei 2018

No comments:

Powered by Blogger.