Ini Tentang Kamu, Nak, yang Belum Juga Menyapih Hingga Ramadan Ketiga

May 23, 2018

Holla, Teman-teman!

Alhamdulillah, bahagia bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadan. Bersyukur karena masih diberi umur panjang dan menikmati Ramadan dengan suasana yang sangat kental khas Indonesia banget. Melihat kondisi di luar, sudah semestinya kita ikut sedih dan prihatin atas nasib yang menimpa saudara kita baik di Timur Tengah serta di daerah lain seperti tragedi yang menggemparkan Surabaya kemarin.

Setiap bulan Ramadan tiba, bukan hanya bahagia menyambutnya karena bisa melaksanakan ibadah yang menjadi rukun Islam ketiga, tetapi juga mengingat perjuangan melahirkan si bungsu yang Ramadan tahun ini akan genap berusia 3 tahun.

Dia lahir pada tanggal 22 Ramadan, karena itulah namanya berakhiran KAMDARA yang berarti Kamis dua dua Ramadan. Duh, lucu namanya, ya.. J Itu nama pemberian dari ayahnya yang selama seminggu bersemedi…kwkwk.

Foto: pexels.com

Kelahiran si adek sungguh berbeda dengan si sulung. Sebelum melahirkan, jauh-jauh hari sering banget kontraksi palsu sampai sering mengira akan melahirkan saking sakitnya dan kram perut. Dan akhirnya, malam itu saya merasa akan melahirkan meski nggak terlalu yakin. Masih berpuasa dan tetap berbuka dengan santai karena kontraksi belum terlalu terasa. Tapi, sudah siap-siap makan telur rebus beberapa, khawatir saya kehilangan tenaga. Ini pesan ibu banget sejak anak pertama. Karena beliau pernah mengalami kekurangan tenaga saat mau melahirkan, malas makan dan tidak dipaksa. Ujung-ujungnya susah saat hendak mengejan.

Jadi, setiap akan melahirkan, saya selalu merebus telur beberapa. Bisa telur ayam kampung. Dan saya masih enak makan dong secara saya belum terlalu terasa sakitnya. Kalau masih muat, minum susu juga segelas..hehe J

Setelah tarawih, semakin terasa deh kontraksinya. Dibawa berjalan dan lama-lama ngantuk juga. Capek, tiduran, ketiduran dan bangun lagi. Sampai akhirnya pukul sepuluhan sudah mulai keluar flek. Pukul 11 malam akhirnya memutuskan ke rumah sakit. Sebelum berangkat, satu tas berisi segala keperluan tak lupa dibawa. Tas ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Meski kata orang dulu pamali, tetapi saya selalu mempersiapkan ini. Saya tinggal berdua dengan suami di Jakarta. Orang tua serta mertua ada di kampung halaman. Sebelum melahirkan kami tidak pernah mengabari karena khawatir mereka justru lebih panik daripada kami yang merasakan. Jadi, segala keperluan selalu saya siapkan jauh-jauh hari. Sebab kami sadar hanya akan menjalaninya berdua saja.

Saya menyempatkan membawa kotak bekal berisi nasi dan lauk untuk sahur suami. Masih ingat dan sempat? Malah masih beberes dapur karena akan ditinggal beberapa hari. Setelah itu kami berangkat mengantar si sulung dititipkan di rumah budhe. Langsung, di tengah gerimis kami pun menuju rumah sakit yang tak jauh dari rumah.

Masuk UGD dan mulai terasa nggak keruan mulesnya. Yang paling terasa punggung mau patah. Cukup lama suami mengurus administrasi, saya sendirian di ruang UGD. Kesepian..hehe. Sambil meringis menahan ngilu.

Tak lama kami pun pindah ke kamar bersalin. Saya masih berharap bisa berjalan-jalan seperti saat akan melahirkan si sulung. Toh masih buka 3 atau 4 waktu itu. Tetapi, ternyata setelah berganti pakaian, mau ke kamar mandi saja tidak kuat berjalan. Masya Allah sudah sangat sakit dan bertubi rasanya.

Jadi, untuk menghemat tenaga, saya pun hanya berbaring. Sambil melakukan CTG, ternyata kondisi bayi kurang bagus. Dokter memutuskan harus diinfus gula. OMG! Saya takut dong kalau kena jarum..hiks. Nangis deh waktu suster masukin jarum infus. Nggak enak banget. Mungkin karena kondisi saya berpuasa, jadi terbawa juga sama si bayi.

Zaman si sulung lahir, saya tidak kena infus. Aman karena jalan-jalan sepanjang usai salat Isya hingga jam 10 malam dan bukaan 8. Sedangkan saat si bungsu mau lahiran, asli saya ada di kamar. Tiduran dan kesakitan.

Sekitar pukul setengah 3, dokter kandungan saya sudah ada di sana. Bukaan masih belum lengkap. Tapi saya sudah tidak kuat mau mengejan. Nggak dibolehin. Ketuban saja belum pecah dan akhirnya dipecahin oleh suster. Ngeri sih ngebayangin gimana nih rasanya ketuban dipecahin, ternyata nggak ada rasanya sodara-sodara.. J

Dan skip ketegangan, akhirnya lahirlah si bungsu yang ternyata tidak langsung menangis kala itu. Hari bahagia harus ditunda sementara. Diketahui leukositnya sangat tinggi. Diputuskan injeksi antibiotik untuk mencegah sepsis.

Setelah IMD, adek diobservasi oleh dokter di ruang perawatan. Rasanya kok aneh, ya? Biasanya saya sudah menggendong bayi, tiba-tiba hari itu tidak. Suami akhirnya makan sahur dengan bekal dari rumah, ending yang nggak nyambung sih J

Pagi itu, saya sudah meminta lepas infus. Sempat ditertawakan sih, malah saya maunya dilepas sejak malamnya. Pagi sudah berganti pakaian dan duduk manis sarapan. Kata suster nggak kayak orang abis lahiran..he. Di kamar bersalin sendiri pula, suami pulang sebentar.


Foto: pexels.com


Saya memang terbiasa seperti ini saat lahiran. Setelah pulang ke rumah selepas 3 hari di rumah sakit, barulah orang tua datang menjenguk. Saya pun tak lupa menelepon orang tua setelah melahirkan, mereka pun lega dan tidak tegang lagi mikirin anaknya yang merantau di negeri seberang J

Hari-hari berikutnya selepas melahirkan menjadi semakin berat. Saya masih belum rela adik diinjeksi AB. Padahal malam itu AB sudah tersedia di apotek rumah sakit dan tinggal menunggu keesokan harinya. Tetapi, karena sangat ragu, akhirnya saya memutuskan tanda tangan lagi sebuah surat penolakan setelah sebelumnya suami menandatangani surat persetujuan. Antara hidup dan mati deh saat itu. Karena efeknya bisa berbahaya banget yaitu Sepsis.

Tapi, sekali lagi saya memutuskan itu bukan hanya karena kasihan saja, tetapi karena melihat klinis adik yang baik-baik saja, menyusu dengan baik, tidak demam, menangis dan buang air normal.

Dan alhamdulillah, ternyata keputusan saya benar. Kondisinya semakin baik, leukosit pun kembali normal. Saya berterima kasih kepada dokter Anto di milis sehat yang sudah berkenan menjelaskan banyak hal sehingga saya mampu memutuskan dengan baik saat itu. Meski beberapa dokter sepakat jika adik harus diinjeksi, tetapi konsultasi saya di milis sehat membawa hasil yang tidak mengecewakan bahkan saya bersyukur tidak salah langkah.

Foto: pexels.com


Dan tahun ini, dia “Muhammad Ammar Dhigdaya Kamdara” yang insyaAllah sekuat namanya akan memasuki usia 3 tahun. Dan hingga usia sebesar ini, dia belum juga menyapih..hiks. Ternyata berbeda sekali dengan si sulung yang lekas disapih usai dua tahun. Untuk Dhigda, saya masih merasa beraat banget. Kalau soal teori, semua udah dihapal di luar kepala. Praktiknya selalu nggak tega dan akhirnya nggak jadi lagi. Oke, saya memang berharap dia bisa menyapih sendiri, weaning with love. Tapi, nggak yakin juga dia bakalan cepet melakukannya.

Kalau si sulung dulu akhirnya memang tidak mau sendiri dan memang sudah dilakukan berbagai cara..haha. Termasuk dengan memasukkan sugesti positif ketika hendak tidur. Masalahnya, yang bungsu ini sayanya yang kelihatan banget nggak mau melepas. Padahal si bungsu tidak senempel si sulung, lho. Bahkan waktu perjalanan ke Turki beberapa bulan silam, dia hampir tidak pernah menyusu kecuali saat sampai di hotel.

Jadi, hingga tiga purnama, dia masih nempel seperti bayi baru dilahirkan J Adik ini suka ngelawak..haha. Ekspresinya selalu heboh atau ucapannya selalu di luar nalar orang dewasa..he.

Foto: pexels.com


Bunda: Dek, Bunda sedih nih.
Dhigda: Yaudah sana makan.
Nah, lho?

Kakak: Dek, ayo keluar kamar.
Dhigda: Adekkan takut sama Allah…
Lha, apa maksudnya? 

Haha, selalu bikin ngakak. Barakallah, semoga proses menyapih nanti jadi momen yang menyenangkan untuk kami berdua. Nggak kebayang sih kalau Ramadan tahun depan belum nyapih juga… haha.


10 comments:

  1. luar biasa ya perjuangan seorang ibu. tinggal nikmatin masa pertumbuhannya sekarang yang lagi lucu dan nyeleneh2 gitu hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, betul banget mbak..nyelenehnya kadang bikin nggak tahan kwkwk

      Delete
  2. masih doyan nyusu ya si bungsu. tapi pelan-pelan juga akan lepas dengan sendirinya. mungkin malu lama-lama akan malu sendiri.

    kalau sampai tahun depan... ehmmm lucu juga ya kalau masih nyusu mamanya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, iyaa nggak kebayang sih, ini aja mulai diketawain org :D

      Delete
  3. Hehehe,,, ntr juga gak menyesuia lagi dia kak,,

    ReplyDelete
  4. persalinan memang perjuangan yang super luar biasa, pikiran berkecamuk tdk karuan saat mendampingi persalinan istri.

    menyapih ini memang penuh tantangan ya, utamanya kalo si anak terus meneru menangis hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kasihan juga sih klw nangis terus..sy stress juga jadinya

      Delete
  5. Lucunyaaa ..dedek ammar belum lahir keluar aja udah pinter drama kontradiksi 😁

    Sekarang dedek ammar udah pinter apa,kak ?.

    Siapa tau loh, dari kecil udah pinter berakting, gedenya ntar jadi aktor dan diidolain banyak fans ☺

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, jangan jadi artislah..semoga bs jadi hafidz..amiin :D

      Delete

Powered by Blogger.