Saatnya Pisah Kamar, Waktu Begitu Cepat Pergi, Nak…

April 01, 2018


sumber


Ada yang spesial pada bulan April. Meski tak pernah direncakan akan pindah kamar tanggal berapa, tetapi akhirnya si sulung ‘dipaksakan’ segera pindah kamar malam ini juga..he.

Usianya sudah 7 tahun sejak Januari lalu. Keinginan pisah kamar sudah kami katakan sejak lama. Tapi, sama seperti saya dulu, rasa takut dan masih ingin tidur sama bundanya membuat dia nggak mau pindah-pindah. Pusing kepala emak..he.

Kami akhirnya sepakat, jika dia bisa belajar tidur di kamarnya bersama ayahnya. Jika siang sepulang sekolah ingin tidur siang (sayangnya dia pulang sore), dia bisa belajar tidur sendiri di atas tanpa di dampingi.

Sejak masuk sekolah, memang ada saja yang berubah dari dia. Awalnya dia pemberani sekali, giliran masuk sekolah, malah banyak yang ditakutkan. Bahkan adiknya yang masih dua tahun sering diseret-seret suruh nemenin, ke kamar mandilah, ke dapur.

Ternyata memang teman-temannya suka bercerita aneh-aneh pada si sulung. Sampai-sampai dia kenal segala jenis makhluk ghaib yang sama sekali tidak pernah saya ceritakan sebelumnya. Sempat kaget, tetapi itulah lingkungan yang tidak bisa dihindari. Dan ternyata, untuk membuat dia kembali berani nggak gampang.

Makannya, sekalian pindah kamar sekalian belajar berani. Kamarnya di atas, jadi lumayan juga kalau ada rasa takut karena kamar saya ada di bawah. Tetapi kalau bukan sekarang kapan lagi dia pisah kamar? AC di atas sampai rusak karena tidak pernah dinyalakan..he.

Malam ini, dia masih menolak ketika mau saya tinggal. Meski ayahnya sudah pulas di kamar yang sama, tetapi dia bilang mau sama bunda. Setelah saya temani beberapa saat barulah dia mau ditinggal.

Saat kembali ke kamar saya, tidak melihat dia lagi di kasurnya, kok perasaan tiba-tiba sedih sendiri, ya. Belajar berpisah, belajar ditinggal atau meninggalkan ternyata bukan hal mudah. Padahal ini baru hanya pisah kamar. Rasanya saya terlalu lebay seperti ada banyak yang hilang tanpa melihat dia terlelap di dekat saya.

Setiap malam kami bisanya membaca buku cerita. Dia suka sekali membaca. Buku-bukunya menumpuk di lemari. Dan meski sudah pandai membaca sendiri, tetapi dibacakan cerita oleh saya tetap jadi hal menyenangkan bagi dia. Dan adiknya pun mulai ikut-ikutan mengambil buku di lemari, kemudian bilang “baca buku.”

Bulan April bukan cuma bulan kelahiran saya (tambah tua), tetapi juga bulan di mana putra sulung saya harus pisah kamar. Ternyata begini, ya rasanya punya anak sudah agak besar. Kemudian semakin besar akan seperti apa lagi dan waktu cepat  banget perginya.

Semoga kamu memaafkan kesalahan bunda dan ayah ya, Nak. Insya Allah kamu bisa jadi anak yang bahagia, sholeh dan mampu memperjuangkan keinginan kamu. Bunda kok sedih, ya. Padahalkan cuma pisah kamar saja. Besok pagi akan bertemu lagi dan ngomel karena kamu masih berbaring di karpet dan tidak lekas mandi. Tetapi menyadari usia kamu sekarang membuat sesal, semoga yang telah berlalu menjadi sesuatu yang akan berakhir baik. Insya Allah. Maafkan jika bunda dan ayah belum bisa jadi yang terbaik dan kadang membuat kamu sedih. Maafkan…Semoga ini bisa jadi sesuatu yang berharga, belajar mandiri dan tanggung jawab serta berani.

6 comments:

  1. semakin cepat pisah kamar semakin baik

    ReplyDelete
  2. Duuuh mbak, kok aku jd bayangin punya anak ya. Kesel kan ya, di rumah orang tua nggak pernah nakut2in, eh gara2 lingkungan sekolah dan teman2nya malah dia jd penakut.. Hhh
    Semoga mbak sekeluarga sehat selalu ya, jd keluarga yg tentram, damai, dan bahagia. *kok aku doain gini ya, hhh. Karena seneng aja kl baca artikel curhatan ibu2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, makasih doanya, lho Mbak.. :) semoga dirimu kelak juga mendapatkan jodoh dan keluarga yang sholeh sholehah..amiin

      Delete
  3. dulu saya yang pengen pisah kamar malah ibu saya yang ngga mau. rupa-rupanya malah beliau yang takut gara-gara gosip dari tetangga kalo rumah kita berhantu

    ReplyDelete

Powered by Blogger.