Tentang Kehilangan...

February 17, 2018


pixabay.com


Sebelumnya saya tak pernah membayangkan jika suatu saat saya harus kehilangan orang-orang terdekat. Mungkin sekilas ada pikiran seperti itu mengingat kematian siapa yang tahu. Tetapi menghadapinya secara tiba-tiba rasanya membuat hati jadi ngilu.

Tanggal 8 Februari kemarin, berita duka datang dari keluarga suami. Bapak mertua yang sebelumnya memang dikabarkan sakit akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya, suami sudah memesan tiket untuk segera pulang, tetapi belum sampai dia bertemu Bapak, kematian sudah menjemput terlebih dulu.

Kaget? Pastinya. Dan lebih menyesal karena tidak sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Tidak menunggu waktu lama, karena sulit memesan tiket pesawat secara online, akhirnya paksu segera mengajak kami berangkat. Belum selesai mengemas pakaian di dalam koper, taksi sudah menunggu dan siap mengantar ke bandara.

Terbayang betapa kalang kabutnya saat itu, tidak tahu akan pulang berapa lama, bahkan tidak tahu akan berangkat kapan karena nekat ke bandara tanpa tiket. Sampai di bandara, suami segera mencari tiket, sayangnya untuk penerbangan hari itu menuju bandara Abdurrahman Shaleh sudah ditutup. Telat. Suami duduk dengan pikiran tak keruan. Pemakaman Bapak tidak boleh menunggu kami datang. Alhamdulillah, disegerakan bahkan sebelum kami memiliki tiket.

Tiba-tiba terlintas untuk turun di bandara Juanda, Surabaya. Saya pun mengiyakan, meskipun jarak setelahnya menuju kampung halaman bisa jauh lebih lama ketimbang perjalanan naik pesawat menuju Surabaya. Alhamdulillah, hari itu juga kami bisa berangkat beberapa jam setelahnya, tepat sekitar pukul empat sore hari.

Perjalanan menuju Surabaya hanya menghabiskan waktu selama satu seperempat jam saja. Tetapi perjalanan dari bandara menuju rumah suami butuh berjam-jam. Kami baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. Ketika semuanya sudah mulai sepi, dan entah kenapa bayangan Bapak menyelinap tiada henti di dalam pikiran saya.

Bertemu ibu mertua yang sudah sakit-sakitan, terlihat lelah tapi sama sekali tidak menangis. Beliau bilang, Bapak memang sudah tua, jadi biarkan saja. Mungkin Ibu juga sudah tidak tega melihat Bapak yang beberapa minggu terbaring sakit sampai hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.

Bukan untuk pertama kalinya, ketika kami datang, Ibu atau Bapak biasanya tidur bersama kami. Karena melihat kondisi Ibu yang terlihat kesulitan dan memaksa bangun dan bangkit dari duduknya, akhirnya saya meminta beliau segera berbaring ditemani anaka-anak. Dan benar saja, keesokan harinya masalah tulang belakang yang sempat membuat Ibu terbaring, kini kambuh lagi. Dua hari setelah saya datang, beliau sempat mengeluh tiada henti saking sakitnya dan tidak bisa bergerak. Bahkan untuk batuk saja terasa sakit.

Mungkin saya cengeng, jadi selalu saja mata panas melihat kejadian itu. Sempat sampai menangis tak keruan ketika Ibu kesakitan dan semua orang mulai menyebut nama Allah berkali-kali. Alhamdulillah, setelah diperiksa, kondisi Ibu semakin membaik dan dipaksa tidak boleh turun dari ranjang.

Inilah alasan kenapa beberapa hari kemarin saya tidak lagi posting di blog. Kejadian tak terduga membuat semuanya buyar, tidak ada yang benar-benar siap jika bicara soal kematian. Meskipun kami tahu Bapak telah sepuh, tetap saja kehilangan membuat lubang dalam yang tak pernah habisnya menguras air mata.

Almarhum Bapak itu, tidak pernah meminta apa-apa, tidak pula mudah sakit hati dan selalu sederhana. Beliau memang perokok berat, tetapi selama ini tak ada keluhan selain hanya pegal. Sebelum beliau sakit, suami sempat membelikan kambing untuk dirawat, supaya beliau ada kegiatan dan tidak bosan di rumah, setelah kambing beliau mulai beranak dan gemuk, beliau jatuh sakit. Sedih mengingat hal-hal semacam itu.

Saat mengunjungi makam beliau, sedih sekali mengingat semuanya harus berakhir secepat ini. Padahal saya masih ingin bertemu Bapak dalam keadaan sehat. Tetapi justru sebaliknya, kami terlambat pulang dan tak bisa bertemu bahkan untuk terakhir kalinya dalam kondisi beliau yang sudah sakit.

Saya pernah ingat, ketika kami pulang menjelang lebaran beberapa tahun lalu, Bapak menginap di rumah kakak perempuan suami saya, bukan hanya menginap, tetapi juga menjaga rumah karena kebetulan pemiliknya sedang sakit dan dirawat. Saat suami saya menjemputnya ke sana, apa yang beliau lakukan menjelang buka puasa? Mengukus buah pepaya sebagai sajian berbuka. Antara lucu dan miris, sebab seharusnya beliau sudah tidak direpotkan lagi dengan hal semacam itu. Akhirnya suami membawa Bapak pulang dan kami berbuka puasa di rumah. Besoknya Bapak masih memaksa kembali lagi, lho. Tetapi kali ini dengan membawa bekal untuk sahur dan berbuka. Sesederhana itulah beliau.

Saat malam pertama setelah kepergian beliau, saya tak bisa tidur karena terbayang Bapak yang muncul dari pintu kamarnya dan menyapa. Pukul dua malam anak-anak baru terlelap, dan saya tak bisa tidur walaupun capek. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, bayangan Bapak berkelebat tiada henti. Tetapi, jujur saja saya tak berani membuka mata, hingga untuk kesekian kalinya suara langkah itu kembali datang. Ketika menoleh, ternyata itu suara kakak ipar saya yang tak bisa tidur juga…he. Kebetulan saya dan anak-anak tidur di ruang tengah, jadi siapa yang lewat bikin kaget bukan main.

Jadi, begini rasanya kehilangan. Hidup dan mati hanya menunggu berganti. Tidak ada yang benar-benar abadi selain yang menciptakan. Dan kematian menjadi sesuatu yang pasti tetapi selalu saja tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun, termasuk bagi mereka yang akan merasa kehilangan.

14 comments:

  1. siapapun pasti merasa pernah kehilangan. Entah kehilangan orangtua, sahabat, suami, istri dan sebagainya, Terkadang kita belum mampu menerima dengan keadaan ini
    Kehilangan orang yang disayang terlebih pendamping, aduh...minta ampun sedihnya. Beda dengan kehilangan dengan orang selain pendamping

    ReplyDelete
  2. Hidup sudah digariskan oleh yang maha kuasa, mesti kita tidak pernah akan tahu batasan hidup yang kita jalani..

    Intinya setiap kita kehilangan seseorang yang berpengaruh dalam hidup kita apa pun itu cuma ketabahan yang harus kita lakukan.. Meski banyak alasan yang kita kemukakan namun semuanya telah terjadi...

    Dan mungkin dengan kita merasa kehilangan tuhan akan memberikan pelajaran baru bagi diri kita..๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    ReplyDelete
  3. Betul kita tidak pernah tahu kapan tiba saatnya ajal akan menjemput, waktu bapak sakit aku menungguinya tapi saat beliau tampak sehat kami pun lengah ternyata itu adalah saat terakhir beliau di dunia ini

    setiap kehilangan pasti meninggalkan kesedihan terlebih dia adalah orang terdekat dalam hidup kita

    ya rehat sejenak aktifitas ngeblog bisa dimaklumi ๐Ÿ˜€๐Ÿ™๐Ÿป

    ReplyDelete
  4. datang dan pergi, semua pasti, kembali kepada sang pemilik sejati. semoga diberikan ketabahan

    ReplyDelete
  5. Mbak... Semoga bapak mertua khusnul khatimah yaaa, semgoa diberi tempat terindahNya.. Buat ibu, semoga lekas sehat yaa... :)

    ReplyDelete
  6. Turut berduka cita buat Bapak mertuanya, mba Muyas semoga diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

    ReplyDelete
  7. Semoga tabah ya mba,, karena sejatinya setiap yg bernyawa akan kembali ke hadapan-Nya

    ReplyDelete
  8. Kisah ini benar2 sedih, membuat saya kembali teringat terhadap kedua org tua saya di kampung halaman.
    Saya hanya mampu ikut mendoakan, semoga Beliau di tempat kan di surga Allah.
    Amin Ya Rabbal Alamin..

    ReplyDelete
  9. setelah baca ini saya jadi rindu sangat dengan ibu dan bapak saya
    sekarang hanya melepas kerinduan lewat telpon terkadang video call
    baca ini saya sedih banget..
    Turut berduka cita mbak muyas, semoga amal ibadah beliau di terima di sisi-NYA di tempatkan di tempat yg terbaik.
    Untuk keluarga semoga di berikan ketabahan dan keiklasan.
    Patah tumbuh hilang berganti, kematian itu pasti tidak ada syarat yg pasti. mati tidak harus tua, mati tidak harus sakit.
    tapi setiap kematian setiap kesedihan setiap musibah selalu ada hikmah, selalu ada ganti kebahagiaan untuk yg di tinggalkan.
    Tulisan yg menegur hati saya untuk selalu senantiasa mendoakan Orang tua yg jauh

    ReplyDelete
  10. Turut berduka mbak muyass. Semoga almarhum diberi tempat yg layak di sisinya dan yg ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan.

    Kematian memang selalu menjadi bayang2 setiap yg bernyawa mbak

    ReplyDelete
  11. Turut berduka cita, mba Muyass.
    Baca ini jadi ingat almarhum bapak.
    Semoga beliau mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya.

    Saya sempat bertanya-tanya kenapa mba Muyass yang biasanya ngeblog tiap hari tiba-tiba menghilang. Ini toh alasannya.

    ReplyDelete
  12. Aku juga pernah kehilangan mba, kalau aku bahas nanti aku sedih.. hehehe semangat ya mba ^^

    ReplyDelete
  13. aku sedih mbak,, aku inget bapak ibu di rumah jauh dari tempat aku kerja. aku harus sering2 pulang

    ReplyDelete
  14. turut berduka cita mba :( jadi keinget bapakku yang sedang sakit dirumah

    ReplyDelete

Powered by Blogger.