Sekolah Perempuan, Pengalaman Manis dan Penuh Kenangan

January 11, 2018


Alhamdulillah, bahagia bisa menjadi bagian dari Sekolah Perempuan. Meskipun hanya bertemu dengan mentor dalam dunia maya, tetapi kehangatan di antara kami serta teman-teman satu angkatan terasa bahkan hingga sekarang.

Sejak SMA, saya sudah bermimpi ingin menjadi penulis dan menerbitkan banyak buku. Impian yang pelan-pelan menjadi nyata lewat usaha serta kerja keras. Tentu saja jika kita berani bermimpi, sama artinya kita pun telah bertekad mewujudkannya lewat berbagai macam cara.

Mulai dari PDKT sama penulis hingga dicuekin bahkan dianggap spam sama mereka..hehe. Nggak banget, kan? Karena dulu saat SMA, saya sering sekali menghubungi penulis lewat SMS, menanyakan tentang dunia literasi sampai-sampai saya dicuekin, bisa jadi saya dianggap spam yang tak berarti.

Tapi, entah kenapa, dalam satu situasi, saya kadang nggak tahu diri. Bertemu dengan penulis lain, saya lakukan hal yang sama. Tapi, kali ini beliau meresponnya dengan baik. Sehingga, ketika saya menyelesaikan sekolah D1 di pesantren, saya berkesempatan menulis antologi bersama para penulis senior dari kota Malang. Satu buku itu pun terbit mengawali semua jerih payah saya selama hampir empat tahun.

Memiliki impian menjadi penulis, bertemu penulis bahkan berkenalan dengan penulis senior kadang menjadi mimpi yang terlalu tinggi buat anak seperti saya yang setiap harinya hanya bergelut dalam tumpukan kitab kuning dan tak pernah keluar rumah kecuali terpaksa. Sepertinya dunia literasi hanya ada bagi mereka yang ‘gaul’ dan punya koleksi buku satu lemari.

Sedangkan saya, ketika ingin membaca buku entah itu novel ataupun majalah seperti Annida ataupun Horison, saya harus antri panjang karena biasanya hanya teman-teman tertentu yang punya. Ketika saya berkesempatan membaca dan memegangnya selama 2-3 hari, saya tak ingin kehilangan. Maka saya mencatat semua hal yang bisa saya baca kembali ketika saya mulai rindu dan ingin.

Selain sering menulis novel pendek pada buku tulis, saya pun sering mengisi mading pesantren. Mengikuti kursus jurnalistik membuka pengalaman baru. Meskipun anak pesantren, bukan berarti hal-hla modern tak bisa kami jamah. Justru saya dapatkan semuanya di tempat yang sama sekali tak pernah saya sangka.

Dan mimpi-mimpi itu terus berlesatan hingga saya menikah dan menjadi seorang ibu. Sempat berpikir akan berhenti dan meninggalkan semuanya, tetapi rindu mengakar semakin dalam. Dan saya pun kembali dan memulai semuanya lewat Sekolah Perempuan.

Apa saja yang sudah saya dapatkan di Sekolah Perempuan ini?

1.      Tentu saja pengetahuan tentang seluk beluk dunia literasi serta dunia penerbitan. Tak terkecuali kita belajar lagi dari awal bagaimana cara membuat kalimat yang bukan hanya enak dibaca, tetapi juga tepat susunannya. Benar-benar seperti kembali sekolah.
2.      Pengalaman belajar yang tak terlupakan. Proses belajar yang saya dapatkan lewat webinar membuat kami para murid dan mentor seolah tak ada jarak. Akrab dan hangat walaupun kadang kami sering kehilangan karena sinyal yang tidak mendukung. Tetapi itu menjadi kenangan manis yang tak bisa dilupakan.
3.      Menuntaskan minimal 1 naskah. Sekolah Perempuan memang tidak menjamin naskah kita akan diterima begitu saja oleh penerbit. Tetapi buat saya, menuntaskan satu naskah buku saja sudah merupakan pemenang. Ya, saya berhasil menaklukkan diri saya setelah merampungkan 1 naskah buku.
4.      Pengalaman selama masa pendampingan menulis naskah buku membuat saya tahu apa kekurangan yang selama ini selalu saya ulang. Bahkan banyak hal baru yang saya dapatkan, termasuk bagaimana pahit manisnya masuk dunia penerbitan. Naskah rampung, masuk penerbit dan gagal terbit atau naskah rampung, masuk penerbit dan ditolak atau bahkan paling buruknya naskah nggak rampung-rampung? Hehe.
5.      Masuk Sekolah Perempuan membuka jalan lebih luas untuk menerbitkan buku. Setelah menyelesaikan naskah dan mengikuti materi selama beberapa kali pertemuan, saya menjadi lebih percaya diri untuk mengirimkan naskah secara mandiri. Alasannya karena di Sekolah Perempuan, kami telah diajarkan semuanya. Dan itu membuat saya jauh lebih bersemangat melanjutkan semuanya.

Tetapi, masuk Sekolah Perempuan memang butuh biaya cukup besar. Ya, besar jika dilihat dari mata uangnya. Tapi, jika dilihat dari berapa banyak yang kita dapatkan, rasanya harga bukan lagi masalah berarti, ya.

Jika teman-teman ingin masuk dan mendaftar di Sekolah Perempuan, coba persiapkan lebih matang. Jangan sampai hanya masuk dan sekadar duduk manis dan berlalu. Sayang sekali. Yakinkan bahwa teman-teman bisa menyelesaikan tantangan di Sekolah Perempuan.

Selain itu, biaya kadang kerap menjadi kendala. Coba menabung dan sisihkan uang belanja atau penghasilan sedikit demi sedikit. Jangan membeli barang yang tidak dibutuhkan. Sebab kebanyakan barang yang kita beli hanyalah karena keinginan, bukan kebutuhan. Mending uangnya disimpan dan dikumpulkan untuk belajar di Sekolah Perempuan, kan? Selain bisa mendapatkan ilmu, teman-teman juga bisa mendapatkan pengalaman berharga yang tak ternilai.


Dan kali ini, Sekolah Perempuan sudah masuk angkata 23. Selamat datang adik kelas kami angkatan 23! Semoga pengalaman menyenangkan di Sekolah Perempuan bisa menjadi harta berharga yang bisa mengantarkan kalian meraih impian. Ingat, menulis bukan soal bakat, sebab teknik menulis bisa dipelajari. Yang terpenting, menulislah setiap hari, sebab bakatmu ditentukan lewat jam terbangmu. Semangat! 

Tulisan ini diikutsertakan dalam kuis #ALUMNI_SEKOLAHPEREMPUAN #sekolahperempuan


8 comments:

  1. Berarti saya gak bisa ikut sekolah perempuan yah mba hahah

    ReplyDelete
  2. Kepala sekolahnya pasti perempuan juga yach Mbak ? :)

    ReplyDelete
  3. Oh, ini semuanya perempuan ya, keren.
    Jadi ini ada gelombangnya gitu ya, melihat poster diatas, ini sudah gelombang ke-23.
    Keren semoga makin sukses ya, Teh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul sekali...Amiin, terima kasih doanya.. :)

      Delete
  4. Wah, sepertinya menarik. Tapi selain biaya, juga harus menyiapkan waktu dan komitmen untuk menyelesaikannya.

    ReplyDelete

Powered by Blogger.