Kotak Makan Mahira

January 10, 2018

sumber


Setiap hari, Mahira selalu membawa kotak makan berwarna merah itu ke sekolah. Diam-diam, Aira memerhatikannya. Gadis delapan tahun itu ingin sekali menanyakan kepada Mahira, bekal apa yang dibawanya setiap hari dari rumah?

Mahira selalu lahap menyantap isi kotak makannya. Sedangkan Aira dan teman-teman yang lain selalu berebut dan antri membeli makanan di kantin. Mahira tampak tidak peduli dengan makanan yang sering diperebutkan oleh teman-temannya. Karena itulah, Aira jadi penasaran.

Saat jam istirahat, Aira menghampiri Mahira dan bermaksud mengajaknya pergi ke kantin sekolah. Tetapi Mahira menolaknya dengan halus.

“Aku sudah bawa bekal dari rumah.” Kata Mahira sambil menunjuk kotak makannya yang berwarna merah.

“Memangnya kamu tidak ingin membeli makanan seperti yang lain?” bujuk Aira.

Mahira menggeleng, “Ibu sudah membuatkan bekal untukku. Masakan ibu juga enak.”

“Sebenarnya apa yang kamu makan setiap hari?” Aira melongok dan meminta Mahira membuka kotak makannya.

Mahira tersenyum, “Bagaimana kalau kita makan bersama? Ibu selalu membawakan bekal cukup banyak. Ini pasti cukup mengenyangkan untuk kita berdua.

Tanpa pikir panjang, Aira langsung mengangguk. Mereka duduk berhadapan. Aira benar-benar penasaran dengan bekal Mahira. Jika memang enak, Aira pun akan meminta ibu membawakan bekal setiap hari.

“Ha? Brokoli?” Aira menjauh dan penuh tanya.

“Brokoli ini enak. Ibu menumisnya. Jika dimakan bersama nasi, kamu pasti akan ketagihan,” rayu Mahira sambil menyendok nasi dan brokoli bersamaan.

Aira tak percaya. Dia tidak suka makan sayur. Apapun itu. Selama ini, Aira hanya makan dengan telur mata sapi atau nugget ayam. Aira juga tidak suka makan buah. Menurutnya, buah tidak seenak makanan ringan yang dijual di kantin sekolah.

“Sepertinya aku harus segera ke kantin,” ucap Aira.

“Tapi, kamu belum mencobanya. Omelet bayam ini juga enak. Bukannya kamu suka makan telur?” tanya Mahira lagi sambil menunjuk potongan omelet bayam yang terpisah dari nasi dan brokolinya.

“Tapi, aku tidak suka makan sayur.” Ucap Aira lagi. Bahkan dia sangat tidak suka. Sayur rasanya hambar. Tidak seperti telur mata sapi.

“Kamu harus mencobanya. Sayuran baik untuk tubuh kita,” Mahira menawarkan lagi.

Dengan ragu Aira menerima tawaran teman sekelasnya. Dia pun mengambil sekuntum brokoli dan memasukkannya ke dalam mulut.

Mahira menunggu reaksi temannya, “Bagaimana? Enak?”

“Hmm, ternyata tidak terlalu buruk.” Jawab Aira dengan wajah berbinar.

Mereka pun menyantap bekal Mahira hingga tandas tak bersisa. Sambil tertawa dan malu, Aira mengucapkan terima kasih. Dia berjanji akan membawa bekal dari rumah dan mengajak Mahira makan bersama.


Ternyata kotak makan Mahira tak terlalu istimewa. Tidak ada yag menarik di dalamnya. Tetapi, Mahira selalu menghabiskannya. Isinya hanya lauk sederhana seperti yang selalu dihidangkan ibu di rumah Aira. Sayangnya, Aira tak pernah tahu jika makanan sederhana itu enak sampai dia mencobanya.

14 comments:

  1. Saya jadi teringat salah satu teman semasa SMA dulu. Persis seperti mahira, dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA selalu bawa makanan dari rumah. Dia cowok lho, pas ditanya kenapa, alasannya simple : Ndak tega menolak karena ibunya suka membuatkan bekal makanan untuknya. Jadinya sering sekali saya nebeng makan sama dia, irit uang saku hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, hebat sekali, demi membahagiakan ibunya. Tapi kasihan juga kalau tiap hari ditebeng..hehe

      Delete
  2. Saya smpe lulus smA bawa bekel
    Pd akhirnya bnyak temen d kleas ikut2an bawa jg
    Sya bs d itung beli mkan d kantin
    Masakan ibu gknprnh ada duanya
    Smpe skrng pun masih nawa bekel klo kerja, tp sdh jarang krna blum ada yg masakin
    Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, kalau sudah jauh pasti berasa banget kangennya sama ibu, ya..meskipun sudah berumah tangga, saya aja masih sering rindu masakan ibu..masak sendiri juga g bisa sama..

      Delete
  3. wah , hebat ay, mantap masih mau makan bekel dr rumah, dulu aku masih bekel sampai SMA tp krn kuliah di luar kota jd berhenti bekel, tp adikku sih bekel sampai kuliah juga . tp anak2ku gak suka bekel, mereka suaknya jajan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, hebat mbak bisa bekal sampao dewasa. Anak2 sy malah nggak pernah bawa uang jajan, bekal terus sekolahnya..

      Delete
  4. jadi ingat dulu semasa sekolah aku juga sering membawa bekal dari rumah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, asyik ya mbak bisa membawa bekal :)

      Delete
  5. Dulu sempat ada masa kami satu kelas kompak bawa bekal dari rumah :D

    ReplyDelete
  6. wah, saya kalau brokoli nggak tahan euy sama baunya. padahal pengen ngasih buat anak tapi jarang banget habis itu brokoli

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, padahal kalau anak sy cuma direbus biasa aja dijadikan camilan..hehe. Tapi coba ayahnya, nyentuh aja nggak berani..hihi.

      Delete
  7. Dulu pas sekolah aku jg slalu dibawain bekal. Tapi ntah kenapa akunya sendiri jrg ngabisin.. Skr aja udah jauh gini dr ortu, malah kdg kangen ama bekal2 yg dulu pernah dibawain..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau sudah jauh memang begitu ya, Mbak..sy juga sering kangen ingin pulang dan makan masakan ibu..

      Delete

Powered by Blogger.