Saturday, February 17, 2018

Tentang Kehilangan...



pixabay.com


Sebelumnya saya tak pernah membayangkan jika suatu saat saya harus kehilangan orang-orang terdekat. Mungkin sekilas ada pikiran seperti itu mengingat kematian siapa yang tahu. Tetapi menghadapinya secara tiba-tiba rasanya membuat hati jadi ngilu.

Tanggal 8 Februari kemarin, berita duka datang dari keluarga suami. Bapak mertua yang sebelumnya memang dikabarkan sakit akhirnya meninggal dunia. Sebelumnya, suami sudah memesan tiket untuk segera pulang, tetapi belum sampai dia bertemu Bapak, kematian sudah menjemput terlebih dulu.

Kaget? Pastinya. Dan lebih menyesal karena tidak sempat bertemu untuk terakhir kalinya. Tidak menunggu waktu lama, karena sulit memesan tiket pesawat secara online, akhirnya paksu segera mengajak kami berangkat. Belum selesai mengemas pakaian di dalam koper, taksi sudah menunggu dan siap mengantar ke bandara.

Terbayang betapa kalang kabutnya saat itu, tidak tahu akan pulang berapa lama, bahkan tidak tahu akan berangkat kapan karena nekat ke bandara tanpa tiket. Sampai di bandara, suami segera mencari tiket, sayangnya untuk penerbangan hari itu menuju bandara Abdurrahman Shaleh sudah ditutup. Telat. Suami duduk dengan pikiran tak keruan. Pemakaman Bapak tidak boleh menunggu kami datang. Alhamdulillah, disegerakan bahkan sebelum kami memiliki tiket.

Tiba-tiba terlintas untuk turun di bandara Juanda, Surabaya. Saya pun mengiyakan, meskipun jarak setelahnya menuju kampung halaman bisa jauh lebih lama ketimbang perjalanan naik pesawat menuju Surabaya. Alhamdulillah, hari itu juga kami bisa berangkat beberapa jam setelahnya, tepat sekitar pukul empat sore hari.

Perjalanan menuju Surabaya hanya menghabiskan waktu selama satu seperempat jam saja. Tetapi perjalanan dari bandara menuju rumah suami butuh berjam-jam. Kami baru sampai di rumah sekitar pukul 10 malam. Ketika semuanya sudah mulai sepi, dan entah kenapa bayangan Bapak menyelinap tiada henti di dalam pikiran saya.

Bertemu ibu mertua yang sudah sakit-sakitan, terlihat lelah tapi sama sekali tidak menangis. Beliau bilang, Bapak memang sudah tua, jadi biarkan saja. Mungkin Ibu juga sudah tidak tega melihat Bapak yang beberapa minggu terbaring sakit sampai hanya tersisa tulang dan kulitnya saja.

Bukan untuk pertama kalinya, ketika kami datang, Ibu atau Bapak biasanya tidur bersama kami. Karena melihat kondisi Ibu yang terlihat kesulitan dan memaksa bangun dan bangkit dari duduknya, akhirnya saya meminta beliau segera berbaring ditemani anaka-anak. Dan benar saja, keesokan harinya masalah tulang belakang yang sempat membuat Ibu terbaring, kini kambuh lagi. Dua hari setelah saya datang, beliau sempat mengeluh tiada henti saking sakitnya dan tidak bisa bergerak. Bahkan untuk batuk saja terasa sakit.

Mungkin saya cengeng, jadi selalu saja mata panas melihat kejadian itu. Sempat sampai menangis tak keruan ketika Ibu kesakitan dan semua orang mulai menyebut nama Allah berkali-kali. Alhamdulillah, setelah diperiksa, kondisi Ibu semakin membaik dan dipaksa tidak boleh turun dari ranjang.

Inilah alasan kenapa beberapa hari kemarin saya tidak lagi posting di blog. Kejadian tak terduga membuat semuanya buyar, tidak ada yang benar-benar siap jika bicara soal kematian. Meskipun kami tahu Bapak telah sepuh, tetap saja kehilangan membuat lubang dalam yang tak pernah habisnya menguras air mata.

Almarhum Bapak itu, tidak pernah meminta apa-apa, tidak pula mudah sakit hati dan selalu sederhana. Beliau memang perokok berat, tetapi selama ini tak ada keluhan selain hanya pegal. Sebelum beliau sakit, suami sempat membelikan kambing untuk dirawat, supaya beliau ada kegiatan dan tidak bosan di rumah, setelah kambing beliau mulai beranak dan gemuk, beliau jatuh sakit. Sedih mengingat hal-hal semacam itu.

Saat mengunjungi makam beliau, sedih sekali mengingat semuanya harus berakhir secepat ini. Padahal saya masih ingin bertemu Bapak dalam keadaan sehat. Tetapi justru sebaliknya, kami terlambat pulang dan tak bisa bertemu bahkan untuk terakhir kalinya dalam kondisi beliau yang sudah sakit.

Saya pernah ingat, ketika kami pulang menjelang lebaran beberapa tahun lalu, Bapak menginap di rumah kakak perempuan suami saya, bukan hanya menginap, tetapi juga menjaga rumah karena kebetulan pemiliknya sedang sakit dan dirawat. Saat suami saya menjemputnya ke sana, apa yang beliau lakukan menjelang buka puasa? Mengukus buah pepaya sebagai sajian berbuka. Antara lucu dan miris, sebab seharusnya beliau sudah tidak direpotkan lagi dengan hal semacam itu. Akhirnya suami membawa Bapak pulang dan kami berbuka puasa di rumah. Besoknya Bapak masih memaksa kembali lagi, lho. Tetapi kali ini dengan membawa bekal untuk sahur dan berbuka. Sesederhana itulah beliau.

Saat malam pertama setelah kepergian beliau, saya tak bisa tidur karena terbayang Bapak yang muncul dari pintu kamarnya dan menyapa. Pukul dua malam anak-anak baru terlelap, dan saya tak bisa tidur walaupun capek. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, bayangan Bapak berkelebat tiada henti. Tetapi, jujur saja saya tak berani membuka mata, hingga untuk kesekian kalinya suara langkah itu kembali datang. Ketika menoleh, ternyata itu suara kakak ipar saya yang tak bisa tidur juga…he. Kebetulan saya dan anak-anak tidur di ruang tengah, jadi siapa yang lewat bikin kaget bukan main.

Jadi, begini rasanya kehilangan. Hidup dan mati hanya menunggu berganti. Tidak ada yang benar-benar abadi selain yang menciptakan. Dan kematian menjadi sesuatu yang pasti tetapi selalu saja tak pernah siap dihadapi oleh siapa pun, termasuk bagi mereka yang akan merasa kehilangan.

Monday, February 5, 2018

Cerbung Tentang Kita; Menjaga Hati


pixabay.com


Ini bukan tentang seberapa tampan dirimu saat lima puluh tahun setelah kita resmi menikah. Ini bukan tentang seberapa gagah dirimu setelah masa tua menjemput. Ini tentang bagaimana kita berdua mampu menjaga hati, meski sampai wajah ini tak lagi nyaman dipandang sebab kerutan dan rambut memutih menjadi pemandangan yang membosankan. Bukankah begitu, Mas? Dan jiwa yang telah terikat dan tertambat seharusnya tak memusingkan masalah fisik. Sebab siapa pun yang kamu pilih kelak, dia pun akan mengalami hal yang sama. Tetapi hati yang suci tak akan berubah meski masa telah tenggelamkan banyak ingatan tentang indahnya kebersamaan kita…
(Raina)

Mengingat banyak hal tentang kebersamaan kita memang bukan hal mudah. Terlebih itu tentang setia yang dulu selalu kamu agung-agungkan. Memang terpikat wanita lain tak selalu karena salah dia, bisa jadi aku memang kurang bersyukur memiliki pasangan sebaik dirimu sehingga Allah menegurku. Kadang kita harus kehilangan dulu supaya tahu betapa berartinya seseorang dalam hidup kita.

Tapi, jika harus menunggu luka, rasanya terlalu menyesakkan. Aku tak pernah benar-benar ingin meninggalkanmu, Mas. Masalah bertubi yang datang menghantam biduk rumah tangga kita membuat segalanya jadi aneh, entah kenapa meski kesal dan benci, aku sering merindukanmu diam-diam.

Setelah menikah, memang bukan masalah siapa aku dulu, dan siapa kamu kemarin, yang terpenting adalah siapa kita saat ini. Dan masa lalumu itu memang cukup rumit, Mas. Dan ternyata tak semudah yang aku bayangkan bisa memaafkan semua itu, terlebih ketika orang lain dalam kehidupanmu dulu tiba-tiba saja muncul. Apa yang harus aku katakan terlebih ketika melihat kamu bercengkerama berdua dengannya? Aku memang cengeng, tak bisa menahan sesak yang tiba-tiba menghantam. Suamiku tertawa lepas bersama wanita lain. Kenyataan yang tak pernah membuat hati baik-baik saja.

Menyalahkan dia sebagai penyebab semua ini rasanya terlalu jauh. Aku belajar untuk tidak mengkambinghitamkan siapa pun, termasuk perempuan itu. Masalah ini bisa jadi kita berdua memang sudah memulainya lebih dulu, dan dia masuk di antara celah kecil yang telah kubuka.

Selama beberapa hari menjaga buah hati kita di rumah sakit, kamu selalu menunjukkan penyesalan yang pada akhirnya membuatku luluh. Sayangnya, luka itu memang bisa dengan mudah sembuh tetapi akan sangat sulit sekali dilupakan. Jika saja kamu tahu, hal semacam ini sebenarnya tak banyak merubah keadaan kita. Atau memang aku saja yang sulit memaafkan?

Ketika kamu tertidur pulas di sofa berwarna abu-abu itu, aku merasakan ada banyak penat menggelayuti wajahmu, Mas. Sepertinya kita terlalu lama berkonflik sampai tak tahu jika kebersamaan kita saat ini adalah kebahagiaan yang tak terkira. Ketika diam-diam aku menatap wajahmu lekat, sepasang mata itu terbuka, kemudian tersenyum. Aku bisa meraba jantungku yang sempat lepas kendali dan segera berpaling, pura-pura mengantuk dan tertidur. Tetapi diam-diam kamu menatapku. Balasan yang tak pernah kusangka sejak terjaga satu jam sebelumnya.

Karena merasa risih diperhatikan terlalu lama, aku pun memberanikan diri membuka mata dan memelototimu, kamu balas tertawa. Dan enyah sudah rasa sakit yang kemarin serupa batu besar menghantam hati. Sesederhana itulah penyelesaian dalam hubungan kita. Ketika gunung es sudah mencair, apapun akan terasa lebih ringan. Bukan begitu, Mas?

Ini bukan tentang seberapa cantik dirimu setelah usia setengah abad pernikahan kita, tetapi seberapa kuat aku menahan diri untuk tidak berpaling kepada perempuan lain. Menjadi bagian dari keluarga kecil kita sejatinya sudah merupakan hadiah tak terkira, tetapi dalam beberapa keadaan, aku sering lupa dan mengabaikan apa itu setia. Aku rindu bersitatap denganmu, aku rindu mendengar omelanmu setiap pagi, ketika kamu merapikan kancing kemejaku dan bersiap menyiapkan sarapan. Bukankah kamu memang istri yang sangat cerewet? Setidaknya karena itulah aku masih bertahan di sini, Rai. Jangan lelah menemaniku, mungkin suatu saat aku akan membuatmu kesal lagi, tetapi jangan pernah habis memaafkan semua kesalahanku, sebab kenyataannya aku tak pernah bisa berpaling.
(Bagas)


-Tamat-

Sunday, February 4, 2018

Memilih Sekolah yang Tepat Untuk Buah Hati


sumber


Apa yang paling berkesan saat teman-teman masuk Sekolah Dasar? teman-teman yang kocak?  guru super killer yang bisa menyayat hati atau teman sebangku yang tak terlupakan?

Buat saya, sekolah memang haruslah dijalani dengan bahagia. Sejak masuk Sekolah Dasar, saya termasuk anak yang penakut banget masuk kelas. Nggak terlalu mudah bergaul, dan cengeng pula. Sekolah kadang menjadi salah satu hal menakutkan, sih. Pernah ingat juga bagaimana teman-teman suka mengolok, termasuk memanggil nama saya dengan nama orang tua. Ya, terbahak sambil mau nangis..kwkwk.

Saya pun termasuk anak yang nggak mau sekolah hanya di tempat yang sama. Sejak masuk SMP, saya sudah minta pindah. Padahal saya bukan pemberani, cuma pengen pendidikan yang kualitasnya jauh lebih baik sudah mulai terasa aja saat itu. Kebayang aja sih pas SD, ada guru yang sukanya bilang, “Yuk, pulaang,” senang sih senang, tapi pada akhirnya sering pulang cepat dan nggak dapat materi pelajaran memuaskan lama-lama menyulitkan kita juga, ya.

Beruntungnya saat SMP saya sudah pindah ke sekolah lain dengan keberanian dikerahkan sepenuhnya, mulai mengurangi tingkat kecengengan serta hemat jajan karena harus naik angkot sedangkan orang tua nggak bisa ngasih uang saku lebih. Akhirnya setiap hari hanya jajan permen beberapa bungkus saja…hihi..Saya nggak merasa kurang suatu apapun saat itu meskipun kebanyakan diam di kelas bukan karena nggak suka jajan ketika jam istirahat tetapi lebih karena uang jajan nggak cukup walaupun hanya buat beli satu buah gorengan. Dan hal yang paling aneh, saya dan beberapa teman saya justru dijuluki anak yang rajin karena setiap jam istirahat hanya di kelas, buka LKS, bahas soal…hihi. Mereka nggak tahu sebagian di antara kami sebenarnya nggak bisa bayar kalau sampai nyomot gorengan di kantin… :D

Alhamdulillah, meskipun banyak hal harus diperjuangkan, tetapi saya membuktikan bahwa semua itu bukan jadi halangan buat berpestasi. Ngejar peringkat satu bukan satu-satunya alasan karena ingin jadi terbaik, lho. Justru itu saya kejar sekuat tenaga karena ingin meringankan beban orang tua. Dulu, kalau dapat peringkat pertama, kita tak perlu bayar SPP sampai setengah tahun. Kan lumayan banget buat orang tua saya yang penghasilannya pas-pasan.

Dan memang kerja keras pastilah membuahkan hasil yang manis meskipun kadang kita tak pernah tahu kapan itu akan bisa diraih.

Belajar dari masa lalu, kadang tak semua sekolah yang terlihat ‘WAH’ dari luar juga tampak sama di dalamnya. Saat menikah dan tinggal di Jakarta, saya tentu tak punya banyak kenalan dan pengalaman, nggak banyak tahu sekolah yang baik dan murah di mana. Yang ada justru mahal banget..hehe.

Yang jelas, saya memilih sekolah islam karena memang saya dan suami memang alumni sebuah pesantren dan materi agama yang lebih banyak tentu menjadi salah satu keutamaan yang kami kejar. Memang ada banyak sekali TKIT ataupun SDIT yang mahal dan mentereng, tetapi bukan berarti semuanya bagus setidaknya sependek yang saya tahu dan berdasarkan pengalaman teman-teman baru saya di sini.

Saya dan suami memang belum menghafal Al-Quran, tapi saya ingin anak-anak bisa hafal. Setidaknya mereka bisa mencobanya di sekolah. Nah, keberuntungan itu pun akhirnya kami dapatkan ketika menemukan sekolah buat si sulung. Alhamdulillah, di sana tenaga pengajarnya sangat ramah, baik serta sopan. Sedangkan materi untuk TK sangat sesuai. Nggak pernah pulang bawa PR sebab sy juga tahu anak TK sebaiknya tidak mendapatkan pekerjaan rumah itu.

Di sana juga anak-anak dilatih membaca sesuai tahap usianya, nggak memberatkan bagi anak-anak. Saya bersyukur, memang apa yang saya cari sudah sangat terpenuhi hampir seluruhnya di sekolah tersebut, barakallah.

Tahun ini merupakan tahun pertama bagi si sulung melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar. Alhamdulillah, setelah melakukan serangkaian tes, dia berhasil masuk SDIT di yayasan yang sama yang dia suka dan dia inginkan.

Dalam serangkain tes, setahu saya, nilai IQ bukan jadi patokan mereka diterima atau tidak. Tetapi justru kematangan serta kesiapan mereka itulah yang menentukan. Misalnya saja ketika psikotes ada sebagian yang nggak bisa mengikuti perintah gurunya, nangis nggak mau ngapa-ngapain sampai dengan suka-suka dia aja. Nah, kebanyakan yang seperti inilah yang akhirnya nggak lolos.

Untuk masuk sekolah juga ditentukan minimal usia berapa. Saat itu, si sulung sudah masuk 6,5 tahun. Tidak terlalu kecil dan juga tidak terlalu besar. Setelah tes, mereka pun akan dikelompokkan dalam dua kelas berbeda. Di mana pemisahan kelas ini sebenarnya ditujukan untuk mempermudah proses belajar mereka. Kenapa harus begitu? Karena setiap anak punya gaya belajar yang tidak sama. Dari hasil psikotes itulah juga ditemukan setiap anak memiliki gaya belajar apa dan lebih condong ke mana.

Misalnya saja si sulung, dia termasuk visual dan audio. Tetapi memang dia lebih condong visual. Anak-anak tipe visual tentu tidak sama gaya belajarnya dengan anak tipe audio. Makannya, pengelompokan ini buat saya sangat membantu sekali…

Dalam proses belajar mengajar, saya perhatikan si sulung benar-benar mendapatkan apa yang dia butuhkan. PR ada tapi jarang sekali, paling seminggu sekali itu pun kadang-kadang saja. Kenapa sih dari tadi sibuk ngurusi PR? Karena setahu saya, kebanyakan PR itu berdampak negatif buat anak-anak usia dini termasuk buat putra saya. Jadi, bersyukurnya saya bisa menemukan sekolah yang tepat meskipun saya bukan orang yang lama menetap di Jakarta.

Sekolah si sulung juga lumayan jauh dari rumah. Tetapi, itu bukan kendala. Banyak orang yang bertanya, kenapa sih sampai sekolah ke sana? Kan di sini juga banyak. Memang banyak tetapi pastilah tidak serupa seperti yang saya harapkan.

Sebagai orang Islam, saya tentu tidak mau anak hanya sekolah dan dapat materi umum saja, saya juga mau anak saya sekaligus bisa mengaji meskipun setiap hari dia belajar bersama saya. Tetapi menambah ilmu agama itu sangat penting. Nah, di sekolah si sulung, mengaji dan setor hafalan surat dalam Al-Quran memang dimasukkan dalam jadwal rutin. Jadi setiap hari pasti ada jamnya.

Jadi, buat saya, selain memilih sekolah yang terjangkau, ilmu agama serta guru professional juga sangat utama. Nggak populer bukan masalah asalkan anak-anak bisa medapatkan apa yang mereka butuhkan sesuai dengan tahap perkembangannya. Nggak muluk-muluk, cukup yang seperti ini sudah sangat cukup buat saya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-14 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Saturday, February 3, 2018

Reuceuh Mentimun Tauge




Apa sih reuceuh ini? Saya sampai susah sekali menulis namanya..he. Reuceuh ini sebenarnya kalau menurut saya yang orang Jawa Timur mirip banget sama rujak manis. Hanya saja kalau ini isiannya menggunakan irisan mentimun dicampur sama tauge yang sudah disiangi.

Kalau ditanya enak? Tentu saja ini enak pake banget, lho. Apalagi saya yang doyan banget makan pedas. Lebih enak lagi kalau dimakan bersama krupuk yang sedikit dihancurkan. Mentimun memang punya banyak manfaat juga bagi kesehatan. Selain bisa menurunkan tekanan darah, mentimun juga bisa menurunkan kadar kolesterol jahat.

Untuk kudapan berbahan dasar mentimun, reuceuh ini sudah pas banget, lho. Saya sendiri pun sampai ketagihan makan ini. Apalagi kalau dimakan bersama sahabat atau saudara, biasanya kalau sudah kumpul keluarga, makanan seperti inilah yang paling laris manis.

Karena kebetulan jarang berkumpul sama keluarga, jadilah saya hanya membuatnya dalam porsi kecil saja. Kalau teman-teman mau coba membuat lebih banyak, bisa membuatnya dalam porsi dua kali lipatnya atau bahkan lebih.

Bahan:
4 buah mentimun ukuran sedang
1 genggam tauge, siangi
2 sdm air asam jawa

Haluskan bumbu:
10 buah cabe rawit merah
2 siung bawang putih
½ bulatan kecil gula merah
½ sdt terasi bakar
Sedikit garam

Cara membuat:
1. Cuci bersih mentimun serta tauge. Iris mentimun sesuai selera
2. Haluskan bumbu kemudian beri air asam jawa. Tes rasa sampai rasanya pas.
3. Campur bumbu dengan mentimun yang sudah diiris serta tauge yang sudah disiangi. Aduk rata dan sajikan bersama krupuk.



Itulah cara mudah membuat reuceuh mentimun tauge yang bisa teman-teman coba. Ini merupakan kudapan tradisional yang mudah banget dan enaak banget. Apalagi dimakan siang-siang seperti sekarang.

Yuk, ah dicoba dulu..selamat mencoba!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-13 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Friday, February 2, 2018

Banana Muffin, Super Simpel dan Yummy!




Banana muffin ini sebenarnya dibuat demi memanfaatkan pisang yang sudah menghitam dan nggak ada lagi yang mau menyentuhnya. Huhu, kasihankan si pisang kalau sampai nggak dimakan dan akhirnya terbuang sia-sia. Mubadzir banget.

Resep ini pertama kali saya dapatkan di Cookpad dari akunnya ci Tintin Rayner. Membuat ini gampang banget, lho. Hanya tinggal diaduk saja tidak perlu pakai mixer. Tapi, perlu diingat mengaduknya santai dan secukupnya saja, supaya hasilnya tidak bantat.

Teman-teman bisa menggunakan pisang apa saja. Kebetulan di rumah ada pisang ambon berukuran cukup besar. Nanti pisangnya cukup dilumatkan saja dengan garpu. Saya pun menghancurkannya nggak sampai haluus banget kok. Masih ada bagian pisang yang belum halus bukan masalah asal nggak besar-besar banget, ya.




Kalau mau mencoba, sambil menyiapkan bahan sebaiknya sambil panaskan ovennya ya suhu 180’C. Yuk, kita bikin.

Bahan A:
3 buah pisang ambon besar
1 butir telur ukuran besar
100-110 gr gula pasir
85 gr butter atau margarin, cairkan
1 sdt vanilla essence
Bahan B:
190 gr terigu serbaguna
1 sdt baking powder double action (sy pakai 1 ½ sdt yang biasa)
½ sdt baking soda
Secukupnya chocohip atau kismis

Cara membuat:
1. Lumatkan pisang kemudian campur dengan bahan A sampai gula larut. Gunakan wisk.
2. Ayak bahan B kemudian buatlah lubang di tengah dan tuang bahan A. Aduk dengan wisk pelan sampai rata.
3. Masukkan chocochip dan aduk kemudian tuang dalam cup yang sudah disiapkan. Jangan terlalu penuh karena nanti akan mengembang, ya.
4. Panggang selama kurang lebih 25-30 menit tergantung ovennya, ya.
5. Angkat dan sajikan.



Mudah banget, lho. Rasanya pun enak. Kemarin jadinya 9 cup kecil dan 3 cup besar. Besoknya dibawa untuk bekal si sulung dan dibawa sama paksu buat dimakan bareng temennya..he. Alhamdulillah, senanngnya baking kalau laris manis seperti ini, ya. Capeknya terbayar sudah. Padahal kalau bikin ini sih nggak capek…hihi.

Selamat mencoba, happy baking!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-12 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Thursday, February 1, 2018

Nagasari, Si Legit yang Menggoda




Pernah makan nagasari? Kalau zaman saya kecil dan masih di rumah orang tua, setiap ada acara hajatan, kue tradisional ini selalu disediakan buat pelengkap kue lainnya. Bahannya pun mudah dan rasanya tentu saja enak. Jangankan yang sudah diisi pisang, adonan tepungnya yang sudah dimasak saja enak banget, lho. Apa karena saya doyan aja, ya? Hehe.

Ternyata membuat kue satu ini juga nggak susah. Zaman sekarang, banyak juga yang membuat nagasari dengan cara dikukus di dalam pinggan tahan panas bukan dibungkus daun pisang. Kalau saya pribadi masih lebih suka tampilan jadulnya karena daun pisang ketika dikukus juga memiliki wangi yang khas.

Tapi, kalau tidak ada daun pisang, cara satu ini juga bisa dicoba, lho. Membuatnya pun nggak berbeda jauh dengan yang dibungkus daun. Resep ini sudah pernah saya posting di cookpad. Sekarang saya tuliskan kembali buat teman-teman barangkali ada yang ingin mencoba.

Bahan:
100 gr tepung beras
50 gr tepung tapioka
75 gr gula pasir
350 ml air
1 bungkus kecil santan instan
1 lembar daun pandan
1 bungkus kecil vanili
¼ sdt garam
Secukupnya pisang

Cara membuat:
1. Campur santan dan air kemudian nyalakan api kecil. Masukkan juga gula pasir, vanili, garam serta daun pandan.
2. Masukkan tepung beras dan sagu. Aduk rata sampai tidak bergerindil dan adonan menjadi padat.
3. Setelah adonan mulai padat dan menyatu, matikan api.
4. Ambil selembar daun pisang sebagai alas pada loyang tahan panas. Masukkan adonan tepung beras dan ratakan, kemudian letakkan pisang yang sudah diiris. Kemudian tutup dengan adonan tepung beras kembali. Tutup dengan daun dan kukus sampai matang sekitar 20 menit.
5. Angkat dan biarkan dingin, barulah dipotong sesuai selera.



Itulah cara membuat kue tradisional nagasari yang enak dan legit. Makanan ini bisa kita kenalkan kepada anak-anak zaman now yang jarang kenal sama makanan tradisional. Kalau perlu ajak mereka ikut membuat dan membungkusnya. Mereka pasti suka makan makanan yang mereka buat sendiri, lho. Agak ribet sedikit nggak masalah, asalkan mereka senang. Toh emak-emak sudah biasakan serba ribet? Hehe.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-11 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Wednesday, January 31, 2018

Dari Antologi hingga Media Online




Alhamdulillah, mengawali tahun 2018, beberapa buku antologi baik menang lomba di beberapa penerbit sampai kumpulan cerita anak bersama kelas menulis cernak akan terbit. Beberapa justru sudah terbit dan sampai ke rumah dengan selamat, alhamdulillah.

Punya cita-cita menjadi penulis buku memang ada sejak SMA. Entah kenapa, senang sekali membaca puisi, menulis cerpen dan apapun yang berhubungan dengan dunia literasi. Alhamdulillah, tahun ini memang lumayan banyak buku yang akan terbit dan sedang dalam proses. Senang? Tentu saja senang walaupun ini bukan pencapaian akhir yang ingin saya raih. Masih ada banyak mimpi yang belum terwujud, termasuk menulis buku solo yang dulu sempat masuk penerbit dan pada akhirnya gagal terbit. Rasanya kayak bisul yang mengganggu, nggak bisa hilang dan tersimpan sampai sekarang. Bagaimana rasanya menyimpan bisul? Hehe.



Nah, untuk tahun ini, saya memang lebih banyak memberikan konstribusi di media online. Awalnya sih hanya mencoba bagaimana menulis artikel dan diterbitkan di media online. Banyak pengalaman baik bagi saya dan teman-teman yang pada akhirnya membuat kami justru betah di sana. Termasuk setelah kemarin kami dalam sebuah tim berhasil menulis 100 artikel dalam seminggu. Menunggu detik-detik terbitnya beberapa artikel yang penulisannya belum beres rasanya mules juga, yaa..hihi. Terlebih sudah hampir lewat jam 12 malam.

Meskipun begitu, mulai besok saya akan memulai lagi hal yang sama hingga seminggu ke depan. Ya, 100 artikel dalam seminggu dan bertema fashion. Selain itu, saya pun mengikuti semacam kompetisi dengan menulis lebih banyak artikel di akun pribadi saya dan total PV minimal harus mencapai 10 ribu. Alhamdulillah, kemarin untuk 1 artikel sudah lebih dari 20 rb PV bahkan terus bertambah hingga saat ini.


Serunya di mana menulis artikel untuk media online ketimbang menulis buku? Serunya karena ada sensasi ‘WAH” yang nggak bisa didapat ketika menulis buku, terutama jika bukunya gagal masuk penerbit..hehe. Keduanya tentu nggak bisa dibandingkan, ya. Karena keduanya adalah hal berbeda dan sama-sama menyenangkan. Mungkin saya termasuk bukan tipe penyabar sehingga selalu saja ingin mencoba banyak hal. Jika dulu saya suka menulis fiksi berupa cerpen, pelan-pelan saya mulai mencoba menulis nonfiksi, dan buku pertama saya dulu merupakan perpaduan antara fiksi dan nonfiksi.

Setelah itu, saya mencoba mengikuti kelas menulis cerita anak. Dan beberapa buku antologi cerpen anak pun akan segera terbit juga tahun ini. Dan terakhir banget yang saya mulai pertengahan November adalah masuk media online dan menulis artikel di sana sampai sekarang.



Pencapaian apa yang sudah saya dapatkan di Uc News? Pertama, awal mendaftar saya masuk lewat jalur undangan dari KBM (Komunitas Bisa Menulis). Yang awalnya katanya mau dibuatkan grup dan dilatih. Tetapi setelah menulis sekitar 4 artikel dan masuk dengan coba-coba sendiri, sampai detik ini pun belum ada grup yang dijanjikan. Sempat kecewa dan malas mau melanjutkan menulis di sana, tapi Allah membuka jalan lain.

Saat itu, IIDN atau Ibu-ibu Doyan Nulis pun membuka jalur undangan untuk masuk dan bergabung bersama Uc News. Nggak mau ketinggalan saya pun ikut masuk ke dalam grupnya. Dan saat itu, teh Indari (CEO Indscript) meminta saya sharing di grup mengenai bagaimana menulis artikel di Uc News, supaya lolos dan beberapa hal lainnya. Awalnya saya menolak karena jujur saja saya mempelajari semuanya sendiri, jadi nggak bisa dibilang oke kemampuannya..hihi. Tapi, akhirnya saya pun mengiyakan, ya kita sharing bareng, belajar bareng, saya pun nggak banyak pengalaman. Akhirnys masuklah saya di grup baru yang justru menjadi awal mula saya mulai serius di Uc News sampai saat ini.

Awalnya saya hanya bisa posting 1 artikel  saja perhari. Kemudian naik peringkat menjadi lanjutan, perak hingga emas. Ada hal lain juga yang menjadi kendala waktu itu, yaitu mengenai kategori awal yang saya pilih. Saya memilih edukasi dan nggak nyangka ternyata edukasi itu benar-benar berhubungan dengan dunia pendidikan, lho..he. Sayanya aja yang nggak pinter-pinter..kwkwk. Saya pikir edukasi bisa berarti apa saja, termasuk mengedukasi orang tua mengenai dunia medis.

Nah, karena nggak banyak artikel tema pendidikan yang saya tulis, akhirnya peringkat pun susah naik. Hasilnya, artikel saya isinya gado-gado, ada artikel pendidikan, sosial, lifestyle hingga inspirasi. Nggak bangetkan?

Lama-lama saya baru tahu jika rekomendasi dari Uc bisa juga menaikkan peringkat dan poin asalkan konsisten. Akhirnya setelah coba dan mencoba, saya menulis lifestyle setiap hari, alhasil poin naiknya cepat dan peringkat pun ikutan naik juga. Senangnyaaa…*keseringan nyoba-nyoba sih..hihi.

Memang saya merupakan penulis yang naiknya pelan-pelan aja, nggak kayak roket tetapi melajunya pasti *eaaa…hehe. Bulan ini, dua artikel saya masuk 10 kontributor lifestyle terbaik, saya pun terpilih menjadi salah satu peserta training (tapi saya nggak bisa datang), mendapatkan peringkat poin kompetisi, mendapatkan VIP gathering invitation, ikut tim menulis Perempuan Menulis, akun saya sudah diverifikasi dan tentunya pendapatan yang sudah bisa diambil.

Kalau hanya mengejar keuntungan, saya menyarankan jangan masuk di sini, karena butuh kesabaran banget buat mendapatkan keuntungan. Tapi, kalau teman-teman senang melakukannya dan menikmati sebagai sarana belajar, silakan saja. Insya Allah akan menyenangkan karena Uc News memang banyak memberikan bonus dan sering mengadakan kompetisi.

Mungkin ini cuma pembenaran dari saya saja sebagai orang yang sedang senang-senangnya menikmati kegiatan menulis artikel melalui media online, ya, menulis itu nggak harus menjadi penulis buku (ambil kalimat mentor saya), menulis itu bisa di mana saja. Dan saya pun setuju untuk hal ini. Apapun kalau dinikmati tentu akan berbuah manis dan menyenangkan. Jika kita menanam, pastilah nanti akan memetik buahnya. Yang penting menulislah yang bermanfaat.

Terima kasih sudah membaca kisah saya, ini hanya sharing sedikit mengenai pengalaman menulis selama ini. Semangat terus dan pantang menyerah, ya!


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-10 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Tuesday, January 30, 2018

Saling Melengkapi dalam Pengasuhan Buah Hati


pixabay.com


Hal yang patut saya syukuri adalah memiliki pasangan yang mau berbagi tugas, bukan hanya soal mengurus rumah, tapi juga mengenai pengasuhan anak-anak.

Mugkin karena sejak SMP suami sudah ikut orang lain, dia pun mejadi pribadi yang sangat mandiri. Untuk menikah dan meminang saya pun, dia sama sekali tidak mau dibantu oleh orang tua. Di sini kadang saya bersyukur, hal yang pada akhirnya mau tak mau membuat saya harus menjadi pribadi yang sama.

Belum lagi karena kami memang tinggal jauh dari orang tua dan mertua, apa-apa benar-benar harus dilakukan sendiri, termasuk ketika anak sakit dan bagaimana model pengasuhan yang kami lakukan. Meskipun tak bisa dibilang sempurna, tetapi suami sudah membantu lebih sejak saya hamil hingga saat ini.

Ketika baru melahirkan, dia mau membantu memandikan bayi merah yang bahkan belum puput tali pusarnya, hal yang neneknya pun nggak berani lakukan. Hingga dia pun mau mengganti popok. Saya berterima kasih, sebab awal persalinan kadang kami hanya berdua saja sampai orang tua datang berkunjung. Jika bukan dia, lalu siapa? Sedangkan jahitan masih perih dan bikin ngilu. Nggak usah dibayangin, yaa..he.

Buat saya, ayah tidak bisa digantikan posisi pengasuhannya oleh seorang ibu. Keduanya memiliki dua hal berbeda yang bisa saling melengkapi tapi tidak bisa saling menggantikan. Saya dan suami pun bukan orang tua yang pandai soal ilmu parenting. Tapi kami sepakat melakukan dan mencari jalan keluarnya berdua.

Dalam keseharian, saya membantu si sulung sendiri. Dia belajar mengulang pelajaran di sekolah bersama saya hingga mengaji pun juga di rumah. Bukannya saya sok pintar sampai tidak memanggilkan guru ngaji atau menyuruh dia ngaji di TPQ mana, dulunya saya pun belajar mengaji bersama ibu meskipun di depan rumah ada mushalla. Jadi hal semacam ini pun ingin saya ulang ketika saya memiliki anak. Alhamdulillah, si sulung mengaji dengan benar di usianya yang saat ini masuk 7 tahun.

Sedangkan suami yang harus berangkat mulai pukul enam pagi hingga jam 7 malam, hanya sebentar bertemu, tetapi meski begitu kebersamaan kami tetap baik. Anak-anak selalu menyambut penuh antusias ketika ayahnya datang. Bisa jadi bukan hanya karena rindu, tapi bosan melihat saya terus seharian..he.

Menjadi orang tua memang tidak ada sekolahnya, tetapi kami sama-sama belajar untuk saling melengkapi dan menyempurnakan. Jika suami tahu sedikit tentang ilmu parenting, dia dengan senang hati membagikannya kepada saya, begitu juga sebaliknya.

Kami pun masih belum bisa disebut orang tua terbaik, sebab kadang masih keceplosan jengkel ketika anak-anak berulah, tetapi semoga kebersamaan dan saling mengingatkan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan ke-9 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Monday, January 29, 2018

Kota Impian


sumber


Bagi umat islam, Makkah merupakan salah satu tempat yang sangat ingin dikunjungi. Termasuk saya. Membayangkan berangkat dan ibadah di sana rasanya sangat membahagiakan, terutama jika kita bisa berangkat bersama pasangan dan anak-anak.

Percayakah teman-teman jika orang yang mampu beribadah dan menjejakkan kakinya di sana bukan hanya karena mereka kaya dan mampu dalam hal biaya? Saya sangat percaya itu. Ibu dan bapak saya hanya seorang petani yang makan siang dan malam berlauk ikan asin dan tempe saja. Tapi, karena keinginan kuat ibu untuk berangkat haji, beliau tidak perlu menjadi orang lain yang lebih mampu. Dan alhamdulillah, beliau menunaikan kewajibannya saat saya masih di bangku Sekolah Dasar.

Memang banyak yang pada akhirnya dikorbankan, tetapi pergi ke Makkah dan melaksanakan ibadah haji bukan hanya sekadar ingin, tetapi memang kewajiban sebagai seorang muslim yang sering kali terkendala oleh biaya.

Sejak menikah dan memiliki rumah, hal pertama yang diharus diperjuangkan bukan memiliki mobil dan kendaraan mewah lainnya. Tetapi daftar haji. Kalau kita mampu membeli mobil, bukankah seharusnya kita juga mampu pergi haji?

Nah, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang sangat peduli, jadi kami senantiasa diingatkan supaya segera dan lekas-lekas mendaftar. Awalnya saya hanya patungan dengan suami. Menggunakan uang tabungan untuk mendaftar haji. Yang penting kami sudah berusaha meskipun belum sepenuhnya mampu membayar dan mendaftar.

Qadarallah, Allah mudahkan sampai kami bisa mendaftar. Dan masa tunggu yang sangat panjang bukan berarti kita tak mau menunaikan, itu bukan masalah yang kita buat, tetapi memang keadaannya demikian, sehingga jika pun kita belum berangkat, insya Allah niat itu sudah benar-benar terpenuhi.

Dan Makkah menjadi tempat impian di mana kami bisa melihat Ka’bah secara langsung. Melihat teman-teman sudah menunaikan kewajiban dan sampai ke sana, rasanya rindu dan sangat ingin. Belum lagi ketika membaca banyak kisah pengemudi becak yang bisa naik haji berkat tabungannya yang tak bisa dibilang banyak tetapi toh pada akhirnya mereka benar-benar bisa berangkat berkat keinginan yang sangat kuat.

“Allah tidak memanggil yang kaya dan punya, tetapi Allah memanggil mereka yang ingin, yang rindu dan punya usaha keras untuk mencapainya, bahkan jika itu terlihat mustahil sekalipun.”

Bagi saya, Makkah adalah tempat impian yang mungkin saat ini belum bisa saya kunjungi. Saya pun tak pernah berhenti berdoa, berharap supaya masih diberi umur panjang untuk menjejakkan kaki di sana, minum air zam-zam, shalat, membaca Alquran di sana, mendengar suara adzan yang merdu dan melihat kemegahan kota Makkah yang pastinya dirindukan banyak orang.

Semoga keinginan yang kadang terlihat sulit bahkan tidak  mungkin bisa dicapai itu menjadi amat mudah diraih berkat keinginan kita yang kuat. Amiin. Jangan pernah berhenti berdoa, Allahlah pemilik segalanya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam tantangan hari ke-8 #SatuHariSatuKaryaIIDN bersama komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis

Bolu Mekar Ekonomis, Mekarnya Ikhlas Banget!







Alhamdulillah, senangnya akhirnya bisa posting bolu yang tertawa terbahak setelah sebelumnya saya cuma dilihatin sinis gitu sama si bolu..hihi.

Saya coba ganti resep lain dan hasilnya lembut pake banget dan mekarnya ikhlas banget, alhamdulillah. Kayak saya yang bikin, penuh keikhlasan dan ketenangan.. *apa sih :D

Sayangnya, bukannya tanpa hambatan, lho. Ternyata panci kukusan saya terlalu imut sampai-sampai dia kepentok tutup yang telah saya bungkus dengan lap bersih..hiks. Nggak tega lihat bagian atasnya kejedot gitu. Belum lagi saking lembut dan mekarnya, beberapa bagiannya patah, ada juga yang tumpah karena pas saya masukin kukusan ternyata cupnya jatuh. Patah hatilah saya..tapi, ternyata itu nggak menyurutkan keihklasan si bolu ini, meskipun sebagian luber, setelah dikukus dia tetap merekah cantik banget..senangnyaa hati ini… :D



Resep ini tergolong ekonomis karena hanya pakai 1 telur saja. Membuatnya pun nggak dipisah-pisah, jadi sekali kocok aja. Rasanya…tadi sudah masukin ke mulut ternyata lupa saya lagi puasa…hehe. Ini memalukan banget, yak *tutup muka pakai panci

Lihat, adonannya nanti berubah kental dan putih seperti ini

Kalau teman-teman mau mencoba, silakan perhatikan ukuran cup harus sesuai cetakan, kalau bisa gunakan cetakan berlubang yang lumayan tinggi itu, ya. Panci kukusan pastikan sudah benar-benar panas ketika kita memasukkan adonan, tutup dibungkus dengan kain bersih, api harus besar dan jangan memasukkan air terlalu banyak supaya letupannya tidak mengenai bagian dasar cup bolunya. Dan satu lagi, supaya cup kertasnya rapi, masukkan ke dalam cetakan, tumpuk dengan cetakan lainnya sampai habis cetakannya, agak ditekan supaya cup kertasnya jadi rapi.

Untuk warna, teman-teman bisa menggunakan sesuai selera, ya. Saya hanya pakai warna putih tanpa pewarna dan sedikit warna ungu. Silakan dicoba resepnya…

Bahan:
200gr terigu serbaguna
180-200 gr gula pasir (Saya pakai sekitar 190 gr)
150 ml susu cair
1 butir telur
½ sdm SP
Sedikit vanilla essence

Cara membuat:
1. Campurkan semua bahan kecuali SP. Mixer sampai gula mulai larut sekitar 5 menitan. Kemudian masukkan SP dan mixer sampai kental sekitar 10-15 menit.
2. Ambil sebagian adonan dan beri pewarna makanan. Aduk lipat kemudian dengan spatula.
3. Masukkan adonan putih ke dalam cup sampai seperempatnya. Kemudian tambahkan adonan berwarna ungu hingga penuh. Sayang saya nggak sempat foto pas sudah dimasukkan cup. Sudah heboh sama si adek yang bangun.
4. Masukkan ke dalam panci kukus. Jangan terlalu penuh, sebaiknya beri jarak yang longgar supaya nggak saling nempel dan patah. Kukus selama kurang lebih 15 menit.
5. Keluarkan dan sajikan.




Itulah resep mudah membuat bolu mekar yang ikhlasnya kebangetan *lebay. Teman-teman bisa mencobanya, insya Allah untuk resep ini nggak terlalu mengkhawatirkanlah, ya. Jika ragu, sebaiknya baca doa dulu dan tersenyum sebelum mencobanya.. :D