Menambal Luka Hati Ibu

December 14, 2017





Rinjani terkejut, untuk pertama kalinya dia mendengar suara sesengguk tangis ibu dari telepon. Biasanya, seminggu dua kali, dia memang selalu menghubungi ibunya demi melepas rindu dan bertanya kabar.

Setelah menikah dan berumah tangga, Rinjani jadi jarang pulang ke rumah karena jaraknya yang tidak mudah ditempuh. Karena itulah, Rinjani selalu berusaha menghubungi ibu meski hanya dengan beberapa kalimat pelepas rindu dan bertanya kabar keluarga.

Tapi, kali ini dia sedikit khawatir sebab tak pernah terjadi sebelumnya. Ibu menangis? Kenapa? Ada apa?

Rinjani sangat paham siapa ibunya. Meskipun bukan orang berada, tapi ibu dan bapak selalu membantu anak-anaknya bahkan yang telah berumah tangga. Beliau juga tidak melepaskan begitu saja ketiga putrinya setelah menikah. Bahkan putri sulungnya dibantu membangun rumah tepat di sebelah rumah ibu. Menutup jendela kamar ibu dari hangatnya sinar mentari pagi, yang selalu Rinjani sesalkan hingga kamar ibu menjadi sangat lembab.

“Apa yang tidak untuk anak?” begitu setiap kali bapak dan ibu bilang.

Tapi, detik ini Rinjani mendengar jika ibu menangis sebab dilukai oleh putri sulungnya sendiri. Bukan hanya kaget, bahkan tak menyangka jika obrolan kemarin siang menjadi petaka di dalam keluarga besar mereka.

Sekar, kakak sulung Rinjani sempat mengeluhkan banyak hal termasuk ekonominya yang begitu sulit. Padahal, Rinjani dan suaminya telah membantu dengan dengan berbagi hasil lewat usaha ternak bebek yang saat itu dipegang langsung oleh suami Sekar. Sayangnya, belakangan Rinjani tahu, mereka tak lagi profesional termasuk tidak lagi mengirimkan laporan keuangan mengenai usaha tersebut. Dan yang lebih manyakitkan, Rinjani tahu bahwa sebagian bebek yang tidak bertelur telah dijual dan diatasnamakan milik Rinjani. Bolehkan melakukannya sedangkan Rinjani saja tidak pernah mendengar rencana itu sebelumnya?

Rinjani, mungkin masih menahan rasa geram dan memaafkan. Bisa saja Sekar sangat tidak paham dengan tindakannya selama ini. Tapi, suara serak ibu di seberang telepon cukup menjelaskan lebih banyak termasuk rasa iri dari saudara kandungnya sendiri.

Sebelum kejadian itu, Sekar pernah menanyakan kenapa Rinjani tidak mau menerima baju baru pemberian bapak? Dengan santai Sekar mengatakan bahwa dia tidak berhak mendapatkannya. Rinjani sudah punya suami, seharusnya dia yang memberikan bapak baju baru. Bukan malah bapak yang membelikan baju baru kepada ketiga putrinya.

Tapi, Sekar ternyata menjadikannya masalah besar. Padahal sebelumnya dia pun ikut menolak ketika Rinjani menolak. Ratih, kakak kedua Rinjani yang saat itu menjadi janda, tentu saja dibelikan baju baru oleh bapak dan ibu. Siapa lagi yang akan membelikannya?

Rinjani merasa semua itu adalah hal wajar termasuk ketika ibu membantu Ratih membeli kebutuhan hidupnya.

Sayangnya, Sekar tidak pernah berpikiran demikian. Entah kerasukan setan dari mana hingga dia akhirnya mengungkit semua hal termasuk biaya rumah sakit bapak yang sempat dia bayarkan beberapa tahun silam. Dan satu hal gila juga terjadi saat itu ketika Sekar tiba-tiba mengatakan akan menyerahkan  anak sulungnya kepada mantan suaminya dulu.

Ibu dan bapak yang sejak dulu mengasuh cucu pertamanya dari Sekar tentu saja tidak rela sebab mereka pun sudah paham bahwa bapak kandungnya memang tak pernah benar-benar menafkahi. Dan hingga detik ini, anak sulung Sekar menjadi tanggungan bapak dan ibu termasuk biaya sekolah dan boardingnya.

Ibu, meskipun sangat baik dan selalu diam diperlakukan seperti apa pun oleh Sekar dan suaminya, namun kali ini beliau sudah cukup memberi kesempatan. Sebelum ibu menangis di telepon, Sekar sempat bicara kasar kepada ibu dan bapak di rumahnya bahkan hingga mengangkat sumpah Quran di kepala.

Seperti tak ada bedanya dengan sinetron hidayah, Sekar gila dalam sekejap. Dia tertawa dan menangis seperti orang tak waras. Dan ibu hanya menangis di pojok kamar tidur Rinjani sambil bicara patah-patah kepada putri bungsunya itu.

Andai semua orang tahu, setiap malam ibu memasak nasi lebih hanya karena Sekar dan suaminya selalu makan di sana, mengantarkan setiap kali Sekar butuh, menjaga anak-anaknya tanpa mengeluh, mungkin orang-orang yang selama ini menuduh mereka bertengkar karena jarak rumah yang terlalu dekat akan bungkam. Apa yang tidak diberikan oleh ibu? Bahkan sebagian biaya pembuatan rumahnya dibantu langsung oleh orang tua sangat berbeda dengan kedua saudara Sekar yang mandiri.

Bukan hanya itu, ketika bapak memberikan uang untuk mengganti biaya rumah sakit yang menurut Sekar dulu telah diberikan, nyatanya gadis tiga puluh tahun itu mengambilnya dengan ringan. Tak merasa berat sedikit pun. Padahal, ibu ingat pernah membayar biaya itu sebelumnya mengingat kehidupan Sekar yang amat sulit setelah membiayai sekolah putra sulungnya.

Bukan hanya itu, ibu juga selalu memberikan hasil panennya kepada Sekar karena pengertian ibu dan belas kasihnya. Sayangnya, Sekar masih saja mengeluhkan tidak pernah diberikan apa-apa oleh ibu dan bapak sedangkan kedua putrinya Rinjani dan Ratih selalu diutamakan. Kalimat yang sungguh tidak berdasar.

Ibu, meskipun tak punya banyak uang, tapi selalu membayar setiap kali meminta tolong kepada suami Sekar. Jika menjadi anak, bagi Rinjani membantu orang tua adalah kewajiban. Bukan sebuah hutang.

Sayangnya, persepsi ini berbeda pada setiap orang. Hingga pada akhirnya, Sekar benar-benar nyata pergi dari rumah tanpa pamit dan menjadi pekerja di negeri orang meninggalkan putra sulunganya serta sang bungsu yang masih kecil.

Mengulang kesalahan di masa lalu. Sungguh tak kurang-kurang ibu merawatnya dari lahir yang selalu sakit-sakitan, sampai dewasa dan berumah tangga tak ada habisnya merepotkan. Jika saat ini ibu menganggapnya bukan anak, itu karena kesalahan besar yang sulit sekali dimaafkan.

Jika sayang anak, tak mungkin meninggalkan darah daging sendiri hanya demi rasa benci, iri dan tertekan yang nyatanya dibuat sendiri. Tak mungkin mengulang masa lalu, sebab dulu dia pernah melakukannya ketika masih bersama suami pertama. Kemudian sejak saat itu, ibulah yang merawat putra sulungnya, mengantarnya sekolah, menemani di sekolah yang tak pernah ibu lakukan saat anak-anaknya masih kecil.

Orang-orang bilang, ibu sangat baik melihat cucu pertamanya selalu tantrum dan meminta mainan di sekolah, jika tidak dituruti, jilbab ibu akan ditarik dan digilas di tanah. Membayangkan saja Rinjani tak sanggup. Kemudian pada saatnya, suami Sekar datang ke rumah, menemui bapak dan ibu bersama ibu kandungnya. Sayangnya, bukan demi meminta maaf karena mereka telah lancang. Tapi  untuk menyerahkan uang dalam amplop sebagai ganti biaya karena ibu telah merawat anak pertama Sekar. Tentu saja bapak membantingnya dalam sekali tatapan tajam menghujam kepada menantunya itu.

Coba, bayangkan, orang tua mana yang tak geram ketika diperlakukan seperti itu? Sekar memang sempat berkata kepada Rinjani bahwa hidup tak berpihak padanya karena dia bukan orang kaya. Dia mengeluhkan banyak hal padahal orang lain bisa jadi memimpikan kehidupan yang dia miliki. Sekar tidak paham, Rinjani dan suaminya pun tidaklah mudah mendapatkan kehidupan sekarang. Apakah ada cara instan di dunia ini? Dan apakah orang miskin tak berhak berbakti kepada orang tua jika hanya yang dipikirkan selalu uang?

Sayangnya, tidak ada bahagia bagi orang yang tak pandai bersyukur. Meski tampilan luar terlihat baik-baik saja, namun tak mungkin Allah berpihak padahnya.

Rinjani tertegun mendengar cerita ibu. Dan lebih tertegun saat pulang ke rumah, suami Sekar sudah membawa truk demi memindahkan semua barangnya. Tanpa pamit, tanpa izin. Mungkin ini cara tersopan seorang menantu setelah dibantu sekian banyak oleh mertuanya. Siapa juga yang mengusirnya meski kenyataanya dia menyebarkan kalimat fitnah bahwa dia telah diusir. Rinjani dan keluarganyalah yang paling tahu, bukan orang lain!

Hal terburuk dalam hidup bukan karena ditinggalkan anak, tapi memendam rasa sakit itu akan jauh lebih sulit. Selama berbulan-bulan ibu begitu kurus karena rasa sakit. Ibu bilang, beliau dulu juga pernah bertengkar dengan orang tua, tapi dengan menyesal beliau meminta maaf dan menunjukkan penyesalannya. Jika saat ini ibu belum bisa memaafkan, mungkin ada yang salah dengan cara Sekar dan suaminya meminta maaf.

Sayangnya, mereka berdua tak sempat mengerti betapa besar rasa cinta bapak dan ibu. Sebelum akhirnya bertengkar, bapak telah mencari sebuah toko di pasar dan akan membayar biayanya selama satu tahun untuk dipergunakan bagi putri sulungnya, Sekar. Bapak tahu Sekar suka sekali berdagang. Tapi, Allah berkehendak lain.

Luka ibu telah menganga. Dan rasa sakit itu sulit sekali ditambal.

Ada banyak orang merasa jauh lebih mengerti masalah di antara keluarga Rinjani. Mereka berkata bahwa pertengkaran ibu dan Sekar disebabkan karena rumah mereka yang saling berdekatan, mereka menuduh bapak dan ibu sangat jahat sampai tak bisa memaafkan, mereka menyuruh ibu dengan mudah melupakan sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak pernah paham masalah yang sebenarnya.

Suami sekar, pernah tidak menegur ibu, meskipun saat masih di rumah, dia menumpang kamar mandi ke rumah ibu. Ibu dan bapak tidak marah.

Sekar dan suaminya pernah menuduh ibu tak adil, padahal setiap panen hanya Sekar yang mendapatkan jatah padi dan uang hasil panen.

Orang-orang tak pernah tahu, bagaimana perilaku suami Sekar, dia bahkan tak pernah meminta maaf ke rumah, padahal dia sering datang ke rumah saudara ibu yang lain.

Orang-orang yang merasa sok tahu dengan kehidupan Rinjani, mungkin belum tahu rasanya disakiti oleh putrinya yang telah hidup di dalam rahim dan ditimang sampai bertahun-tahun.

Orang-orang yang menuduh orang tua Rinjani begitu jahat sampai tak bisa memaafkan, mereka belum tentu bisa sebaik ibu dan bapak saat menghadapi masalah yang sama.

Mereka yang sok tahu dan mendengarkan dari satu pihak, tentu bukanlah orang yang berhak ikut campur dan membuat opini sendiri, sebab mereka bukan orang yang tinggal serumah dengan keluarga Rinjani.

Orang-orang tak akan paham sampai mereka tahu, saat ini ibu dan bapak sedang membiayai sekolah dan boarding putra sulung Sekar seorang diri. Tanpa bantuan dari ibu kandung atau bapak kandungnya yang sebenarnya sangat paham soal agama tapi tak pernah benar menjalankannya.

Jika kalian tak bisa membantu meringankan beban seseorang, janganlah mengusik kehidupan mereka dengan bicara yang tak ada dasarnya. Jika kalian tak tahu apa pun apalagi hanya sekadar mendengar dari mulut ke mulut, coba datangi ibu Rinjani, tanyakan berita apa yang sebenarnya terjadi sehingga beliau begitu sulitnya memaafkan?

Jika kalian tahu, sebenarnya kalian juga punya masalah sendiri yang harus diselesaikan. Orang terpuji dan terpandang, pandai agama dan menjalankan, tentu akan malu ikut campur urusan orang dengan akhlak rendahan.

Rinjani paham, siapa pun yang bicara, ibu pastilah jauh lebih mengerti siapa putri-putrinya. Tanpa mereka bilang pun, ibu tahu karena ibulah yang mengalaminya langsung.

Rinjani menutup telepon. Memeluknya lama, bukan karena khawatir kehilangan saudaranya, tapi khawatir sulit menambal luka hati ibunya.

Selamat hari ibu, semoga luka hati ibu disembuhkan oleh Allah. Mereka yang bicara menyakitkan tentang keluarga kita, sebenarnya hanya tahu seujung kuku tentang masalah di dalam keluarga kita. Semoga ibu selalu sabar, sebab Allah tak akan tinggal diam melihat ibu tersakiti.

Sungguh tidak menyenangkan menjadi duri dalam kehidupan orang lain, begitu juga ketika kita sendiri yang tertusuk duri itu. Kisah Rinjani semoga menjadi pembelajaran, bahwa dunia bisa melenakan, ucapan bisa melukai, rasa sakit tak mudah disembuhkan dan maaf tak bisa dibeli dengan sebongkah emas.


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis #Alumni_SekolahPerempuan menyambut hari Ibu 22 Desember 2017.

(Based on true story)

22 comments:

  1. Setetes air mata ibu yang keluar adalah rasa sakit untuk kita
    tidak ada kasih sayang yang benar2 tulus sperti ibu
    saya jadi inget kalimat ibu saya "Nanti walau kamu sudah besar, punya jabatan, gaji besar.. di mata ibu kamu tetaplah anak kecil ibu"
    bahagia itu sederhana, ketika melihat senyum seorang ibu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, dan bahagia ibu pun sederhana, melihat anaknya bahagia, jangan menyakiti sudah cukup yaa.. insya Allah..

      Delete
    2. Jika tidak sependapat dengan ibu, lebih baik diam.

      Delete
    3. Benar sekali, Mas. Terlebih mendebat ibu yang nyatanya benar, masya Allah sakitnya seperti apa.

      Delete
    4. Bener itu mas bumi
      lebih baik diam dari pada menyakiti hatinya. Krena hati seorang ibu itu biasanya sensitif.
      jadi kangen sama ibu

      Delete
  2. Aih, dalem mbak Muyass, reminder nih buat kita semua biar ga 'tanpa beban' merepotkan ortu meski sudah nikah. Goodluck buat lombanya yaaa

    ReplyDelete
  3. Cerita ini banyak sekali kita jumpai dia alam nyata. Dan sepertinya sudah menjadi budaya. Ah mirip seperti senitron Hidayah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali...memang banyak sekali nyata..

      Delete
  4. Sinetron memang terkadang terinspirasi dari kisah nyata... semoga kita semua terhindar dari sifat yang demikian....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, benar mbak. Kebanyakan memang kisah nyata yang difilmkan..

      Delete
  5. Di saat kita membuat ibu menangis di saat itu jugalah rasa sesal yang akan muncul tanpa ada akhir kecuali ibu bisa memaafkan, lah kalo tidak bisa memaafkan rasa sesal yang akan kita terima pun semakin besar tentunya.
    Semoga kita tidak menjadi orang yang membuat ibu menangis karena rasa sakit hati yang di terima beliau.

    ReplyDelete
  6. Luka hati ibu rasanya ingin memutar waktu dan jangan sampai terjadi, tidak bisa hilang dalam ingatan

    ReplyDelete
  7. Semoga semisal kita masih ada salah dengan orangtua selalu diingatkan untuk meminta maaf dengan segera.

    ReplyDelete
  8. Sebisa mungkin selalu ceria di depan mama. Meski ada yg bikin nggak enak tetep memperlakukan beliau dgn sabar seperti dulu. Mama yg jg sabar sama aku yg masih kecil.. nice post mbaa. Goodluck

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah seorang ibu, selalu lebih besar berkorban untuk segala sesuatunya...
      Cerita yang cukup menggugah rasa, mbak muyyas 👍👍👍

      Delete
    2. Terima kasih mbak Suci dan mbak Najiyaa sudah berkenan membaca.. :)

      Delete
  9. Banyak kejadian di sekitar kita..Ibu yang tak pernah berhenti membahagiakan anak-anaknya, sementara banyak anak yang malah "memeras" dan menggantungkan diri sepanjang hidup pada orang tua/Ibunya....Aaah, kapan mereka sadar ya (based on true story too...)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyesek banget mbak, di depan mata soalnya ya...tapi memang hidayah itu mahal, meski banyak yang mengingatkan tetap saja tidak berubah..

      Delete

Powered by Blogger.