Kematian, Sahabat yang Sempat dilupakan

December 03, 2017
blajar.org

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan.”
(HR. An Nasai)
Baru sampai dari pemakanan salah seorang kerabat di Tanah Kusir. Buat saya, kematian entah terjadi pada siapa pun, menjadi pengingat. Membayangkan diri saya sendiri yang terbujur kaku di atas ranjang berbalut kain kafan atau mengingat betapa beratnya menjadi keluarga yang ditinggal.

Masya Allah, rasanya mata sudah panas melihat orang-orang mulai menangis ketika jenazah dipindah ke keranda. Hati-hati mereka mengangkat jenazah. Betapa sedihnya terutama ketika itu terjadi pada keluarga kita tercinta.

Sebenarnya, banyak hal yang bisa mengingatkan kita pada kematian, termasuk ketika melihat sendiri ada orang yang mengalami sakaratul maut, ketika nyawa sudah di tenggorokan, dan pintu tobat sudah ditutup sepenuhnya. Atau ketika melihat rambut orang tua yang telah memutih serta kepayahan yang mulai mereka rasakan. Kehilangan, ditinggalkan atau justru meninggalkan menjadi kenyataan berat yang kadang tak mudah diterima meskipun kita sudah bersiap menghadapinya.

Mengingat kematian ternyata bukan hanya menjadikan kita lebih giat beribadah, lebih khusyu saat shalat namun juga dicatat sebagai amal baik seperti yang dianjurkan Rasulullah saw. Selain itu, mengingat kematian membuat kita takut untuk berbuah zalim seperti dilansir rumaysho.com.

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.”
(QS. Ar Rahman: 26-27)
Mempersiapkan kematian bukan hanya ketika kita sendiri yang mati meninggalkan dunia, namun juga ketika orang terdekat benar-benar pergi meninggalkan kita semua. Termasuk ketika masih memiliki orang tua, jangan sampai melewatkan membahagiakan mereka dan menjadi anak yang mereka banggakan, bukan karena kita menjadi kaya namun karena kita berbakti dan tak melukai hati mereka.

Jangan melupakan kematian, sebab mengingat mati akan membuat kita mau memperbaiki hidup. Saya pribadi takut, benar-benar takut ketika semua itu benar-benar menimpa saya atau orang-orang terdekat saya. Jujur saja belum siap, terutama jika mengingat betapa menakutkannya berada di alam kubur dan banyak hal buruk dan menakutkan berkeliaran di dalam pikiran mengetahui betapa mengerikannya kematian. Sayangnya, kematian yang kadang sering dilupakan itu tidak akan kita lewatkan ketika ia benar-benar tiba.

Banyak hal yang harus dipelajari ketika kematian datang menjemput orang terdekat kita termasuk mengusai ilmu mengurus jenazah dan ilmu waris.

Mungkin banyak orang masih meremehkan ilmu pembagian warisan, padahal itu diatur di dalam islam. Bukan berarti mempelajari ilmu pembagian harta warisan menjadikan kita orang yang pengen banget dapat harta warisan, tapi karena membagi harta warisan itu juga termasuk kewajiban kita sebagai muslim. Salah sedikit saja bisa berdosa. Apalagi ketika terjadi perdebatan di antara ahli waris.

Harta itu bisa membuat anak durhaka kepada orang tuanya, bisa membuat pernikahan hancur serta menjadikan seseorang lupa banyak hal termasuk ketika mereka menggunakan segala cara demi mendapatkan harta dunia.

Setelah orang tua meninggal misalnya, ada banyak hal yang harus diurus selain warisan, yaitu membayarkan semua hutang piutangnya. Berat, ya. Ternyata semua itu nggak semudah yang kita bayangkan, lho. Saat ini, banyak juga pelatihan mengurus jenazah dilakukan oleh beberapa ustadz. Hal ini sangat bermanfaat bagi kita ketika kita benar-benar mengalaminya nanti.

Saya ingat, salah satu ustadz saya di pesantren dulu pernah bilang, ketika ayahnya meninggal, beliau meminta menjadi imam shalat jenazahnya meskipun saat itu ada banyak kyai di sana. Menurut islam, memang yang lebih berhak di depan ketika shalat jenazah adalah orang terdekatnya, barulah kemudian orang lain.

Jika itu terjadi pada kita, apa kita siap mengurus jenazah serta menjadi imam shalat bagi mereka yang mencintai dan kita cintai?


Jika kita masih diberi kesempatan mencintai orang tua, orang terdekat seperti pasangan dan anak-anak, maka sempurnakan itu ketika kita masih bisa melakukannya. Dan jangan lupakan sahabat sejati yang tak akan pernah meninggalkan kita, dialah kematian.

13 comments:

  1. Wah pagi-pagi saya baca tentang kematian ini. Bikin saya bener-bener merinding karena inget ama kematian diri sendiri nanti. Saya pun udah kelhilangan ayah dan adik. Serasa kematian itu begitu dekat dengan kita. Terima kash Mba. Tulisannya jadi mengingatkan saya lagi untuk mebjadi pribadi yang lebih baik lagi

    ReplyDelete
  2. Hidup di dunia itu sementara
    dunia itu memang sekdedar panggung sandiwara
    semua yang naik panggung pasti akan turun juga
    seperti itulah kehidupan

    yang bernyawa pasti akan pergi juga, tinggal kita persiapkan saja diri.
    saya juga masih merasa takut kalo masih mengingat kematian, takut karena masih merasa belum banyak yang bisa saya lakukan dan bermanfaat untuk sesama
    belum mampu mengangkat orang tua, meski selamanya tidak akan bisa membalas jasanya tapi setidaknya saya ingin memberikan yg terbaik untuk mereka.

    yg paling takut lagi memang tentang warisan, banyak yang terjadi di sekitar saya hanya karena warisan hubungan persaudaraan menjadi pecah

    Beribadahlah seakan kamu akan mati esok, bekerjalah seakan kamu hidup selamanya
    hidup memang harus seimbang memang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, semoga kita termasuk orang yang bisa memanfaatkan sisa umur untuk mencari bekal buat di akhirat kelak..Amiin.
      Kalau warisan, konfliknya dimulai bahkan sebelum orang tua meninggal, itu sudah banyak dan terjadi di keluarga sendiri. Orang tua masih ada tapi sudah sibuk minta dibagi, buat saya kenapa bisa seperti itu, seharusnya sebagai anak harusnya ngasih bukannya malah minta2 terus. Kalau orang tua membagikan, lalu beliau makan dari mana apalagi kalau anaknya setelah dibagi segera kabur. tapi, ujung2nya memang tak pernah ada yang berkah, habis di tengah jalan. Ya, karena memang makan bukan haknya, ya.

      Delete
  3. Keepk sama kita, saya juga begitu. Kala takziah, apalagi keluarganya dengan khidmat membacakan Alquran, saya berandai yang terbujur adalah saya dan anak-anak mengelilinginya��

    ReplyDelete
  4. terus terang sekarang saya lebih banyak merasakan takut, kadang sampai sesak juga nafas mbak... terutama kalau malam. takut kalau mati nanti kuburan kita gelap gulita, apalagi sampai mendapat ajab kubur. mengingat luasnya lautan dosa yang sudah saya jalani. semoga aja Allah mengampuni dosa saya dan keluarga, dan semoga juga memberikan penerang jalan untuk kebahagiaan hidup dunia akhirat, amin Allahumma amin.

    ReplyDelete
  5. Astagfirullah! sudah sepatutnya kita selalu mengingat kematian. Terima kasih sudah diingatkan.

    ReplyDelete
  6. Dekat tapi suka lupa. Memang itulah kematian. Apalagi setelah mendengar kematian seseorang yang kita kenal. Ya Allah, dia udah dipanggil. Lahir orang-orang baru, yang dulu kita kenal udah meninggalkan kita. Kenyataannya kita pun dalam antrian yang sama

    Suka takut kalau mengingat kematian, Mbak. Apapun buat aku jadi gak enak rasanya, saat ingat hari yang pasti akan datang itu. Apalagi saat ingat dosa sama bekal yang entah cukup atau tidak 😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, kita sedang nunggu antrian aja, ya... :(

      Delete
  7. Terima kasih sudah mengingatkan Mbak...
    Begitu dekatnya kematian tapi saya tetap melupakannya..hiks:(

    ReplyDelete

Powered by Blogger.