Pentingnya Tahu Gaya Belajar Si Kecil

November 04, 2017
sumber


Anak sulung saya selalu suka melihat buku-buku bergambar sejak kecil bahkan ketika dia belum bisa berbicara dengan lancar. Ketika dua tahun usianya, banyak kosa kata dihafalkannya hanya karena saya selalu membacakan dia buku cerita. Dia juga bisa mudah sekali menghafal kalimat-kalimat dari sebuah video yang dilihatnya. Seharian, dia bisa menghabiskan satu buku bacaan, dia juga tidak bosan-bosannya menggambar. Dulunya, saya kira dia memang menuruni bakat emaknya yang sejak kecil hobi gambar dan suka membaca buku, semakin ke sini saya jadi tahu, ternyata si kakak selain mungkin memang mendapatkan bakat terpendam (sampai dasar bumi milik emaknya), dia juga memiliki gaya belajar visual.

Ya, meski memang hampir semua orang bisa memiliki dua bahkan ketiga jenis gaya belajar, tapi tetap saja mereka memiliki kecenderungan pada salah satunya. Dan dari hasil tes IQ sebelum masuk SDIT favoritnya, dia memiliki gaya belajar visual dan audio. Tapi si kakak memiliki kecenderungan pada gaya belajar visual.

Lalu seberapa pentingkah mengetahui hal ini?

Saat mengikuti parenting di sekolah si kakak, seorang pembicara yang juga seorang psikolog menceritakan, ada seorang anak memiliki IQ di atas rata-rata. Ibunya mengajari banyak hal. Tapi, lama-lama sang ibu merasa anaknya tidak memiliki sesuatu yang ‘wow’ layaknya anak yang memiliki IQ tinggi.

Suatu hari, sang ibu berkonsultasi dengan sang psikolog, dia mengatakan bahwa dirinya ragu akan hasil tes IQ anaknya. Kenapa anak dengan IQ tinggi seperti itu terlihat biasa saja? Padahal sang ibu sudah mengajarinya banyak hal. Tapi, seperti tak ada yang berlebih terlihat pada sang anak selama ini.

Sang psikolog menanyakan apa gaya belajar sang anak? Sang ibu menjawab sang anak memiliki gaya belajar audio. Dan selama ini sang ibu justru sebaliknya, memberikan sang anak gambar-gambar untuk belajar layaknya anak tipe visual.

Akhirnya, sang anak tidak bisa sempurna memahami sebab telah salah memilih metode belajar yang tidak sesuai dengan dirinya.

Hmm, ternyata hal semacam ini penting sekali diperhatikan oleh orang tua dan guru. Sebab anak-anak dengan tipe visual cenderung lebih mudah memahami pelajaran yang disampai dalam bentuk gambar atau video-vidio. Sedangkan anak tipe audio lebih suka mendengarkan, ambil alih perhatian, dimulai dari gerakan-gerakan kecil. Begitu juga dengan kisnestetik, dia bisa belajar sambil mendengarkan musik, mengunyah permen karet bahkan sambil berjalan.

Nah, bersyukurnya di sekolah kakak, anak-anak dipisahkan sesuai dengan tipenya masing-masing. Anak dengan tipe visual akan menempati kelas yang sama dengan teman-temannya yang memiliki gaya belajar yang sama hingga kelas enam. Begitu juga dengan tipe audio serta kinestetik.

Dengan begitu, sang guru bisa lebih mudah memilih cara yang tepat untuk mengajar di kelasnya. Anak-anak dengan tipe visual akan lebih mudah memahami gambar, warna-warna mencolok bahkan melihat video. Mereka pun lebih anteng ketika belajar meski tak jarang juga sih banyak yang suka ngobrol sendiri di kelas termasuk si kakak juga…he.

Mam, semua anak itu terlahir cerdas. Hanya saja kecerdasan yang mereka miliki berbeda pada setiap anak. Jika si A cerdas musik, maka si B lain lagi. Jadi setiap anak memiliki potensi berbeda yang harus dikembangkan, dan didukung oleh orang tua. Anak-anak itu unik. Bahkan saudara kembar saja tidak bisa sama apalagi anak kita dengan anak tetangga.


Maka cari tahu gaya belajarnya si kecil supaya kita bisa lebih optimal membantu dalam proses belajarnya. Ingat, anak-anak kita berbeda dengan anak tetangga, jadi jangan membandingkannya dengan yang lain, sebab itu rasanya sangat menyakitkan… ^^

13 comments:

  1. Jadi pengin tau bagaimana proses belajar di sekolah kakak mbak.. asyik y sepertinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, kalau anak saya insya Allah happy sekolah. Insya Allah memang menyenangkan, duduknya berpindah-pindah. Tidak seperti zaman saya sekolah..hehe.

      Delete
  2. Wah enak donk kalau semua sekolah kayak gitu sehingga ortu gak kesulitan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, tapi nggak semua sekolah melakukan tes IQ saat tes masuk SD. Memang bukan hasil tes IQ nya yang diutamakan, tapi tentang mengenal tipe masing2 anak nantinya memudahkan murid, guru dan orang tua.

      Delete
  3. Seperti kata albert einstein
    setiap anak itu di lahirkan cerdas
    tapai kadang hanya metode belajarnya saja yang salah
    guru kadang menyama ratakan semua anak
    setiap anak juga punya kecenderungan unggul dalam beberapa pelajaran dan tidak semua

    kalau kamu melihat seekor ikan dari cara dia memanjat pohon, maka ikan itu akan merasa bodoh seumur hidupnya.. bgitupun dengan anak.. jgn paksakan anak untuk menguasai semuanya hehehe
    jd pnjang lebar, lama2 jadi satu paragraf artikel :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mas...
      Wah, jangan nulis artikel di sini, nanti saya kalah saing...hehe

      Delete
    2. hahahaha,,, saya masih pemula nulis mbak gk akan menyaingi hihih

      Delete
  4. Setuju, anak kita beda dengan anak tetangga. Bahkan kakak beradik pun bisa punya gaya belajar yang berbeda. Sayangnya, kadang kita sebagai ortu sudah berusaha berhati-hati untuk tidak membandingkan keduanya. Eh pas kakek nenek/sodara datang berkunjung, dengan gampangnya membandingkan mereka berdua. Yang pasti langsung membuat salah satunya cemberut

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, benar mbak. Saya pun sudah merasakannya. Setiap keluar rumah ketemu tetangga aja mereka selalu membandingkan kedua anak saya..hehe

      Delete
  5. Enak tuh kalau sekolah mendukung cara belajar anak yang berbeda - beda. Kalau keponakan ku lebih condong ke visual sih ya 😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, jadi muridnya terbantu sekali..

      Delete
  6. Nah aku kalo melihat anakku, rasanya sih dia tipe yg visual yaa. Tp kok ya kalo ga dites secara bener, agak ga yakin sih mba. Sbnrnya kalo mau masuk sekolah gitu, ada tes2 yg menentukan tipe belajar gini ga yaa.. Ato cm sekolah tertentu.. Ga pengen juga anakku kurang berkembang krn salah tipe cara mengajar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya kalau masuk sekolahnya ada psikotesnya biasanya nanti akan dapat deh hasilnya selain hasil IQ, kelebihan serta kekurangan si anak termasuk tipe belajarnya ini. Nah, sayangnya nggak semuanya menyediakan tes semacam ini saat mau masuk sekolah. Soalnya ada juga yang hanya tes baca tulis aja. Kalau mau tes sendiri bisa kok cari jasa psikolog yang menyediakannya. Di sekolah anak saya juga setelah tes ini, ortu diberi kesempatan konsultasi gratis sampai Desember...

      Delete

Powered by Blogger.