Cerbung Tentang Kita Bag 15; Hujan

November 23, 2017

pixabay.com


Raina merasa oksigen di sekitarnya tiba-tiba hilang. Sesak napas. Tidak bisa menyangkal rasa sakit hati dan cemburu yang dirasakannya saat ini. Hampir tidak bisa dipercaya, seorang Bagas Permadi yang dulu begitu ia kagumi, rupanya kini telah menggoreskan luka amat dalam. Apakah dia saja yang terlalu curiga?

Tapi, Bagas terlihat sangat akrab bicara, bahkan wajahnya yang beberapa hari terakhir terlihat mendung, kembali cerah dengan menampilkan deretan giginya yang bersih tanpa bekas nikotin.

Lelakinya tertawa, bahkan begitu gembira. Entah apa yang mereka bicarakan barusan, yang jelas, Raina merasa apa yang dilakukan Bagas merupakan sebuah kesalahan besar yang bisa mengancam hubungan mereka berdua. Tidakkah Bagas tahu, Raina amat benci dengan wanita itu?

Dia yang menggoyahkan keyakinan Raina ketika Bagas pertama kali berniat melamarnya. Dan sekarang, dia juga yang mengguncang ketenangan rumah tangga yang telah mereka bangun, bahkan anggota baru akan hadir melengkapi kegembiraan. Raina mengusap perutnya yang tak nampak berubah. Air matanya semakin deras.

Usia kandungannya sudah memasuki dua bulan. Dan Raina masih merahasiakan semuanya dari Bagas. Bahkan hingga sekarang, Raina tak pernah punya keinginan untuk bicara dengan lelaki itu. Entah sampai kapan dia akan memaafkan.

“Rai,” suara Bagas terdengar parau. Dia menyusul istrinya dengan perasaan tumpang tindih. Antara terkejut, takut dan menyesal.

Raina mengatakan dalam hati sekeras-kerasnya, percuma! Bicara tentang apa pun saat ini hanya akan membuat keadaan semakin sulit. Raina sedang marah, bahkan sedang amat marah. Dan Bagas datang menambah kemarahan itu.

“Mas bisa jelasin semua,” Bagas memilih membungkukkan badannya, mencari wajah Raina yang sudah basah oleh air mata.

“Mas tidak akan menikahi Sherly, tidak akan, Rai.”

Tapi, dia menjenguknya. Kenyataan yang akhirnya membuat Raina merasa muak bahkan tiba-tiba mual. Raina menarik napas, sulit sekali berdamai dengan masalah. Bahkan ketika Raina mencoba berpikir postif, hal buruk justru menusuknya dari belakang. Dia merasa kesakitan lagi.

“Mas hanya ingin memastikan kondisi Sherly membaik, itu saja. Tolong jangan berpikir buruk tentang mas. Mas nggak seperti itu,” Bagas memohon.

Tapi Raina tak ingin mendengar apa pun. Dia bahkan lebih suka mendengar tetesan hujan ketimbang penjelasan yang baginya tidak masuk akal. Tidakkah Allah begitu baik, hingga memperlihatkan semuanya secara gamblang?

Jika saja Raka tidak masuk rumah sakit, mungkin lelaki tampan di depannya juga tak akan menceritakan pertemuan mereka padanya. Jika bukan karena Raina yang memergokinya, mungkin Bagas akan menyimpannya rapat-rapat.

Sherly tiba-tiba menjadi sosok penting dalam hidup Bagas. lelaki itu dulu hanya ingin menjalin hubungan baik, tak terpikir akan menyukai pertemuan tanpa sengaja itu. Benar Raina bilang, jangan bermain api. Sebab api yang awalnya hanya berupa asap, bisa jadi akan membakarmu hidup-hidup.

Dan Bagas sudah terbakar tanpa pernah dia sadari.

Raina bergeming. Bagas masih mengelu dan memohon. Lelaki itu sekarang tidak lagi terlihat menyenangkan bagi Raina. Wajah tampannya bukan lagi kerinduan yang setiap malam membangunkan tidur lelapnya. Raina melihat wajah Bagas sekali lagi, hampir tak percaya lelaki yang dulunya begitu shaleh itu, kini mengkhianati pernikahan mereka.

Raina menutup matanya rapat-rapat. Sulit sekali memaafkan. Jika boleh memilih, Raina tidak ingin ada di tempat ini, dalam situasi yang amat menyakitkan.

Raina bangkit. Percuma. Tidak menyelesaikan masalah jika hanya bicara dengan amarah. Dia harus segera kembali ke kamar Raka. Sudah terlalu lama dia meninggalkan putranya sendiri.

“Rai, mau ke mana? Kita harus bicara, mas nggak mau kamu diamkan terus menerus. Mas mau kamu bicara!”

Bagi Raina, suara Bagas terdengar sedikit membentak. Lelaki itu bahkan menarik pergelangan tangannya, memaksa dia berhenti dan bicara.

“Raka dirawat. Raina harus segera kembali.”

Bagas sempat tak percaya, hingga sosok wanita berlesung pipit itu benar-benar pergi meninggalkannya sendiri. Bagas mengepalkan kedua tangan dan memukul udara. Dia benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Lihat saja, gadis berlesung pipit yang dulu begitu dia kagumi, kini memilih pergi dan membawa lukanya sendiri. Tidakkah itu terdengar amat menyakitkan? Dan lebih buruknya, dia menangis karena perbuatan bodoh suaminya!

****



10 comments:

  1. tiga bgian sebelumnya sampai sini lumayan bagus alurnya... tapi lumayan sedih juga.
    tapi racikan cerita yang lumayan enak di baca. makasih mas sudah berbagi

    ReplyDelete
  2. Kok sedih mulu mbak muyas
    saya sering baper sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau bahagia mulu nanti bosen bacanya..hehe

      Delete
  3. ceritanya bener bener saya merasakan di dalamnya

    ReplyDelete

Powered by Blogger.