Perlakukan Orang Lain Sebaik Memperlakukan Diri sendiri

October 20, 2017
sumber


Judul yang cukup panjang tapi semoga pembahasan ringannya nggak sepanjang kenyataannya…he. Kenapa kita harus memperlakukan orang lain sama baik atau bahkan seharusnya jauh lebih baik daripada kita memperlakukan diri sendiri?

Ada saatnya kita pernah mengatakan bahwa tetangga kita terlihat lebih gendut ketimbang sebelumnya, pada pertemuan pertama setelah sekian lama tidak berjumpa, dan pilihan sapaan terbaik seorang tetangga kepada tetangga dekatnya adalah hal yang sebenarnya cukup membuat orang lain mual bahkan jika kalimat itu kita tanyakan pada diri sendiri, benar?

“Hei! Udah lama banget nggak ketemu. Sekarang kamu gendutan, ya?”

Kita nyaman nggak sih diperlakukan seperti itu? Kalau tidak, berarti kita harus menjadi pribadi yang jauh lebih hangat kepada teman, sahabat apalagi tetangga yang biasanya menjadi orang pertama yang kita mintai pertolongan saat dibutuhkan.

Bukankah akan jauh lebih baik jika kita bilang, “Udah lama kita nggak ketemu. Ke mana saja? Aku senang bisa bertemu lagi.”

Tapi kebanyakan orang lebih suka memperlakukan orang lain seperti apa yang mereka inginkan bukan seperti apa yang orang lain sukai. Itu sering kali bikin nyesek bin lebay bin baper…he.

Sebagai seorang muslim dilarang baper, ya. Nggak baper, kan? Nggak salah lebih tepatnya, yaa..hi. Maka akan jauh lebih baik jika kita memperlakukan orang lain sebaik yang kita bisa. Kalau bertemu teman, sapa hangat dan janganlah bertanya kapan nikah? Kapan punya anak? Apalagi kapan kurus? Itu nggak enak banget didengar ya, Brow :D 

Apalagi kalau sudah sampai bertanya, mobil kamu mana, gaji suami kamu berapa? Itu sudah sangat tidak sopan. Bahkan mungkin orang tua kandungnya saja tidak pernah bertanya begitu, nah kamu siapanya kok tiba-tiba nanya gaji? Hehe. Fenomena orang jaman now!

Apa sih yang mau digali dari pertanyaan seperti itu? Kalau banyak kamu kagum, kalau sedikit kamu iba? Sangat tidak nyaman didengar, kan? Sama seperti jika ada seorang teman mengatakan saya terlihat sangat sibuk akhir-akhir ini. Padahal saya pribadi merasa semua sama saja. Kemudian saat saya kembalikan kalimat yang sama pada dia, kenapa dia justru kurang nyaman dan merasa tersinggung? Jadi sibuk di sini menjadi sebuah sindiran, kan? Ini hanya contoh saja, ya..

Hati-hati saat bicara apalagi mengomentari orang lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu seperti apa dia. Jangan-jangan yang kita sindir sibuk ternyata memang sedang sakit sehingga tidak bisa menerima telepon, atau mungkin dia repot mengurus buah hatinya yang kadang tidak mau berbagi dengan orang lain, bahkan ketika orang tuanya menelepon sebentar pun anak-anak marah. Hmm, perlakukan orang lain sebaik kita memperlakukan diri sendiri, bahkan jauh lebih baik. Jika kita tidak suka disebut gendut, jangan pernah katakan orang lain gendut. Jika kita tidak suka ditanya soal momongan atau bahkan merasa itu sangat sensitif, bicarakan hal lain yang lebih menyenangkan. Kecuali jika memang mereka sengaja memulainya karena menganggap itu hal lucu dan tidak menyinggung hati.

Bahkan di dalam islam pun diajarkan untuk berhati-hati saat bicara. Mulutmu harimaumu. Kalimat yang kita keluarkan dan melukai hati orang lain tentu tidak akan pernah bisa kita tarik kembali, bahkan kadang kita justru nggak sadar telah menyakiti orang lain. Yuk, ajak lebih banyak teman untuk berubah santun terutama saat berkomunikasi tidak secara langsung seperti melalui sosial media, pesan yang disampaikan lewat chat misalnya akan dirasa beda bagi yang lain sebab cara membaca yang berbeda juga. Kecuali kita sedang bertemu langsung, kita akan tahu ketika teman kita hanya bergurau, kita akan tahu ternyata dia hanya bercanda sebab nada dan raut wajahnya bisa kita lihat langsung. Sedangkan ketika mengomentari seseorang di sosial media, mana bisa kita tahu dia sedang bercanda atau serius menyindir, atau justru terasa menghina? Jangan-jangan kalimat sedikit itu menyakiti orang lain. Jangan-jangan kita seringkali tak sadar sebab telah menjadi kebiasaan. Jangan-jangan kita bahkan sudah tidak peka lagi ketika mengomentari orang dengan seenaknya. Jangan-jangan saya sudah mengatakan hal yang melukai kalian, semoga dimaafkan….

#ODOPOKT18

Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post bersama Blogger Muslimah Indonesia

2 comments:

  1. Menjaga lisan dan sikap termasuk memperlakukan orang lain sebaik kita menjaga diri sendiri ^^

    ReplyDelete

Powered by Blogger.