Lelaki Nggak Peka!

October 03, 2017
sumber


“Mas, tetangga sebelah baru balik jam segini. Dari mana coba? Masa kerja sampai semalam ini, ya?”

Fitri menarik lengan baju Ilham, suaminya. Memaksa lelaki berhidung mancung itu mendengarkan kalimatnya barusan. tetapi, lelaki yang akrab dipanggilnya ‘Mas’ itu hanya melongo tak mengerti. Dia menoleh sepersekian detik sebelum akhirnya melihat dengan asyik tayangan televisi favoritnya.

Fitri manyun. Bibir merah yang tak tersapu lipstik itu maju ke depan. Dengan gerakan cepat wanita dua puluh delapan tahun itu mencubit lengan suaminya, kesal. Seharusnya lelaki itu mendengarkan ucapannya barusan. Dia juga ingin punya teman ngobrol. Sepanjang hari hanya terkurung di dalam rumah. Tidak ada teman dekat apalagi sahabat. Tinggal berjauhan dengan keluarga dan merantau adalah hal yang menyebalkan. Belakangan Fitri lebih sering mengeluh, katanya bosan di rumah. Sepanjang hari hanya memasak dan mencuci pakaian. Tidak ada kegiatan menarik selagi menunggu suaminya pulang. Sayangnya seperti kemarin-kemarin, Ilham hanya diam. Tidak menghiraukan.

Fitri semakin geram. Pagi ini dia berjanji tidak akan bicara apa pun pada suaminya. Tidak satu patah kata pun. Dia merasa tersinggung sebab Ilham tidak pernah lagi menyahut. Jangankan peduli, mendengarkan saja tidak pernah.

Jadi mulai hari ini, Fitri berjanji akan mendiamkan Ilham sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Biarkan saja lelaki paling ganteng satu RT itu tahu bagaimana rasanya tidak dipedulikan. Yes! Dengan begitu Ilham akan jauh lebih peka padanya. Besok-besok pastilah lelaki yang terpaut usia 2 tahun lebih tua darinya itu akan lebih sering bertanya dan mengajak Fitri ngobrol. Bukankah mereka sama kesepiannya? Pernikahan 3 tahun tanpa kehadiran seorang anak terasa sangat menyiksa. Meski jarang membicarakan hal ini, diam-diam Fitri menangis setiap kali menyadari bahwa pernikahan mereka terasa sangatlah hambar. Bagai sayur tanpa garam. Menyedihkan.

Fitri ingin sekali bicara pada suaminya, mungkin ide baik jika mereka bisa mengadopsi seorang bayi perempuan atau laki-laki. Bukan masalah jika bukan darah daging mereka. Tapi, hari ini dia sudah berjanji tidak akan bicara apa pun pada Ilham. Hmm, mungkin besok atau lusa dia akan bicara. Tentunya jika Ilham sudah lebih peka. Ya, lebih peka!

***

Fitri menangis di kamar. Suara isaknya patah-patah. Susah payah dia menyembunyikan, nyatanya tak tertahankan juga. Ilham baru datang. Dua hari mereka tanpa tegur sapa. Sebenarnya Ilham memang sependiam itu sejak dulu. Tapi, akhir-akhir ini Fitri merasa perlu memberi lelaki itu pelajaran. Maka hari-hari berikutnya mereka berdua seperti orang yang sedang bermusuhan. Tidak ada gurauan kecil di rumah, bahkan bertemu hanya dengan senyum singkat dan kecupan di kening. Sudah, hanya seperti itu. Tidakkah Ilham mengerti bahwa Fitri juga ingin sekali bicara tentang banyak hal padanya?

Ah, lelaki itu sungguh menyebalkan. Hanya demi dia yang baru dikenalnya sebulan sebelum pernikahan, Fitri rela meninggalkan orang tua dan mengikutinya merantau. Padahal sejak dulu, wanita dengan kulit putih itu sama sekali tak bisa jauh-jauh dari orang tua. Tapi demi Ilham, ya hanya demi Ilham dia rela pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Tapi apa coba yang sudah diperbuat lelaki itu? 3 tahun tidakkah bisa dia bersikap lebih hangat di rumah ini? Bukankah tanpa anak sudah terasa sangat menusuk hati? Lalu kenapa dia tambah juga dengan sikap pendiamnya yang semakin hari semakin menjadi?

Ilham masuk kamar. Sedikit terperangah melihat istrinya terisak. Wajah Fitri terbenam di dalam bantal. Sebagian basah air matanya terlihat dan membuat Ilham penasaran. Ada apa?

“Katanya mau makan malam, kok malah di sini?” Ilham duduk dan mendekati Fitri.

Fitri yang sejak kemarin marah langsung melemparkan bantalnya, memukul lengan suaminya berkali-kali. Ilham semakin bingung. Dia justru tertawa, disangkanya Fitri sedang ingin bercanda.

“Mas lapar, nih. Makan, yuk.”

Fitri melotot. Kedua alisnya saling bertaut. Tolonglah, lelaki satu ini diberi pelajaran tentang kepekaan terhadap seorang perempuan. Rasa-rasanya Fitri tak sanggup lagi mengatakan apa pun. Rasa-rasanya Fitri ingin berteriak dan menangis lagi seharian!

“Kok malah nangis. Memangnya ada apa?” Ilham mencubit hidung istrinya. Bercanda.

“Mas sayang nggak sama Fitri?” Pertanyaan bodoh. Tapi tetap keluar dari mulutnya.

“Hmm,” Ilham menjawab pendek.

Kesal rasanya karena Ilham hanya menjawab seperti itu. Tapi Fitri mau bicara lebih banyak supaya hatinya lega.

“Terus kenapa Mas Ilham nggak pernah peka? Bukankah sejak kemarin Fitri tidak mau bicara? Tapi kenapa Mas hanya diam saja seperti tidak ada sesuatu yang terjadi?” Fitri setengah berteriak lalu menangis lagi. Kali ini lebih keras.

Ilham jadi tertawa dibuatnya. Istrinya itu, anak tunggal dari orang yang cukup berada. Mendidiknya tidak hanya butuh kesabaran tapi juga kehati-hatian. Salah bicara sedikit saja sudah runyam akibatnya. Sebab itulah Ilham tidak banyak bicara sebab takut memantik pertengkaran. Rumah tangga mereka sudah cukup indah meski belum ada anak. Kebahagiaan mereka meski sederhana tapi selalu menyenangkan. Ilham kadang juga heran kenapa dia bisa menyukai Fitri dengan sikap kekanak-kanakannya yang terlihat sangat berlebihan. Tapi sejak pertama kali bertemu dan memutuskan melamar, Ilham tahu gadisnya itu adalah perempuan taat. Jika dia sedikit cengeng, mungkin juga karena rasa sayang dari kedua orang tuanya yang berlebihan.

Saat Ilham mengatakan ingin pindah dari kota mereka dilahirkan, Fitri tak banyak berargumen. Menurut saja meski pada awalnya dia sempat kaget dengan keadaan rumah yang jauh dari harapan. Sederhana. Tidak seperti rumahnya yang berlantai tiga.

Tetapi Fitri terlihat berusaha keras untuk menyesuaikan keadaannya. Tidak banyak yang dikeluhkan. Sesekali melirik tetangga yang hamil dan punya bayi, kadang bercerita tentang tetangga baru yang membawa mobil mewah. Bukan hal penting untuk ditanggapi. Bagi Ilham, setiap rumah tangga ada duka dan bahagianya sendiri. Benar, kan?

“Ayo makan,” Ilham menarik lengan Fitri, mencoba menghibur.

Fitri menggeleng, “Mas pasti tidak bahagia karena Fitri belum bisa hamil sampai sekarang.”

Ilham menaikkan kedua alisnya yang legam, “Kata siapa?”

“Kan Fitri yang bilang barusan, Mas!” Manyun lagi.

Ilham tertawa, “Mas sebenarnya hanya kurang suka kalau Fitri selalu membicarakan orang lain. Kalau memang Fitri kangen, kenapa tidak bicara tentang Mas atau Fitri sendiri. Kenapa harus membicarakan tetangga sebelah yang baru beli mobil, kenapa juga harus menyindir janda sebelah yang pulang malam atau juga tentang Mbak Rukmana yang baru melahirkan. Mas tidak mau menanggapi bukan karena Mas tidak peduli. Tapi Mas mau Fitri berhenti mengurusi urusan orang lain.

“Apa rumah kita tidak cukup untuk berteduh? Apa dengan naik mobil semua orang bisa dapat kebahagiaan? Allah hanya be-lum memberikan kita keturunan. Be-lum.

"Lebih banyaklah berdoa," Ilham ngusap kepala istrinya.

Fitri tertegun. Lelaki itu sedang menceramahinya tentang banyak hal. Meski lebih terlihat seperti seorang ustadz ketimbang suami, tapi diam-diam Fitri menyadari kesalahannya. Malu-malu dia berlalu tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Ilham menyusulya ke dapur, “Masih marah sama Mas?”


Fitri menggeleng. Diam dan menyiapkan makan malam. Tidak berani bicara. Besok dia akan berjanji akan jadi istri paling peka di dunia! Dia berjanji! 

***


Tulisan ini diikutsertakan dalam One Day One Post  #ODOPOKT2 bersama Blogger Muslimah Indonesia.

14 comments:

  1. Peka dan pria itu bagai sudut magnet yang sama..tolak menolak jadinya hahaha

    Nice story, Mbak:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe..benar sekali mbak...terima kasih yaa... ^^

      Delete
  2. Suka deh sama ceritanya. Suamiku persis sama seperti Ilham, dia gak pernah suka setiap kali kuajak bergosip tentang orang lain 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha buat mereka sangat tidak menarik bergosip :D
      Terima kasih mbak ^^

      Delete
  3. Pistingan ini seperti bercermin pada diri sendiri. Aku juga pernah mengalami, saat merasa suami tidak peka. Padahal maksudnya bukan begitu, hanya ingin agar istrinya tidak menambah dosa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak..maaf ya kalau disentil...hihi

      Delete
  4. Cerpennya keren mbak. Sukaaak. Menikah. Merantau. Meninggalkan orang tua. Aktivitas cuma dirumah, masak dan mencuci... lalu menunggu suami pulang, belum punya momongan duh ceritanya kayak saya banget, cuma smg gak menunggu sampai tiga tahun hehe.. bersyukurlah Fitri punya suami bijak Kayak Ilham, dan sy juga sangat bersyukur dikaruniai pasangan sebaik dan sesabar suami saya yg juga gak pernah suka kalau istrinya suka ngomongol gosipin rt orang lain hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah...semoga segera dapat momongan ya mbak... ^^

      Delete
  5. Pasangan suami istri harus terbuka dan bisa berkomunikasi dengan sehat. Istri maunya apa harus diungkapkan, begitu juga dengan suami. Karena keduanya tidak bisa saling membaca pikiran masing-masing jika tidak diungkapkan dengan kata-kata yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mbak..terima kasih sudah berkunjung... ^^

      Delete
  6. Aku kok merasa jadi tetangga yang dibicarakan ya. Abis suami aku pulangnya malem terus....
    Setuju sama komennya Mbak Dian di atas, pekanya perempuan dan laki-laki itu memang berbeda sih. Aku pun tak jarang menjadi Fitri, padahal kadang sudah tahu juga bakal percuma nyuekin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya siapa yang sedang dicuekin ya mbak? Hehe. Jadi malah yang baper kita sendiri..

      Delete

Powered by Blogger.